
Setelah sarapan, Eun Dan yang masih lemas ingin pergi ke kamar.
"Tidak apa jika kamu ingin berbicara dengan nenek dan ibu... Aku akan menunggu di kamar... Kepalaku sedikit pusing, aku akan istirahat di kamar..." Ujar Eun Dan
"Aku tidak akan lama..." Ujar Nia sembari tersenyum
Eun Dan pergi ke kamar untuk istirahat sedangkan Nia pergi menemui nenek dan ibu di taman belakang.
"Kenap kamu di sini?" Ujar nyonya Do yang melihat Nia menghampiri mereka
"Oppa menyuruhku untuk datang..." Jawab Nia
"Mungkin dia akan menempel padamu setelah ini..." Ujar nyonya Do
"Mereka pengantin baru dan akan segera berpisah untuk waktu yang cukup lama... Tentu saja dia akan lengket seperti lem..." Ujar nenek
"Aku sepertinya akan sangat merindukan kalian..." Ujar Nia
"Kami juga akan merindukanmu..." Ujar nyonya Do
"Sering-sering hubungi kami di sini..." Ujar nenek
"Sebenarnya kita masih punya waktu sampai besok... Tapi sepertinya anak itu tidak akan mengizinkan kami untuk bersama dengan mu lebih lama..." Ujar nyonya Do
"Dia pasti akan sangat kesepian ketika kamu pergi.... Dia mungkin akan berkunjung ke Indonesia sebelum kamu bisa kembali ke sini... Dia benar-benar sebuah jatuh cinta... Jatuh cinta terkadang memang menyusahkan..." Ujar nenek
"Nia... Ibu seharusnya mengatakan ini sejak awal... Terima kasih... Berkat kamu Eun Dan kembali setelah bertahun-tahun.... Mungkin bukan turun tangan kamu secara langsung... Tapi demi mendapatkan kamu Eun Dan kembali dan hubungannya dengan ayahnya kembali baik... Ibu sangat berterima kasih padamu..." Ujar nyonya Do matanya mulai berkaca-kaca
"Ibu tidak perlu berterima kasih... Meski bukan ingin menikah suatu hari dia akan tetap kembali..." Ujar Nia
"Tetap saja... Dia kembali lebih awal berkata kamu..." Ujar nyonya Do kemudian memeluk Nia, matanya tidak mampu lagi membendung air matanya, air mata itu mengalir di pipi nyonya Do setelah beberapa saat nyonya Do melepaskan pelukannya
"Nenek juga ingin memeluk mu..." Ujar nenek kemudian memeluk Nia, nenek juga meneteskan air matanya, setelah beberapa saat nenek melepaskan pelukannya
"Kenapa kalian menangis...?" Ujar Nia ikut menangis
"Kamu juga menangis.." ujar nenek kemudian diikuti gelak tawa semuanya
"Kalian semua menangis bagaimana aku tidak ikut menangis..." Jawab Nia sembari menyeka air matanya
"Kembalilah ke kamarmu jika tidak suamimu akan datang dan menyeret mu dari sini..." Ujar nyonya Do
"Kalau begitu aku akan kembali ke kamar..." Ujar Nia kemudian pergi ke kamarnya
******
"Putraku pandai memilih wanita... Benarkan ibu?" Ujar nyonya Do
"Pria di keluarga ini selalu pandai memilih wanita..." Ujar nenek diikuti senyuman manisnya kepada menantunya itu
Setibanya di kamar Nia tidak menemukan Eun Dan.
"Oppa.... Kamu dimana?" Teriak Nia memanggil suaminya
"Aku di kamar mandi..." Jawab Eun Dan
"Apa yang kamu lakukan..?" Ujar Nia mendekati kamar mandi.
"A... aku... (Mencuci hidungnya yang mimisan)... Aku sedang bercukur..."
"Baiklah..." Ujar Nia
"Dia akan pergi... Dia akan cemas jika tau tentang ini..." Ujarnya pelan kemudian mengambil pencukur listrik untuk mencukur janggut tipisnya.
Nia menyiapkan koper untuk barang bawaannya saat pulang kampung, Eun Dan keluar dari kamar mandi langsung menghampiri Nia yang sedang menyusun pakaiannya ke dalam koper.
"Kamu sedang berkemas?" Ujar Eun Dan
"Iya... Aku hanya akan membawa pakaian yang baru dibelikan oleh ibu..." Ujar Nia
"Benar... Aku melupakan hal penting..."
"Apa itu...?"
"Karena... (Duduk di sofa) karena aku terlalu marah saat di kebun, aku bahkan tidak pernah mengatakan ini..."
__ADS_1
"Apa itu kenapa kamu begitu serius?"
"Kamu cantik..."
"Ya??" Ujar Nia spontan
"Kamu cantik... Sangat cantik... Kamu... Cocok dengan pakaian itu..."
"Apa ini...? Kamu tidak biasanya begitu malu-malu"
Eun Dan berdiri kemudian menghampiri Nia.
"Aku akan sangat merindukanmu..." Ujar Eun Dan terlihat murung
Nia menghampirinya dan memeluknya
"Aku juga akan sangat merindukanmu.." ujar Nia
"Kamu jangan terlalu dekat..."
"Kenapa?... Apakah kamu takut aku terkena flu... (Melepaskan pelukannya) Kamu bahkan memelukku saat tidur... Kenapa pelukan singkat ini menjadi masalah?"
"Bukan itu... Kamu... akan pergi besok... Sebenarnya aku ingin menghabiskan waktu dan lebih banyak denganmu... Pelukan... Ciuman... Dan yang lainnya... Tapi aku tidak bisa melakukannya karena sedang flu..."
"Demam mu sudah turun... Dan sepertinya gejala flunya sudah hilang..."
"Aku hanya takut jika kamu akan terkena flu ketika kamu di Indonesia..."
Nia menepuk lembut kepala Eun Dan
"Kamu sangat menggemaskan ketika seperti ini..." Ujar Nia sembari tersenyum
"Kamu harus diajari cara membuat batasan.." ujar Eun Dan dengan lembut sembari menarik Nia kedalam pelukannya dan mengecup bibir Nia
"Kamu benar-benar mencukur janggut... Janggutnya bahkan belum benar-benar terlihat tapi sudah di cukur..." Ujar Nia sembari mengelus rahang bawah suaminya itu
"Aku Sebelumnya adalah idol... Selain itu jenggot sangat menggangu..."
"Baiklah... Aku akan menyelesaikan berkemas terlebih dahulu, kemudian baru bisa lakukan semua yang kamu inginkan..." Ujar Nia kemudian kembali merapikan pakaian.
"Apa ini?... Aku seperti sedang dalam sebuah drama... Menjadi karakter utama wanita yang begitu dicintai pemeran utama pria.."
"Jika ini sebuah drama kamu memang pemeran utama wanitanya..."
"Oppa... Tidak lama lagi akan memasuki musim dingin... Kamu harus mengenakan pakaian yang tebal agar tetap hangat... Jangan lupa solat juga..."
"Apa ini?... Sebuah perpisahan?"
"Aku hanya ingin mengatakannya..."
"Kamu bisa menghubungi ku... Apa kamu berencana putus kontak suamimu...?" Ujar Eun Dan terdengar kesal
"Itu yang sering aku dengar dari drama-drama yang pernah ku tonton..."
"Apa kamu sedang bercanda?!"
"Maaf..." Ujar Nia menyesal
"Jangan berfikir untuk tidak menghubungiku... Kamu mengerti..?"
"Baik... Baik... Aku akan sering menghubungi suamiku tersayang.... Tapi Oppa..."
"Kenapa?"
"Kamu membeli tiket pesawat untuk penerbangan di pagi hari... Aku pikir kamu ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan ku..."
"Jika penerbangan di siang hari kamu akan tiba saat malam... Akan menyusahkan jika kamu pulang larut... Dan akan membuatku terus mencemaskan mu... Ketika tiba di rumah kamu harus segera memberi tahu ku.. kamu mengerti?"
"Jadi begini rasanya ketika ada seorang yang mencemaskan mu..."
"Apa kamu tidak pernah dicemaskan oleh orang lain?"
"Bukan begitu... Mereka terkadang mencemaskan ku... Tapi ini kali pertama aku mendengar seseorang mengatakan dia akan mencemaskan ku... Ini seperti dalam drama..."
"Ini bukan sebuah drama... Ini kehidupan nyata... Dan jika benar ini adalah mimpi seperti yang selalu kamu katakan... Aku akan menjadi sangat egois... Aku tidak akan pernah membiarkan mu untuk bangun..."
__ADS_1
Nia selesai berkemas dan menghampiri Eun Dan yang tetap berdiri menatapnya sejak tadi.
"Kita bisa duduk terlebih dahulu...(mengajak Eun Dan duduk di sofa)... Kamu tidak akan berhenti menatapku seperti itu..?" Ujar Nia
"...(mengangkat tubuh Nia kepangkuannya) aku akan sangat merindukanmu... Jadi aku harus puas melihat mu sebelum kamu pergi.."
"Aku hanya pergi semala satu bulan..."
"Hanya sebulan?... Sehari saja terasa begitu lama dan kamu mengatakan hanya satu bulan?"
"Apa ini? Kenapa kamu marah?... Kamu tidak akan terlalu mengingat ku ketika kamu sibuk dengan pekerjaan".
"Aku mulai kesal dengan apa yang kamu katakan"
"Kenapa kamu kesal? (Mengecup kening suaminya)... Kamu akan sibuk bekerja dan ketika pulang itu sudah larut, kamu tidak akan punya waktu untuk merindukan ku.."
"Apa kamu tidak akan menghubungi ku?"
"Apa ini?!... Aku tidak tau kalau Do Eun Dan yang sangat dingin bisa menjadi begitu posesif seperti ini..."
Terdengar suara ketukan di pintu kamar mereka, Nia bangun dari pangkuan Eun Dan kemudian membuka pintu, dia menemukan ayah mertuanya berdiri di sana.
"Keluarlah dari kamar... Ajak suamimu juga" Ujar tuan Do
Eun Dan bersama Nia turun ke ruang tamu, mereka melihat ayah, ibu, dan nenek sedang duduk di sana.
"Ada apa ini?... Ayah juga pulang lebih awal" Ujar Eun Dan
"Apa kalian akan terus berada di kamar seharian?" Ujar tuan Do
"Aku hanya...." Ujar Eun Dan terpotong oleh ayahnya
"Hanya apa...? Selain Nia yang akan pergi ke Indonesia kamu juga akan kembali ke Seoul besok... Kamu tidak akan menghabiskan waktu bersama kami?... Selian itu apa kami tidak bisa menghabiskan waktu bersama menanti kami sebelum di pergi?" Ujar tuan Do
"Kenapa kamu marah..?!" Ujar nyonya Do mulai cemas
"Nia sebelumnya berkemas... Karena itu kami berada di kamar... Nia juga belum lama kembali setelah bicara dengan ibu dan nenek..."
"Sudahlah... Kalian seharusnya mengecilkan suara kalian..." Ujar nenek
"Benar kita seharusnya membicarakan hal yang baik... Bagaimana kalian bisa bertengkar disaat seperti ini?" Ujar nyonya Do
Sisa hari itu mereka habiskan dengan mengobrol dan tertawa bersama, malam pun tiba Nia bersama suaminya berada di kamar siap untuk tidur.
"Nia... Apa aku benar-benar mirip ayah?... Aku pikir dia terlalu sering berteriak padaku..." Ujar Eun Dan yang sedang saling menatap dengan istrinya sembari berbaring di ranjang mereka
"Kamu tidak ingat?... Belakangan kamu juga sering berteriak... Dari pria yang dingin sekarang menjadi begitu hangat"
"Aku berteriak karena merasa cemas.."
"Ayah juga begitu... Sama halnya ketika kamu akan merindukan ku ketika aku pulang ke Indonesia... Dia juga akan merindukanmu ketika kamu kembali ke Seoul... Dia juga merasakan hal yang sama... Kalian tidak memiliki hubungan yang baik sudah sangat lama dan sekarang hubungan kalian menjadi sangat baik dalam waktu yang singkat... Suamiku akan baik-baik saja bukan?"
"Apa ini?... Kamu hanya akan pergi selama satu bulan kenapa berbicara seakan ingin pergi begitu lama?"
"Benar bukan?... Aku hanya akan pergi selama satu bulan kenapa kamu bersikap jika aku akan pergi sangat lama?"
"Satu bulan itu sangat lama bagiku?"
"Suamiku... suamiku..." (U-ri nam-pyeon '우리 남편')
"Kenapa?"
"Aku hanya suka mengatakannya... Suamiku... Dari dulu aku sangat ingin memanggil suamiku seperti itu... Tapi aku tidak pernah berfikir jika aku akan menikah dengan pria Korea dan itu adalah Do Eun Dan... Seseorang yang ku kagumi"
"Kalau begitu izinkan pria Korea ini memeluk istri yang sangat ia cintai..."
Mendekap Nia dalam pelukannya
Esok harinya Eun Dan berpamitan akan pulang ke Seoul dan Nia akan kembali ke Indonesia, mereka terdengar seperti sepasang kekasih yang harus berpisah ketika perkenalkan dengan keluarga, namun itu adalah kenyataan yang harus mereka jalani, Eun Dan harus pulang ke Seoul sendirian setelah mengantar istrinya ke bandara dan menunggu penerbangannya. Saat di perjalanan bahkan ketika Nia akan menaiki pesawat Eun Dan tidak melepaskan tangannya, namun dia tidak menangis karena dia tau ini bukan perpisahan yang begitu lama, mereka akan bertemu lagi setelah satu bulan selain itu mereka bisa melakukan panggilan video.
Hanya saja setelah pesawat Nia lepas landas dadanya terasa begitu sesak, dia kembali ke mobil dengan perasaan yang sedih dan tidak karuan, sepanjang perjalanan dia begitu murung dengan suasana yang terasa begitu sunyi dan mencekam, setelah beberapa jam di perjalanan Eun Dan tiba di rumah.
"Kenapa jalanan begitu macet... (Mengusap air mata yang mengalir di wajahnya tanpa dia sadari) apa ini.... Dia baru saja pergi... Dia hanya pergi sebentar... Dia tidak meninggalkan ku seperti sebelumnya... Jadi kenapa aku.... Kenapa rasanya begitu sesak..."
Air matanya tidak berhenti mengalir tanpa ia sadari, Eun Dan berjalan menuju ke kamarnya membawa kopernya, ketika tiba di kamar Eun Dan pergi ke kamar mandi, dia mencuci tangannya dan tiba-tiba kepalanya sedikit pusing, tetesan darah jatuh di wastafel dia berusaha menghentikan itu dengan menutup hidungnya dan mendongakkan kepalanya, setelah pendarahan selesai dia mencuci tangan dan wajahnya, Eun Dan kemudian mengambil tisu untuk mengeringkan wajahnya.
__ADS_1
"Ini terjadi lagi.... Kamu akan baik-baik saja... Tapi... bagaimana jika dia mengetahui hal ini?... Kamu akan sering membuatnya sedih... Apa ini ada obatnya?..." Ujarnya sembari menatap wajahnya di cermin