
Malam itu berlalu dengan keceriaan, subuh pun tiba Nia membangunkan Eun Dan untuk solat, terdengar suara ketukan pintu di luar kamar kedua pengantin baru itu, Eun Dan membuka pintu yang di lihatnya ada Arya yang berdiri dan nampak canggung.
"Ini waktunya subuh, kita bisa solat berjamaah selain itu kami tidak tau arah kiblat!" Ujarnya canggung
"Aku akan ambil wudhu terlebih dahulu di sana (menunjuk salah satu sudut ruangan) kita akan solat di sana!" Ujar Eun Dan
"Baiklah kami akan menunggu!" Jawab Arya kemudian pergi meninggalkan Eun Dan
"Apa yang terjadi?" Tanya Nia yang baru saja selesai mengambil wudhu
"Arya dan yang lainnya juga akan solat, kita akan solat di depan" jawab Eun Dan
"Apa ada tempat khusus solat?" Tanya Nia
"Kau ingat sudut kecil tempat foto-foto di depan, aku mengubahnya menjadi tempat solat karena itu tepat mengarah ke kiblat!" Ujar Eun Dan
"Seingat ku itu tidak sekecil itu..." Gumam Nia
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak.... Sebaiknya kau ambil wudhu jangan buat yang lainnya menunggu!" Ujar Nia
Mereka melakukan solat subuh berjamaah dengan ayah Ayu yang menjadi imam, setelah selesai solat mereka segera bergerak melakukan tugas mereka, para wanita pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah, sedangkan para pria-pria itu asik mengobrol di ruang tamu sembari di suguhi kopi dan cemilan.
Siang pun tiba Eun Dan sudah menyiapkan tempat-tempat yang akan mereka kunjungi bersama, Eun Dan pergi bersama mereka sembah menggunakan masker dan hoodie, meski sebagai mantan idol namun dia baru saja berhenti, pesta pernikahan yang baru digelar kemarin bahkan masuk berita dan banyak ditemukan di internet, untungnya wajah istri yang menjadi privasi tidak terungkap ke publik karena wajahnya ditutupi menggunakan stiker ketika orang-orang memposting foto itu.
Eun Dan takut jika wanita yang ia cintai dan perjuangkan akan mendapatkan hujatan dari para netizen yang begitu kejam dan hanya mencari masalah dan kesalahan orang lain, dia tidak ingin hal itu di alami oleh istrinya dan itu merupakan janjinya untuk melindungi Nia sebelum mereka menikah.
Tujuan pertama mereka adalah orang banyak kebun violet, saat itu bunga violet sedang begitu indahnya sayang jika dilewatkan begitu saja, mereka menempuh sekitar tiga jam untuk sampai di tempat tujuan, sesampainya di sana mereka mengambil beberapa foto bersama, dari foto mereka beramai-ramai maupun hanya berpasangan atau sendiri, intinya mereka bersenang-senang di taman itu, setelah selesai menikmati keindahan violet Eun Dan mengajak semua orang untuk pergi makan siang di restoran terdekat yang cukup terkenal dengan makanan enak meski bukan makanan bintang lima, selain rasanya yang enak itu juga restoran yang terjamin kehalalannya, hidangan utama di restoran itu adalah makanan laut namun bisa juga memesan makanan lain.
Mereka semua memesan hidangan yang berbeda, supaya bisa merasakan semuanya dengan berbagai, terdapat begitu banyak jenis makanan yang mereka pesan, hanya saja kedua pasangan baru itu memesan hidangan yang terbuat dari ayam.
"Kenapa menatap seperti itu?" Ujar Nia melihat tatapan semua orang
"Bukankah kita ke sini untuk makan seafood? Kenapa memesan ayam? Kau kan suka udang" ujar Ayu
"Aku bisa meminta punyamu!" Ujar Nia
"Kau tidak suka ini?" Tanya Arya kepada Eun Dan menunjuk makanan yang dia pesan
"Bukan tidak suka,... Tepatnya aku tidak bisa makan kerang, aku memiliki gejala alergi yang cukup parah yang bisa berakibat fatal!" Jawab Eun Dan
"Kalau begitu jangan makan, kau harus memiliki umur yang panjang!" Ujar ayah Ayu diikuti gelak tawa semua orang
Nia dan Eun Dan saling menatap dan tersenyum, mereka kemudian memakan makanan mereka dengan lahap, Ayu terkadang menyuapi Nia udang yang begitu di sukai Nia, begitu juga Nia menyuapi Ayu ayam yang dia pesan, dari semua jenis masakan berbeda yang di pesan mereka bisa merasakan setiap cita rasa berbeda dari makanan-makanan itu, namun Eun Dan hanya bisa memakan ayam yang dia pesan dan yang Nia pesan, dia tidak berani memakan pesanan yang lainnya karena di masak bersamaan dengan kerang, dia hanya takut menyusahkan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepadanya, selain itu alergi yang dideritanya cukup parah dan bisa saja merenggut nyawanya.
"Eun Dan..." Ujar Arya
"Ada apa.....?" Jawab Eun Dan berbahasa Indonesia
"Bisakah kita pergi ke mall?" Ucap Arya canggung
"Benar... Kita perlu membeli sesuatu untuk oleh-oleh dan juga untuk pribadi..." Ujar Ayu bersemangat
"Baiklah... Kita bisa ke sana setelah makan" ujar Eun Dan
"Ini tidak merepotkan bukan?" Ujar ibu Ayu
"Tidak perlu sungkan, aku merasa lebih baik jika melakukannya" ujar Eun Dan dengan bahasa Korea, Nia kemudian segera menerjemahkan perkataan Eun Dan
__ADS_1
"Sepertinya kau harus lebih sering berlatih bahasa Indonesia untuk berkomunikasi!" Ujar Arya
"Aku memang harus melakukannya" jawab Eun Dan berbahasa Indonesia
Setelah makan mereka menuju ke mall, mereka harus menempuh perjalanan yang cukup panjang sebelum tiba di mall, setibanya di tempat tujuan mereka memutuskan untuk berpisah dan bertemu kembali di restoran yang ada di mall untuk makan malam, Eun Dan pergi bersama Nia dan ibu mertuanya menyusuri keramaian mall. Seperti anak kecil yang tidak ingin jauh dari ibunya Eun Dan tidak melepaskan pegangannya pada Nia, mereka selalu bergandeng tangan selama berjalan-jalan.
"Buk... Kita liat baju yang di sana yuk...!" Ujar Nia sembari menunjuk salah satu toko pakaian di mall itu
Mereka pergi melihat-lihat pakaian yang ada di sana.
"Apa kau tidak akan melepas tangan mu?" Tanya Nia kepada Eun Dan
"Apakah harus?" Ujar Eun Dan terdengar kecewa
"Bantu aku memilih pakaian!" Ujar Nia
Eun Dan menyusuri pakaian yang bergantungan itu dengan tangan kirinya dengan tangan kanannya masih menggenggam erat tangan Nia, kelakuan Eun Dan yang kekanakan membuat Nia hanya bisa tersenyum dan pasrah dengan suaminya itu. Ibunya menemukan pakaian yang dia inginkan dan memperlihatkannya kepada Nia dan Eun Dan.
"Itu cantik...!" Ujar Eun Dan melihat gamis berwarna marun yang dipilih ibu Nia
"Ibu mau yang itu?" Tanya Nia
"Apakah tidak apa? Ini terlihat mahal" jawab ibunya
"Tidak perlu pikirkan harga, asalkan ibu suka aku akan membayarnya,...... mm..... (Bingung menerjemahkan perkataan yang ingin dia ucapkan selanjutnya)... Ibu... Pilih saja ini tidak akan terjadi setiap saat... (Dia tersenyum canggung namun tertutup oleh maker, dia sedikit menunduk melihat Nia sembari berbisik)... Aku mengatakan hal yang benar bukan?" Ujarnya gugup
"Kau mengatakannya dengan sangat baik!" Ujar Nia diikuti senyuman sembari menatap suaminya itu
"Kalau begitu ibu mau ambil yang ini!" Ujar ibunya
"Ibu bisa pilih yang lain.." sahut Eun Dan
"Apakah tidak masalah?" Tanya ibu
"Tidak apa Nia juga punya tabungan kalau ibu tidak enak dengan menantu ibu ini" ujar Nia
Eun Dan mendapatkan telpon dari ibunya, dia merasa sedikit kecewa karena harus melepaskan tangan Nia dan pergi mengangkat telepon, namun Nia terlihat begitu tenang dan biasa saja dia bahkan tersenyum dan melambaikan tangan kepada Eun Dan.
"Dia sangat tidak peka!" Ujar Eun Dan yang menjauh untuk mengangkat telepon.
Ibunya menanyakan kapan Eun Dan akan mampir ke rumah bersama istrinya sesuai perjanjian yang sudah di sepakati sebelum pernikahan, Eun Dan menjelaskan bahwa saat itu dia sedang berada di mall bersama keluarga Nia.
"Besok malam mungkin bisa... Mereka akan kembali ke Indonesia besok!" Ujar Eun Dan
"Apa menantu ibu juga akan pulang ke negaranya?" Tanya ibunya cemas
"Dia akan tinggal jadi tidak perlu berlebihan!.... Tapi ibu.... Terima kasih karena menerimanya.... Meski begitu banyak perbedaan di antara kami... Awalnya aku pikir ibu akan melarang keras hubungan ini.." Ujar Eun Dan
"Ini pertama kalinya kau menyukai seseorang bagaimana ibu bisa menolaknya begitu saja... Ibu sangat takut jika kau adalah seorang gay..." Ujar ibunya
"Gay... Ibu sepertinya terlalu kejam soal itu.." jawab Eun Dan
"Pokoknya kau harus membawa menantuku pulang dan menginap disini untuk beberapa hari... Kau tau ayahmu mempersiapkan semuanya.... Pada akhirnya dia sepertinya sangat menyukai istrimu itu...." Ujar ibunya senang
"Itu hal yang bagus.." jawab Eun Dan
"Sudahlah pergi sana jangan tinggalkan menantuku dan ibu mertuamu terlalu lama!" Ujar ibunya kemudian mengakhiri panggilan
Eun Dan kembali kepada istri dan ibu mertuanya, melihat kedua wanita itu bersenang-senang membuatnya ikut bahagia, namun dia mulai merasa panas dengan hoodie dan masker yang dia kenakan, namun dia harus tetap bertahan untuk sementara waktu.
__ADS_1
"Kalian bersenang-senang tanpa ku" ujar Eun Dan
"Lihatlah aku memilihkan ini untukmu!" Ujar Nia memperlihatkan sweter yang dia pilih.
"Aku akan mengambil yang ini" ujarnya tanpa berpikir disertai dengan senyum lebar di wajahnya
Setelah selesai berkeliling mereka memutuskan untuk pergi ke restoran mall, di perjalanan mereka bertemu dengan Ayu dan keluarganya jadi mereka tidak perlu saling mencari lagi dan segera pergi menuju restoran, sebelum memesan makanan Eun Dan menanyakan setiap bahan makanan yang mereka gunakan dan tidak ada masalah dengan itu jadi mereka bisa makan di sana.
Perjalanan yang melelahkan berakhir ketika tiba di rumah, mereka pergi ke kamar untuk membersihkan diri, Eun Dan meminta Nia untuk mandi bersama dengannya.
"Mandi bersama?" Ujar Nia kaget
"Kita sudah menikah tidak ada salahnya mandi bersama, dalam agama itu juga hukumnya sunah..." Ujar Eun Dan
"Tapi tetap saja aku tidak terbiasa dengan itu!" Jawab Nia
"Kita butuh membiasakannya untuk menjadi terbiasa" ujar Eun Dan kemudian pergi meninggalkan Nia untuk mandi
Nia memutuskan untuk memberanikan diri dan mandi bersama suaminya untuk pertama kalinya.
"Tidak apa-apa dia adalah suamiku.... Tidak apa... Tidak perlu gugup... Apa yang perlu ditakutkan... Semuanya akan baik-baik saja..." Ujar Nia memberanikan diri.
Nia memasuki kamar mandi dan melihat Eun Dan yang sedang mandi
"Kau akan mandi bersama?.... Kemarilah tidak perlu cemas aku tidak akan menyakitimu..." Ujar Eun Dan
Rasa canggungnya mulai berangsur dan terasa biasa saja mereka hanya mandi bersama dalam satu ruangan, yang membuat canggung adalah karena itu pertama kalinya. Selepas mandi mereka memutuskan untuk pergi ke ruang tamu dan bergabung bersama yang lainnya.
"Kalian sudah datang" ujar Arya
"Duduklah.... Ini malam terakhir kami disini..." Jawab Ayu yang sudah tidak canggung dan tidak terlintas dipikirannya bahwa Eun Dan adalah salah satu idol yang ia gemari meski dia sudah berhenti.
"Terima kasih untuk hari ini..!" Ujar ayah Ayu
"Tidak perlu berterima kasih tentang itu" jawab Eun Dan
"Besok kami akan kembali ke Indonesia, ku pikir aku akan sangat merindukanmu.." ujar Arya dengan canggung
"Merindukanku..." Ucap Eun Dan kebingungan
"Benar... Kami akan merindukanmu...." Ujar ibu Ayu
"Aku akan sering berkunjung..." Jawab Eun Dan
"Nia akan kembali ke Indonesia setelah sepekan bukan?" Tanya Ayu
"Benar..." Jawab Eun Dan kecewa
"Sepertinya ada yang sedang sedih soal itu" ujar Ayu menggoda Eun Dan
"Aku memang sedih tapi pasti bisa melewatinya itu hanya masalah waktu...." Jawab Eun Dan
"Nia bisa tinggal di sini bersamamu, ibu akan baik-baik saja meski sendirian di Indonesia, tapi sering-sering kunjungi ibu di sana" ujar ibu Nia
"Bibi tidak sendirian Ayu bakal sering main kok!" Ujar Ayu
Semuanya terasa begitu asing bagi Eun Dan karena dia tidak memiliki hubungan yang baik dengan keluarganya sejak dia SMA, selain itu dia tidak memiliki waktu untuk memperbaiki hubungan karena dia sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang idol sebelumnya, namun belakangan setelah memutuskan menikah dengan Nia hubungannya dengan keluarga mulai membaik, meski awalnya dia harus bertengkar dengan ayahnya setelah sekian lama tidak bertemu, namun hubungan mereka menjadi lebih baik setelah itu, hal itu juga karena tekad Eun Dan yang sangat kuat untuk mempersunting Nia dan akhirnya dia diminta berjanji akan tinggal selama 4 hari dikediaman keluarganya setelah menikah dengan Nia, itu adalah persyaratan dari neneknya.
Neneknya sangat menyayanginya dan selalu mendukung semua keputusan Eun Dan bahkan ketika Eun Dan memutuskan menjadi idol yang sangat ditentang oleh ayahnya, nenek selalu mendukungnya namun nenek memberi syarat itu agar cucu menantunya kelak dapat berusaha merebut hari orang-orang yang ada di keluarga itu, tapi ternyata hati orang-orang itu sudah terbuka untuknya sebelum pernikahan tiba, tetap saja persyaratan itu harus tetap dilaksanakan sesuai awal mula kesepakatan bersama.
__ADS_1