Kebahagiaan Terindahku Dapat Bersamamu.

Kebahagiaan Terindahku Dapat Bersamamu.
Keegoisan dalam cinta


__ADS_3

Eun Dan sedang duduk di sofa, Nia mendekati suaminya itu.


"Kenapa malah duduk di sini... Seharusnya kamu berbaring di tempat tidur..." Ujar Nia meninggikan suaranya karena cemas


"Aku baik-baik saja... Ini hanya flu... Uhuk..(batuk ringan)..."


"Cepat berbaring.... Mungkin hanya flu ringan namun itu bisa menjadi buruk jika tidak di tangani..."


Eun Dan menuruti permintaan Nia dan segera berbaring di tempat tidur, Nia kemudian menyeka keringat Eun Dan.


"Ini sangat panas..." Ujar Eun Dan kemudian bangun dan melepaskan bajunya


"Apakah sangat buruk?" Ujar Nia cemas


"Tidak... Aku akan baik-baik saja.." jawab Eun Dan berusaha menenangkan Nia


Nia menyeka semua keringat yang ada di tubuh Eun Dan, setelahnya dia mengambilkan baju untuk suaminya itu namun dia memilih baju yang tipis untuk Eun Dan, setelah Eun Dan memakai bajunya Nia meletakkan handuk basah di kening Eun Dan sebagai kompres.


"Aku akan mengambil makanan untuk mu supaya bisa minum obat..." Ujar Nia


"Jangan terlalu lama... Aku tidak mau sendirian..." Ujar Eun Dan dengan suara yang begitu lemah


"Aku akan segera kembali..." Ujar Nia


Nia kemudian turun untuk memasak bubur, Nia memerlukan waktu yang cukup lama untuk memasak bubur untuk Eun Dan, setelah bubur masak Nia mulai menyajikan bubur di wadah, ketika berbalik betapa terkejutnya Nia melihat Eun Dan dengan wajah pucat itu berdiri di menatapnya.


"Apa yang kamu lakukan di sini... Kamu seharusnya istirahat di kamar.." ujar Nia


"Kamu sangat lama... Aku sudah mengatakan kamu harus segera kembali..." Jawab Eun Dan


"Baiklah mari kembali ke kamar..."


Mereka kemudian kembali ke kamar, Eun Dan berjalan di belakang Nia dia tidak ingin pergi lebih dulu, setelah berada di kamar Eun Dan segera berbaring di tempat tidur, Nia kemudian membantu Eun Dan mengenakan selimut.


"Makan dulu... Supaya bisa minum obat.." ujar Nia yang ingin menyuapi Eun Dan


"Aku tidak nafsu makan..."


"Kamu tetap harus makan meski hanya sedikit... Kamu harus minum obat.."


Eun Dan membuka mulutnya, meski hanya makan dua suapan setidaknya dia sudah makan, Nia kemudian menyuruh Eun Dan meminum obat, sesudah minum obat Eun Dan mulai mengantuk kemudian ia tertidur. Setelah suaminya tidur Nia pergi mandi.


Nia terus terjaga untuk memeriksa setiap perkembangan demam suaminya itu, namun akhirnya Nia tertidur karena tidak bisa menahan kantuknya, dia tertidur dengan posisi duduk di sisi ranjang di dekat Eun Dan, keesokan harinya Eun Dan terbangun dari tidurnya dan melihat Nia tertidur dalam posisi yang membuat Eun Dan sangat tidak suka.


"Apa yang dia lakukan?.... Bagaimana bisa tidur dengan posisi seperti itu... (Turun dari tempat tidur dan mengangkat Nia kemudian menidurkan Nia di tempat tidur)... Tubuhnya mungkin akan terasa sakit.." ujar Eun Dan


Eun Dan hanya duduk dan terus menatap Nia yang sedang tertidur, setelah beberapa saat Nia terbangun dari tidurnya dan menemukan Eun Dan yang sedang menatapnya, Nia segera bangkit dan mengecek tubuh suaminya itu.


"Suhu tubuhku sudah lebih baik... Aku juga merasa baik-baik saja sekarang..." Ujar Eun Dan sembari tersenyum


"Syukurlah..." Ujar Nia kemudian memeluknya


"Maaf karena sudah membuatmu begitu cemas..."

__ADS_1


"Jangan sakit.... (Melepaskan pelukannya kemudian memegang wajah Eun Dan dengan kedua tangannya)... Besok aku akan kembali ke Indonesia... Jika kamu sakit bagaimana aku bisa mengurus mu..." Ujar Nia yang begitu cemas


"Aku tidak bisa menjamin jika aku tidak akan sakit..."


"Apa yang kamu maksud?..."


"Baiklah aku akan menjaga kesehatan dengan lebih baik..." Ujar Eun Dan


"Jam berapa sekarang...?"


"Pukul tujuh pagi... Kenapa..?"


"Aku bangun kesiangan... Seharusnya sudah bangun sejak awal..." Ujar Nia bergegas untuk turun dari tempat tidur namun di hentikan Eun Dan


"Tidak perlu terburu-buru... Mereka pasti tau jika aku akan menyusahkan jika sedang sakit..."


"Bagaimana mereka bisa mengetahui hal itu..?"


"Karena ayah juga begitu... Mungkin tidak lebih menyusahkan daripada diriku... Selain itu aku ingin kamu disini menemaniku..." Ujar Eun Dan


"Kamu juga harus sarapan.... Jadi tetap harus bangun..."


"Aku bisa sarapan terlambat... Jadi tetap disini meski hanya sebentar... Tapi... Kamu tidak menyuruhku untuk kerja?.."


"Bagaimana aku bisa menyuruh orang yang sedang sakit untuk bekerja?"


Mereka saling bertatapan, Nia kemudian mengecup bibir Eun Dan diikuti senyuman.


"Aku mengecup bibir mu" jawab Nia kemudian kembali mengecup bibir Eun Dan.


"Hentikan... Kamu tidak harus melakukan ini..."


"Kenapa kamu begitu marah?..."


"Aku sedang terkena flu... Bagaimana jika itu tertular padamu... Aku tidak ingin kamu ikut terkena flu.." ujar Eun Dan


".... Apa aku harus meminta maaf untuk itu..?"


"Hei.... Apa kamu sedang bercanda?"


"Sudahlah aku akan pergi mandi..." Ujar Nia terlihat murung dan bangkit dari tempat tidur


"Nia.... Apa kamu marah?... Aku hanya mencemaskan mu.... Bagaimana kamu marah begitu saja..."


"Aku tidak merasa marah sama sekali... Aku hanya kesal... Kamu selalu melakukan apa yang ingin kamu lakukan... Tapi kamu marah ketika aku melakukan hal sederhana seperti itu..."


"Aku hanya mencemaskan mu...!" Ujarnya meninggikan suaranya


"Kamu pikir hanya kamu yang bisa mencemaskan ku?... Aku juga bisa mencemaskan mu..."


"..... Maaf..... Tapi... Aku hanya tidak ingin kamu terkena flu... Jika benar-benar terjangkit flu bagaimana jika itu terjadi saat kamu berada di Indonesia... Aku tidak bisa merawat mu... Dan hanya merasa cemas tanpa ujung di sini..." Ujar Eun Dan menurunkan nada suaranya kemudian tertunduk menyesal


Nia mendekati suaminya yang sedang duduk di ranjang itu kemudian memeluknya.

__ADS_1


"Maaf... Karena terlalu egois..." Ujar Nia


"Maaf... Aku tidak seharusnya membentak mu.." ujar Eun Dan kemudian menyilang kedua tangannya di pinggang Nia.


"Aku tidak demam ketika terkena flu... Tapi hidungku akan sangat tersumbat sehingga kesulitan bernapas saat itu... Aku akan baik-baik saja" ujar Nia


"Bagaimana itu bisa menjadi lebih baik... Hidung tersumbat bisa sangat menggangu..." Ujar Eun Dan


"Aku sudah mengalaminya sejak kecil jadi tidak perlu terlalu cemas..." Ujar Nia sembari mengelus rambut suaminya itu


"Kamu harus sering menelepon ku dan memberi kabar..."


"Baiklah... Kmu sudah sering mengatakan itu... Aku akan sering menghubungi mu... Kemudian ketika kamu berfikir akan menelpon ku kamu harus lihat jam terlebih dahulu.." ujar Nia kemudian melepaskan pelukannya


"Kamu mau kemana?"


"Aku harus mandi..."


Nia kemudian pergi mandi sedangkan Eun Dan kembali berbaring di tempat tidur, demamnya mungkin sudah turun namun tubuhnya masih terasa begitu lemas.


"Haa~aah.... Kenapa harus terkena flu sekarang.... Dia akan pergi besok dan aku bahkan tidak bisa lebih dekat dengannya...." Keluh pemuda itu dalam keadaan mata terpejam dan berbaring di ranjang.


Saat keluar dari kamar mandi Nia menemukan Eun Dan sedang tertidur di ranjang dengan kakinya yang panjang di pinggir ranjang dengan lengannya menutupi matanya.


"Dia sepertinya sedang tidur..." Ujar Nia


Nia kemudian turun untuk menyiapkan sarapan untuk Eun Dan sembari membawa mangkuk bekas bubur Eun Dan semalam, Nia bertemu dengan ibu mertuanya di dapur.


"Kamu sudah turun...(tersenyum) suamimu pasti sangat menyusahkan..." Ujar nyonya Do


"Maaf Ibu... sudah siang dan aku baru turun kamar..." Ujar Nia


"Kenapa kamu meminta maaf... Kamu di sini adalah menantuku bukan pembantu... Kamu tidak harus bangun pagi setiap hari... Kita punya pelayan untuk mengerjakan pekerjaan rumah.... Selain itu suami mu sedang sakit, dia pasti sangat menyulitkan... Oh iya... Besok kamu akan kembali ke Indonesia bukan?..." Ujar nyonya Do


"Iya.... Aku akan pulang besok...!" Jawab Nia


"Nia.... Nia.... Kamu dimana?.." Teriak Eun Dan sembari menuruni tangga kemudian pergi ke dapur.


"Kenapa kamu berteriak?.. istrimu tidak akan lari kemana-mana.." ujar nyonya Do


"Apa kamu bermimpi buruk?.." ujar Nia dengan lembut


"Tidak... Hanya saja aku tidak bisa menemukan mu ketika bangun dan itu cukup mengganggu ku..." Ujar Eun Dan.


"Kamu harus mulai terbiasa dengan keadaan ini.... Nia besok akan kembali ke Indonesia jadi setelah itu kamu akan terbangun tanpa Nia disisi mu.." ujar nyonya Do


"Ibu... Ibu tidak perlu memperjelas itu... Itu terlalu kejam.." keluh Eun Dan


"Mari kita sarapan terlebih dahulu..." Ujar Nia


"Benar kalian harus sarapan... Aku akan pergi menemui nenek di depan.." ujar nyonya Do.


Kedua pasangan suami istri itu pergi sarapan bersama.

__ADS_1


__ADS_2