
Nia bangun pagi itu, sebelum membangunkan Eun Dan untuk solat subuh Nia kembali berfikir dan bertanya-tanya, apakah semuanya yang telah dia lalui selama ini nyata atau hanya mimpi, dia terus memikirkan hal itu sembari menatap wajah Eun Dan yang tidur.
"Dia nampak begitu tenang... Apakah tidurnya nyenyak..." Ujar Nia menatap suaminya itu
"Tidurku cukup nyenyak" bergerak mengganti posisi dari telentang menjadi miring ke arah Nia, dia membuka matanya secara perlahan dan menatap Nia
"Sejak kapan kamu bangun?" Tanya Nia
"Sejak kamu mulai bicara.... Kemarilah biarkan aku memelukmu sebentar sebelum solat..." Ujar Eun Dan merangkul Nia
"Oppa... Ini bukan mimpi bukan?"
"Kamu tau?... Jika saja ini adalah mimpi aku ingin kamu tidur lebih lama dan tetap di mimpi ini bersama ku... Ini mungkin terdengar egois... Tapi... Hanya itu keinginanku.."
"Oppa kenapa kau sangat menyukaiku?"
"Sebelum itu apakah kamu bisa bicara formal padaku?"
"Tidak.... Aku tidak bisa melakukannya... Aku ingin bicara santai dengan suamiku ini"
"Suami?... (Tersipu malu)"
"Ya... Suamiku... Lalu jawab pertanyaan ku, kenapa kau sangat menyukaiku?"
"Karena itu kamu... Kamu selalu apa adanya... Yang pertama ku lihat darimu saat itu... Kasar, tapi sangat pengertian, terkadang kekanakan dan terkadang sangat dewasa... Saat marah pun kamu sangat mempedulikan ku walau itu sebatas pekerjaan.... Aku juga berhutang maaf karena masa lalu... Aku hampir mencium mu saat itu"
"Saat kau mabuk?"
"Sebenarnya aku tidak mabuk saat itu... Aku memang banyak minum namun aku belum mabuk saat itu.... Aku sangat menyesali kejadian itu... Aku tidak seharusnya melakukannya"
"Tapi kamu tidak melakukannya..."
"Tetap saja... Aku...."
"Oppa.... Mari lupakan hal itu, mari bangun dan solat terlebih dahulu"
"Benar... Kita harus solat,... Tapi aku gagal lagi mengajakmu untuk solat.. selalu kamu yang melakukan"
"Tapi aku melakukannya semuanya karena kamu"
"Kamu?" Eun Dan terlihat senang Nia memanggilnya dengan kata kamu karena itu bahasa formal
Selepas solat subuh Eun Dan membaca buku untuk belajar bisnis karena dia akan mulai menjalankan perusahaan, sedangkan Nia memainkan ponselnya.
"Bukankah kamu juga sering membaca buku seperti ini dulu?" Ujar Nia melihat buku yang di baca Eun Dan
Eun Dan terdiam mendengar Nia berbicara formal "apa caramu bicara akan bertahan lama?" Ujar Eun Dan
"Kenapa?... Apa kamu tidak menyukainya?"
"Suka... Sangat suka.."
"Tapi biasanya ketika pria dan wanita memiliki suatu hubungan biasanya mereka akan lebih suka jika berbicara dengan bahasa informal tetapi kamu malah sebaliknya"
"Istriku tidak akan bertahan lama dengan cara bicara yang seperti ini terutama padaku... Kamu bahkan menggunakan bahasa informal ketika aku adalah bos mu"
__ADS_1
"Benar... Aku pikir ini tidak akan bertahan lama"
"Sayang..."
Nia tertegun mendengar panggilan itu, dia berfikir mungkin dia salah dengar, panggilan sayang itu terdengar sedikit canggung namun begitu jelas.
"Sayang... Nia bisakah aku memanggilmu begitu?.... Setidaknya hanya saat kita berdua" ucap Eun Dan nampak canggung
"Tentu.... Sayang..."
Eun Dan tidak dapat berkata-kata di hanya bisa tersenyum lebar, dadanya seakan ingin meledak, tubuhnya terasa begitu ringan, dia sangat ingin berteriak kegirangan namun dia menahannya.
"... Kau nampak begitu senang!" Ujar Nia
"Kau...? Hei... Setidaknya pertahanan setidaknya sehari saja bicara formal padaku" ujar Eun Dan dengan suasana hatinya mendadak berubah
"Maaf aku tidak akan mengulanginya... Oppa..."
"Wa~ah kau sudah pandai merayu belakangan ini"
"Tentu saja.... Aku memiliki suami yang kaya tapi sangat dingin... Aku harus punya kemampuan untuk merayunya agar bisa mendapatkan apa yang aku inginkan"
"Kalau begitu lakukanlah dengan baik mulai sekarang" ujar Eun Dan
"Kamu sebaiknya lanjutkan bacaan mu itu... Hari ini adalah hari pertama kamu masuk kerja... Jadi harus melakukan yang terbaik.."
"Baiklah nyonya Do"
"Nyonya Do?"
"Ini biasanya terjadi pada drama yang ku tonton"
"Tapi kali ini bukan sebuah drama.... ini nyata"
"Aku merasa senang mendapatkan panggilan itu" ujar Nia sembari tersenyum
Eun Dan membaca bukunya sembari memalingkan wajahnya yang sedang tersenyum, matahari mulai terbit Eun Dan pergi mandi sedangkan Nia menyiapkan setelan jas yang akan dikenakan Eun Dan, Nia menunggu Eun Dan selesai mandi baru kemudian ia pergi mandi, selesai mandi Nia menemukan suaminya itu selesai menggunakan setelan namun belum mengenakan dasi.
"Kenapa belum mengenakan dasinya?" Ujar Nia
"Aku ingin kamu yang membantuku mengenakan dasi... Ini hari pertamaku masuk ke kantor... Anggap saja sebagai tanda keberuntungan"
Nia mendekat ia ingin langsung membantu Eun Dan mengenakan dasi namun Eun Dan yang sedang berdiri itu begitu tinggi, sehingga Nia yang pendek tidak dapat menjangkaunya.
"Duduk saja... Kamu terlalu tinggi" ujar Nia yang mendongak menatap Eun Dan
Eun Dan kemudian duduk di tepi ranjang baru kemudian Nia membantunya mengembangkan dasi, melihat Nia yang terlalu fokus membantunya mengenakan dasi membuat Eun Dan hanya bisa tersenyum dan terus menatap wajah istrinya itu, Nia selesai memasangkan dasi untuknya Eun Dan melakukan penyerangan dadakan dengan mengecup bibir Nia, Nia sontak kaget dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Ini adalah hadiah karena telah membantuku mengenakan dasi" ujar Eun Dan sembari tersenyum
"Oppa... Mari ku bantu merapikan rambut mu" ujar Nia yang memegangi wajah Eun Dan sembari menatap rambutnya yang masih belum tertata rapi.
"Kamu.... " Menarik Nia kepangkuannya
"Apa yang kamu..."
__ADS_1
Eun Dan memberikan sebuah ciuman kepada Nia, setelah beberapa saat Nia menyudahi ciuman itu dan pergi mengambil pengering rambut, sisir dan spray rambut.
"Aku belum selesai... Kenapa kamu menyudahinya begitu saja" ujar Eun Dan yang nampak kecewa
"Kamu harus bersiap untuk bekerja... Belum waktu untuk sarapan... Jika bekerja di perkantoran kamu harus belajar disiplin dan tepat waktu" ujar Nia sembari merapikan rambut Eun Dan.
Setelah Eun Dan siap mereka turun dan menemukan ayahnya sudah berada di ruang tamu dengan setelan jas, Eun Dan menuruni tangga dengan memegang tangan istrinya yang begitu ia cintai, pemuda itu terlihat tampan dengan setelan jas, dia awalnya memang tampan namun dengan menggunakan setelan ketampanannya berlipat ganda. Setibanya di lantai bawah ayahnya mengajak Eun Dan untuk sarapan, di dapur mereka melihat ibu yang sedang menyiapkan sarapan untuk semua orang, Nia mendekat kepada ibu dan meminta maaf
"Ibu aku sangat menyesal tidak bisa membantu menyiapkan sarapan"
"Ibu juga jarang menyiapkan sarapan... Selain itu sepertinya kamu harus mengurus bayi besar mu" ujar ibu mertuanya sembari tersenyum melirik Eun Dan
Setelah selesai sarapan Nia dan ibu mertuanya mengantarkan ayah dan anak itu hingga ke mobil, kemudian kembali ke dalam setelah mereka pergi.
"Ibu... Apakah perusahaannya jauh jika dari sini?" Tanya Nia
"Cukup jauh..."
"Bagaimana jika dari Seoul..."
"Eun Dan akan mengurus saham perusahaan yang berada di Seoul... Hanya saja karena sedang berada di sini tidak ada salahnya dia belajar dari ayahnya untuk mengurus sebuah perusahaan!" Ujar ibu mertuanya
Nia hanya mengangguk mendengarkan penjelasan ibu mertuanya, sedangkan Eun Dan yang sedang berada di perjalanan terlihat cukup gugup memikirkan menjalankan perusahaan.
"Kamu pasti sangat gugup" ujar ayahnya
"Ya aku mendadak merasa sangat gugup"
"Ayah juga merasakan hal yang ketika pertama kali disuruh kakek terjun ke perusahaan... Kamu akan baik-baik saja selanjutnya... Bukankah kamu juga gugup pertama kali tampil di panggung ketika menjadi idol dan akhirnya kamu akan terbiasa" ujar ayahnya.
Eun Dan berusaha mengatur nafas untuk menenangkan detak jantungnya. Setelah Eun Dan pergi Nia tidak tau harus melakukan apa sehingga dia pergi ke kamarnya, ketika sedang duduk di meja riasnya Nia menemukan kartu kredit dan sebuah surat di bawahnya.
"Kalau saja ibu mengajakmu berbelanja... Mungkin tidak akan berguna tapi tidak ada salahnya membawanya... ' suamimu '...." isi surat yang di tulis Eun Dan untuk Nia
"Suamiku.." ujar Nia tersenyum
Nia mendengar suara ketukan pintu dan bergegas untuk membuka pintunya, Nia menemukan ibu mertuanya berada di depan pintu dengan senyum lebarnya.
"Nak... Mari kita pergi berbelanja seharian... Ini lebih baik daripada bosan menunggu para pria itu pulang bekerja" ujar ibunya sembari masuk kamar secara perlahan
"Apa dia sudah tau ini akan terjadi?" Suara hati Nia
"Bagaimana menurutmu... Kita pergi belanja?" Ujar ibunya melihat Nia
"Aku akan bersiap dan turun nanti.." ujar Nia sembari tersenyum
"Ibu juga akan bersiap... Kita akan bertemu di bawah setelah siap" ujar ibu mertuanya
Nia segera bersiap untuk pergi bersama ibu mertuanya, setelah siap mereka pergi bersama dengan pak Nam yang menjadi supir mereka, Mereka terlihat begitu senang akan pergi bersama.
"Nia apa kamu tau.... Ibu sangat menanti saat-saat seperti ini... Ibu hanya punya satu putra dan dia begitu lama untuk menikah jadi ibu sangat kesepian... Selain itu putraku sangat jauh dan sulit ditemui... Tapi sekarang ibu punya kamu... Nanti kamu ajak Eun Dan sering-sering datang berkunjung" ujar ibu mertuanya
"Kami akan sering berkunjung nantinya" ujar Nia
Mereka akhirnya sampai ke tempat pertama yang ingin di kunjungi ibu mertuanya, itu adalah toko baju tempat dia biasa berbelanja, Nia hanya mengikuti ibu mertuanya tanpa berani membantah ataupun menolak.
__ADS_1
"Toko ini terlihat sangat mahal...(tertuju pada barang yang ada di toko itu)" Ujar Nia dalam hati