Kebahagiaan Terindahku Dapat Bersamamu.

Kebahagiaan Terindahku Dapat Bersamamu.
SEKSI MENURUT KU


__ADS_3

Pagi hari itu Nia bangun lebih awal dari Eun Dan, Nia terus menatap suaminya yang sedang tidur di sampingnya itu.


"Kamu sangat aneh.... Bagaimana kamu begitu dingin kepadaku karena merindukan ku.." ujar Nia berbisik


Nia membelai wajah Eun Dan dengan lembut, kemudian mengelus kelopak mata kanan Eun Dan sembari terus menatapnya.


"Apa tidurmu nyenyak?" Ujar Eun Dan yang belum membuka matanya


"Ya.. tidurku baik hanya merasa sedikit lelah... Bagaimana dengan tidurmu?"


Eun Dan membuka matanya secara perlahan kemudian menarik Nia kedalam pelukannya


"Ini tidur terbaikku dalam sebulan terakhir..!" Ujar Eun Dan


"Kita harus bangun... Bukankah kamu harus pergi bekerja? "


"Aku mengambil libur hari ini"


"Apakah tidak apa jika kamu mengambil libur?"


"Ayah tidak akan mempermasalahkan hal itu... Selain itu aku sudah bekerja sangat keras satu bulan ini..."


"Tetap saja kita harus bangun..."


"Sebentar saja.... sepuluh menit lagi.."


"Apa ini?... Sebelumnya bersikap begitu dingin dan sekarang begitu lengket?"


"Aku tidak peduli dengan itu... Aku hanya ingin memelukmu lebih lama"


"Oppa..."


"mm...?"


"Apa aku bisa menyentuh jakun mu?"


"Kenapa?"


"Aku hanya ingin melakukannya... Saat aku remaja aku pernah mengatakan kepada diriku sendiri... Aku akan mengelus jakun suamiku ketika aku menikah..."


"Tentu... Kamu bahkan bisa melakukan apapun yang kamu mau..."


Nia kemudian memegang leher suaminya sembari mengelus lembut jakunnya.


"Sayang..." Ujar Eun Dan


"Sayang?" Sontak ujar Nia yang kaget


"Aku tidak boleh memanggil istriku dengan panggilan 'sayang'?"


"Bukan begitu... Tentu saja kamu bisa memanggilku dengan panggilan itu" ujar Nia merasa malu


"Kamu tau?... Jakun adalah salah satu area sensitif bagi laki-laki... Kamu harus berhati-hati dengan itu..."


"Aku pikir itu bukan masalah besar karena aku memegang jakun suamiku sendiri"


"Kamu seharusnya tau jika suamimu ini sangat sensitif..."


"Lalu apa masalahnya?... Kamu adalah suamiku..."


Eun Dan kemudian mengecup kening Nia dengan lembut cukup lama, Nia spontan menutup matanya secara perlahan.

__ADS_1


"Aku rasa kita harus bangun..." Ujar Nia


"Kenapa terburu-buru?..."


"Kita harus bertahan hidup...." Ujar Nia kemudian bangkit dari tempat tidur


Eun Dan tersenyum melihat Nia yang buru-buru bangun dan pergi ke kamar mandi, dia kembali berbaring yang sesekali melirik kamar mandi dan akhirnya dia memutuskan untuk pergi mandi.


Setelah selesai mandi Nia langsung pergi ke dapur, sedangkan Eun Dan masih berada di kamar mandi, Nia menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, dia menggoreng telur, memasak nasi dan memanggang roti, Eun Dan biasanya sarapan dengan roti, sedangkan Nia yang merupakan orang Indonesia tidak bisa jika tidak makan nasi, Nia juga menyiapkan sambal untuk dirinya sendiri karena suaminya tidak terlalu suka pedas.


"Jika tanpa sambal telor mata sapi dan nasi akan terasa begitu hambar... Tapi seharusnya ini menggunakan ulekan... Tapi ya sudahlah...." Ujar Nia sembari menyiapkan sambal menggunakan blender.


"Bau apa ini?..." Ujar Eun Dan yang baru datang ke dapur


"Ini cabai..." Ujar Nia


"Apa yang akan kamu masak?"


"Aku hanya menumisnya sebentar supaya rasanya tambah enak..."


"Kamu hanya akan memakan cabai giling yang di tumis itu?"


"Ini cocok untuk cocolan...! Kamu mau mencobanya?"


"Apa itu pedas?"


"Kamu bisa mencicipinya sendiri..."


"Itu sangat merah... Terlihat menakutkan..."


"Tidak akan sepedas warnanya..."


"Itu hanya luka kecil, jadi tidak apa-apa... perban sangat mengganggu..."


"Tetap saja bagaimana jika kakimu mengalami infeksi... Tidak akan terlalu mengganggu..."


"Oppa... Aku baik-baik saja jangan cemas... Biasanya meskipun terluka aku tidak menggunakan perban dan itu baik-baik saja, tidak terjadi masalah apapun"


"Tetap saja... Kamu harus mengenakannya jika berada di sisiku!!... Seperti kamu yang begitu cemas ketika aku mengalami mimisan begitu juga aku cemas ketika kamu terluka meskipun itu luka kecil... Apa kamu mengerti... Selain itu kamu harus membiasakan memakai sendal ruangan... Bagaimana jika terluka lagi?"


"Baiklah... Aku mengerti! Berhentilah marah dan mari kita sarapan...okey?" Ujar Nia merayu suaminya itu


"Baiklah... (Mereka pergi ke meja makan untuk sarapan) Apa ini sarapan ku?" Ujar Eun Dan menatap roti lapis yang ada di depannya


"Ya itu sarapan milikmu..."


"Kenapa berbeda dengan milikmu?"


"Kamu ingin nasi juga?"


"Iya.."


"Sungguh?... Kamu biasanya sarapan dengan roti atau salad sekarang ingin makan nasi sebagai sarapan?"


"Kenapa?.... Apakah tidak boleh?"


""Bukan tidak boleh... Tapi itu terdengar sedikit aneh...Lalu bagaimana dengan rotinya? Kamu tidak akan makannya?"


"Sepertinya tidak..."


"Berikan padaku..."

__ADS_1


Nia memberi Eun Dan nasi dan sedikit sambal yang dia buat sebelumnya, Nia menyuap makanannya...


"Mmmm.... Ini enak...!" Ujar Nia


"Apakah benar-benar enak?" Ujar Eun Dan ragu untuk mencicipi karena melihat sambal yang terlihat begitu pesat.


Nia kemudian menyodorkan sendok yang berisi nasi dengan sambal dan sepotong kecil telur kepada Eun Dan, Eun Dan merasa ragu untuk memakan makanan yang Nia berikan namun dia tetap memakannya, dia mengunyah makanan itu secara perlahan dan mulai merasakan pedas dari sambalnya.


"Bagaimana...?" Tanya Nia penasaran


"Ini pedas... Tapi tidak terlalu buruk..!" Ujar Eun Dan kemudian minum


"Oppa... Jangan terlalu memaksakan diri, Kamu bisa sakit perut!" Ujar Nia mulai cemas


"Ini tidak terlalu buruk... Kamu bisa kenapa aku tidak?"


"Tapi aku terbiasa dengan cabai sejak kecil, sedangkan kamu tidak terlalu suka pedas jadi jangan terlalu memaksakan diri..."


"Baiklah... Tapi aku tetap harus menghabiskan ini... Tapi sarapan mu cukup ekstrim, kamu langsung makan makanan pedas di pagi hari..."


"Aku tidak punya aturan untuk sarapan! Aku bukan orang kaya ataupun orang yang terlalu memperhatikan pola makan (diet)"


"Benar... Gaya makan mu cukup aneh... Terkadang kamu makan begitu banyak dan terkadang begitu sedikit dan itu tidak beraturan..."


"Apakah itu sangat aneh?"


"Tidak... Tapi bagaimana jika kamu sakit... Kamu terkadang harus mengatur pola makan mu"


"Baiklah suamiku aku akan mendengarkan mu"


Setelah sarapan mereka berada di ruang tamu Eun Dan sedang memasang perban di kaki Nia yang terluka, Nia terus menatap suaminya yang begitu serius ketika mengoleskan obat hingga memasang perban.


"Suamiku sangat seksi ketika sedang fokus..." Ujar Nia


Eun Dan selesai memasang perban dan membereskan obat dan perban yang dia gunakan, Eun Dan kemudian membuat Nia duduk di pangkuannya dengan Nia dalam posisi menyamping.


"Tapi... Banyak yang mengatakan aku terlihat seksi ketika sedang berkeringat dan berciuman..." Ujar Eun Dan


"Pandangan seksi seksi orang berbeda... Ciuman? Hah... Benar... Kamu melakukannya dengan baik dalam setiap drama romantis yang kamu bintangi... Benar!... Berkeringat?... Kamu tau ketika kamu berkeringat di atas panggung seluruh bentuk tubuhmu akan terlihat... Seksi? Mereka hanya melihat sisi aneh itu dan menganggapnya seksi?" Ucap Nia merasa sangat kesal


"Kamu tidak suka ketika aku berkeringat dan memperlihatkan abs di atas panggung?"


"Tidak sama sekali!!.... Apa kamu menjadi idol untuk menjual tubuhmu?"


"Nia... Kehidupan idol tidak selalu seperti yang kamu lihat... Mereka yang sering tersenyum dan selalu terlihat bahagia mungkin itu hanya ada di depan kamera..."


"Kamu bagaimana?"


"Sebelumnya... Aku berfikir jika menjadi idol itu menyenangkan dan bisa mendapatkan banyak cinta semua orang dengan keterampilan yang ku miliki bukan hanya karena penampilanku... Tapi perjalanan yang ku lalui tidak semudah yang ku pikirkan seperti ketika aku masih remaja... Perjalanan yang ku lalui sangat berat... Aku bahkan beberapa kali berfikir ingin bunuh diri dengan semua komentar kejam mereka... Tapi, juga ada yang begitu menyukai ku dan selalu menyemangati ku... Aku yang selalu kesepian dalam 13 tahun terakhir, karena meninggalkan keluarga ku untuk menjadi idol yang ternyata begitu mencekik leherku... Tapi di setiap kegelapan dan rasa sakit sebagai seorang idol juga memiliki sisi baiknya... Aku mendapatkan begitu banyak cinta dan dukungan dibalik semua komentar buruk itu... Aku juga bahkan bisa mendapatkan penggemar seperti mu yang menerima ku sebagai suamimu..."


"Apa yang kamu katakan, Kenapa begitu menyakitkan..." Ujar Nia mulai menangis yang kemudian memeluk erat suaminya itu


"Maaf... Aku tidak bermaksud melakukannya... Tapi apa kamu tidak penasaran dengan peran ku sebagai aktor?... Ku memilliki 4 drama yang bergenre romantis..."


"Hei... (Melepaskan pelukannya kemudian memukul pelan dada Eun Dan) kamu ingin menceritakan tentang setiap adegan ciuman yang kamu lakukan?" Ujar Nia sembari menangis


"Aku hanya bercanda..." Ujar Eun Dan sembari tersenyum dan menikmati kepedulian dan kecemburuan yang diperlihatkan istri yang begitu dia cintai itu.


"Kenapa kamu tertawa?... (Memukul lengan atas Eun Dan dengan cukup keras beberapa kali) kamu sangat menyebalkan..."


"Baik.. baiklah itu sakit (pukulan Nia).... ku minta maaf untuk itu... Aku sangat menyesal...jadi....berhentilah menangis..." Ujar Eun Dan mengusap air matanya

__ADS_1


__ADS_2