
Nia turun dari tempat tidur dan berdiri menghadap Eun Dan, Nia mulai melakukan aegyo (bertingkah lucu) untuk menghibur Eun Dan, meskipun tidak sesuai yang diharapkan oleh Eun Dan tapi dia menerimanya dan tertawa melihat kelakuan Nia.
"Apa kamu juga bisa bernyanyi?" Ujar Eun Dan
"Bernyanyi?.."
"Iya... Nyanyikan aku sebuah lagu...!"
"Tidak harus lagu kamu kan?"
"Lagu apapun yang kamu suka!"
"Ehem..Hem.. (batuk) dengarkan baik-baik.. ini akan memalukan karena suaraku sumbang...
멈춘 시간 속 잠든 너를 찾아가
Meomchun sigan sok jamdeun noreul chajaga
아무리 막아도 결국 너의 곁인 걸
Amuri magado gyeolguk neoi gyeochin geol
길고 긴 여행을 끝내 이젠 돌아가
Gigo gin yeohaengeul kkeunnae Ijen doraga
너라는 집으로 지금 다시 Way back home
Neoraneun jibeuro jigem dasi way back home...
(Dalam waktu yang terhenti aku menemukanmu yang sedang tertidur,
Tak peduli apapun rintangannya aku akan ada di sisimu, perjalananku yang panjang berakhir dan sekarang aku kembali, aku menemukan jalanku kembali kerumah kepadamu lagi)... Bagaimana?"
"Kamu cukup bagus menyanyikannya..." Ujar Eun Dan sembari tersenyum
"O... Kamu tersenyum... sepertinya kamu sudah lebih baik... Jadi oppa akan memaafkan ibu dan nenek bukan?"
"Baiklah... Aku akan melakukannya"
"Kalau begitu makan dulu..."
Nia mengambil makanan yang ada di nampan yang di bawanya sebelumnya
"Bantu aku untuk makan..." Ujar Eun Dan
"Baiklah..." Jawab Nia
Nia mulai menyuapi Eun Dan makan, setelah selesai makan Nia turun untuk meletakkan piring kotor ke dapur, Eun Dan berjalan di belakangnya dan menemui yang lainnya di ruang tamu, Eun Dan duduk di sofa dekat ayahnya, nyonya Do kemudian pindah tempat duduk untuk mendekati Eun Dan.
"Kamu sudah makan?" Ujar nyonya Do kepada Eun Dan
"Sudah" jawab Eun Dan
"Nenek minta maaf untuk sebelumnya" ujar nenek
"Ibu juga sangat menyesal" sahut nyonya Do
"Aku sudah melupakannya" jawab Eun Dan
"Terima kasih... Ibu tidak akan mengulanginya lagi" ujar nyonya Do
"Sebaiknya begitu" ujar tuan Do
Mereka mendengar suara sesuatu yang pecah berasal dari dapur, sontak Eun Dan tergesa-gesa pergi ke dapur untuk melihat jika saja Nia terluka, ketika tiba di dapur Eun Dan menemukan Nia sedang berjongkok dan memegang kepalanya.
"Ada apa? Apa kamu terluka? Apa sakit?" Ujar Eun Dan yang cemas
Nia melihat wajah Eun Dan
"Oppa?" Ujar Nia
"Iya ini aku... Kamu tidak bisa melihat ku?" Ujar Eun Dan
"Kepalaku pusing... Aku tidak bisa merasakan kakiku... Dan semuanya mendadak menjadi rabun... Aku tidak bisa melihat dengan jelas dan kepalaku sakit selain itu dadaku terus berdebar" ujar Nia
Eun Dan kemudian memeluk Nia dengan penuh kecemasan di hatinya, segera dia menggendong Nia.
__ADS_1
"Ibu bisa bantu aku membersihkan pecahan itu?" Ujar Eun Dan
"Baiklah ibu akan membersihkannya" jawab nyonya Do
"Bawa dia ke kamar ayah akan memanggil dokter" ujar tuan Do
Eun Dan membawa Nia ke kamar mereka, kakinya terasa begitu lemas namun dia terus berjalan menaiki tangga seolah dia tidak merasakan apa-apa, hingga dia membaringkan Nia di tempat tidur dia benar-benar tidak bisa menopang tubuhnya lagi, kakinya semakin lemas dan ambruk dia mulai menangis di sisi ranjang.
"Oppa?.. Oppa?... Apa kamu menangis? Oppa? Kamu dimana?" Ujar Nia
Eun Dan menguatkan dirinya dan berusaha untuk tenang, dia memegang tangan Nia
"Aku disini... Apakah kepalamu masih sakit?.." ujar Eun Dan
"Itu masih sedikit sakit... Penglihatan ku rasanya sudah lebih baik... Dadaku juga sudah tidak berdebar lagi... Selain itu aku sudah bisa merasakan kakiku... Oppa... Ini sangat aneh aku tidak pernah seperti ini sebelumnya... Oppa aku merasa takut..." Ujar Nia
"Aa..ah.h.." Isak tangis Eun Dan yang menutup mulutnya dengan kepalan tangannya supaya tidak menimbulkan suara
"Oppa... Jangan menangis" ujar Nia
"Bagaimana?... Dadaku begitu sesak... Sebelumnya kamu bahkan masih menari dan bernyanyi disini... Tapi sekarang... Bagaimana... Beritahu padaku bagaimana caranya agar aku bisa berhenti menangis..." Ujar Eun Dan
"Oppa?... Kamu pasti sangat menyukai ku... Benar bukan?... Kamu sampai menangis seperti itu... Tapi Oppa aku pikir aku akan baik-baik saja... Jadi berhentilah menangis"
Eun Dan menenangkan dirinya dan menghentikan tangisnya, dia kemudian bangkit perlahan dari duduknya dan naik ke ranjang.
"Aku bisa melihat mu dengan jelas sekarang... Lihatlah matamu sangat merah.." ujar Nia
"Bagaimana perasaan mu? Apakah sudah lebih baik?" Ujar Eun Dan
"Kepalaku masih sedikit pusing"
"Apa kamu membutuhkan sesuatu?"
"Ada sesuatu"
"Apa itu? Aku akan melakukan semuanya"
"Apa ini? Aku hanya ingin kamu tersenyum... Aku baik-baik saja jangan menangis lagi"
"Dia akan baik-baik saja!" Ujar nyonya Do
"Otak ku juga mengatakan itu... Tapi hatiku tidak berfikir demikian... Aku sangat cemas ibu..." Ujar Eun Dan
"Akhirnya putraku menemukan seseorang yang sangat dicintainya" ujar nyonya Do sembari mengelus lembut punggung putranya itu
"Istrimu akan baik-baik saja" ujar tuan Do sembari menepuk pelan pundak Eun Dan
Dokter Lee datang menghampiri mereka
"Dia baik-baik hanya sedikit lelah..."
Ujar dokter Lee
"Baik-baik saja?" Ujar nyonya Do
Eun Dan melepaskan pelukannya dari ibunya
"Ya dia baik-baik saja" ujar dokter Lee
"Kepalanya pusing, kaki mati rasa, matanya mendadak rabun, dan dadanya berdebar, apakah dia benar-benar baik-baik saja?" Ujar Eun Dan yang tidak terima dengan penjelasan dokter
"Iya dia baik-baik saja... Di usia awal kehamilan terkadang sesuatu yang tidak terduga akan terjadi..." Ujar dokter Lee diikuti tawa kecil
Semua terdiam mendengar penjelasan dokter Lee
"Ha... hamil?... Menantuku sedang hamil?" Ujar nyonya Do
"Sepertinya kalian belum tau jika dia sedang mengandung... Benar dia sedang hamil... Untuk memastikan usia kandungannya kalian bisa membawanya ke rumah sakit..." Ujar dokter Lee
"Kalau begitu aku akan mengantarmu ke luar" ujar tuan Do
"Baiklah... Selain itu selamat untuk mu kamu akan menjadi seorang ayah..." Ujar dokter Lee
"Kamu tidak memberi temanmu ini selamat karena akan menjadi seorang kakek?" Ujar tuan Do
"Selamat untuk mu juga" ujar dokter Lee kemudian keluar bersama tuan Do
__ADS_1
"Ibu aku akan menjadi seorang nenek" ujar nyonya Do sangat bahagia
"Aku akan punya cicit" ujar nenek
"Eun Dan kalian istirahatlah besok kita pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan" ujar nyonya Do
Eun Dan hanya diam dan tertunduk, nyonya Do keluar kamar bersama nenek, setelah menutup pintu Eun Dan menghampiri Nia yang duduk di ranjang, Eun Dan kembali menangis dan meratap istrinya itu.
"Apa kamu hanya akan berdiri di sana?" Ujar Nia menatap suaminya itu
Eun Dan duduk di dekat Nia dan memeluknya, Nia menenangkan suaminya yang terus menangis itu.
"Kenapa kamu terus menangis... Bukankah ini berita bahagia?" Ujar Nia sembari menepuk pelan pundak Eun Dan
"Tapi kamu sakit..." Ujar Eun Dan
"Aku mungkin akan sering mengalami hal seperti ini kedepannya..."
"Tidak boleh... Kamu tidak boleh sakit..."
"Hei... Itu hal yang mungkin terjadi untuk ibu hamil..."
"Mereka biasanya hanya mual dan muntah atau menginginkan sesuatu yang aneh... Tapi... Kenapa kamu malah sakit..."
"Mual dan muntah itu hal yang biasa, kamu tau dulu sepupuku muntah darah ketika sedang hamil, dia mengalaminya hingga bulan ke lima kehamilannya dan dia melahirkan seorang putra yang sehat... Dokter juga bilang itu karena aku kelelahan mungkin jika istirahat yang cukup semuanya akan baik-baik saja... Jadi jangan cemas dan berhentilah menangis..." Ujar Nia menenangkan Eun Dan
"Tapi..."
"Oppa kamu tidak penasaran berapa usia bayi kita?... Aku sangat penasaran dengan itu" ujar Nia
Eun Dan hanya menatap istrinya yang sedang tersenyum menatapnya
"Apa kamu tidak terpikir jika ini bukan bayimu?" Ujar Nia
"Apa yang kamu katakan?!" Ujar Eun Dan
"Bukan begitu... Itu mungkin terlintas di benak mu... Karena kita berpisah selama sebulan penuh..." Ujar Nia
"Itu tidak mungkin terjadi... Aku bahkan menelepon mu setiap saat" ujar Eun Dan
"Kalau begitu menurutmu berapa usia kandungan ku?" Ujar Nia
"Kapan terakhir kamu menstruasi?"
"Oh benar... Aku menstruasi sebelum pernikahan kita... Hari terakhirnya... Aku pikir dua hari sebelum pernikahan..." Ujar Nia
"Kamu tidak pernah menstruasi lagi setelah itu?"
"Tidak..."
"Dan kamu tidak cemas atau terfikir apapun?"
"Aku mudah lupa... Selain itu jadwal menstruasi ku sedikit labil..." Ujar Nia
"Tapi bukankah sudah lewat dua Minggu... Apa sering seperti itu?"
"Aku memiliki darah rendah jadi aku pikir itu normal"
"Kalau diingat-ingat ini hari ke 48 pernikahan kita..." Ujar Eun Dan
"Sudah 48 hari?"
"Kamu tidak ingat?"
"Sebentar... Setelah hari pernikahan kita menginap 3 hari di Indonesia kemudian 2 hari acara pernikahan di Korea 3 hari jalan-jalan bersama keluarga ku, kemudian 7 hari menginap di sini, satu bulan aku pulang ke Indonesia itu 30 hari dan ditambah 2 hari ini aku kembali ke Korea... Itu 47..." Ujar Nia
"Itu 48... Kamu tidak menghitung hari pernikahan kita?... Jadi itu 48"
"Bukankah seharusnya kita menghitung dari hari esoknya?... Bagaimana bisa kita menghitung usia bayi satu tahun ketika dia baru lahir?" Ujar Nia
"Tapi bayi sudah berusia sembilan bulan ketika lahir..."
"Tapi yang kita hitung itu usianya ketika di lahirkan... Bukan ketika dia mulai dikandung..."
"Tapi penghitungan usia di sini berbeda..." Ujar Eun Dan bergumam
"Baiklah... Usia pernikahan kita sudah 48 hari..." Ujar Nia memegang pipi Eun Dan dengan kedua tangannya kemudian memberikan kecupan manis padanya hal itu membuat Eun Dan kembali tersenyum
__ADS_1