Kebahagiaan Terindahku Dapat Bersamamu.

Kebahagiaan Terindahku Dapat Bersamamu.
Belanja bikin pusing


__ADS_3

Nia masuk ke toko untuk mengikuti ibu mertuanya, dia merasa canggung berada di sana karena itu untuk pertama kalinya dia akan berbelanja di toko mewah, ibu mertuanya memulihkan beberapa jenis pakaian untuknya.


"Ini tidak cocok untukmu... Kamu harus mengenakan pakaian panjang untuk menutupi seluruh tubuh.... Nia... Kamu sangat cantik dengan pakaian yang kamu kenakan saat hari pernikahan...." ujar ibu mertuanya


"Terima kasih ibu... Sebenarnya aku ingin menggunakan hijab untuk sehari-hari"


"Itu adalah hal bagus.... Tapi apakah kamu sudah bicara dengan Eun Dan?"


"Aku sudah bicara dengannya... Dia setuju dengan keputusan ku"


"Baiklah itu terdengar baik.... Kalau begitu kita harus mencari toko yang sesuai"


"Apakah harus begitu..."


"Tentu... Ibu juga ingin mengenakan pakaian seperti itu... Tapi tanpa penutup kepala..." Ujar ibu mertuanya sembari tersenyum


Mereka meninggalkan toko itu dan pergi mencari toko muslimah, karena sulit menemukan toko muslimah mereka mencari di mall mungkin saja ada gamis yang bisa mereka temukan di sana.


"Ibu... Maaf... Aku hanya bisa menyusahkan ibu" ujar Nia terlihat menyesal


"Apa yang kamu bicarakan... Kita hari ini pergi keluar untuk berbelanja.... Jika apa yang kita cari tidak didapatkan maka tidak ada gunanya kita berbelanja..." Ujar ibu mertuanya


Mereka terus mencari dan akhirnya menemukan satu toko pakaian yang mereka cari di mall itu, tidak seperti yang dipikirkan mereka pada awalnya jika toko yang akan mereka temukan adalah toko kecil, namun mereka menemukan toko yang cukup besar dan itu cukup ramai dengan pakaian yang berasal dari merek yang cukup terkenal, namun wajah Nia cukup pucat melihat kenyataan karena dia akan membuang banyak uang untuk pakaian yang akan dia beli.


"Aku tidak akan mudah terbiasa dengan ini" keluh Nia dalam hati


"Pilih yang kamu suka... Ibu yang akan membayar semuanya.." ujar ibu mertuanya


Nia bahkan belum berfikir akan membeli yang mana tapi ibu mertuanya sudah memilihkan beberapa pakaian untuk.


"Ini cantik..... Ini akan cocok untukmu.... Ini pas untukmu.... Ini sangat cocok.... Ini juga... Aku akan memilih yang ini untukku dan semua ini untukmu...( Menunjuk Baju yang menurutnya cocok untuk Nia).... Tambah yang satu ini,.. ini sangat indah akan sangat cocok untukmu...!" Ujar ibu mertua Nia


Nia hanya tertegun melihat ibunya yang terus memilih pakaian untuknya, namun melihat pakaian yang dipilih terlalu banyak Nia juga mulai cemas, dia mulai gusar dengan pengeluaran yang akan dihabiskan untuk semua pakaian yang akan mereka beli, belum jika ibu mertuanya akan membeli yang lainnya.


"Ibu.... Tidakkah ini terlalu banyak?" Ujar Nia yang cemas


"Ini tidak banyak.... Kamu membutuhkan banyak pakaian baru jika akan menggunakan hijab... Karena pakaian seperti ini akan jauh lebih nyaman" ujar ibu mertuanya


"Tapi tetap saja... Ini terlalu banyak..."


"Ibu tau kamu pasti belum terbiasa dengan ini.... Dulu ibu juga sama.... Tapi Nia.... Suami kita mencari uang untuk semua ini.... Untuk memenuhi kebutuhan kita... Jadi... Hal yang perlu kita lakukan adalah menghabiskan uang mereka... Kamu akan mulai terbiasa untuk kedepannya..." Ujar ibu mertuanya.


Nia tidak tau harus mengatakan apa untuk menanggapi ibu mertuanya dia hanya bisa tersenyum pasrah dengan keadaan itu, ibu mertuanya tidak main-main dia benar-benar membeli semua pakaian itu untuk Nia, dan hanya membeli dua untuknya. Nia ingin mengeluh tapi itu semua dibelikan oleh ibu mertuanya dan hal itu juga pertama kalinya untuknya. Setelah membayar semuanya mereka langsung pergi untuk membeli beberapa barang keperluan dapur, sedangkan pakaian mereka akan langsung dikirim ke alamat rumah karena terlalu banyak jika harus di bawa, sedangkan mereka harus pergi membeli beberapa barang dan sayuran.


Setelah membeli semua yang mereka butuhkan mereka pulang ke rumah, karena terlalu lama menemukan toko dan memilih beberapa barang membuat mereka pulang cukup larut hari itu, Eun Dan tidak dapat menghubungi Nia karena ponsel Nia mati kehabisan baterai, setelah Nia dan ibu mertuanya tiba di rumah mereka melihat ayah dan anak itu berdiri di depan pintu dengan wajah yang begitu cemas.


"Kamu.... Kenapa tidak membawa ponsel!" Ujar ayah Eun Dan kepada istrinya


"Aku sepertinya terlalu terburu-buru..."


"Pak Nam juga tidak bisa dihubungi" ujar tuan Do (ayah Eun Dan) terlihat cukup marah

__ADS_1


"Maaf tuan, ponselku tidak sengaja terjatuh ketika aku mengeluarkannya dari sakuku... Dan ponselnya tiba-tiba mati..." Jawab pak Nam sembari memperlihatkan ponselnya yang retak parah


"Bagaimana bisa seburuk itu?" Tanya tuan Do


"Ini terjatuh dari lantai dua ke lantai bawah toko... Aku pikir ini kesialan ku hari ini..." Jawab pak Nam terlihat murung


"Berhentilah marah padanya...." Ujar nyonya Do


"Aku tidak sedang marah..." Jawab tuan Do nampak murung


"Pak Nam kamu bisa pergi, ini... (Memberikan kartu kredit) belilah ponsel baru..." Ujar Eun Dan


"Tidak perlu.... Saya akan memperbaiki ponsel ini saja..." Ujar pak Nam


"Ambillah... Ponselnya mungkin tidak akan berfungsi terlalu baik jika diperbaiki..." Ujar tuan Do


Mereka kemudian masuk ke dalam, Eun Dan tidak mengatakan apapun kepada Nia, tetapi Eun Dan terus memegang tangannya sejak Nia pulang dengan wajah yang begitu cemas, mereka kemudian makan malam bersama dan wajah Eun Dan terlihat begitu dingin karena harus melepaskan tangan Nia, sepanjang makan malam berlangsung Eun Dan masih tetap diam dan tidak berkata apa-apa.


Setelah makan malam Eun Dan bersama Nia pergi ke kamar mereka Nia kemudian pergi mandi, kamar mereka diketuk dari luar Eun Dan membuka pintu dan menemukan ibunya bersama para pelayan di depan pintu membawa tas belanjaan yang mereka beli sebelumnya, mereka masuk dan meletakkan semua barang itu. Semua barang yang mereka bawa sudah di letakkan kemudian para pelayan meninggalkan ruangan itu.


"Jangan marah kepada menantuku.... Dia hanya menuruti permintaan ibu mertuanya..." Ujar nyonya Do


"Kalian membeli semua ini?"


"Aku yang membelikan Nia semua ini... Dia tidak akan membeli sebanyak ini... Dia bilang akan menggunakan hijab jadi dia membutuhkan banyak pakaian baru.." ujar nyonya Do


"Ibu keluarlah aku tidak sedang marah... Aku hanya sedikit kesal karena kalian tidak bisa dihubungi.... Hari ini adalah kebetulan yang membuat ku merasa akan gila... Bagaimana bisa ponsel kalian.... Ibu pergi dan istirahat di kamar aku juga merasa sedikit lelah..." Ujar Eun Dan


"Aku akan mengurusnya..." Jawab Eun Dan dengan dingin


Nia selesai mandi dan menemukan Eun Dan duduk di kursi panjang yang ada di ujung ranjang mereka sembari menatap belanjaan yang menumpuk begitu banyak, Nia mendekat dengan rasa gugup, mendengar suara langkah kaki Eun Dan menoleh ke arah istrinya yang baru saja selesai mandi dengan rambut basahnya yang datang menghampirinya, Nia duduk di sampingnya.


"Kamu membeli semua ini?" Ujar Eun Dan begitu dingin


"Ibu yang membelikan semuanya... Aku tidak bisa menolak..." Ujar Nia merasa canggung dengan sikap dingin Eun Dan


"Apa yang terjadi pada ponselmu?... Kenapa kamu tidak mengangkat panggilan dariku?" Ujar Eun Dan begitu tenang


"Ponselku mati karena kehabisan baterai..."


"(Melihat ke arah Nia, terlihat begitu jelas jika dia menahan emosinya) keringkan dulu rambutmu... Kamu bisa masuk angin jika rambutmu basah seperti itu..." Ujar Eun Dan


Nia menuruti perkataan Eun Dan, dia mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.... Setelahnya kembali duduk di sebelah Eun Dan.


"Oppa... Apa kamu marah..?" Ujar Nia


"Aku tidak marah.... Aku sedang merasa sangat cemas sekarang..."


"Tapi aku sudah disini... Apa kamu masih merasa cemas?"


"Rasa cemasnya tidak hilang begitu saja..." Ujar Eun Dan tertunduk

__ADS_1


"Kenapa tidak menanyakan semua yang kamu pikirkan... Itu mungkin akan membuat rasa cemasnya menghilang..." Ujar Nia


"Aku rasa ini sudah lebih baik..." Ujar Eun Dan menatap mata Nia


"Benarkah?... Kau bisa mengatakan semuanya tidak perlu ditahan... Itu akan membuatmu mulai merasa tidak nyaman"


"Aku akan menuruti perkataan mu lain kali"


"Bagaimana hari pertama bekerja di perkantoran?"


"Itu memang cukup melelahkan... Tapi tidak begitu melelahkan seperti ketika aku menjadi idol... Namun aku harus banyak menggunakan otak dan pengetahuan untuk pekerjaan ini...."


"Kamu akan mulai terbiasa untuk kedepannya..."


"Kamu tidak akan memberiku hadiah?" Ujar Eun Dan


"Hadiah?.."


"Seperti....Kiss...." Ujar Eun Dan begitu pelan


Nia tersenyum melihat tingkah Eun Dan yang malu-malu mengatakannya, Nia kemudian mengecup pipi Eun Dan dengan begitu tiba-tiba, hal itu membuat Eun Dan sedikit kaget dan menatap Nia.


"Bisakah satu kali lagi?..." Ujar Eun Dan


Nia kemudian kembali mengecup pipi Eun Dan


"Aku.. ingin di sini...." Gumam Eun Dan sembari menunjuk bibirnya


Nia tersenyum melihat tingkah Eun Dan yang menurutnya menggemaskan, Nia kemudian duduk di pangkuan Eun Dan dengan kedua kakinya mengapit kaki Eun Dan, lalu menaruh kedua tangannya di leher suaminya itu, hal yang di lakukan Nia membuat Eun Dan tertegun dan terus menatap wajah Nia. Nia kemudian melanjutkan apa yang dia lakukan, Nia mulai mendekatkan wajahnya kepada Eun Dan, namun Eun Dan sepertinya terlalu terburu-buru dia langsung mengecup bibir Nia tiga kali berturut-turut baru kemudian ciuman yang cukup panjang dan penuh gairah terjadi di antara keduanya, setelah beberapa saat Nia mendorong Eun Dan


"Aku tidak bisa bernafas...!" Ujar Nia dengan nafas terengah


"Maaf... Aku tidak bisa menahan diri..." Ujar Eun Dan tertunduk menyesal.


"Kenapa meminta maaf...." Ujar Nia sembari mengangkat kepala Eun Dan, kemudian mengecup kening suaminya yang sedang murung itu


Eun Dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nia dan menarik Nia menjadi lebih dekat.


"Oppa... Bagaimana jika kita melakukannya..." Ujar Nia malu-malu


Perkataan Nia membuat Eun Dan tertegun dan terus menatap Nia kemudian mengecupnya.


"Ini sedikit yang harus kamu ketahui... Ruangan ini kedap suara.." bisik Eun Dan.


Bayaran untuk rasa cemas Eun Dan memang cukup mahal, rasa cemas, cemburu dan amarahnya biasanya akan sulit untuk ditenangkan, namun Nia punya cara tersendiri untuk menenangkan suaminya itu, dia bisa melakukannya meski bukan dengan hal yang baru saja dia lakukan. Malam yang panjang dan melelahkan itu akhirnya berlalu, esok harinya Nia kembali meyiapkan setelan yang akan digunakan Eun Dan kemudian Nia turun untuk menyiapkan sarapan. Dia melihat ibu mertuanya sedang berada di dapur bersama pelayan lainnya.


"Nia kamu akan membantu menyiapkan sarapan?" Tanya nyonya Do sembari tersenyum melihat Nia datang


"Aku ingin sedikit membantu di dapur..." Ujar Nia


"Bantu ibu dengan menyiapkan meja.." jawab nyonya Do sembari mengaduk sayur yang sedang dia masak

__ADS_1


Nia kemudian pergi menyiapkan meja, setelah beberapa saat Eun Dan turun dari kamarnya kemudian diikuti oleh tuan Do. Sarapan pagi itu berjalan lebih cepat dari biasanya karena Eun Dan bersama tuan Do memiliki rapat pagi itu.


__ADS_2