
"Apakah kamar ini cukup untuk kalian?" Ujar Eun Dan ketika tiba di kamar
"Apa yang kamu bicarakan?! Tentu saja ini cukup, kamarnya cukup luas!" Yeon Jun menjawab perkataan Eun Dan
"Mungkin saja kalian membutuhkan ruangan yang lebih besar karena bayi kalian!" Eun Dan terlihat canggung
"Ini sudah sangat cukup!... Tapi bagaimana kondisi Nia?"
"Nia?... Dia baik-baik saja!"
"Apa dia sering mual dan muntah-muntah?"
"Sebelumnya iya!... Tapi sekarang aku tidak tau.... Belakangan aku terlalu sibuk di perusahaan jadi tidak mengetahui keadaannya di rumah"
"Tidak apa-apa!... Aku juga pernah mengalami dilema itu... Tapi, akhirnya semuanya baik-baik saja!"
"Aku juga berharap jika semuanya akan baik-baik saja, Nia sepertinya sangat menyukai bayi kalian!"
"Tentu saja!... Jeo Ri sangat menggemaskan!" Yeon Jun terlihat sangat senang
"Jeo Ri?... Nama yang indah!"
"Hei bayinya lebih cantik dari namanya!"
"Iya.... Aku akan keluar!... Kamu bisa merapikan barang-barang kalian!"
"Baiklah!"
Eun Dan keluar dari kamar dan menuju ruang tamu, dia tidak menemukan Nia di sana.
"Yuri-ssi.... dimana Nia?" Ujar Eun Dan pelan
"Dia pergi ke dapur!... Dia bilang akan menyiapkan makan malam!"
".... Oh... Baiklah!"
Eun Dan pergi meninggalkan ruang tamu dan menemui Nia yang sedang memasak di dapur.
"Apa yang sedang kamu masak?" Ujar Eun Dan mendekati Nia
"Oppa kamu di sini?!" Nia tersenyum melihat Eun Dan yang datang menghampirinya
"Kenapa memasak begitu banyak makanan?" Eun Dan melihat makanan yang begitu banyak di atas meja
"Kita kedatangan tamu jadi harus ada banyak makanan... Selain itu aku juga begitu mudah lapar jadi aku menyiapkan banyak makanan untuk ku sendiri!"
"Maaf..."
"Apa..?"
"Maaf..."
"Tapi kenapa kamu meminta maaf kepada ku?"
Eun Dan memeluk Nia dari belakang dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nia dengan lembut.
"Jika dipikir-pikir aku terlalu sibuk di kantor dan tidak sempat menghubungi mu... Kamu juga pasti sangat kesepian di rumah sendirian sepanjang hari"
"Aku memang sedikit kesepian! Tidak ada teman bicara dan selalu mencari sesuatu yang bisa di kerjakan agar tidak merasa bosan! Tapi semuanya akan baik-baik saja!"
"Sepertinya kita harus membayar seseorang untuk membantu mu mengerjakan pekerjaan rumah"
"Apa itu perlu?!" Nia menolehkan kepalanya kepada Eun Dan
Kedua pasang mata itu saling bertatapan, Eun Dan seketika mengecup bibir Nia.
".... Tidak ada penolakan! Kamu harus sedikit bersantai! Sebelumnya kamu membersihkan semua ruangan dan menghilang begitu saja... Itu membuat ku merasa begitu cemas!"
"Apa boleh buat jika aku tidak bisa melakukan penolakan!"
Nia mematikan kompor dan berniat memindahkan sup yang baru saja dia masak, namun Nia lupa memakai sarung tangan, Eun Dan yang melihat Nia yang hampir saja memegang panci segera menghalangi tangan Nia dan menyebabkan tangannya yang terkena tepi panci dan mengalami luka bakar ringan.
Nia yang cemas segera menarik Eun Dan ke wastafel untuk membasuh luka bakar Eun Dan dengan air.
"Kamu seharusnya berhati-hati!" Ujar Nia yang terlihat cemas
"Bagaimana dengan mu? Kamu yang tidak berhati-hati dan hampir saja menyentuh panci tanpa sarung tangan!" Eun Dan terdengar begitu tenang
"Maaf! Aku yang salah!"
"Pergilah dan temui Yuri aku akan membereskan semua ini dan memanggilmu setelah selesai!"
"Tapi bagaimana dengan tangan mu? Itu masih harus di beri salep!"
"Ini akan baik-baik saja, tidak perlu begitu cemas!"
"Tapi tetap saja itu harus di obati terlebih dahulu!"
"Kita akan melakukannya setelah selesai makan malam! Sepertinya istriku sedang sangat kelaparan!"
__ADS_1
"Apakah benar-benar tidak apa-apa?"
"Pergi dan temui yang lainnya untuk makan malam!... Cepatlah jika tidak kamu mungkin harus menunggu lebih lama untuk mengobati luka ini" Eun Dan tersenyum.
Mereka berempat makan malam bersama, Nia tidak fokus dengan makannya dan terus menatap tangan suaminya yang baru saja terluka.
"Yuri-ssi..." Eun Dan melihat kepada Yuri
"Ada apa?" Yuri menatap Eun Dan dengan serius
"Apakah ibu hamil selalu mudah merasa cemas?"
"Aku rasa begitu!" Yuri tersenyum
"Rasa cemas berlebihan akan selalu meningkat seiring berjalannya waktu... Yuri sebelumnya bahkan membuat keributan hanya karena masalah kecil... Itu hanya hormon yang wajar terjadi pada ibu hamil!" Yeon Jun menjelaskan kepada Eun Dan
"Apa kamu mencemaskan Nia?" Yuri menatap Nia sembari tersenyum
"Sangat!...." Jawab Eun Dan
"Aku akan baik-baik saja!" Nia menatap wajah suaminya yang sedang menatapnya
"Kalau begitu makan makanan mu dan berhenti melihat tangan ku!"
Nia mulai memakan makanannya, setelah selesai makan Nia mencuci semua yang baru saja mereka gunakan.
"Kalian istirahat saja! Pasti lelah setelah melakukan perjalanan panjang!" Ujar Eun Dan kepada Yeon Jun dan Yuri
"Aku setidaknya membantu membersihkan dapur!" Ujar Yuri
"Aku yang akan membantu Nia membersihkan dapur jadi tidak perlu merasa cemas dan pergilah istirahat!" Eun Dan kemudian membantu Nia
Yeon Jun pergi ke kamar bersama Yuri.
"Oppa!" Nia menatap wajah suaminya
"Kenapa?" Eun Dan memakai sarung tangan cuci piring.
"Biasanya dalam sebuah drama setelah makan mereka langsung melakukan aktivitas lain tanpa memikirkan untuk mencuci piringnya..."
"Tapi ini bukan sebuah drama!..... Kamu ingin ini terlihat seperti dalam drama?"
"Bagaimana?"
Eun Dan berdiri di belakang Nia dan mulai mencuci piring secara perlahan sembari berpelukan
"Kamu bilang tidak menonton drama!" Nia tersipu malu
"Aku pernah berperan seperti ini! Apa kamu tidak menontonnya?"
"Benar... Aku bahkan hampir lupa jika kamu Sebelumnya adalah idol dan seorang aktor!"
"Tapi aku tidak pernah tau jika ini akan terasa begitu nyaman"
"Apa maksudmu?"
"Ketika berperan aku harus terlihat nyaman dengan keadaan yang begitu canggung, aku bahkan harus menikmati ciuman yang ku lakukan dengan seseorang yang pura-pura ku cintai, itu bahkan masih cukup mengganggu ku meski kedua belah pihak sudah menyikat gigi maupun memakan permen..."
"Tapi bukankah itu menyenangkan? Kamu bisa berpelukan dan mencium seorang wanita cantik... Selain itu kamu harus melakukannya lebih dari satu kali hingga mendapatkan rekaman terbaik... Kenapa kamu malah mengeluh? Mereka biasanya tersenyum bahkan setelah membuat kesalahan dalam adegan seperti itu..."
"Itu benar!... Tapi tidak semuanya seperti yang terlihat, mungkin itu adalah hal yang benar namun tidak menutup kemungkinan bahwa itu juga adalah hal yang salah!"
"Kita sudah selesai!... Sebaiknya segera pergi ke kamar!" Nia terdengar kesal
"Baiklah!" Eun Dan melepaskan sarung tangannya
Keduanya berjalan ke kamar, Nia terlihat terburu-buru ke kamar dan menarik Eun Dan bersamanya, ketika tiba di kamar Nia membuat Eun Dan terduduk di kasur begitu saja.
"Kamu begitu kuat meskipun massa tubuhmu kecil!" Ujar Eun Dan
"Mencuci banyak piring membuat kita menunda terlalu lama!"
"Aku pikir kamu akan melupakannya!"
"Bagaimana aku bisa melupakan hal ini?"
"Tapi lukanya tidak begitu besar kenapa begitu khawatir?!"
"Tetap saja! Kamu memiliki tangan yang begitu indah dan itu tergores oleh panci panas bagaimana itu akan baik-baik saja?"
Nia mulai mengobati luka bakar Eun Dan dengan hati-hati, setelah selesai Eun Dan tersenyum menatap Nia yang berada di sampingnya dan masih terus menatap luka bakarnya.
"Tanganku akan baik-baik saja! Bahkan jika itu luka besar aku juga tidak akan mempermasalahkan hal itu!"
"Apa yang kamu bicarakan?" Nia menatap wajah Eun Dan dengan tatapan yang begitu kesal
"Apa kamu ingin berciuman?" Eun Dan menatap Nia dengan bola matanya yang berbinar
"Apa yang kamu bicarakan disaat seperti ini?"
__ADS_1
"Ini bukan suasana yang begitu genting kenapa kamu begitu cemas?"
"Karena kamu terluka!" Terdengar begitu canggung
"Jadi... Apa aku boleh mencium mu?"
"Kenapa kamu bertanya? Itu membuatnya menjadi canggung!"
Eun Dan mendekatkan wajahnya secara perlahan, kedua bibir itu semakin berdempetan...
TOK.... TOK.... TOK... Terdengar suara ketukan pintu di luar kamar.
Nia tersenyum melihat wajah Eun Dan yang kecewa dengan apa yang terjadi
"Itu bahkan belum bersentuhan!" Gumam Eun Dan yang merasa kesal
Nia segera bangkit dari duduknya dan membuka pintu kamar.
"Apa aku mengganggu?" Yuri berdiri di depan kamar bersama bayinya yang sedang menangis
"Kenapa dia terus menangis?" Nia terlihat cemas
Eun Dan bangkit dan menghampiri mereka ketika mendengar suara tangisan bayi.
"Jeo Ri sepertinya lapar tapi ASI-nya tidak keluar! Oppa sedang keluar untuk membeli susu bubuk... Nia bisa bantu aku menjaga Jeo Ri sebentar?... Aku harus memanaskan air terlebih dahulu" ujar Yuri yang terlihat begitu cemas
"Baiklah"
Nia segera menggendong bayi Yuri dan berusaha menenangkannya bersama Eun Dan, Yuri pergi ke dapur untuk memasak air.
"Mukanya sangat merah... Apa dia baik-baik saja?" Ujar Eun Dan yang melihat wajah merah Jeo Ri yang sedang menangis
"Wajahmu juga merah ketika menangis!" Ucap Nia sembari tersenyum
Eun Dan hanya terdiam mendengar perkataan Nia, perlahan Jeo Ri mulai tenang, pasangan suami istri itu duduk di sofa ruang tamu.
"Aku tidak tau jika bayi akan begitu buruk ketika sedang menangis!" Ujar Eun Dan
"Kamu juga begitu dan kamu bukan bayi lagi!" Nia mulai menggoda Eun Dan
"Itu benar dan penyebabnya adalah kamu!" Keluh Eun Dan
"Oppa kamu akan membantu merawat bayi kita ketika dia lahir bukan?"
"Tentu saja! Aku harus melakukannya!"
Yeon Jun berlari di depan mereka dengan membawa susu bubuk.
"Dia terlihat begitu cemas!" Ujar Eun Dan melihat yang berlari
Yuri datang menghampiri mereka dengan membawa susu yang sudah di seduh.
"Dia sudah kembali tidur?" Yuri terlihat begitu lelah
"Bayi memang sering bangun di malam hari selain merasa lapar beberapa faktor lain dapat menyebabkannya terbangun! Jangan terlalu cemas!" Ujar Nia
"Bagaimana kamu tau itu?" Ujar Yuri
"Aku pernah mengurus keponakan ku" ujar Nia
"Ini sudah larut! Sebaiknya kita tidur!" Ujar Eun Dan kepada semuanya
Mereka kembali ke kamar masing-masing.
"Kamu sepertinya memiliki banyak pengalaman!" Ujar Eun Dan ketika tiba di kamar
"Aku memiliki perjalanan yang panjang sejak kecil... Aku tidak hanya menunduk dan menatap buku sepanjang hari dan hampir tidak tidur karenanya... Aku bahkan bukan tipe orang yang akan belajar ketika ujian..."
"Lalu bagaimana kamu menyelesaikan ujian mu?"
"Aku belajar namun tidak sepanjang malam bahkan mungkin tidak sampai satu jam... Aku akan mulai bosan setelahnya.... Aku adalah tipe yang mudah bosan dalam setiap hal... Tapi aku memiliki begitu banyak pengalaman sederhana dalam kehidupan sehari-hari..."
"Kamu adalah tipe yang mudah bosan?"
"Iya..."
"Lalu.... Bagaimana dengan ku? Apakah kamu akan mudah bosan dengan ku?"
"Itu biasanya tidak berlaku terhadap orang... Dan itu akan tergantung sikapmu kepadaku untuk kedepannya"
"Apa maksudmu? Itu membuat ku merasa cemas!"
"Aku biasanya bisa membenci seseorang yang sangat kusukai ketika dia melakukan sesuatu yang tidak kusukai ataupun menyebalkan! Dan ketika itu terjadi semuanya akan berakhir aku tidak bisa kembali menyukainya!"
"Lalu apa yang tidak kamu sukai dan hal yang menyebalkan sehingga membuat mu akan membenci seseorang?"
"Aku juga tidak tahu! Itu bisa terjadi begitu saja!"
"Ini membingungkan!" Eun Dan begitu kesal
__ADS_1