
Tangis Nia mulai reda ibu mertuanya juga melepaskan pelukannya, nenek memberikan album foto Eun Dan ketika masih kecil, foto-foto menggemaskan yang tidak terjamah publik bahkan setelah debutnya selama sebelas tahun.
"Dia sangat menggemaskan" ujar Nia menatap foto-foto itu
"Nia apa kamu ingin punya anak laki-laki atau perempuan?" Ujar ibu mertuanya
"Keduanya... Satu laki-laki satu lagi perempuan.... Tapi anak laki-laki harus menjadi anak sulung agar bisa melindungi adiknya nanti.... Mungkin juga dua anak laki-laki..." Ujar Nia
"Benarkah..? Saat Eun Dan kecil dia selalu bilang dia ingin memiliki seorang putra sepertinya... Sedangkan anak perempuan itu terlalu cengeng....Tapi sebelum pernikahan kalian dia mengatakan jika dia menginginkan salah satu anaknya adalah perempuan dan menggemaskan sepertimu" ujar ibu mertuanya
"Setelah sekian lama tidak bertemu dia semakin dewasa, selama ini kami selalu melihat dia di televisi namun karena kamu kami bisa bersama dengannya secara langsung, kami sangat berterima kasih padamu Nia" ujar nenek
"Aku yang seharusnya berterima kasih karena menerima ku di keluarga ini" ujar Nia
"Tapi... Bukankah pekan depan kamu akan pulang ke Indonesia?" Ujar ibu mertuanya
"Iya... Ada begitu banyak yang harus di urus sebelum bisa menetap cukup lama disini..." Ujar Nia
"Eun Dan pasti sangat sedih karena harus berpisah, kalian harus menghabiskan banyak waktu bersama sebelum berpisah" ujar nenek
"Benar.... Kamu juga harus menghabiskan waktu bersama ibumu sebelum berpisah lagi, ketika semuanya selesai kamu akan ke Korea cukup lama, tapi harus sering berkunjung ke Indonesia dan ke sini juga" ujar ibu mertuanya
"Iya... Nia akan melakukan semuanya" ujar Nia sembari tersenyum
"Kamu sebaiknya pergi ke kamar, Eun Dan pasti sangat bosan di sana sendirian, kamu juga harus istirahat karena perjalanan panjang" ucap ibu mertuanya.
Nia pergi ke kamarnya dan menemukan Eun Dan duduk di lantai dan bersandar pada ranjang, dia tampak termenung bahkan tidak tau jika Nia masuk ke kamar itu.
"Oppa..." Panggil Nia
"Kau sudah datang?" Ujar Eun Dan terbangun dari lamunannya
"Apa yang oppa pikiran sampai tidak sadar jika aku memasuki kamar?" Tanya Nia
"Aku suka kata itu" menghampiri Nia dan memeluknya
"Apa yang kau katakan?"
"Seharusnya 'Apa yang oppa katakan' bukan begitu?" Ujar Eun Dan
"Apa ini... Oppa masih melamun?" Ujar Nia
"Tidak.... aku hanya senang kau memanggilku oppa!" Jawab Eun Dan
"Tapi apa yang kau pikirkan sebelumnya?" Tanya Nia
"Tidak ada pikiranku kosong, aku hanya bosan dan tidak tau apa yang harus di lakukan!" Jawab Eun Dan
"Ini sudah masuk asar, kita salat duku sebelum istirahat!" Ujar Nia
"Ah.. benar aku hampir lupa karena terlalu bosan!" Ujar Eun Dan
Mereka kemudian bersiap untuk solat, setelah selesai solat keduanya pergi tidur karena lelah setelah melakukan perjalanan panjang hari ini, ketika tidur Eun Dan memeluk Nia dengan lembut dia tidak ingin melepaskan Nia bahkan sedetikpun, sekitar pukul 17.07 tiba Nia terbangun dan melihat Eun Dan yang masih tidur begitu nyenyak, Nia tidak membangunkannya dan dia kemudian pergi mandi.
Eun Dan terbangun dari tidurnya sekitar pukul 17.33 dia tidak menemukan Nia disisinya, wajahnya tidak senang dengan keadaan itu, dia segera bangun dan turun ke bawah, dia menemukan ayahnya ada di ruang tamu bersama paman dan sepupunya yang sedang berbincang.
"Kau sudah bangun..... Kemarilah bergabung bersama kami..." Ujar ayahnya kepada Eun Dan
"Ayah... Apakah ayah melihat Nia?" Ujar Eun Dan nampak cemas
"Kenapa kau begitu cemas... Nia ada bersama ibu, nenek, bibi serta istri dari sepupumu di taman... Aku tidak tau apa yang mereka bahas dari tadi..." Jawab ayahnya
"Duduklah bersama kami... Istrimu tidak akan lari..." Ujar sepupunya
"Apa kamu masih ingat dengan Yeon Jun?... Kalian sering bermain saat masih kecil..." Ujar pamannya kepada Eun Dan
"Aku masih ingat itu..." Jawab Eun Dan kemudian duduk di dekat Yeon Jun
"Kalian bertemu setelah sekian lama... Pasti sangat canggung" ujar ayah Eun Dan
"Ini sedikit canggung...!" Ujar Yeon Jun
"Apa tidurmu nyenyak?" Ujar paman Eun Dan
"Aku tidur dengan baik.." ujar Eun Dan
"Kenapa kamu begitu murung?" Ujar pamannya
"Aku juga tidak tahu... Sepertinya ada sesuatu yang ku lupakan..." Ujar Eun Dan nampak bingung
"Apa itu..." Tanya ayahnya
"..... Aku juga tidak tahu itu..." Jawabnya masih memikirkan sesuatu yang dia sendiri tidak ketahui
"Oh ya mobilmu masih di depan.... Pak Oh tidak bisa memindahkannya karena tidak memiliki kunci mobilnya..." Ujar ayahnya
__ADS_1
"Benar.... Aku pikir itu yang aku lupakan.... Aku akan memindahkan mobil terlebih dahulu" Ujar Eun Dan bergegas ke kamar untuk mengambil kunci mobil.
"Dia sepertinya sangat panik karena itu!" Ujar pamannya diikuti gelak tawa semuanya
Eun Dan memarkirkan mobilnya di garasi, namun saat kembali Eun Dan berlalu saja melewati ruang tamu dia memutuskan pergi ke taman untuk menemui Nia dan yang lainnya.
"Aku akan ke taman" ujar Eun Dan berlalu begitu saja
"Dia sepertinya tidak tahan jika tidak bertemu istrinya" ujar ayahnya sembari tertawa
"Kau ikutlah dengannya!" Ujar paman Eun Dan kepada putranya.
Yeon Jun mengikuti Eun Dan di belakangnya, mereka tidak di taman dan menemukan para wanita itu terlihat sangat bahagia dan pembicaraan mereka, Yeon Jun melihat Eun Dan yang sepertinya sangat ingin memanggil istrinya namun mulutnya terkunci dan terlihat canggung.
"Sayang...." Ujar Yeon Jun memanggil istrinya
Sontak semua perhatian tertuju kepada mereka berdua, Eun Dan ikut menatap sepupunya yang tidak memiliki rasa canggung sedikitpun memanggil istrinya dengan panggilan yang bahkan belum sekalipun ia ucapkan kepada Nia. Mereka kemudian melanjutkan langkah mereka menuju kerumunan wanita itu.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Ujar ibu Eun Dan
"Eun Dan sepertinya sangat ingin melihat istrinya" ujar Yeon Jun sembari tersenyum
"Apa yang kau katakan.." ujar Eun Dan nampak canggung
"Ouh... Pengantin baru ini tidak ingin berpisah sepertinya..." Ujar bibi Eun Dan diikuti gelak tawa semuanya
"Kau sudah bangun?" Ujar Nia melihat Eun Dan yang mulai nampak tidak nyaman
"Iya... Tidurku nyenyak.." jawab Eun Dan
"Sebaiknya kita masuk ini sudah gelap!" Ujar nenek
Mereka semua segera masuk ke rumah, Nia menyuruh Eun Dan untuk pergi mandi baru turun lagi.
"Ikut denganku..." Ujar Eun Dan
"Aku akan disini.... Aku ingin bersama yang lainnya..." Jawab Nia
"Baiklah aku akan pergi sendiri..." Ujar Eun Dan terlihat begitu kecewa
"Jangan cemberut dan bergegaslah untuk mandi!" Ujar Nia sembari pergi ke belakang Eun Dan kemudian mendorong punggungnya.
"Baiklah aku akan pergi.." jawab Eun Dan kemudian pergi mandi
"Eun Dan sepertinya sangat menyukai istrinya" ujar Yuri (istri Yeon Jun, sedang hamil delapan bulan, sangat cantik dan elegan, wanita yang lembut dan penyayang)
Nia pergi ke dapur dan membantu para pelayan menyiapkan makanan, Nia awalnya di suruh pergi ketika ingin membantu namun Nia bersikeras dan akhirnya para pelayan memberikan izin kepada Nia, Nia menyiapkan sup ayam sedangkan hidangan lainnya disiapkan oleh para pelayan. Eun Dan setelah selesai mandi tidak menemui yang lainnya yang berada di ruang tamu, dia segera menemui Nia di dapur, Eun Dan melihat Nia yang sedang memasak dan segera menghampirinya.
"Apa yang sedang kau masak?" Tanya Eun Dan
"Sup... Aku memasak sup ayam" jawab Nia
"Itu terlihat enak" ujar Eun Dan
"Coba rasakan ini...." Sembari memberikan sendok berisi kuah sup
Eun Dan meniupnya kemudian menghirup sup itu
"Ini enak... Kau masih bisa memasak ini meski sudah lama tidak memasaknya" ujar Eun Dan
"Aku terkadang memasak ini di rumah... Baguslah jika kau menyukainya" ujar Nia
"Tapi kenapa kau memasak disaat begitu banyak pelayan disini..." Ujar Eun Dan
"Karena aku ingin memasak untukmu..." Jawab Nia
Eun Dan mengecup pipi kiri Nia
"Anggap sebagai ucapan terima kasih dariku..." Ujar Eun Dan
"Bagaimana bisa melakukan hal seperti itu di depan orang-orang" ujar Nia menatap Eun Dan
"Siapa yang mempermasalahkan itu... Katakan padaku aku akan menanganinya" jawab Eun Dan
"Kau benar-benar sesuatu yang tidak bisa dijelaskan" ucap Nia
"Aku memang sesuatu yang menarik" ujar Eun Dan
"Bantu aku mengambil mangkuk untuk wadah sup ini" ujar Nia
Eun Dan mengambil mangkuk yang berada di lemari atas dan memberikannya kepada Nia, orang-orang mulai berdatangan untuk makan malam, ekspresi wajah Eun Dan seketika berubah senyumnya hilang seketika.
"Kenapa kau cemberut... Bawa ini ke meja makan... (Memberikan mangkuk berisi sup)... Bawa ini dan tersenyumlah sedikit.." ujar Nia
"Baiklah aku akan melakukannya" tersenyum palsu dan membawa mangkuk sup itu ke meja makan
__ADS_1
Nia berjalan di sampingnya menuju meja makan, makan malam itu dimulai Eun Dan bahkan tidak menyentuh lauk lain selain yang dimasak Nia, namun ketika ibunya memberikan acar lobak padanya baru dia memakannya.
"Kau tidak suka yang lainnya?" Ujar Yeon Jun
"Bukan tidak suka... Aku hanya tidak terbiasa makan dengan banyak lauk" jawab Eun Dan
"Kau pasti banyak diet ketika menjadi idol" ujar pamannya
"Aku bahkan hampir tidak makan karena terlalu sibuk!" Ujar Eun Dan
Suasana mendadak hening karena perkataan Eun Dan, Nia kemudian mengambil ayam dengan sumpitnya kemudian menyuapkannya kepada Eun Dan.
"Kalau begitu makan yang banyak mulai sekarang" ujar Nia
Eun Dan hanya terpaku menatap Nia, dia pikir tidak ada yang salah dengan perkataannya namun Nia terlihat sangat kesal, melihat semua orang diam yang hanya fokus pada makanan masing-masing dia menyadari bahwa dia melakukan kesalahan, dia kembali menatap Nia karena tidak tau bagaimana cara mencairkan suasana.
"Kenapa kalian semua diam?" Ujar Eun Dan
"Kau terkadang jangan terlalu jujur" ujar nenek
"Aku tidak bisa bercanda, jadi hanya mengatakan yang aku ketahui" ujar Eun Dan
Mereka kembali melanjutkan makan malam, setelah selesai makan malam mereka berbincang di ruang tamu, begitu banyak yang mereka bicarakan dan tergambar begitu jelas kebahagiaan di wajah mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam paman dan bibi Eun Dan berpamitan akan pulang.
"Kalian tidak akan menginap?" Ujar Eun Dan
"Kami harus pulang" ujar bibinya
"Benar kami harus pulang" ujar Yeon Jun
"Kalau begitu hati-hati dijalan" ujar Eun Dan
"Kau tidak sedingin wajahmu itu" ujar Yeon Jun
Eun Dan bersama Nia mengantar mereka hingga ke mobil
"Lain kali kau yang datang berkunjung ke rumah" ujar Yeon Jun kepada Eun Dan
"Aku akan datang, tapi lain kali" ujar Eun Dan
"Saat kamu senggang kamu nisa menghubungi aku bahkan saat kamu sudah kembali ke Indonesia... Kita bisa saling menelpon ketika kau merasa bosan" ujar Yuri sembari memegang tangan Nia
"Tapi panggilan internasional akan sangat mahal" ujar Nia
"Aku yang akan membayarnya, jadi tidak perlu dipikirkan masalah biayanya" ujar Eun Dan
"Baiklah... Kalau begitu kami akan berangkat" ujar Yeon Jun
Setelah mereka pergi Nia dan Eun Dan masuk ke dalam, mereka masuk ke kamar untuk istirahat, seperti biasa Eun Dan akan memeluk Nia ketika tidur.
"Kenapa kau selalu memelukku ketika sedang tidur?" Ujar Nia
"Karena aku ingin" jawab Eun Dan
"Oppa..."
"Kenapa?.."
"Apa tidak apa jika aku menggunakan hijab?" Ujar Nia
"Hijab....?"
"Iya... Aku berfikir ingin menggunakan hijab"
"Tentu... Itu adalah keputusan yang bagus... Kau sangat cantik dengan hijab!" Ujar Eun Dan
"Bagaimana dengan cadar?"
"Kau akan menggunakan cadar?"
"Aku hanya berfikir ingin menggunakannya"
"..... Sebenarnya.... Itu jauh lebih baik, dengan begitu hanya aku yang akan melihat kecantikan mu"
"Kenapa kamu selalu menyetujui apa yang ingin aku lakukan?"
"Sebenarnya aku ingin menyarankan mu menggunakan hijab dan bercadar, tapi.... Aku takut itu akan membebani mu... Jadi lebih baik aku diam"
"Oppa kau sangat menakjubkan"
"Aku selalu seperti ini sejak dulu... Sekarang waktunya tidur ini sudah malam.."
"Terkadang kau sangat menyebalkan"
"Aku bersikap seperti ini hanya ketika bersama mu"
__ADS_1
Merekapun pergi tidur, malam yang dingin terasa hangat karena mereka saling berpelukan.