
Pagi itu Nia membangunkan Eun Dan untuk solat subuh, Eun Dan yang berfikir jika dia akan kesiangan segera bangkit dari tidurnya sebelum membuka matanya.
"Hati-hati nanti tersandung..." Ujar Nia
Eun Dan mengusap matanya dan mulai berjalan dengan benar menuju kamar mandi, ketika keluar wajah Eun Dan sudah terlihat segar dan siap untuk solat subuh.
"Ini tidak biasanya terjadi... Kenapa aku sangat mengantuk hari ini..." Ujar Eun Dan
"Apa tidurmu nyenyak?"
"Aku bahkan tidak bermimpi"
"Itu mungkin karena kamu terlalu lelah"
"Itu bisa saja menjadi alasannya"
Keduanya mulai solat subuh, setelah solat Nia menarik Eun Dan ke dapur untuk menemaninya memasak sarapan.
"Kamu sepertinya akan tertidur jika ditinggal sendirian!" Ujar Nia
"Aku rasa begitu!"
Nia membuka kulkas dan mengambil bahan-bahan yang dia perlukan untuk memasak.
"Apa ini tidak terlalu pagi untuk memasak?" Ujar Eun Dan
"Aku ingin memasak beberapa jenis makanan.... Selain itu aku merasa lapar sekarang" Nia tersenyum
"Kamu benar-benar mudah lapar sekarang!.... Kalau begitu aku akan membantu mu memasak"
Keduanya mulai mempersiapkan bahan-bahan dan alat yang akan mereka gunakan. Saat mereka sedang sibuk memasak Yeon Jun datang membawa botol susu ke dapur.
"Aku pikir hidungku bermasalah ternyata memang ada yang sedang memasak!" Ujar Yeon Jun
"Apa kamu membutuhkan sesuatu?" ujar Eun Dan yang sedang sibuk dengan wajannya.
"Aku harus membuat susu... Jeo Ri sedang menangis sekarang..." Ujar Yeon Jun
"Apa ASI-nya bermasalah lagi?" Tanya Nia
"Iya.." jawab Yeon Jun
Setelah selesai membuat susu Yeon Jun kembali ke kamarnya.
"Aku pikir ini sudah matang, bagaimana dengan nasinya..." Ujar Eun Dan kemudian melirik ke ada Nia yang mengunyah mie instan mentah.
"..... Nasinya hampir matang" Nia merasa canggung dengan tatapan Eun Dan
"Apa yang kamu lakukan?!... Meskipun begitu lapar kamu tidak harus memakan mie instan yang belum di masak!" Eun Dan kesulitan menjelaskan semuanya kepada Nia
"Maaf... Saat kecil aku sering melakukan ini... Ini enak dimakan seperti ini!" Ujar Nia yang berusaha menjelaskan kepada Eun Dan
"Tetap saja... Bagaimana.... Bisa..." Eun Dan yang kesal bahkan kesulitan menyusun kata-katanya
Nia maju dua langkah mendekati Eun Dan secara perlahan
__ADS_1
"Maaf... Aku tidak akan mengulanginya... Aku janji" Nia berusaha merayunya
Tidak ada respon apapun dari Eun Dan, dia hanya diam dan menatap Nia dengan sedih. Nia kemudian mengecup pipi Eun Dan dengan singkat.
"Kenapa kamu marah? Aku hanya memakan satu gigitan kecil, kenapa kamu begitu mempermasalahkan hal ini?, Aku bahkan pernah memakan mie mentah satu bungkus perhari, sedangkan ini hanya satu gigitan kecil dan kamu mempermasalahkannya seolah aku memakan makanan basi dan beracun..." Ujar Nia merasa kesal
"Bukankah kamu terlalu berlebihan?" Sahut Eun Dan datar
"Kenapa kamu menurunkan suaramu? Kamu ingin menunjukkan bahwa kamu sedang marah? Hah.... Apa kamu bercanda?... Kamu tidak tau bagaimana masa laluku... Aku rasanya ingin membunuh seseorang ketika sedang marah!... Aku... Tidak selembut yang terlihat ketika sedang kesal!... Cinta?... Waaah... Aku pikir itu yang kamu anggap cinta... Kamu bahkan melarang ku memakan apa yang ingin ku makan, apa katamu sebelumnya?.... Berlebihan?.... Bukankah kamu yang berlebihan? Kenapa kamu mempermasalahkan hal sederhana.... Jika dipikir-pikir... ini saaangat menyebalkan....!" Nia yang awalnya hanya ingin memanasi Eun Dan terbawa suasana dan menjadi sangat marah dan meninggalkan Eun Dan di dapur.
" Kemana kamu akan pergi?...." Ujar Eun Dan yang bahkan kesulitan bernapas karena di bentak Nia.
Nia naik ke lantai dua dan mengurung diri di ruang musik, Yeon Jun dan Yuri mengintip Eun Dan yang sedang tertunduk dengan perasaan bercampur aduk di dapur.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Ini aneh kalian baik-baik saja sebelumnya..." Ujar Yeon Jun
"Aku juga tidak tahu..." terdengar dari nada suaranya jika dia sedang sedih
Yeon Jun dan Yuri saling menatap lirih melihat keadaan yang tidak terduga itu.
"Kamu harus memulai pembicaraan dengannya jika tidak akan lama untuk kembali berbaikan... Dia sedang hamil emosinya terkadang tidak terkendali... Kamu harus bisa memahami situasi seperti ini..." Ujar Yuri
"Kamu harus membujuknya..." Sahut Yeon Jun
"Dia bilang dia lapar... Namun pergi tanpa memakan apapun!" Keluh Eun Dan
"Dia pergi ke atas!... Di ruangan yang tepat di atas kepalamu!" Ujar Yeon Jun
Eun Dan mengambil piring dan mangkuk, dia menyiapkan nasi dan lauk untuk di bawa ke atas menemui Nia.
"Kamu benar..." Sahut Yeon Jun
Eun Dan mengetuk pintu ruang musik.
"Berhentilah menatap ke atas!" Ujar Yeon Jun
"Oppa mari beli rumah seperti ini, jika ada tamu kita tidak perlu bersusah payah mengantarnya ke kamar atas hanya perlu menunjuk dari bawah dia akan langsung tau kamarnya" ujar Yuri
"Bukankah itu tidak sopan?" Yeon Jun menatap istrinya itu
"Ah... Kamu ada benarnya juga!" Yuri merasa sedikit kecewa
"Apa kamu benar-benar ingin rumah seperti ini?... Kita bisa mencarinya jika itu perlu!" Berusaha mengembalikan suasana hati Yuri
"Oppa mari beli rumah yang hanya memiliki satu lantai!" Ujar Yuri terlihat serius
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan"
Eun Dan masih berusaha membujuk Nia untuk membuka pintu ruangan itu.
"Eun Dan-ssi.." teriak Yeon Jun
Eun Dan menoleh ke arah Yeon Jun yang berada di lantai bawah.
"Kami akan berjalan-jalan dan mungkin akan sarapan di luar jadi tidak perlu menunggu!" Teriak Yeon Jun
__ADS_1
Eun Dan tidak mengatakan apapun dan kembali mengetuk pintu.
"Bibi Na mari pergi bersama kami!" Ujar Yuri
Mereka berempat pergi bersama.
"Nia... Aku mohon buka pintunya... Nia kamu tidak sedang menangis bukan?... Aku menyesal... Aku tidak akan mengulanginya lagi... Jadi berhentilah marah padaku..." Ujar Eun Dan yang putus asa
Nia membuka pintunya dan menemukan Eun Dan yang membawa makanan untuknya dengan wajah pucat.
"Bukankah kamu seharusnya marah di saat seperti ini?" Ujar Nia
"Bagaimana aku bisa marah disaat kamu sedang marah?" Ujar Eun Dan
"Kamu tidak marah ketika aku membentak dan terus mengalahkan mu?"
"Aku marah! Sangat marah!!... Tapi... Aku tidak bisa memikirkan untuk membentak mu!"
"Bagaimana jika suatu saat amarah mu tidak terbendung lagi dan kamu malah meminta perceraian?" Menatap mata Eun Dan yang berkaca-kaca
"Apa yang kamu katakan?" Eun Dan meneteskan air matanya
"Kamu sangat mudah menangis belakangan ini..."
"Maaf... Aku selalu ingin melampiaskan amarah ku dengan cara yang berbeda kepada mu... Tapi sepertinya kamu tidak merasa demikian" Eun Dan mulai tersedu
"Aku suka ketika kamu membentak ketika kamu bersikap manja dan cemburu, tapi kenapa kamu tidak bisa membentak ku ketika sedang marah? Kenapa?... Aku tau jika orang yang sulit marah akan sangat mengerikan saat sedang marah... Tapi jika kamu diam saja itu lebih menakutkan!"
Nia mengambil makanan yang dibawa Eun Dan masuk ke dalam dan meletakkannya di atas meja, Eun Dan mengikuti Nia, dia terlihat seperti sedang sakit, jalannya begitu pelan dan tubuhnya tampak begitu lemah.
"Aku.... Takut!...... Aku merasa takut akan kehilangan mu jika aku membentak mu.... Aku tidak ingin kehilangan mu!... Aku ingin menjagamu! karena itu aku selalu mempermasalahkan hal kecil yang kamu lakukan.... Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu... Aku selalu cemas melihat mu memakan makanan yang tidak sehat.... Bagaimana jika kamu sakit? Aku tidak bisa menerima kenyataan itu... Aku tidak bisa!... Aku mungkin terdengar kekanakan tapi aku hanya ingin melakukannya aku ingin menjagamu dengan baik!... Aku tidak tau jika kamu akan merasa tercekik akan hal itu... Aku tidak pernah memikirkannya... Aku sangat menyesal..."
Nia mengusap air mata Eun Dan menggunakan kedua tangannya dengan lembut, tanpa dia sadari dia meneteskan air matanya.
"Aku sangat senang kamu melakukannya karena cemas, mempermasalahkan hal kecil seperti itu dapat mengakibatkan hal besar seperti ini,... Kamu tau? Aku awalnya tidak berniat untuk marah tapi melihat tanggapan mu yang begitu dingin membuat ku semakin kesal, kamu tidak bisa memahami suasananya itu membuat ku semakin kesal!" Nia menjelaskan semuanya kepada Eun Dan
"Kamu tidak berniat melakukannya?"
"Gengsi perempuan itu sangat tinggi lebih tinggi dari yang terlihat!"
"Kalau begitu kamu harus makan! Sebelumnya kamu bilang kamu lapar..." Eun Dan menyeka air matanya dan mulai tersenyum
"Aku sangat lapar!" Ujar Nia diikuti senyuman manisnya
Nia memeluk Eun Dan dengan erat, Eun Dan memeluk Nia kembali dengan lembut.
"Kamu bilang kamu lapar ayo sarapan terlebih dahulu" ujar Eun Dan dengan lembut
Nia melepaskan pelukannya, Eun Dan mengambil makanan yang Nia letakan di meja. Mereka duduk di sofa dan mulai memakan makanan mereka, Eun Dan menyuapi Nia dengan perasaan tenang, semua kecemasan hilang di wajahnya meski menyisakan merah di matanya.
Tidak untuk memikirkan kemarin ataupun hari esok hanya jalani hari ini.
Kemarin sudah berlalu dan hari esok bahkan belum tiba, perjalanan hari ini adalah medan tempur yang akan selalu kamu lalui.
Tidak perlu menanyakan bagaimana cara mengatasinya dan bagaimana jalan terbaik yang harus ditempuh, lakukan apa yang terbaik menurutmu, hasil akhirnya tidak akan menjadi penentu hidup mu namun akan menjadi awal yang baru.
__ADS_1