Kebahagiaan Terindahku Dapat Bersamamu.

Kebahagiaan Terindahku Dapat Bersamamu.
PENDERITAAN DAN RASA SAKIT


__ADS_3

Eun Dan menatap Nia yang juga menatapnya setelah mengecupnya, matanya memerah tak dapat membendung air matanya lagi, air matanya uang hangat mulai mengalir di kedua belah pipinya yang putih, Nia mengusap air mata Eun Dan yang terakhir mengalir.


"Kenapa tiba-tiba terasa begitu sesak di sini!" Ujar Eun Dan memegang dada kirinya dengan tangan kanannya


"Maaf... Aku tidak seharusnya memulainya" jawab Nia kemudian melepaskan tangan Eun Dan yang sedang memegang dada secara perlahan, Nia kemudian duduk di paha Eun Dan lalu memeluknya dengan lembut.


Wajah Nia bersandar di dada kiri Eun Dan dalam posisi menyamping dengan tangan kirinya memegang dada kanan Eun Dan, Eun Dan otomatis menyesuaikan diri dengan posisi Nia, air mata keduanya mulai berhenti mengalir keadaan menjadi begitu sunyi bahkan televisi yang menyala seolah tidak bersuara lagi.


*****


"Oppa..." Ujar Nia dalam kesunyian


"Emm?"


"Apa kamu tau kenapa aku ingin menikahi mu?"


"Tidak"


"Aku awalnya juga tidak mengetahui alasan dibalik itu... Tapi... Belakangan saat di Indonesia aku mulai memikirkannya... Dan aku menemukan jawabannya... Jawabannya sangat sederhana... Itu karena aku ingin lebih dekat padamu dan berada di sisimu... Aku tidak ingin melihat mu menangis seperti saat konser terakhir kalian itu sangat menyakitkan... Aku tidak merasa kasihan pada mu aku hanya ingin ada di sisimu meski suatu saat kamu kembali menangis seperti itu lagi aku akan ada di sana dan menenangkan mu, aku bisa memelukmu dan menangis bersamamu"


"Apapun alasan kamu menerima ku aku... Sangat berterima kasih padamu... Aku mungkin tidak akan ada lagi jika kamu menolak ku... Aku bertahan selama dua tahun karena memiliki harapan suatu saat akan dapat bersamamu dan aku memberanikan diri untuk mendapatkan mu... Jika saja kamu menolak ku aku tidak akan punya alasan untuk hidup"


"Aku sangat senang karena ada yang begitu mencintai ku lebih dari hidupnya... Tapi kamu seharusnya tidak memikirkan untuk tiada... Bagaimana dengan keluarga mu... Para penggemar mu... Dan mungkin kamu akan menemukan seseorang yang akan kamu sukai lebih dari ku... Jika aku menolak mu dan kamu memilih untuk tiada aku akan dikutuk oleh orang-orang di seluruh dunia... Dan keluarga mu akan sangat membenciku... Apa itu yang kamu inginkan?

__ADS_1


"Tentu saja tidak... Selain itu kamu menerima ku tidak menolak ku"


Mereka kembali diam dan tidak bicara, tangan Nia terjatuh dari pundak Eun Dan, hal itu membuat Eun Dan memeriksa Nia dan menemukan wanita yang ada di pelukannya itu sudah tertidur.


"Dia sudah tertidur?!" Ujar Eun Dan pelan


Eun Dan mematikan televisi kemudian menggendong Nia ke kamar mereka, setelah membaringkan Nia, Eun Dan pergi ke sisi kasur lainnya dan berbaring, Eun Dan terus menatap istrinya yang sedang tertidur itu, dia kemudian mengangkat kepala Nia dan meletakkannya di atas lengan kirinya, Nia menggeliat dan memutar tubuhnya kearah Eun Dan kemudian langsung memeluknya, malam yang dingin terasa begitu hangat Eun Dan mulai terlelap dengan penuh harapan dia akan menua bersama Nia dan membesarkan anak-anak mereka.


Keesokan harinya ketika Eun Dan sudah berangkat bekerja Nia merasa sangat bosan dan tidak tau harus melakukan apa, dia masih terus berbaring di sofa sembari menatap televisi, wajahnya manyun begitu terlihat jika dia sedang sangat bosan, dia kemudian tiba-tiba bangkit dan mematikan televisi, Nia memutuskan untuk membersihkan rumah yang begitu besar sendirian.


"Aku pasti bisa melakukannya... Aku sudah sering melakukan ini sebelumnya" ujar Nia yang mulai membersihkan.


Nia memutuskan untuk menyapu semua ruangan terlebih dahulu, dimulai dari kamar mereka, selagi menyapu Nia juga merapikan dan menata ulang ruangan itu, Nia melanjutkan dengan ruang tv kemudian pergi ke ruang tamu, Nia istirahat sebentar karena merasa sangat lelah, setelah beberapa istirahat dia kembali melanjutkan membersihkan dua kamar lainnya yang ada di lantai bawah, setelah selesai Nia naik ke atas untuk membersihkan kamar dua kamar lainnya yang ada di sana, rumah itu tidak memiliki lantai pemisah antara lantai satu dengan lantai dua sehingga membuat rumahnya menjadi tampak lebih luas.


Ruangan terakhir yang dibersihkan Nia adalah perpustakaan, setelah selesai membersihkan Nia sangat lelah dan berbaring di ranjang yang ada di ruangan itu.


"Aku selalu bertanya-tanya kenapa dia meletakkan ranjang di perpustakaan yang begitu besar ini... Ini sangat nyaman..."


Nia yang sibuk membersihkan tidak menyadari bahwa hari sudah larut, Nia sepertinya tidak berfikir akan turun ke lantai bawah, dia malah terlelap tanpa menyadari bahwa Eun Dan baru saja pulang, Eun Dan memasuki rumah namun tidak menemukan Nia dimana pun, dia tidak terpikirkan lantai atas sama sekali, Eun Dan kemudian menghubungi Nia, ponsel Nia berdering namun Eun Dan kecewa karena dia menemukan ponselnya berada di meja di ruang tv.


Eun Dan yang merasa sangat cemas berusaha menenangkan diri dan mungkin Nia sedang ke luar, Eun Dan pergi ke dapur dan membuka kulkas untuk mengambil minum, saat sedang minum dia menyadari bahwa kamarnya sebelumnya memiliki perubahan, untuk memastikannya Eun Dan kembali ke kamar dan benar saja kamar mereka di tata ulang, dia kemudian memperhatikan sekeliling dan memikirkan bahwa kemungkinan Nia beres-beres rumah hari ini, hal yang pertama terfikir olehnya adalah lantai atas, Eun Dan tergesa-gesa menaiki tangga dan membuka pintu kamar pertama yang dia temui, namun dia tidak menemukan Nia, di lantai atas juga ada ruangan khusus tempat dia biasa berlatih maupun ketika dia ingin menulis lagu, namun dia juga tidak menemukannya, dia melihat kamar berikutnya namun tidak juga menemukan Nia, Eun Dan begitu putus asa matanya mulai berkaca-kaca dan memerah dengan penuh harapan jika Nia akan ada di perpustakaan.


Eun Dan membuka pintu perpustakaan dengan perasaan getir, dia takut tidak akan menemukan Nia di sana, Eun Dan masuk perlahan e dalam perpustakaan dan memperhatikan sekeliling, kakinya mendadak lemas melihat Nia yang tertidur pulas di atas ranjang, perasaannya begitu bercampur aduk, rasa getir, cemas, takut, dan marah, Eun Dan tak mampu lagi menopang tubuhnya dan tersungkur dengan lututnya membentur lantai, suara benturan itu membuat Nia terbangun dari tidurnya, dia menemukan suaminya sedang berlutut dan tertunduk sembari menangis di sana, melihat hal itu Nia segera menghampiri Eun Dan dengan perasaan cemas.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu baik-baik saja?" Ujar Nia memegangi wajah suaminya


"Aku pikir terjadi sesuatu padamu!" Ujar Eun Dan yang mulai meneteskan air matanya.


"Aku bersih-bersih hari ini! Karena terlalu lelah aku jadi tertidur di sini.... Maaf aku bahkan tidak tau pukul berapa sekarang.... Berhentilah menangis..."


"Jangan menghilang tanpa memberi tahu ku"


"Aku tidak menghilang"


"Berjanjilah kamu tidak akan menghilang!"


"Baiklah aku berjanji" Nia kemudian memeluk Eun Dan yang terus menangis


Nia benar-benar tidak menyangka jika Eun Dan akan menangis seperti itu hanya karena tidak dapat menemukannya, tubuh Eun Dan bahkan masih bergetar dalam pelukan Nia, tangisnya tidak kunjung reda meskipun Nia terus memintanya untuk berhenti dan berjanji tidak akan melakukan hal yang sama. Hati Eun Dan begitu luluh, mungkin saja dalam pandangan Nia Eun Dan begitu berlebihan karena terlalu mencintainya, tapi ketika tidak dapat menemukan Nia hari ini membuat Eun Dan mengenang masa dimana dia tidak dapat menemukan Nia dua tahun lalu, dia bahkan harus menunggu dua tahun lamanya agar dapat bertemu dengan Nia dengan penuh keberanian, Eun Dan yang awalnya hancur memutuskan untuk mendapatkan kehidupannya kembali dan dia tidak ingin apa yang dia perjuangkan pergi darinya lagi.


"Aku tidak ingin kamu menghilang tanpa memberi tahu ku" ujar Eun Dan dalam pelukan Nia


"Aku tidak akan menghilang aku berjanji padamu!"


"Aku sangat mencintaimu... Aku tidak bisa hidup tanpamu... Jadi aku mohon.... Jangan pergi"


Nia tak menjawab perkataan Eun Dan dia hanya memeluknya lebih erat, dia mungkin tidak merasakan seberapa besar penderitaan yang suaminya itu rasakan, namun dia ingin membuat penderitaan dan rasa sakit itu menghilang bagaimana pun caranya. Malam itu Eun Dan jauh lebih lengket dari biasanya, hal itu membuat Nia bertanya-tanya akankah hal seperti ini akan bertahan seumur hidupnya dan tidak memudar dengan seiring berjalannya waktu.

__ADS_1


__ADS_2