Kebahagiaan Terindahku Dapat Bersamamu.

Kebahagiaan Terindahku Dapat Bersamamu.
Hari pernikahan


__ADS_3

Sepekan menjelang pernikahan Nia mulai berlibur bekerja, hari yang membosankan mulai dia rasakan namun dia juga terkadang sedikit gugup dengan memikirkan bahwa dia akan segera menikah, selain itu calon suaminya adalah seseorang yang begitu ia idolakan sejak remaja, jarak usia mereka terpaut lima tahun dan perbedaan besar diantara mereka, siapa yang bisa membayangkan bahwa dia akan menikah dengan pria dambaan setiap wanita.


"Rasanya sedikit sesak disini..... Aku rasanya ingin menangis.....!" Ujar Ayu seraya memegang dadanya.


Tanpa dia sadari air matanya mengalir begitu saja, rasa tidak percaya yang bercampur aduk dengan kebahagiaan, perasaan yang sulit dijelaskan berada di hatinya.


"Dia bahkan tidak menghubungiku..... Di kejam sekali......!" Ujar Nia menatap ponselnya.


Tiga hari sebelum pernikahan Nia sedang berbincang dengan Ayu, dia mengatakan bahwa dia sangat kecewa karena Eun Dan bahkan tidak menghubunginya, namun Nia tidak menyangka selama ini Eun Dan selalu menanyakan keadaannya melalui Ayu, hal itu membuat Nia kesal kepada Eun Dan.


"Kenapa dia bertanya keadaanku padamu?.... Kenapa tidak menghubungiku secara langsung!" Ujar Nia menggerutu.


"Kau akan segera menikah tapi masih begitu kekanakan...." Ujar Ayu menghibur Nia


"Aku merindukannya..... Sebelumnya aku juga merindukannya tapi kali ini rasanya berbeda....!" Keluhan Nia kepada sahabatnya itu


"Kau hanya perlu menunggu lusa datang..... Kau akan sangat bahagia....!" Ujar Ayu menghiburnya


Satu hari sebelum pernikahan Eun Dan bersama keluarga sudah berada di Indonesia, namun belum langsung ke rumah Nia melainkan berada di hotel terdekat dengan tempat Nia, Eun Dan terlihat gugup dan tubuhnya bergetar ringan, ibunya berusaha menenangkan Eun Dan.


"Kamu pasti sangat gugup sekarang!" Ujar ibunya sembari memegang paha Eun Dan yang bergetar


"Iya.... Aku merasa sangat gugup.... Ibu... Besok akan berjalan lancar bukan?...." Tanya Eun Dan gugup


"Tentu...! Kamu sudah menyiapkan semuanya dengan sangat baik.... Besok semuanya akan baik-baik saja..!" Ujar ibunya


"Besok semuanya akan baik-baik saja!" Sahut ayahnya yang baru saja tiba di kamarnya.


"Aku sangat gugup....!" Ujar Eun Dan melihat ayahnya


"Kau tau...... (Bergerak mendekati Eun Dan sedangkan ibunya pergi meninggalkan mereka berdua)...... Saat akan menikah dengan ibumu ayah bahkan tidak bisa tidur selama 2 hari.... Namun kabar baiknya ayah tidak pingsan saat pernikahan...!" Ujar ayahnya kemudian duduk di sebelahnya


"Ayah.... Apa ini hal yang wajar saat pernikahan?... Jantungku serasa akan copot!... Itu berdebar sangat kencang!" Ujar Eun Dan


"Hhh... (Tertawa kecil) itu adalah hal yang wajar.... Tapi apa kau tau.... Mempelai wanita akan jauh lebih gugup darimu....!" Ujar ayahnya

__ADS_1


"Jauh lebih gugup?.."


"Tentu saja..!"


"Bagaimana orang bisa jauh lebih gugup dari ini?..." Ujar Eun Dan kebingungan karena saat itu ia sudah sangat gugup dan membayangkan betapa gugupnya Nia jika melebihi rasa gugupnya itu.


Di kediaman Nia semua orang sibuk mempersiapkan acara besok, mereka hanya menggelar tenda kecil dan mempersiapkan makanan untuk semua tamu yang akan datang, Nia bahkan tidak sempat memikirkan perasaan gugup sedikitpun karena terlalu sibuk mempersiapkan semuanya, namun keheningan malam mulai membuat Nia gugup memikirkan hari esok.


Apakah besok akan berjalan lancar?, Apakah tidak akan ada penyesalan?, Apakah dia bisa tidur nyenyak?, Apakah ini semuanya nyata?, Bagaimana dia akan menjalani hari esok?, Apa yang harus dilakukan setelah pernikahan?, Apakah dia memikirkan hal yang sama?, Mungkinkah ini semua hanya mimpi?. Pikiran Nia mulai tidak tenang, begitu banyak pertanyaan di kepalanya, semua yang dia alami terasa tidak nyata, perjalanan yang begitu panjang mendadak terasa begitu singkat dan dia akan segera menikah.


Hari yang ditunggu akhirnya tiba, pagi itu Nia bangun lebih awal untuk bersiap, Ayu juga datang pagi-pagi karena menjadi pendamping wanita dia berada di sisi Nia selama persiapan, sekitar pukul delapan pagi para tamu mulai berdatangan sedangkan Nia masih di rias oleh penata rias pengantin. Wajah Nia menggambarkan kegugupan yang begitu jelas terlihat, Ayu mengipasi Nia sembari menenangkannya.


Pukul sembilan tiga puluh siang rombongan pengantin pria datang menggunakan mobil, mereka tidak begitu ramai hanya keluarga besar Eun Dan, penyambut tamu segera membawa mereka ke tempat dimana akan dilaksanakannya akad nikah, pukul sepuluh sesuai yang disepakati pada awalnya pernikahan dimulai, Nia keluar dari kamarnya dengan gaun pengantin dan riasan yang membuatnya begitu cantik di hari spesial itu. Ruangan yang sempit itu terasa begitu sejuk di suasana yang hangat karena keluarga Eun Dan mempersiapkan pendingin ruangan, Eun Dan hampir tak bisa bernafas karena melihat Nia yang begitu cantik, itu pertama kalinya Eun Dan melihat Nia dengan make up yang ternyata Nia begitu cantik dengan balutan busana muslim serta riasan wajahnya.


Akad nikah segera di mulai semua disertai dengan beberapa ketentuan lainnya dalam pernikahan, namun orang-orang tidak akan menyangka jika pemuda asing itu akan melakukan akad hanya dalam sekali percobaan saja, dan begitulah mereka sah menjadi suami istri, mereka juga langsung mendapatkan buku nikah mereka, akad nikah selesai semuanya mulai berbaris untuk makan, sedangkan Nia dan suaminya masih duduk di pelaminan kecil itu sembari berpegangan tangan, nenek Eun Dan Santang menghampiri dengan membawa angpau untuk diberikan kepada Nia.


"Dia ini sangat nakal.... Dia bahkan bertengkar dengan ayahnya untuk menikahi mu... Aku tidak tau apa yang membuat ayahnya luluh dan merestui hubungan kalian.... Namun nenek yakin ada sesuatu yang tidak bisa di lihat begitu saja pada dirimu.... Nenek berharap kalian hidup bahagia....! Seringlah berkunjung ke rumah nenek nantinya...!" Ujar nenek kepada Nia, nenek kemudian memeluk Nia dengan penuh kasih sayang.


Yang dirasakan Nia saat itu bahkan tidak bisa ia jelaskan, air matanya mengalir begitu saja, dia begitu tidak menyangka dia akan diterima dengan begitu baik di keluarga itu, namun dia yakin begitu besar perjuangan seseorang yang begitu menginginkannya masuk ke keluarga itu yang menjadikan seorang pembantu menjadi menantu di rumahnya bukanlah hal yang mudah, Nia pernah berfikir untuk bertanya bagaimana Eun Dan berfikir bahwa dia bisa berada di keluarga itu, bagaimana dia bisa menjadikan seorang pembantu menjadi istrinya, kasta, negara, agama, penolakan keluarga, bagaimana dia bisa melampaui itu semua hanya untuk mempersunting seorang gadis miskin yang merupakan bekas pembantu di rumahnya, apakah begitu besar rasa sukanya pada Nia.


Nenek melihat air mata Nia dan membantu Nia mengusapnya, Nia spontan meminta maaf kepada nenek karena di Eun Dan bahkan membuat masalah yang begitu besar, namun nenek menenangkan Nia.


"Aku tau cucuku tidak akan memilih orang yang salah...!" Ujar nenek kemudian pergi meninggalkan kedua pengantin baru itu.


"Apa yang nenek maksud?" Tanya Nia menatap Eun Dan


"Dia menyukaimu...!" Jawab Eun Dan tersenyum sembari menyeka air mata istrinya menggunakan sapu tangan.


Hari yang panjang itu berakhir, keluarga Eun Dan meninggalkan kediaman Nia, namun Eun Dan yang biasanya harus pergi sekarang akan tinggal di sana untuk tiga hari sebelum acara pernikahan mereka di Korea, tak disangka malam pun datang langit malam itu cukup bersinar terang dengan bulan dan taburan bintang, Nia bersama Eun Dan berada di kamar mereka, kamar pengantin baru dan hanya mereka yang berada di dalamnya. Dada Eun Dan berdegup kencang melihat Nia yang berdiri di depannya dengan piama yang di hadiahkan oleh ibunya.


Rambutnya terurai dan masih lembab, dia sedang menyusun baju Eun Dan di lemari pakaian, namun Eun Dan tidak bisa berhenti menatapnya Eun, sampai ketika untuk pertama kalinya wanita itu memanggilnya "Oppa" yang biasa dia lontarkan kepada orang lain namun tidak kepadanya, wanita yang memanggilnya dengan panggilan kau ataupun bos, sekarang memanggilnya dengan panggilan Oppa. Itu membuat dia teringat masa lalu ketika dia cemburu dengan Nia yang memanggil Yeol Soo dengan panggilan Oppa, hal itu membuat Eun Dan hanya tersenyum.


"Oppa apa kau mendengarkan....?" Ujar Nia fokus dengan pakaian yang dia susun


Eun Dan berdiri dan mendekati Nia, tangannya merangkul pinggang Nia kepalanya bersandar di pundaknya dadanya mendekap punggungnya, sontak Nia terpaku dengan pelukan yang mendadak itu.

__ADS_1


"Apa ini..?" Ucap Nia


"Hanya ingin melakukannya..!" Jawab Eun memeluknya lebih dalam


"Oppa... Kenapa membawa begitu banyak pakaian padahal kau akan lebih sering di Korea?" Ucap Nia


"Ini akan tetap disini meskipun aku pergi!..." Ujar Eun Dan memejamkan matanya sembari mencari kenyamanan dalam pelukan itu.


"Kau membuatku merasa gugup dengan melakukan ini!" Ujar Nia terbata-bata


"Sebenarnya.... Aku juga merasa begitu gugup... Tapi.... Ini akhirnya terasa begitu nyaman...!" Jawab Eun Dan


Nia memutar tubuhnya pelukan itu berakhir, tangan Eun Dan masih berada di pinggang Nia namun itu tidak lagi melingkar hanya berpegangan, tangan Nia berada tepat di kedua belah dada Eun Dan, sesaat mereka saling bertatapan, tatapan itu seiring waktu menjadi semakin dalam dan lebih dalam. Eun Dan menarik tubuh Nia menjadi lebih dekat, sontak telapak tangan Nia berada di pundak suaminya itu, kakinya berjinjit karena Eun Dan begitu tinggi, suasana hening membuat keduanya semakin dekat, wajah Eun Dan mulai mendekati wajah Nia, kecupan itu mendarat di kening Nia, kemudian berlanjut di kedua matanya secara bergantian yang berlanjut di batang hidung yang minimalis dan mungil itu, sampai pada saat tempat utama mendaratkan kecupan itu di bibirnya, bibir Eun Dan perlahan mendekati bibir Nia yang mungil namun bukan tipe yang tipis, hanya berjarak satu senti kedua bibir itu akan saling bertemu dan menyatu.


Tok....tok..tok... Suara ketukan pintu membuyarkan semuanya, keduanya mendadak saling melepas satu sama lain dan merasa begitu canggung diantara keduanya, mereka bingung akan melakukan apa pada detik-detik pertama ketukan itu, Nia akhirnya membuka pintu dan itu ternyata Ayu yang memberikan obat nyamuk untuk dipasang di kamar.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Ujar Ayu melihat kedalam kamar dan menemukan Eun Dan sedang merapikan pakaian untuk dimasukkan ke dalam lemari.


"Kau tau lemari ku kecil, jadi harus disusun untuk memasukkan semua pakaiannya itu!" Ujar Nia menjelaskan


"Aku bisa mendengar teriakan mu dari luar dengan jelas! Kau pikir aku tidak bisa bahasa Korea?" Ujar Ayu menatap Nia


"Bukan begitu..!" Jawab Nia menyesal


"Ini hari pertama pernikahan kalian seharusnya kalian rukun tapi malah bertengkar karena pakaian!... Lagi pula ini sudah malam kami akan pulang... Setidaknya antar kami sampai depan rumah..!" Ujar Ayu


Nia dan Eun Dan keluar untuk mengantar Ayu dengan keluarganya sampai depan rumah, setelahnya Nia membereskan rumah yang cukup berantakan, Eun Dan juga akan membantu namun Nia menyuruhnya untuk istirahat jika tidak bantu dia merapikan baju-baju yang berantakan di kamar, namun Nia benar-benar tidak menyangka seorang idola sekaligus bos yang selama ini ia kenal benar-benar menuruti permintaannya, setelah selesai membersihkan rumah yang berantakan Nia membantu ibunya untuk istirahat kemudian baru kembali ke kamarnya, dia cukup terkejut melihat semua baju itu sudah disusun dengan rapi di dalam lemari dan pria yang baru saja menjadi suaminya itu duduk menunggunya di tempat tidur mereka, Nia mendekati Eun Dan sembari tersenyum kemudian duduk di sebelahnya.


"Oppa... Mari lakukan semuanya secara perlahan, seperti sedang berpacaran, apakah tidak masalah?" Ujar Nia


"Kita bisa melakukan itu... Ku mengerti maksud mu.... Tapi Nia kau seharusnya tau bagaimana cara orang Korea berpacaran..!" Menatap Nia


Mendengar ucapan Eun Dan membuat Nia menjadi semakin gugup dan menelan ludah.


"Hhh...(tertawa kecil) aku hanya menggoda mu.... Tapi... Aku pikir sedikit ciuman tidak masalah....!" Ujar Eun Dan

__ADS_1


Nia segera mengecup pipi Eun Dan lalu menaiki kasur dan menutupi tubuhnya dengan selimut, Eun Dan tersenyum melihat tingkah laku istrinya itu dan ikut berbaring di ranjang.


__ADS_2