
Seusai mandi Eun Dan menemui Nia yang masih menonton televisi, Eun Dan mengangkat Nia secara perlahan dan membuatnya duduk di pangkuannya.
"Kenapa?" Ujar Nia kebingungan
"Aku hanya ingin melakukannya... Aku merindukan mu" ujar Eun Dan
"Kamu sudah makan malam?" Ujar Nia
"Belum"
"Kalau begitu aku akan siapkan makan malam terlebih dahulu" ujar Nia
"Sebentar... Sebentar saja seperti ini terlebih dahulu"
"Kenapa kamu mendadak begitu manja?"
"Bukankah tinggal delapan bulan lagi?"
"Apanya?"
"Bayinya akan lahir... Setelah itu aku tidak bisa lagi seperti ini ketika denganmu"
"Baiklah" Nia memeluk suaminya sembari membelai lembut rambutnya
"Aku merasa lelah bekerja seharian" ujar Eun Dan
"Apakah sangat buruk?"
"Tidak juga... Tapi pekerjaan ini sangat menguras otak"
"Benarkah?"
"Aku sepertinya akan memiliki penyakit jantung karena terlalui sering marah"
"Apa yang kamu katakan?"
"Maaf... Itu hanya perumpamaan... Aku tidak ingin terkena penyakit apapun karena aku harus berumur panjang dan menua bersamamu dan membesarkan anak kita"
"Tentu saja harus begitu"
"Kita harus menyiapkan makanan... Aku kelaparan" keluh Nia
"Kalau begitu aku yang akan memasak"
"Benarkah?" Ujar Nia bersemangat
Eun Dan menggendong Nia dan membawanya ke dapur, Eun Dan mulai mempersiapkan makan malam mereka, Nia tidak diizinkan untuk menyentuh apapun bahkan untuk mencuci sayuran, jadi Nia hanya menatap suaminya yang sedang memasak dengan penuh cinta.
"Suamiku terlihat sangat seksi saat sedang memasak" ujar Nia
"Kalau begitu kemari dan beri aku kecupan"
"Kamu terkadang sangat mesum"
"Aku memang pria yang mesum dan sangat liar"
"Benarkah?"
"Tentu saja"
Nia mendekati suaminya dengan terburu-buru, Eun Dan yang sedang memotong sayuran terburu-buru melepaskan pisau yang dia gunakan takut akan mengenai istrinya, Nia memeluk Eun Dan dengan kedua tangannya di pundak Eun Dan sembari menatapnya dengan senyuman lebar, Eun Dan perlahan memegang pinggang Nia dengan kedua tangannya.
"Suamiku benar-benar terlihat sangat seksi sekarang"
"Kalau begitu beri aku sebuah kecupan" sembari menempelkan tunjuk tangan kanannya di bibirnya
"Kenapa kamu selalu membahas ciuman" Nia cemberut menggemaskan
"Aku tidak memintamu mencium ku tapi hanya sebuah kecupan"
"Hanya kecupan saja?"
"Iya... Tapi jika ingin lebih dari itu aku tidak akan menolak"
"Kamu sangat nakal"
"Ayolah beri aku sebuah ke..." Nia mengecup bibirnya tanpa aba-aba hal itu membuat Eun Dan sontak terdiam
"Sudah bukan" ujar Nia
"Kamu tau?!... Ternyata sebuah kecupan tidaklah cukup"
"Tadi kamu yang bilang hanya ke..." Eun Dan mengecup bibir Nia sekali kemudian mulai mencium Nia dengan lembut dan hangat
__ADS_1
Setelah beberapa saat mereka berhenti, nafas Eun Dan yang terengah terdengar jelas di telinga Nia, Eun Dan menundukkan kepalanya dan bersandar di pundak Nia sejenak.
"Oppa..." Ujar Nia
"Kenapa?"
"Apa kamu tau caranya melakukan ******?" Ujar Nia
"Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?"
"Aku hanya penasaran... Apa kamu tau bagaimana caranya?"
"Sepertinya tidak"
"Sepertinya?"
"Aku tidak pernah memikirkan hal itu" melepaskan pelukannya
"Tidak pernah?"
"Kenapa?... Apa kamu tiba-tiba menginginkannya?" Ujar Eun Dan menggoda Nia
"Bukan begitu... Hanya saja..."
"Hanya saja apa?"
"Maksudku... Jika ****** itu dilakukan dengan menggigit bukankah akan sakit? Selain itu pasti akan banyak bekas gigi... Kemudian berapa lama harus menggigitnya sampai bisa merah, dan bukankah itu memar? Bekas ****** itu seperti memar namun lebih kecil, apakah tidak sama dengan kekerasan?"
Eun Dan tersenyum melihat ekspresi Nia yang begitu serius ketika menjelaskan semuanya kepadanya.
"Kalau begitu... Waktu pria dan wanita bercinta bukankah terkadang terasa sakit? Apakah itu juga kekerasan?"
"Tentu saja tidak! itu..."
"Benar bukan... Itu berarti bukan kekerasan"
"Aku pikir kamu benar!" Nia menyeringai
"Apa kamu ingin merasakannya?"
"Apa?"
"Gigitan penuh cinta"
"Pria mesum ini harus memasak makan malam karena istrinya sedang kelaparan tidakkah begitu nyonya Do?"
"Kamu harus masak yang enak aku mau nonton TV lagi" ujar Nia pergi meninggalkan Eun Dan
"Dia sangat menggemaskan!" Ujar Eun Dan tersenyum dan kemudian mengambil pisaunya untuk kembali menyiapkan makan malam
Nia menikmati drama yang dia tonton sedangkan Eun Dan sibuk di dapur dengan masakannya, Nia yang semakin lapar pergi ke dapur untuk mencari makanan meskipun baru saja beberapa menit dia meninggalkan dapur. Sesampainya di dapur Nia segera mengecek lemari es untuk melihat apakah ada makanan di sana, dan dia menemukan makanan ringan, setelah mengambil makanan ringan tersebut dia kembali menonton TV tanpa mengatakan apapun kepada Eun Dan.
"Apa ini? Apa dia hanya memikirkan makanan saja?" Ujar Eun Dan melihat Nia yang menjauh
Setelah selesai memasak Eun Dan memanggil Nia untuk makan malam, Nia segera datang ke meja makan untuk makan malam, ketika mendekati meja makan Nia yang awalnya terburu-buru mengurangi kecepatannya takut jika suaminya akan memarahinya karena hal itu, namun nyatanya dia tetap tidak bisa menghindari amarah suaminya yang berdasarkan rasa cemas itu.
"Kenapa kamu begitu terburu-buru?! Bagaimana jika terjatuh? Kamu bisa terluka" ujar Eun Dan yang cemas
"Maaf" ujar Nia cengengesan
"Ha~ah (menghembuskan nafas) sudahlah makan saja makan malam mu" ujar Eun Dan
Setelah selesai makan malam keduanya memutuskan untuk menonton televisi bersama, mereka menonton drama romantis karena Nia sangat menyukai drama, Eun Dan yang pertama kalinya menonton drama berusaha menikmatinya.
"Apa kamu sangat menyukai drama?" Ujar Eun Dan
"Tentu saja! Aku bisa melihat banyak pria-pria tampan! Selain itu aku menyukai jalur ceritanya!"
"Bukan karena adegan romantisnya?"
"Itu pelengkapnya..."
"Kamu tidak merasa cemburu?"
"Tidak... Kenapa aku harus cemburu"
"Bagaimana jika aku yang melakukan adegan itu"
"Aku sudah menonton semua drama yang kamu mainkan dan bagiku semuanya baik-baik saja"
"Tidak cemburu?"
"Tidak... Kenapa?"
__ADS_1
"Kamu tau aku melakukan banyak ciuman ketika proses syuting dan hanya ditayangkan yang terbaik diantaranya"
"Lalu..."
"Kamu sungguh tidak cemburu?"
"Saat itu aku hanya menggemari mu... Aku hanya tidak perlu menontonnya lagi sekarang"
"Wah... Apa kamu benar-benar menyukai ku?"
"Tentu saja... Jika tidak aku tidak akan menerima lamaran mu"
"Kamu tidak menerimanya karena merasa kasihan bukan?"
"Bukankah itu terdengar aneh? Apa yang perlu ku kasihani dari dirimu kamu punya segalanya! Bahkan kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dan lebih sempurna dari ku"
"Oooo... Kenapa nada bicara mu begitu dingin... Kamu benar-benar tidak peduli bukan?!"
"Kamu sangat kekanakan" ujar Nia yang begitu fokus dengan drama yang ditontonnya
"Tapi... Kamu sungguh tidak cemburu?"
"Tidak bisakah kamu fokus menonton dramanya saja?"
"Aku tidak suka menonton drama aku bahkan hampir tidak pernah membuka televisi" Eun Dan cemberut karena tidak dipedulikan oleh Nia
"Kamu benar... (Menggeser posisi duduknya dan menatap Eun Dan)... Dramanya sedang iklan jadi katakan padaku kenapa aku harus cemburu melihat adegan ciuman di dalam drama?"
"Semua penggemar mengatakan hal itu... Terkadang seseorang dapat marah melihat idolanya berciuman dengan wanita lain"
"Oppa apa kamu tau?... Selain melihat adegan ciuman mu di dalam drama ada banyak yang harus dilihat aku bahkan bisa melewati adegan itu, selain itu aku sangat menyukai drama mu karena aku bisa melihat sisi lain dari dirimu, kamu yang tidak pernah tersenyum, merasa malu, dan menunjukkan emosimu, aku bisa melihatnya dalam drama mu... Apa kamu sudah puas... Dramanya sudah mulai" Nia kembali menatap televisi dengan fokus
"Jadi kamu tidak cemburu karena kamu melewati adegannya" ujar Eun Dan tersipu malu
"Tentu saja! Siapa yang akan melihat pria yang menjadi idolanya berciuman dengan wanita lain... Apa kamu tau aku bahkan membenci beberapa aktris karena melakukan kontak langsung dengan mu... (Melihat ke arah Eun Dan yang menatapnya dengan senyuman lebar di wajahnya)... Mereka sangat menyebalkan!"
"Benarkah?"
"Tentu saja" Nia mengecup pipi kanan Eun Dan kemudian kembali fokus dengan drama yang dia tonton
"Sepertinya aku menyukai dramanya" ujar Eun Dan yang bahkan tidak menonton sedikitpun sejak awal
*****
Nia menghadap ke arah suaminya itu, melihat Nia yang memutar arah kepadanya Eun Dan ikut melakukan hal yang sama dia mengubah posisinya dan menghadap Nia.
"Oppa kenapa kamu menyukai ku?"
Ujar Nia tiba-tiba saat sedang fokus menonton
"Karena itu kamu! Hanya itu saja!"
"Itu yang sering aku dengar dalam drama... Kenapa kalian menjawab 'karena itu kamu' kenapa? Kenapa tidak mengatakan kalau karena kamu cantik atau baik dan banyak alasan lainnya" ujar Nia
"Kalau aku bilang karena kamu cantik, baik, dan hal-hal lainnya bukankah itu terdengar seperti aku menilai sesuatu dari yang terlihat bukan yang ku rasakan selain itu bukankah aku terdengar seperti play boy?"
"Benar juga... "
"Kemudian jika mengatakan 'karena kamu cantik'! Kemungkinan jawabannya 'masih banyak yang lebih cantik dan sempurna dari ku' tapi juga ada yang menerimanya begitu saja kemudian jika mengatakan 'karena kamu baik' jawabannya akan sama 'ada begitu banyak orang baik di dunia ini' atau mungkin hanya tersipu malu... Jika mengatakan 'karena itu kamu' hanya dengan tiga kata itu semuanya bisa menggambarkan perasaan dengan sederhana... 'Kamu mungkin tidak terlalu cantik tapi aku menyukaimu'... 'Kamu itu sangat menggemaskan'... 'Kamu sangat baik tidak peduli jika ada yang lebih baik dari mu'... 'Kamu itu mudah marah tapi aku menyukainya'... 'Kamu itu sederhana dan sangat penyayang'... 'Kamu itu jorok tapi aku tetap menyukainya'... 'Kamu itu sempurna, tidak tau pandangan orang lain di mataku dan di hatiku mengatakan jika kamu itu sempurna'... Begitu juga aku menyukai mu tanpa alasan yang jelas namun itu nyata"
Nia memeluk Eun Dan dengan perasaan terharu dan sangat senang.
"Jangan menangis!"
"Aku tidak menangis!" Ujar Nia sembari melepaskan pelukannya
"Itu bagus!" Eun Dan tersenyum dan mengelus pipi Nia dengan lembut
"Apa kamu tau kenapa aku menyukai mu?"
"Tentu... Karena aku tampan!"
"Hahah... (Mata Nia berkaca-kaca) tentu saja karena suamiku ini sangat tampan... Dilihat dari sisi manapun" Nia meneteskan air matanya
"Apa itu... Sudah ku bilang jangan menangis" Eun Dan mengusap air mata Nia yang mulai mengalir
Nia memeluk Eun Dan dengan kedua tangannya di pundak Eun Dan, Eun Dan memeluk Nia kembali dengan melingkarkan tangannya di punggung Nia dengan lembut.
"Kenapa kamu malah menangis? Aku akan ikut menangis jika kamu tidak berhenti!" Ujar Eun Dan yang berusaha menahan air matanya yang akan segera jatuh
Nia melepaskan pelukannya dan segera mengusap air matanya, Nia memegang wajah Eun Dan dengan kedua tangannya, Nia mengecup bibir Eun Dan dengan lembut
"Kamu tidak boleh menangis" ujar Nia
__ADS_1