Kebahagiaan Terindahku Dapat Bersamamu.

Kebahagiaan Terindahku Dapat Bersamamu.
Anak Posesif


__ADS_3

Keesokan harinya ketika Nia bangun dari tidurnya dia tidak bisa menemukan Eun Dan di sisinya, karena dia tertidur ketika selesai solat subuh pagi ini sebab dia tidur terlambat semalam, Nia menemukan kertas kecil di meja dekat tempat tidurnya, itu pesan dari Eun Dan untuknya.


"Aku pergi bekerja! Tidurmu begitu nyenyak aku tidak berani membangunkan mu..." Isi surat Eun Dan


"Ternyata seperti ini rasanya.... Aku sering melihat ini dalam komik yang ku baca.." gumam Nia kemudian bangun dan pergi mandi


Hari ini Nia memutuskan untuk menggunakan hijab, ketika dia turun dia melihat ibu dan nenek sedang di ruang tamu mereka terlihat sedang berbincang, Nia mendekati mereka dan duduk di dekat ibu mertuanya.


"Kamu terlihat sangat cantik dengan tudung kepala itu..." Ujar nenek


"Ibu itu hijab..." Ujar nyonya Do


"Kamu selalu mengoreksi perkataan ku.... Yang terpenting aku mengatakan cucu menantu sangat cantik mengenakan itu..." Ujar nenek


"Terima kasih nenek.." ujar Nia sembari tersenyum


"Kamu sebaiknya makan terlebih dahulu... Kita bisa pergi jalan-jalan bersama setelah itu..." Ujar nenek


"Kita akan pergi ke mana?" Tanya Nia


"Kita akan pergi ke kebun keluarga... Tempatnya cukup jauh... Jika sempat kita bisa melihat pantai sebelum pulang..." Ujar nyonya Do


Nia pergi sarapan, setelah selesai sarapan Nia kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya


"Nia...." Panggil nyonya Do


Nia bergegas turun tangga mendengar ibu mertuanya yang memanggilnya


"Pelan-pelan nanti jatuh..." Ujar nenek


"Kenapa kamu begitu terburu-buru..?" Tanya nyonya Do


"Aku tidak ingin kalian menunggu terlalu lama..." Ujar Nia


"Tetap saja... Bagaimana jika kamu terjatuh..." Ujar nyonya Do terlihat begitu cemas


"Maaf..." Ujar Nia menyesali perbuatannya


"Baiklah mari kita pergi.... Jika tidak kita akan sampai pada sore hari..." Ujar nenek


"Apa kebunnya sejauh itu?" Tanya Nia yang kaget


"Kita berada di kota... Untuk ke perkebunan tentu saja sangat jauh..." Jawab nyonya Do


Mereka kemudian pergi bersama pak Nam, setelah beberapa jam perjalanan mereka tiba di kebun.


"Waahh...... Apa ini kebunnya?" Ujar Nia yang takjub


"Benar ini kebunnya..." Jawab nyonya Do


"Aku pikir itu kebun sayuran... Ternyata kebun anggur..... Ini sangat luas.." ujar Nia


"Di sebelah sana juga ada kebun semangka dan kubis..." Ujar nenek menunjuk sisi kiri kebun itu


"Kita juga punya taman bunga di dalam rumah kaca..." Bisik nyonya Do kepada Nia


Mereka memasuki kebun anggur itu, ada tukang kebun yang sedang panen anggur, di sana ada tiga jenis anggur yang di tanam seperti anggur Sultana, anggur shine Muscat, dan anggur Gewürztraminer. Mereka berjalan-jalan menyusuri kebun, nenek menceritakan kepada Nia bagaimana proses kebun anggur itu ditanam, Nia mendengarkan nenek sembari melihat-lihat kebun anggur yang begitu luas itu, itu pertama kalinya Nia pergi ke kebun anggur dan itu pengalaman yang menakjubkan baginya.


"Kamu mau mencoba panen anggur?" Ujar nenek


"Aku...? Tentu...." Ujar Nia


"Kemarilah..." Ajak nenek kepada Nia

__ADS_1


Nenek mengajari Nia memetik anggur dengan baik, Nia terlihat begitu senang, dia bahkan langsung memakan anggur yang baru saja dia petik.


"Kamu harus mencucinya terlebih dahulu sebelum memakannya..." Ujar nyonya Do yang melihat menantunya memakan anggur begitu saja


"Ini sangat manis..." Ujar Nia sembari tersenyum dengan wajah polosnya


"Bagaimana kamu bisa.... Itu penuh dengan pestisida... Bagaimana kalau sakit perut..." Ujar nyonya Do nampak begitu cemas


"Maaf ibu.... Aku tidak akan mengulanginya..." Ujar Nia tersenyum


"Sudahlah... Kenapa kamu begitu marah... Dia hanya ingin mencicipi anggur ini..." Ujar nenek


Mereka kemudian melanjutkan berjalan-jalan keliling kebun, nenek menyapa salah satu tukang kebun yang sedang memetik anggur


"Bu Kim.... Bagaimana panen belakangan ini..?" Ujar nenek


"Nyonya... (Menghampiri mereka) panen belakangan cukup baik..." Jawab ibu Kim


"Aku kemari bersama kedua menantuku..." Ujar nenek menunjuk Nia dengan nyonya Do


"Sudah lama tidak bertemu... Bu Kim" ujar nyonya Do


"Iya nyonya muda..."


"Kamu tidak perlu memanggilku begitu lagi sekarang... Aku sudah tua.. kamu bisa memanggil menantuku seperti itu sekarang.... Dia istri putraku.." ujar nyonya Do


"Dia...." Bu Kim menunjuk Nia dengan sopan karena kebingungan melihat Nia yang menggunakan hijab


"Ceritanya cukup panjang..." Ujar nenek


"Salam kenal..." Ujar Nia canggung


"Kamu sepertinya bukan orang Korea..." Ujar Bu Kim


"Iya.. aku dari Indonesia..." Jawab Nia


"Benarkah?... Kamu tidak perlu canggung terhadap ku..." Ujar Bu Kim


"Baiklah..." Jawab Nia sembari tersenyum


"Kami akan pergi ke rumah kaca terlebih dahulu... Hampir waktu makan siang, kalian harus segera istirahat dan pergi makan..." Ujar nenek


Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka ke rumah kaca, setibanya di rumah kaca Nia kembali tercengang dengan jenis bunga yang di tanam di sana


"Waaah.... Ini sangat indah... Ada mawar juga di sini.... Ibu apa ini anggrek?..." Ujar Nia


"Ya itu anggrek... Tapi ibu tidak tau itu jenis apa..." Ujar nyonya Do


"Holy Ghost Orchid..." Jawab nenek


"...Namanya sangat panjang...." Ujar Nia tercengang


"Kakek sangat menyukai anggrek.... Karena itu begitu banyak anggrek disini..." Ujar nenek


"Nia apa kamu lapar?"... Tanya nyonya Do


"Aku sedikit lapar..." Ujar Nia


"Mari kita makan bersama yang lainnya..." Ujar nenek


Mereka pergi makan siang bersama para petani lainnya, nyonya Do telah menyiapkan bekal untuk makan siang mereka, pak Nam juga di ajak makan bersama. Ketika makan Nia melihat semua orang begitu bahagia, mereka tertawa bersama mendengarkan cerita masing-masing.


"Apa kamu suka berada di sini..?" Tanya nenek

__ADS_1


"Aku sangat suka berada di sini.." jawab Nia yang terlihat begitu bahagia


Setelah makan mereka pergi ke kebun semangka yang tidak jauh dari sana, mereka harus mengendarai mobil untuk pergi ke kebun semangka karena kebun anggur itu cukup luas. Ketika mereka tiba di tempat parkir mereka menemukan Eun Dan yang baru saja turun dari mobilnya, raut wajahnya terlihat tidak senang dan segera menghampiri mereka.


"Kenapa kalian pergi tanpa berbicara padaku terlebih dahulu... Kenapa membawa istriku begitu saja.... Seharusnya memberitahu ku jika akan pergi begitu jauh..." Ujar Eun Dan meninggikan suaranya


"Apa yang kamu lakukan... Kenapa kamu begitu marah..." Ujar Nia menenangkan amarah suaminya


"Apa kami tidak bisa mengajak menantu kami untuk pergi bersama?" Ujar nyonya Do


Eun Dan baru akan menjawab ibunya, namun Nia memenangkannya dengan memegang lengannya, sehingga Eun Dan ia mengurungkan niatnya untuk berbicara.


"Kenapa kamu datang? Kamu pikir kami tidak dapat mengurus istrimu?" Ujar nenek


".... Aku pulang lebih awal hari ini dan tidak menemukan siapapun di rumah... Setelah berganti pakaian aku mencari di sekeliling rumah aku juga sudah menghubungi kalian namun tidak ada yang mengangkat telepon dariku... Sampai ketika Bu Na (pembantu keluarga) pulang dari pasar... Dia mengatakan jika kalian pergi ke kebun..." Ujar Eun Dan nampak menyesal


"Apa kamu juga akan ikut pergi ke kebun semangka?" Ujar nenek


"Aku akan ikut..." Ujar Eun Dan tertunduk menyesal


Mereka menaiki mobil dan pergi menuju kebun semangka yang terletak di ujung kebun anggur itu, Nia naik mobil bersama Eun Dan, Nia melihat wajah Eun Dan nampak sedikit pucat dengan mata merah.


"Apa kamu sedang sakit?" Ujar Nia nampak cemas


"Aku hanya lelah..." Jawab Eun Dan


"Matamu merah... Apa benar-benar tidak apa-apa?"


"Aku habis menangis di perjalanan!"


"Baguslah kalau tidak apa-apa"


Saat di kebun semangka Eun Dan hanya menunggu di mobil, sedangkan Nia turun ke kebun bersama yang lainnya, mereka memetik beberapa buah semangka, setelah puas berkeliling mereka memutuskan untuk pulang karena sudah sore, Nia melihat Eun Dan sedang tertidur di dalam mobil, sehingga Nia menyuruh ibu mertuanya bersama nenek untuk pulang lebih dulu.


"Oppa... Bangun..." Ujar Nia sembari menggoyangkan tubuh Eun Dan


Eun Dan membuka matanya kemudian mengedipkan matanya beberapa kali, dia menegakkan tubuhnya kemudian melihat Nia.


"Kalian sudah selesai?" Ujar Eun Dan yang baru saja bangun dari tidurnya


"Ibu dan nenek sudah pulang..." Ujar Nia


"Kamu seharusnya membangunkan ku lebih awal..." Ujar Eun Dan kemudian menyalakan mobilnya


"Kamu sepertinya demam..." Ujar Nia nampak cemas


"Ini hanya flu... Tidak perlu merasa cemas..." Ujar Eun Dan


"Tidak perlu terlalu cepat berkendara.... Kita bisa santai di perjalanan.... Jika pusing katakan padaku.. Langsung berhenti... Apa ada obat di dalam mobil...?" Ujar Nia yang begitu cemas


"Tidak perlu terlalu cemas... Aku baik-baik saja... Aku akan mendengarkan mu.." ujar Eun Dan kemudian menjalankan mobilnya.


Setelah beberapa jam di perjalanan mereka tiba di rumah, Setibanya di rumah itu sudah cukup larut, sekitar pukul 18.20 KST. Eun Dan cukup berkeringat di kedinginan malam, Nia membawa Eun Dan langsung ke kamar dan kemudian turun, dia menyiapkan air untuk mengompres Eun Dan.


"Kenapa kamu begitu cemas...?" Ujar nyonya Do


"Oppa... Dia demam..?" Ujar Nia


"Apakah begitu parah?... Aku akan memanggil dokter untuknya..." Ujar nyonya Do ikut cemas


"Ibu tidak perlu terlalu cemas... Ini hanya flu... Selain itu Oppa tidak ingin memanggil dokter... Aku akan merawatnya malam ini... Jika besok demamnya tidak kunjung turun kita akan memanggil dokter..." Ujar Nia


"Baiklah... Kamu pergilah menemui Eun Dan... Dia mungkin membutuhkan mu..." Ujar nyonya Do

__ADS_1


Nia kemudian kembali ke kamarnya dengan baskom berisi air hangat dan handuk kecil untuk kompres.


"Aku pikir anak itu akan lebih menyusahkan daripada ayahnya..." Ujar nyonya Do kemudian kembali ke kamarnya.


__ADS_2