Kebahagiaan Terindahku Dapat Bersamamu.

Kebahagiaan Terindahku Dapat Bersamamu.
Drama ingin cucu


__ADS_3

Tangis Nia mulai reda dan dia tidak ingin melepaskan pelukannya kepada Eun Dan.


"Sayang... Aku pikir aku harus pergi ke toilet..!" Ujar Eun Dan


Meskipun dengan wajah cemberut Nia melepaskan pelukannya kepada Eun Dan, Eun Dan mengelus kepala Nia dengan lembut kemudian bergegas pergi ke toilet, setelah kembali dari toilet Nia segera menghampiri suaminya dan langsung memeluknya.


"Apa kamu sakit?... Kenapa tiba-tiba seperti ini ini?" Ujar Eun Dan yang cemas


Nia tidak menjawab dan hanya memeluk suaminya dengan erat, Eun Dan menggendong Nia dan membawanya ke kamar, setibanya di kamar Eun Dan menidurkan Nia di tempat tidur dan ikut berbaring bersamanya.


"Kamu harus mengatakan kepadaku jika ada sesuatu yang tidak nyaman..." Ujar Eun Dan yang cemas


"Aku baik-baik saja hanya ingin terus memelukmu..."


"Aku hanya sedikit cemas karena ini tiba-tiba... Sebelumnya kamu tidak seperti ini..."


"Aku baik-baik saja..." Ujar Nia yang mulai tertidur dalam pelukan Eun Dan


"Ini masih pukul sebelas dan kamu sudah kembali tertidur... Ada apa ini? Apa kamu sakit?" Bisik Eun Dan


Eun Dan terus menatap wajah istrinya itu dengan cemas yang tanpa dia sadari dia meneteskan air matanya, Akhirnya Eun Dan juga terlelap tidur, sekitar pukul 13.23 Nia terbangun dari tidurnya dan menemukan Eun Dan yang ikut tidur karena menemaninya.


"Apa ini?... dia juga tertidur? (Mengusap air mata Eun Dan) bagaimana dia bisa tidur dengan air mata di wajah..." Ujar Nia


Nia bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, kemudian dia pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang karena dia merasa kelaparan, ketika Nia akan makan ponselnya berdering ternyata ibu mertuanya yang menelpon.


"Halo?" Ujar Nia


"Nia... Kamu sudah kembali kenapa tidak menghubungi ibu..." Ujar nyonya Do


"Maaf ibu... Aku tidak sempat menghubungi kalian"


"Di mana anak itu? Ini pasti ulahnya bukan?"


"Dia sedang tidur"


"Tidur?"


"Iya dia sedang tidur!"


"Apa dia sakit?... Tidak biasanya dia tidur siang..."


"Dia sehat... Aku sebelumnya sangat mengantuk dan tertidur... Ketika aku bangun dia ternyata sedang tidur di samping ku"


"Benarkah?... Apa dia sangat lengket padamu saat kamu kembali?"


"Tidak juga..."


"Apa dia menyusahkan mu?"


"Tidak... dia tidak menyusahkan ku"


"Baguslah kalau begitu... Sebenarnya aku ingin kalian menginap untuk beberapa hari... Nenek sedang sakit sekarang"


"Sakit? Apakah begitu buruk?..." Ujar Nia yang cemas


"Siapa yang sakit?" Tanya Eun Dan yang baru saja datang


"Oh... Oppa kamu sudah bangun... Ibu bilang nenek sedang sakit..." Ujar Nia


"Berikan ponselnya padaku...!" Ujar Eun Dan

__ADS_1


Nia memberanikan ponselnya kepada Eun Dan


"Halo ibu... Ini aku..." Ujar Eun Dan


"Kamu sudah bangun?" Ujar nyonya Do


"Iya... Bagaimana keadaan nenek... Apa sudah baikan?"


"Keadaannya tidak terlalu buruk... Tapi dia ingin kalian datang untuk berkunjung..."


"Aku akan bersiap untuk ke sana"


"Kami akan menunggumu..." Mematikan panggilannya


"Kita harus makan sebelum pergi..." Ujar Nia


"Kamu makan saja terlebih dahulu aku akan bersiap..." Ujar Eun Dan kemudian kembali ke kamar


Nia segera melanjutkan makannya, setelah selesai makan baru kemudian dia ke kamar untuk bersiap, Nia menemukan Eun Dan yang duduk di lantai dekat lemari sembari bersandar di dinding, Nia segera menghampirinya dengan perasaan yang begitu cemas.


"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Ujar Nia sembari memegang wajah Eun Dan


Eun Dan segera memeluknya


"Aku tidak tau... Tubuh ku mendadak lemas memikirkan keadaan nenek..." Ujar Eun Dan


"Nenek akan baik-baik saja... Jangan terlalu cemas.." sembari mengelus lembut kepala Eun Dan


Setelah Eun Dan merasa lebih baik mereka melakukan perjalanan ke kediaman keluarga Do, seperti biasanya Eun Dan akan memegangi tangan Nia selama perjalanan, namun mereka cukup lama di perjalanan karena terjebak macet yang cukup parah, namun akhirnya mereka tiba pada sore hari, setibanya di rumah mereka segera masuk dan melihat keadaan nenek, nenek sedang berbaring di ranjang dengan infus dan alat bantu pernapasan, kaki Eun Dan menjadi begitu lemas melihat keadaan neneknya itu, dia tak dapat menahan tangisnya dan memeluk istrinya yang ada di sampingnya, Nia berusaha menenangkan suaminya yang sedang menangis tersedu-sedu.


"Nenek akan baik-baik saja... Berhentilah menangis" ujar nyonya Do


"Ini terjadi pagi ini" jawab nyonya Do


"Kenapa ibu baru menghubungi jika ini sudah terjadi sejak pagi..." Ujar Eun Dan menekan suaranya dalam pelukan Nia sembari menangis


"Aku pikir keadaannya tidak akan seburuk ini..." Ujar nyonya Do


"Kenapa kalian malah bertengkar..." Terdengar suara nenek yang sayup


"Ibu kamu sudah bangun..." Ujar nyonya Do mendekati ibu mertuanya itu


Eun Dan melepaskan pelukannya kepada Nia dan menghampiri nenek, Eun Dan kemudian memegang tangan nenek.


"Nenek apa kamu baik-baik saja?" Ujar Eun Dan yang cemas


"Nenek baik-baik saja jangan terlalu cemas" ujar nenek yang terdengar begitu lemah


"Nia kemarilah..." Ujar nyonya Do


Nia datang menghampiri mereka


"Nenek bagaimana perasaan mu? Apakah sudah lebih baik?" Ujar Nia yang berjongkok di dekat nenek


"Kamu sudah kembali?.. bagaimana keadaan mu?" Ujar nenek


"Iya aku sudah kembali..." Jawab Nia


"Eun Dan... " Ujar nenek


"Ada apa nek?"

__ADS_1


"Kapan kamu akan memiliki bayi... Nenek takut jika tidak akan bisa melihat bayi mu nantinya!" Ujar nenek


"Nenek akan bisa melihat bayi ku nanti... Nenek harus melihatnya tumbuh besar..." Ujar Eun Dan


"Nenek ingin melakukannya... Jadi segera beri aku cucu..." Ujar nenek terdengar normal tidak seperti orang sakit


Eun Dan terdiam dan menyadari bahwa ibu dan neneknya sedang bersekongkol untuk mengelabuinya


"Apakah ini menyenangkan?" Ujar Eun Dan dingin


"Apa yang kamu maksud?" Ujar nyonya Do


"Berhentilah berbohong kepada ku... Apakah ini sangat menyenangkan?... Kenapa kalian berbohong untuk mendapatkan cucu?... Kalian bisa langsung mengatakannya jika menginginkannya kenapa harus melakukan trik yang begitu menyebalkan ini..." Ujar Eun Dan mulai marah


"Baiklah kami salah... Berhentilah marah jika tidak nenek benar-benar akan dirawat nantinya..." Ujar nenek bangkit dari tidurnya kemudian melepaskan alat bantu bernafas dan perban infus dengan jarum yang tidak terpasang


"Nia pergilah dengan Eun Dan ke kamar kalian, kalian pasti lelah di perjalanan" ujar nyonya Do


Nia menarik Eun Dan pergi bersama dengannya ke kamar, ketika mereka sedang menaiki tangga tuan Do baru saja sampai di rumah setelah dari kantor, tuan Do berniat memanggil mereka namun di hentikan oleh nyonya Do dan menceritakan semua yang terjadi, tuan Do menggelengkan kepalanya mendengarkan cerita istrinya itu.


"Usia benar-benar tidak membuat orang menjadi lebih dewasa..." Ujar tuan Do


Sedangkan di kamar Nia berusaha menenangkan amarah suaminya, namun Eun Dan malah meninggalkan Nia dan mengurung diri di kamar mandi.


"Oppa... Buka pintunya..." Ujar Nia sembari menggedor pintu kamar mandi


Setelah cukup lama Eun Dan keluar dalam keadaan basah kuyup, Nia segera mengambilkan handuk untuk mengeringkan tubuhnya, Nia kemudian mengambilkan baju ganti untuk Eun Dan, suaminya itu tidak mengatakan apa-apa dan hanya diam dengan wajah pucat yang nampak begitu lesu, Setelah Eun Dan berganti pakaian dia hanya terdiam di tempat tidur sedangkan Nia mengambilkan makan malam untuknya.


"Apa keadaannya begitu buruk?" Ujar tuan Do


"Dia tidak ingin bicara sedikitpun bahkan denganku..." Ujar Nia


"Kalian tidak seharusnya berbohong seperti itu... Kalian ingin cucu? Kalian akan mendapatkannya... Kalian benar-benar tidak bisa bersabar..." Ujar tuan Do kepada istri dan ibunya


"Aku akan ke atas" ujar Nia dengan nampan yang berisi makanan dan air minum


"Baiklah..." Ujar tuan Do


Nia masuk ke kamar dan melihat Eun Dan yang menatapnya dengan pandangan kosong, Nia mendekatinya dengan perasaan cemas, Nia meletakkan nampan yang dia bawa di meja kecil dekat tempat tidur.


"Oppa... Makan dulu... Kamu bahkan tidak makan siang setidaknya kamu harus makan malam..." Ujar Nia menatap suaminya


"Aku tidak mempunyai nafsu untuk makan..." Jawab Eun Dan menatap wajah istrinya


"Tapi kamu pasti sangat kelaparan" ujar Nia tampak cemas


"Kemarilah sebentar... (Menyuruh Nia duduk di pangkuannya dan Nia menurutinya)... Biarkan aku memelukmu dan mencium bau tubuh mu..." Ujar Eun Dan


"Oppa... Aku tau kamu marah... Tapi... Kamu akan segera memaafkan mereka bukan?" Ujar Nia


"Kamu ingin aku memaafkan mereka?" Ujar Eun Dan dengan lembut dalam pelukan Nia


"Tentu!"


"Kalau begitu buat aku menjadi lebih baik..." Jawab Eun Dan


"Apa yang harus ku lakukan untuk membuat mu lebih tenang?" Ujar Nia


"Kamu harus memikirkannya sendiri..." Ujar Eun Dan


"Sebentar....(berfikir sembari menatap wajah suaminya).... Aku tau apa yang harus ku lakukan" ujar Nia

__ADS_1


__ADS_2