
Beberapa hari kemudian...
Hari ini rena dkk tidak ada kelas di kampus, tapi mereka tetap memutuskan untuk bertemu di area kampus. Mereka berencana akan mengerjakan tugas kuliah bersama, meskipun sebenarnya mereka bisa mengerjakannya di rumah salah satu dari mereka. Tapi karena jarak satu sama lain yang sedikit jauh jadi mereka memutuskan untuk ambil jalan tengahnya yaitu di kampus.
"Kenapa pak ahmad ngasih tugas seperti ini sih, kan pusing gue jadinya". Keluh gavril sambil memegang kepalanya.
"Lo aja yang belum faham, gav. Orang ini materinya sama kok dengan yang di jelasin minggu lalu". Kata rena.
"Makannya jika dosen menjelaskan lo jangan sibuk sendiri, gav". Kata naura menimpali.
"Kalian berdua bukannya bantuin gue malah nyalahin gue". Kesal gavril.
"Lo mau di bantuin apa mau nyalin, gav?". Tanya rena, yang membuat gavril langsung menunjukkan deretan giginya.
"Lo tahu saja ren apa yang di pikiran gue". Kata gavril, rena dan naura hanya menggelengkan kepalanya.
"Kita tuh sudah hafal dengan kebiasaan lo itu, ni salin punya gue saja. Tapi cepat ya gue mau buru-buru pulang soalnya". Kata naura yang memang sudah selesai.
"Uuhhh, makacih naura sayang". Kata gavril lalu mengambil buku naura.
"Gue heran dengan papi lo, gav. Kenapa bisa punya anak IQ paspasan seperti lo, padahal setahu gue bokap nyokap lo itu IQ nya tinggi-tinggi". Kata rena sambil membereskan buku-bukunya.
"Gue tuh salah ambil jurusan saat pindah kesini ren, seharusnya gue ambil manajemen dan bisnis. Karena saat mengisi formulir gue sambil mengantuk jadi salah pilih akuntansi". Kata gavril.
"Bukannya sama saja ya, gav?". Tanya naura.
__ADS_1
"Itu alasan lo aja, oh iya ra lo mau kemana pulang buru-buru. Bukannya jam kerja lo masih lama ya?". Tanya rena.
"Tidak mungkin gue jawab, jika gue sedang menghindari seseorang kan". Batin naura.
"Ra, hais malah melamun". Kata gavril membuyarkan lamunan naura.
"Gue hanya ingin menjaga mamah, kalian tahu mamah sering kambuh penyakitnya akhir-akhir ini". Kata naura, rena dan gavril hanya ber oh ria.
Setelah itu mereka berbincang sambil menunggu gavril selesai. Setelah beberapa menit akhirnya gavril selesai, naura pun buru-buru berpamitan dengan ke dua sahabatnya. Rena ingin mengantarkannya tapi di tolak dengan alasan takut merepotkan. Rena hanya bisa pasrah jika naura sudah menolak tawarannya. Naura melihat seorang pria yang sangat dia kenal dari kejauhan ia pun buru-buru pergi hingga tak menyadari ponselnya tertinggal.
Pria itu mengejar naura saat tau naura menghindarinya, hingga sampai di area parkir mobil akhirnya pria tersebut berhasil menghadang naura. Naura hanya bisa mundur saat pria tersebut berdiri tepat di depannya.
"Kenapa kamu menghindari ku, ra?". Tanya pria tersebut, naura hanya diam sambil menatap pria tersebut dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Apa kamu marah dengan ku karena tiba-tiba pergi?". Lanjut pria tersebut.
Ya, laki-laki itu adalah Zenith Edsel Alexsandra Patton. Laki-laki yang kerap di panggil zen itu adalah putra pertama dari tuan David Patton dan juga nyonya Aneira Nalani. Keluarga patton termasuk keluarga terkaya nomor 6 di indonesia. Zen adalah cinta pertama dari naura saat SMA. Karena zen dari kalangan atas dan naura dari kalangan biasa, membuat orang tua zen melarang keras hubungan mereka. Pada saat orang tua zen mengetahui hubungan mereka, zen langsung di pindahkan ke luar negeri. Zen pun saat itu tak ada niat mempertahankan atau memperjuangkan naura, dan malah memilih meninggalkan naura. Hal itu membuat naura sangat kecewa dan sakit hati, dan semenjak saat itu naura sulit untuk menerima cinta lagi, terutama cinta dengan laki-laki yang beda status dengannya. Meski banyak laki-laki yang mengungkapkan perasaannya pada naura.
"Lalu kenapa kamu dari kemarin menghindari aku terus ra, aku tahu kamu pasti kecewa dengan keputusan ku waktu itu. Tapi aku sekarang sadar ra aku tidak bisa melupakan kamu sejauh apapun aku pergi, perasaan ku ke kamu masih sama seperti dulu". Kata zen.
"Aku memang kecewa denganmu zen, tapi aku juga sadar seberusaha apapun aku menggapai mu aku tidak akan sanggup. Karena kita berbeda, lebih baik mulai sekarang kita lupain semua itu. Anggap kita tidak pernah kenal sebelumnya". Kata naura. Naura terkejut saat tiba-tiba zen menariknya dalam pelukan zen.
"Aku masih sangat mencintaimu ra, aku mohon kita mulai lagi dari awal. Kali ini aku akan memperjuangkan mu di hadapan mamah dan papah". Kata zen, naura hanya bisa menangis di dalam pelukan zen. Tidak di pungkiri dia juga merindukan zen, dia juga masih ada sedikit rasa untuk zen. Tapi di sisi lain dia juga ada rasa dengan kenzo.
Tanpa mereka berdua sadari, dari tadi perbincangan mereka di saksikan oleh 2 pasang mata. Siapa lagi jika bukan gavril dan rena. Kenzo dan chris baru saja kembali, mereka dari bandara langsung ke kampus atas permintaan kenzo. Karena kenzo bilang ia ingin bertemu dan memberi naura kejutan. Tapi siapa sangka dia yang harus di beri kejutan oleh naura dengan pemandangan yang sangat menyaktikan perasaannya.
__ADS_1
Rena dan gavril yang melihat kenzo turun dari mobil chris pun merasa kasihan. Mereka tahu pasti kenzo pasti akan kecewa dengan naura atas kejadian ini, tapi mau bagaimana lagi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Naura yang awalnya memejamkan matanya mulai membuka matanya, betapa terkejutnya dia melihat kenzo di depannya. Naura pun buru-buru melepas pelukan zen.
"Ken". Lirih naura. Kenzo hanya menggelengkan kepalanya, lalu masuk ke dalam mobil chris. Chris yang melihat tuan mudanya sedang tidak baik-baik saja pun juga langsung masuk ke dalam mobil.
"Ken, tunggu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan". Kata naura sambil mengetuk kaca mobil chris.
"Kita langsung ke apartemen chris". Kata kenzo di dalam mobil tanpa melihat ke luar jendela.
"Baik tuan". Kata chris.
Mobil chris pun melesat meninggalkan naura yang sudah berderai air mata. Naura mencari sesuatu di dalam tasnya, tapi dia tidak menemukannya.
"Lo mencari ini?". Tanya seseorang sambil menyodorkan sebuah ponsel, ya dia adalah rena dan di sampingnya ada gavril.
"Ren, gav...". Kata naura terhenti karena dia mulai menangis sejadi-jadinya.
"Gue tahu gimana perasaan lo ra, kenzo hanya salah faham. Berikan dia waktu untuk menenangkan hatinya, nanti gue coba bantu bicarain ke dia". Kata rena memeluk naura.
"Ra, siapa laki-laki tadi?". Tanya zen.
"Cukup zen, ini semua gara-gara lo. Jika lo tidak kembali hadir dalam hidup gue semua ini tidak akan terjadi. Apa belum puas dulu lo sudah nyakitin gue. Kita hanya masa lalu, gue harap lo bisa ingat itu. Mulai sekarang jangan pernah ganggu gue lagi". Bentak naura.
"Tapi ra...". Kata zen terpotong.
"Ayo ren, gav kita pergi". Ajak naura menarik tangan ke dua sahabatnya.
__ADS_1
Bersambung.