KEKASIHKU SEORANG BANGSAWAN

KEKASIHKU SEORANG BANGSAWAN
EPISODE 79


__ADS_3

Sebenarnya Rena tidak masalah dengan sikap Naura yang seperti ini karena itu pertanda jika Naura sudah bisa bersikap biasa dengannya dan tidak sungkan lagi.


"Kemana sih nih anak? Di telfon dari tadi tidak diangkat-angkat.apa mungkin lagi sibuk ya?". Guman Rena saat menghubungi gavril tapi tidak ada jawaban. Akhirnya Rena memutuskan untuk mengirim pesan pada gavril. Setelah itu ia kembali menyelesaikan pekerjaannya.


Di sisi lain quena sedang fokus dengan bimbingan dari sang dosen. Setelah cukup lama ia bimbingan akhirnya selesai juga. Itu adalah bab terakhir sekripsinya sebelum nantinya sidang. Karena hari sudah siang quena pun memutuskan ke kantin untuk makan dan juga menunggu Vania. Karena Vania memang sedikit lama saat bimbingan, karena ia mendapat guru yang memang sedikit killer. Sambil menunggu pesanannya datang quena pun membaca buku.


"Quen". Panggil seorang pria yang di ketahui adalah kakak seniornya di kampus. Quena hanya melihatnya sekilas lalu kembali fokus dengan bukunya.


"Ada apa kak?". Tanya quena tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca.


"Masih marah dengan kakak?". Tanya pria tersebut lalu duduk di samping quena.


"Atas dasar apa quena harus marah dengan kak Anas?". Bukannya menjawab quena malah balik bertanya pada Anas.


Anas Botuna, adalah kakak seniornya di kampus. Anas sudah kenal twins dari saat mereka masuk kampus. Sejak saat pertama kali melihat twins, Anas sudah menyukai salah satu dari mereka yaitu qila, karena sering bersama dan bertemu quena lama kelamaan menyimpan hati untuk Anas. Itupun tanpa sepengetahuan Anas, tapi meskipun sang adik tak menceritakan kepadanya, qila tetap tau apa yang di rasakan sang adik. Qila juga tahu jika Anas menyukainya tapi ia tidak menganggap serius hal itu. Baginya Anas adalah kakaknya, tidak lebih. Anas mengungkapkan perasaannya pada qila sehari sebelum hari ulang tahun qila. Tapi qila menolaknya, bukan karena quena yang memiliki perasaan pada Anas yang membuat qila menolak Anas. Melainkan di hati qila sudah ada yang mengisi saat itu. Dan quena tahu siapa laki-laki yang di sukai sang kakak itu.


Dan kemarin quena baru mengetahui semuanya bahwa Anas menyukai sang kakak. Dia merasa sangat sakit hati akan hal itu. Apalagi saat Anas akan menjadikannya pengganti qila dalam hidupnya karena ia memiliki wajah yang sama dengan qila. Hal itu membuat quena sangat kecewa dengan Anas, lelaki itu seenaknya saja menjadikannya pelampiasan. Hal itu juga alasan yang membuat quena yakin akan melanjutkan kuliahnya di luar negeri.


"Kakak tidak bermaksud menyakiti perasaan kamu quen, memang sejak awal kakak hanya menganggap kamu itu sebagai adik. Tapi kakak akan mencoba membuka hati untuk kamu jika kamu menerima tawaran kakak kemarin". Kata Anas membujuk quena.


"Tapi sayangnya perasaan aku ke kakak itu sekarang sudah tidak ada lagi. Dan kakak tidak bisa menyamakan kepribadian ku dengan kak qila, karena kita berdua itu berbeda". Kata quena dingin.


Memang semenjak kepergian qila kepribadian quena berubah drastis dia yang dulunya cerewet dan periang. Sekarang jadi sosok yang sdingin, datar, dan suka merenung. Hal itu membuat Delia dan Arya jadi semakin merasa sedih. Tapi mereka sangat memaklumi hal itu. Meskipun kadang saat bersama Naura lah quena akan menunjukkan sifat aslinya yang manja.


"Hai quen, sudah lama menunggu?". Tanya Vania yang baru saja datang dan langsung duduk di depan quena.


"Nggak juga, kamu pesanlah makan siang dulu Van. Baru setelah itu kita pulang". Kata Quena dan Vania hanya menjawabnya dengan anggukan kepala saja.


"Quen, Van. Kakak pamit dulu ya sebentar lagi dosen masuk soalnya". Pamit Anas.


"Iya kak". Jawab Vania, sedangkan quena hanya menjawabnya dengan deheman saja.

__ADS_1


Anas hanya bisa pergi dengan menghela nafas karena ia juga sadar jika apa yang dikatakannya kemarin sangat menyakiti hati quena.


"Lo masih marah dengan kak Anas quen?". Tanya Vania setelah kepergian Anas.


"Gue tidak marah, tapi gue hanya sedang mencoba melupakannya saja". Jawab quena.


"Gue juga nggak nyangka jika kak Anas seperti itu orangnya. Padahal selama ini dia tidak pernah tuh menyakiti orang dengan perkataannya itu". Kata Vania.


"Sudahlah biarkan saja mau seperti apa dia, yang jelas perasaan gue untuk dia sudah mati". Kata quena yang di anggukan kepala oleh Vania.


Saat mereka sedang asik berbincang sambil Vania menikmati makan siangnya ponsel quena berdenging, ternyata Delia yang menelfon.


"Ya hallo mom". Kata quena saat panggilan terhubung.


"Kamu dimana sayang? Masih di kampus atau sudah pulang?". Tanya Delia di sebrang.


"Quena masih di kampus mom, memang kenapa mom?". Kata quena.


"Minta kak Naura tunggu sebentar ya mom, soalnya Vania baru makan siang. Nanti setelah Vania selesai quen akan pulang". Kata quena.


"Oh ya sudah, hati-hati nanti pulangnya". Kata Delia.


"Iya mom". Jawab quena.


Lalu panggilan pun berakhir. Setelah beberapa menit akhirnya Vania selesa dengan makan siangnya, lalu sesuai kata quena pada sang mommy mereka langsung pulang. Karena jarak masion dan kampus tidak terlalu jauh jadi mereka tidak perlu waktu lama untuk sampai ke masion.


"Yuk mampir dulu Van?". Kata quena menawari saat mobil sudah berhenti di depan masion.


"Lain kali deh quen". Kata Vania.


"Ya sudah, oh iya besok gue libur jadi Lo tidak perlu jemput gue". Kata quena.

__ADS_1


"Sekripsi Lo sudah selesai?". Tanya Vania.


"Udah tinggal nunggu sidang aja". Kata quena.


"Ya sudah, kalau gitu gue pulang dulu ya". Pamit Vania.


"Makasih ya, dan hati-hati di jalan". Kata quena lalu turun dari mobil, dan hanya di jawab anggukan oleh Vania.


Setelah itu Vania pun pergi meninggalkan quena di depan masion, sedangkan quena langsung bergegas masuk setelah mobil Vania sudah tidak terlihat lagi.


"Mom, kak". Sapa quena saat sampai di ruang tamu dan melihat Delia dan Naura sedang berbincang. Tak lupa ia juga mencium punggung tangan kedua wanita itu. Lalu duduk di dekat Naura.


"Kamu sudah makan, quen?". Tanya Naura sampil mengelus kepala quena.


"Sudah tadi di kampus kak". Jawab quena sambil bergelayut manja di samping Naura.


"Bagaimana sekripsi kamu sayang?". Tanya Delia.


"Udah selesai mom, tinggal nunggu kabar untuk sidang". Jawab quena.


"Mommy doa in semoga lancar sidang mu nanti. Sekarang kamu bersihin diri dulu baru nanti bicara dengan kak Naura". Kata Delia.


"Iya mom, aku ganti baju dulu ya kak". Kata quena yang di jawab anggukan kepala oleh Naura.


"Kalau gitu Tante tinggal dulu ya Ra, kamu nggak papa kan Tante tinggal sendiri". Kata Delia setelah kepergian quena.


"Nggak papa kok Tan". Jawab Naura.


"Nggak usah sungkan anggap saja rumah sendiri". Kata Delia yang di jawab anggukan kepala oleh Naura. Setelah kepergian Delia Naura kembali mempelajari dokumen yang akan dia bahas dengan quena nanti.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2