
Keesokan harinya rico baru saja kembali dari luar kota dan langsung ke rumah sakit. Flora sendiri sudah pulang semalam karena harus menjaga anak-anaknya. Di depan ruang rawat qila dan quena arya sedang duduk dengan delia yang tertidur di pangkuannya. Arya sebenarnya punya ruangan pribadi di rumah sakit tersebut. Tapi delia tidak ingin meninggalkan putrinya, jadi mau tidak mau arya menyuruh delia tidur di pangkuannya. Ruang rawat qila dan quena memang di jadikan satu. Karena arya tahu putri kembarnya itu tidak bisa di jauhkan terlalu lama.
"Ar". Panggil rico, arya menoleh lalu menyuruh rico jangan berisik dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir. Rico yang mengerti pun mengangguk, lalu memberi isyarat agar nanti arya ke ruangannya. Arya hanya menanggapinya dengan anggukan kepala.
Rico memang punya ruang kerja di rumah sakit itu, karena dulu sampai sekarang dia masih bekerja sebagai dokter juga. Karena perusahaan kadang juga di pegang rena, kalau flora semenjak menikah dia sudah tidak turun tangan lagi ke perusahaan.
Arya meminta rico jangan berisik karena delia kurang istirahat, keseharian pasti hanya melihat ke dua putrinya dari kaca. Makan saja arya harus membujuknya dengan ekstra kesabaran, tak lama setelah kepergian rico delia bangun.
"Kenapa bangun?". Tanya arya lembut.
"Tadi aku seperti mendengar suara rico, apa dia sudah kembali?". Tanya balik delia lalu bangun dan berpindah posisi duduk.
"Iya, dia sedang di ruang kerjanya. Apa kamu ingin menemuinya?". Kata arya.
"Iya, aku ingin twins segera di tangani. Aku ingin twins segera sembuh, dan kembali kumpul bersama kita lagi". Kata delia.
"Ya sudah kita ke ruangan rico sekarang". Kata arya.
Lalu arya mengajak delia pergi ke ruangan rico, di ruangannya rico sedang berbicara dengan dokter fildan. Dokter fildan juga salah satu dokter pribadi keluarga javas, itu sebabnya dia yang menangani keadaan twins.
"Lo sudah memberi tahu delia dan arya mengenai ini semua?". Tanya rico setelah membaca data medis twins.
"Sudah, mereka bilang menunggu lo. Lo tahu sendiri kan, sangat beresiko menindaki masalah ini. Jika melakukan operasi itu sangat beresiko besar karena masalah qila itu dekat dengan otak. Resiko kecilnya pasien bisa lupa ingatan sebagian, tapi resiko besarnya itu yang sulit di terima. Dan untuk quena di dekat saraf mata, jika kita melakukan operasi gue takutnya dia akan mengalami ke butaan". Kata fildan.
"Tapi jika kita tidak melakukan operasi, mereka tidak akan sembuh. Itu juga sangat beresiko besar bagi mereka berdua, mulai saat ini biar gue yang tangani qila dan quena". Kata rico.
"Baiklah, jika sudah tidak ada yang di bicarakan lagi gue keluar dulu". Kata fildan, dan rico hanya mengangguk.
Setelah kepergian fildan tidak lama kemudian arya dan delia datang, rico mempersilahkan mereka masuk dan duduk.
"Bagaimana kabar lo, del?". Tanya rico.
"Seperti yang lo lihat, ric". Jawab delia dengan senyum yang di paksakan.
__ADS_1
"Bagaimana? Lo sudah bicara dengan dokter fildan?". Tanya arya.
"Sudah ar, dan jalan satu-satunya memang kita harus melakukan operasi pada mereka, tapi....". Jawab rico menggantung perkataannya.
"Ya sudah lakukan saja, masalah biaya lo tidak usah khawatir, berapa pun akan gue bayar". Kata delia.
"Bukan masalah biaya, del. Tapi...". Perkataan rico terpotong.
"Dokter? Jika masalahnya di dokter panggil saja dari luar negeri". Kata delia.
"Sayang biarkan rico menjelaskan dulu". Kata arya memegang pundak delia.
"Ini bukan masalah biaya atau dokter, del. Tapi cidera mereka berdua sangat beresiko jika melakukan operasi, pasti dokter fildan sudah memberi tahu kalian apa saja resiko dan cidera yang di alami twins kan". Kata rico.
"Lalu apa mereka akan terus terbaring lemah seperti itu, ric". Kata delia sedih.
"Semua tergantung keputusan kalian berdua". Kata rico.
"Memang apa resiko jika kita melakukan operasi?". Tanya arya.
"Untuk qila, itu ada gumpalan darah di dekat otaknya. Operasi bisa menyembuhkannya, tapi dia akan kehilangan ingatannya jika kita sampai gagal". Kata rico menjelaskan.
"Lalu quena?". Tanya delia.
"Untuk quena, ada sedikit serpihan di dekat saraf matanya. Jika kita melakukan operasi kemungkinan besar dia bisa buta permanen, atau kemungkinan kecil dia mengalami kebutaan sementara". Kata rico.
"Apa tidak ada cara lain?". Tanya arya.
"Hanya itu cara satu-satunya ar, gue harap kalian bisa secepatnya mengambil keputusan. Karena jika di tunda lagi keadaan mereka akan semakin menurun. Dan saran gue mereka di pindahkan saja ke lantai pribadi keluarga". Kata rico.
"Memang jika mereka di ruang vip kenapa?". Tanya delia.
"Dari data medis yang gue cek tadi ada sedikit keanehan, mereka kecelakaan seminggu yang lalu, jika hanya karena gumpalan darah dan serpihan tersebut seharusnya mereka sudah siuman dan tidak mengalami koma". Kata rico.
__ADS_1
"Maksud lo dokter fildan menyabotase keadaan twins?". Tanya arya.
"Gue juga tidak tahu siapa yang melakukannya, tapi gue akan cari tahu. Karena mulai sekarang mereka gue yang tanganin, dan gue akan pindahin mereka ke ruang rawat di lantai pribadi milik keluarga. Jadi mereka lebih aman, karena tidak sembarang orang yang bisa datang ke lantai tersebut. Untuk masalah suster yang mengantarkan obat dan yang lainnya nanti gue akan minta suster kepercayaan gue". Kata rico.
"Baiklah bagaimana baiknya saja, ric". Kata delia.
"Ya sudah, gue akan urus kepindahan mereka". Kata rico. Setelah itu delia dan arya kembali ke ruang rawat ke dua anaknya.
Siang harinya di sebuah kampus rena sedang duduk sendiri di taman kampus sambil membaca buku, hari ini dia ada kelas siang jadi sebelum masuk dia pergi ke taman untuk menyegarkan pikirannya. Tak selang berapa lama naura dan gavril datang menghampirinya.
"Lo gue cariin disini ternya". Kata gavril saat sampai di depan rena.
"Terus mau kemana lagi, mau ke kantin gue sudah makan siang tadi. Mau ke kelas masih lama, ya sudah gue ke sini saja". Kata rena sambil menutup bukunya.
"Lo sendirian ren?". Tanya naura.
"Emang lo lihat gue dengan siapa, ra?". Tanya balik rena.
"Sendirian sih". Kata naura.
"Itu tahu, gue tahu sebenarnya bukan itu yang mau lo tanyain". Kata rena.
"Memang apa yang mau naura tanyain, ren?". Tanya gavril.
"Lagi cari si kenzo pasti tuh dia". Kata rena.
"Beneran ra?". Tanya gavril memastikan.
"Tidak kok, kan biasanya rena kemana-mana sama mereka gitu". Kata naura.
"Jujur saja kenapa sih ra, tapi percuma juga lo cari kenzo dan chris. Mereka sudah pergi ke luar negeri kemarin, memang lo tidak tahu jika mereka pindah kuliah di luar negeri?". Tanya rena.
Meskipun kepindahan kenzo dan chris tidak di rahasiakan tapi tidak banyak orang juga yang tahu jika mereka pindah.
__ADS_1
Bersambung.