
Pagi hari di malaysia semua sedang disibukkan dengan persiapan pertunangan yang akan di laksanakan siang nanti.
"Masih belum bisa menghubungi kenzo, dad?". Tanya delia pada arya. Saat ini ia sedang duduk di sofa yang berada di kamarnya. Memang sudah 2 hari ini arya berusaha menghubungi kenzo tapi ponselnya tidak aktif.
"Ya seperti itulah, mom. Aku juga sudah menghubungi chris, ia bilang kenzo ke jerman". Kata arya.
"Kenapa tidak coba hubungi william?". Tanya delia.
"Kenapa aku tidak kepikiran ke sana ya". Kata arya lalu mulai mengotak atik ponselnya mencari kontak william.
Sedangkan delia, ia memilih keluar kamar untuk mengecek persiapan pertunangan apa masih ada yang kurang apa belum. Baru juga delia akan menuruni tangga ia di panggil oleh putrinya siapa lagi jika bukan quena.
"Mom". Panggil quena.
"Iya sayang". Jawab delia lalu berbalik menghadap putrinya.
"Gaun quena mana, kok belum ada di kamar?". Tanya quena cemberut.
"Loh bukannya semua pakaian sudah di kirim? Sudah di simpan kak qila mungkin". Jawab delia.
"Gaun qila saja belum ada mom, bagaimana qila mau menyimpan gaun quena". Kata qila yang tiba-tiba datang.
"Kok bisa, padahal mommy sudah cek dan semua memang sudah di kirim kemarin". Kata delia.
"Lalu sekarang bagaimana mom? Masak quena ke pesta kak ajeng memakai gaun lama". Kata quena.
"Iya udah kalian tunggu saja di kamar, mommy akan coba hubungi butiknya". Kata delia dan kedua putrinya hanya mengangguk.
Tapi saat qila dan quena akan pergi rina menghampiri mereka, delia yang melihat kakak sepupunya datang pun hanya tersenyum.
"Kalian kenapa kumpul disini bukannya turun untuk sarapan?". Tanya rina saat sampai di dekat mereka.
__ADS_1
"Tadinya aku mau turun kak, tapi tiba-tiba quena manggil nanyain gaunnya". Jawab delia.
"Memang kenapa dengan gaun quena?". Tanya rina.
"Gaun quena dan kak qila belum ada aunty". Bukan delia yang menjawab melainkan quena.
"Itulah yang membuatku bingung kak. Padahal kemarin saat aku cek itu semua sudah di kirim kak". Delia menimpali.
"Kalian sudah tanya kak ajeng?". Tanya rina.
"Kenapa tanya kak ajeng, aunty. Bukannya mommy yang urus masalah dresscodenya?". Tanya balik qila.
"Jadi kemarin itu gaun kalian pelayan simpan di kamar kak ajeng, soalnya saat itu kalian sedang pergi kan dengan kak danial dan kak dehan. Kamar kalian juga terkunci". Kata rina menjelaskan.
"Oh iya, mommy baru ingat. Memang iya saat orang butik datang kalian tidak di rumah". Kata delia menimpali.
"Mommymu memang pelupa, kalian ambil saja di kamar kak ajeng". Kata rina.
"Kak ajeng ada di kamar, nanti tanya kak ajeng sekalian suruh dia turun untuk sarapan". Kata rina dan dianggukin kepala qila dan quena.
Setelah itu qila dan quena pergi ke kamar ajeng, sedangkan rina dan delia pergi ke ruang makan. Tapi saat sampai di ujung tangga kepala pelayan datang menghampiri mereka dan memberi tahu bahwa sultan datang ingin bertemu dengan nona mudanya, yaitu ajeng. Delia merasa bingung kenapa sultan datang untuk menemui ajeng, apa ini perintah kenzo. Begitulah batin delia bertanya-tanya, untuk menghilangkan rasa penasarannya. Delia meminta pada rina agar dia saja yang menemui sultan dan rina bisa melanjutkan keinginannya pergi ke ruang makan. Tapi sebelum itu rina meminta kepala pelayan untuk menyampaikan pada ajeng bahwa sultan ingin bertemu.
Di sisi lain tepatnya di jerman hari sudah menjelang siang, kenzo sendiri sedang makan siang bersama william di sebuah restoran, dan ternyata ia bertemu dengan salah satu sahabatnya. Meskipun mereka bersahabat tapi mereka tidak bisa akur. Dan yang paling penting laki-laki tersebut umurnya lebih tua dari kenzo. Tapi meskipun begitu ia masih memiliki rupa yang amat tampan dan terlihat masih muda.
"Wah, sungguh tidak di sangka gue bisa bertemu dengan tuan muda keluarga javas". Kata pria tersebut saat sampai di meja kenzo.
Kenzo dan william yang sedang menikmati makan siangnya pun menghentikan aktivitasnya, lalu menatap pria tersebut malas. Kenzo memang tidak memesan ruang vip karena ingin lebih bersosialisasi saja dengan pengunjung yang lain.
"Will, ini hari apa ya? Kenapa gue sial sekali hari ini sampai bertemu dengan orang ini". Bukannya menjawab perkataan pria tersebut kenzo malah bertanya pada asistennya.
"Sialan lo ken". Umpat pria tersebut yang merasa tersindir dengan perkataan kenzo, sedangkan william hanya menyimak percakapan dua orang tersebut.
__ADS_1
"Santai aja kali nggak usah ngegas gitu, mau ngapain kak avram kemari?". Tanya kenzo.
Ya, pria itu adalah Avram Darius Alexander putra kedua dari keluarga alexander yang juga sebagai penerus perusahan Alpra Commpany. Alpra Commpany adalah sebuah perusahaan terbesar yang berada di Jerman, dimana perusahaan tersebut setiap tahunnya selalu mengadakan sebuah pembangunan proyek yang cukup besar. Tuan Septian Alexander sendiri adalah sahabat baik dari orang tua kenzo. Meskipun tuan septian dan tuan arya bersahabat, tapi jika soal bisnis mereka sangat bersikap profesional. Itu sebabnya arya sulit mendapatkan tender besar yang selalu di adakan keluarga alexander. Sebenarnya tuan septian memiliki satu putra lagi yang bernama Harrison Doran Alexander. Jika kalian bertanya kenapa yang menjadi penerus perusahaan putra keduanya. Karena putra pertama tuan septian sudah mendirikan perusahaan sendiri, dan ia dengan ikhlas menyerahkan perusahaan keluarga kepada sang adik.
"Mau ngemis". Jawab avram sekenanya, lalu duduk di bangku samping kenzo.
"Siapa yang nyuruh kakak duduk disini?". Tanya kenzo mengrenyitkan dahinya.
"Gabung lah ken, biar ada temannya ngobrol gitu". Kata avram.
"Terserah kakak lah". Jawab kenzo malas lalu melanjutkan makannya.
Lalu avram memesan makanan, sambil menunggu mskanan datang ia sedikit berbincang dengan kenzo. Sedangkan will ia pamit untuk kembali ke kantor karena masih banyak yang harus di kerjakannya.
"Kenapa chris tidak ikut, ken?". Tanya avram.
"Kak avram kan tau daddy dan yang lain lagi di malaysia. Jadi tidak ada yang mengurus perusahaan di sana, apalagi perusahaan habis aku tinggal lama". Jawab kenzo.
"Oh iya kenapa aku bisa lupa, lalu kamu tidak ikut?". Tanya avram lagi.
"Bagaimana aku mau ikut, jika ada cowok yang belum bisa move on dan membuat pertemuan proyek besar tepat sang mantan bertunangan". Kata kenzo tersenyum miring.
"Siapa bilang gue belum move on". Elak avram.
"Udahlah kak jujur saja, jika kak avram sudah bisa move on kenapa saat kak ajeng akan bertunangan kakak malah buat pertemuan soal pembangunan proyek tahunan". Kata kenzo.
"Itu karena memang sudah waktunya, gue juga sudah bicarain sama papah, kata papah bulan ini waktu yang tepat". Kata avram.
"Alasan saja". Ejek kenzo.
"Memang william belum beri tahu kamu jika proyeknya di undur?". Tanya avram.
__ADS_1
Bersambung.