
Ketika Rosa sedang duduk di kantin samping tempat kursus sambil menikmati milk shake cappucinnonya.
"Enak nich, gue minta," ucap Rian menyambar es dari tangan Rosa. Rosa terbelalak. "Riaaan!! Nyebelin ich, balikin es gue!!" teriak Rosa menyambar es di tangan Rian.
"Tuch kan, abis, nyebelin banget sich," rajuk Rosa cemberut. Rizal yang melihatnya terbahak. "Elo itu gemesin tau," ucapnya mengacak gemas rambut Rosa. Rosa terpaku mengerjapkan matanya beberapa kali tanda salah tingkah.
"Ciye, ciye yang salah tingkah," canda Rian. Rosa melotot. "Ganti es gue," ujarnya. "Iya, iya, udah dipesenin oleh Retno kok," ucap Rian.
"Makasih, Rian baik dech," kata Rosa tersenyum mencubit kedua pipi Rian dengan gemas. "Ada maunya aja bilang gue baik," gerutu Rian.
Rizal terbahak mengacak rambut Rosa dan menciumnya. Rosa melotot. "Kaaaak, nyebeli ich, suka cium-cium Rosa di tempat ginian, malu tau," rengeknya cemberut.
"Habisnya, elo gemesin sich," kata Rizal menatap Rosa. Mata mereka beradu. "Aduuuh, jantung gue, kok tambah deg-degan gini," gumam Rosa sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, kebiasaannya ketika dia salah tingkah dan bingung.
"Ciyee, ciye, ciye yang tatap-tatapan," canda Rian menyenggol Rosa yang membuat Rosa tersadar. "Apaan sich lo," kata Rosa menoyor kepala Rian dan pergi pindah duduk di samping Rizal.
"Loh kok pindah?" ucap Retno. "Ntar mie ayam gue dihabisin Rian dan es gue dihabisin lagi," cerocos Rosa sambil makan. "Alesan, bilang aja klo mau deket dengan Kak Rizal," ucap Rian. Rosa hanya mencibir.
Tanpa sadar Rosa pun meyandarkan tubuhnya di bahu Rizal yang membuat Rizal tersentak kaget. "Aduuh, Rosa mulai lagi dech, gak tau apa gue jantungan gini," gumamnya.
Yang lainnya pun berpandangan. "Mereka jadian?" bisik Gavin. " Iya, kok bisa deket banget gitu," bisik Yoga menatap Rizal dan Rosa yang sedang bercanda tawa. Sesekali Rizal menyuapi Rosa dengan makanan yang telah di pesannya.
"Enak?" kata Rizal.Rosa mengangguk. "Minta lagi Kak," pintanya. Rizal pun menyuapi Rosa lagi.
"Belum jadian aja, serasa dunia udah milik mereka berdua, apalagi klo jadian, chemistry mereka udah ketemu kaya'nya," ucap Gavin.
"Iya, jarang loh Rosa itu bisa ketawa lepas gitu sama orang, apalagi yang baru dikenal, tapi klo sama Kak Rizal, dia sepertinya plong banget gitu, jadi diri sendiri," ucap Vivi.
"Mau kemana Sa?" tanya Rian ketika Rosa berangkat dari duduknya. "Ketoilet? Mau ikut?" canda Rosa kemudian pergi ke toilet.
π»π»π»π»π»
Seperginya Rosa ke toilet. "Kaya'nya Kakak bener-bener jatuh cinta nich sama Rosa,"Β canda Rian. "Iya Yan, Kakak bener-bener jatuh cinta dengan Rosa, dia bener-bener gadis yang manis, jadi pengen cepet-cepet nembak dia biar gak keduluan sama yang lain, Rosa kan banyak yang suka," kata Rizal.
"Bener Kak? Tapi kaya'nya Rosa juga suka sama Kakak," ujar Retno. "Iya, gue liat dari binar matanya ketika ada deket dengan Kakak," ucap Vivi. "Iya, suka salah tingkah klo liat Kakak," ucap Untari.
__ADS_1
"Tolong yakinkan dia Yan agar dia gak nerima cowok lain," ucap Rizal. "Iya Kak, gue janji, tapi gue minta tolong jaga dia, gue paling gak suka kalo ada air mata keluar dari matanya," ujar Rian.
"Iya Yan, Kakak janji akan jaga Rosa, Kakak juga paling gak bisa liat air mata keluar dari mata Rosa," ucap Rizal.
"Jadi kapan nich mau nembaknya?" ucap Yoga. "Pas Rosa ultah aja Kak, kan bentar lagi Rosa ultah," ujar Vivi.
"Iya yach, kok gue gak kefikiran, Rosa bentar lagi ultah, padahal harinya sama," ucap Rian menepukΒ keningnya.
"Rosa sekarang lagi nabung, dia pengen beli arlojiΒ winnie the pooh yang ada lampunya," ujar Vivi.
"Yang kita liat di toko arloji?" kata Rian. "Iya, gue inget, kemaren dia mau beli arloji itu, tapi uangnya gak cukup," ucap Retno.
"Yach udah, ntar klo udah deket, Kakak aja dia ke Toko arloji," ujar Rizal. "Sekalian ntar Kakak pesen kue yang winnie the pooh," kata Rizal.
"Beres Kak, pasti kami bantu," ucap Yoga.
"Kok Rosa lama banget di toiletnya?" kata Rian. "Biasa juga lama kok Yan, gak usah lebay dech," ucap Untari.
"Iya, tapi ini kelamaan, kok firasat gue gak enak yach, elo tunggu sini, jaga'in tas, yuk Kak,kita liat ke toilet," ucap Rian menarik tangan Rizal. Rizal mengiringi langkah Rizal.
πππππ
Reihan tersenyum miring. "Elo gemesin klo gini," bisiknya dari belakang mencoba mencium dari belakang. Rosa mengelak. "Apaan sich lo, udah gila yach," ucap Rosa mendorong Reihan, Reihan terjatuh tapi dia berdiri menarik tangan Rosa dengan kasar.
"Lepas!" teriak Rosa menepis tangan Reihan. "Gak akan, gue gak akn pernah melepaskan elo Sa, kenapa elo nolak gue?" bisik Reihan mendorong tubuh Rosa ke dinding.
"Lepaaaaaas!" teriak Rosa mulai panik mendorong tubuh Reihan tapi Reihan tak bergeming. "Pergiiii! Reihan lepasin gue!" teriak Rosa memukul dada Reihan yang berada di depannya.
Reihan menyeringai jahat yang membuat Rosa semakin takut. "Tolooong!" teriak Rosa memberontak. "Kenapa elo gak bisa nerima gue Sa?! Kenapa?!" teriak Reihan mendekatkan wajahnya ke wajah Rosa. "Karna gue cuma menganggap elo temen," ucap Rosa memalingkan wajahnya karna wajah Reihan mulai mendekat ke wajahnya.
"Lepasin gue Rei, gue mohon," isak Rosa, lututnya mulai gemetar, jantungnya berdegup kencang karna ketakutan ketika Reihan memegang dagunya dengan paksa.
"Tatap gue Sa, elo bohong kan? Semua karna Rian kan?! Kalian ada hubungan?!" teriak Reihan.
Rosa hanya menggelengkan kepalanya. Tubuhnya semakin lemas karena ketakutan. Lepasin gue Rei, gue mohon," lirih Rosa menatap Reihan air matanya mulai deras mengalir dari sudut matanya yang indah.
__ADS_1
Reihan tertawa. "Gue mau lepasin elo, tapi izinkan gue mencicipi bibir elo yang seksi ini sebentar saja," ucap Reihan membelai bibir Rosa dengan telunjuknya.
"Gak mau, lepaaaas!" teriak Rosa. "Toloooong! Riaaan! elo dimana?! Tolong gue!" teriaknya lagi.
"Diaaam!!!!" teriak Reihan menekan kepala Rosa kedinding. "Lepasin gue Rei, sakit," isak Rosa. "Rian gak akan denger elo, karna toilet ini jauh dari tempat makan," sambungnya lagi mengejek dan semakin mendekatkan wajahnya.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Rian yang mendengar teriakan Rosa dari toilet langsung berlari ketoilet. Matanya terbelalak sempurna ketika melihat Rosa yang sudah lemas dengan isak tangisnya karena ulah Reihan yang akan melecehkannya.
Tangannya mengepal erat, nafasnya memburu karna emosi, rahangnya mengeras, dia mendekati Rosa dan Reihan dengan cepat. Begitupun Rizal, dia benar-benar emosi ketika melihat gadis yang di cintainya tersakiti. "Lepasin Rosa!" teriak Rian menendang tungkai kaki Reihan dan akhirnya Reihan terjatuh.
"Elo apain Rosa haaaah?!" teriak Rian memukul Reihan membabi buta. Reihan kewalahan menghadapi Rian yang sedang emosi. "Gue ingetin sekali lagi, sampe gue liat Rosa begini lagi krn ulah elo, habis lo sama gue," Rian ketika mau memukul lagi. "Yan, sudah, kasian udah hampir babak belur," Kata Gavin menahan pukulan Rian yang sebentar lagi mendarat di wajah Reihan.
Rian menghela nafas mengatur emosinya kemudian pergi meniggalkan Reihan dan mendekati Rosa.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Rosa terduduk lemas menangis sesegukan menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya. "Elo gak papa Sa," ucap Rizal membantu Rosa berdiri.
Tanpa sadar Rosa langsung menghambur kepelukan Rizal. Rizal mematung sesaat menetralkan perasaannya yang tiba-tiba gugup tapi dia berusaha tenang dan membalas pelukan Rosa.
"Rosa takut Kak, Rosa takut," isak Rosa semakin erat memeluk Rizal. Rizal merasakan detak jantung Rosa yang tak beraturan karna ketakutan akibat ulah Reihan.
Rizal membelai rambut Rosa. Elo gak papa kok, yang tenang yach, Kakak slalu ada untuk elo," bisiknya mencium rambut Rosa lama.
Rosa terdiam memejamkan matanya menikmati perlakuan Rizal ntah mengapa dia menjadi sangat tenang ketika berada dipelukan Rizal.
Rizal menatap Rosa. "Kakak janji Sa, Kakak akan slalu jaga elo dan gak akan pernah membiarkan air mata menetes lagi dari mata indah elo," ucapnya membingkai wajah Rosa dan menghapus air mata gadis itu. Rosa menatap Rizal mengerjap pelan tanda dia bingung dan salah tingkah. Rizal tersenyum. "Yuk pulang, kita temui Rian dulu," ucapnya merangkul bahu Rosa kemudian mendekati Rian.
"Elo gak papa kan Sa? Gak ada yang luka?"ucap Rian meneliti semua tubuh Rosa. "Gue gak papa yan, makasih yach," kata Rosa menatap sahabatnya itu. "Kebiasaan ich, kita itu satu Sa, sakit elo itu sakit gue, gue sakit liat elo diperlakukan seperti tadi," ucap Rian.
"Untung tadi ada Retno denger suara elo, jadi kami bisa langsung masuk ke toiletnya, kan bingung mau cari toilet yang ada elo, lah toiletnya banyak gitu," ucap Rian.
"Udah ach, yuk kita pulang," ujar Vivi. Mereka akhirnya pulang.
__ADS_1
πΉπΉπΉπΉπΉ
Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, β₯οΈ, β, vote dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all πππ.