
Di tempat makan, Rosa langsung mencari tempat lesehan. Rizal mengiringi Rosa. Rosa menyandarkan tubuhnya di dinding dan menyelonjorkan kakinya. Dia memejamkan matanya.
"Elo mau pesen apa?" tanya Rizal menyodorkan menu pada Rosa. Rosa masih memejamkan matanya.
"Sa," ujar Rizal mendekati Rosa dan membelai lengan Rosa dengan pelan. Rosa kaget membuka matanya. Mata mereka beradu. Degup jantung diantara keduanya berdegup kencang.
'Aduuuh, jantung gue, kenapa kak Rizal jadi deket gini dengan gue?' gumam Rosa mengerjapkan matanya pelan tanda dia salah tingkah yang membuat Rizal tambah gemas.
'Aduuuh, jantung gue, kenapa jadi deg-degan gini? gumam Rizal dalam hati menatap mata indah Rosa.
"Kenapa Kak?" Kata Rosa setelah sadar. "Menu udah nyampe, elo mau pesen apa? Ayam bakar? Ikan bakar, ayam krispy atau nasi goreng sea food?" tanya Rizal menatap Rosa.
Akhirnya Rosa memesan nasi ayam bakar dan milk shake cappuccinno kemudian Rizal pun memesan nasi soto dan juz buah naga.
"Rosa ketoilet dulu Kak," ujar Rosa memberikan tasnya dengan Rizal kemudian dia ke toilet.
Rizal mendesah memyandarkan tubuhnya di dinding untuk menetralkan jantungnya.
'Klo begini terus bisa-bisa gue bener-bener jantungan nich,' gumamnya dalam hati.
🌻🌻🌻🌻🌻
Sekembalinya Rosa dari toilet. 'Kak Rizal, pelipisnya, dan bibirnya luka karna nolongin gue,' gumamnya dalam hati meraba pelipis dan bibir Rizal.
Rizal tersentak memegang tangan yang berada di wajahnya. "Loh Rosa? Udah ke toiletnya?" tanyanya menatap Rosa. Rosa mengangguk menundukkan kepalanya dan menarik tanganya yang berada digenggaman Rizal.
"Maafin Rosa Kak," Katanya pelan menundukkan kepalanya. "Untuk?" tanya Rizal bingung. "Karna bela'in Rosa, Kakak jadi terluka," lirih Rosa menatap Rizal.
Rizal tersenyum menatap Rosa. Senyum yang slalu Rosa suka dan tlah jadi candu baginya.
"Semua orang klo liat elo seperti tadi pasti akan melakukan hal yang sama seperti Kakak, apalagi Kakak," katanya. "Rosa obatin luka Kakak yach, tadi Rosa beli obat merah deket kantin," tawar Rosa mengeluarkan obat merah dari sakunya.
Rizal menatap Rosa yang sedang mengobati lukanya. 'Rosa, jantung gue tambah berdegup kencang, aduuuh, semoga dia gak tau klo gue bener-bener gugup,' Gumamnya dalam hati. 'Dia bener-bener cantik dilihat dari dekat, secantik hatinya yang tulus,' gumamnya lagi.
"Sudah." Kata Rosa tanpa sadar menyandarkan tubuhnya ke tubuh Rizal yang membuat Rizal tersentak kaget, dia memejamkan matanya menetralisir perasaannya. 'Rosa, kenapa jantung gue berdegup kencang begini,' Gumamnya.
Rosa memejamkan matanya menikmati semilir angin sepoi-sepoi. Mereka tersadar ketika pesenan datang.
💎💎💎💎💎
Ketika sedang makan. "Sepertinya Indra marah banget dengan elo Sa," ujar Rizal mengaduk sotonya dengan emping melinjo. "Iya Kak, Kak Indra kira Rosa suka dia karna Rosa slalu menerima coklat dari dia," ujar Rosa.
"Elo suka Indra?" tanya Rizal. Rosa menggelengkan kepalanya.
"Klo elo gak suka, kenapa elo terima coklatnya?" tanya Rizal. "Kata Papa, kita tidak boleh menolak pemberian orang lain walau kita tidak suka, kita harus menerimanya karna menghormati pemberian orang itu," jawab Rosa.
"Bener kata Rian, elo itu bener-bener polos Sa," ujar Rizal. "Maksud Kakak? Rosa salah yach?" tanya Rosa menatap Rizal.
"Gak juga, klo ada orang yang suka kita dan kita gak suka dengannya, kita gak harus menerima pemberian dari orang itu untuk menjaga perasaannya karna akan terjadi salah paham," jelas Rizal.
"Ooooh, Rosa ngerti, klo Rosa gak suka sama Kak Indra, Rosa gak harus nerima coklat dari Kak Indra," balas Rosa. "Anak pinter, tuch ngerti," balas Rizal menepuk pucuk kepala Rosa pelan.
"Sama seperti Kakak bersikap dingin dengan Kak Ilona, Amel dan Tere?" Kata Rosa. "Iya, karna Kakak gak ada yang suka sama mereka, makanya Kakak gak terlalu meladeninya." Kata Rizal.
"Oh iya Rosa lupa, Kakak kan udah punya pacar," ujar Rosa menatap Rizal. Rizal menemukan luka dimata gadis itu.
"Kakak belum punya pacar Sa, elo sendiri? Kenapa gak suka Indra bukannya kata elo Indra itu baik?" tanya Rizal. "Kata Kak Mimi, Kak Indra itu suka gonta ganti pacar, Rosa gak mau punya pacar kaya' gitu, lagian juga, Kak Indra itu kasar, Rosa,gak mau sama cowok yang kasar," jelas Rosa.
"Oh ya? Emang tipe cowok elo itu yang gimana?" tanya Rizal.
"Rosa pengen punya pacar yang slalu ada untuk Rosa, yang dewasa biar Rosa bisa manja-manja dengannya, gak kasar, seperti Rian, yang cuma ketika Rosa menatap matanya, dia ngerti apa yang Rosa mau, ada gak yach cowok seperti itu? Masalahnya sempurna banget, lagian juga klo pun ada apa iya dia suka Rosa? Masalahnya sempurna banget," ujar Rosa menatap langit bersandar di bahu Rizal sambil memainkan pipetnya.
__ADS_1
"Ada," ucap Rizal. "Ada? Iy Kak? Ada? Siapa?" tanya Rosa menatap Rizal. "Kakak," bisik Rizal menatap Rosa sambil tersenyum.
"Ngaku-ngaku," canda Rosa menunjuk Rizal. Rizal tertawa. "Gak seperti yang diharapkan yach," ucapnya mengacak gemas rambut Rosa.
'Andai itu bener Kak, gue seneng banget, tapi sayang, Kakak udah punya pacar,' gumam Rosa dalam hati menatap Rizal.
"Ada apa liatin Kakak gitu?" tanya Rizal. Rosa menggelengkan kemudian menundukkan kepalanya. "Kakak baik banget dengan Rosa, padahal kita batu kenal," Katanya pelan.
"Kakak kan pernah bilang dengan elo Sa, Kakak sayang elo dan Kakak paling gak suka liat air mata di mata elo sama seperti Rian, Kakak paling gak suka liat elo disakiti orang, apalagi seperti Indra tadi, sampe kapanpun Kakak gak akan bisa liat elo terluka, sakitnya itu di sini klo liat elo tersakiti." Kata Rizal menunjuk dadanya. "Dan elo harus tau, sampe kapanpun Kakak akan slalu jadi bulan untuk elo, sejauh apapun elo pergi, dimanapun elo berada, Kakak akan slalu jadi tempat elo kembali," sambungnya menatap Rosa. Rosa menemukan kesungguhan di mata Rizal.
"Karna itu Kakak mengakui Rosa dengan Tere, Amel, Kak Ilona dan Kak Indra pacar Kakak?" tanya Rosa. "Anak pinter," ujar Rizal menepuk pucuk kepala Rosa.
"Ntar Rosa gak laku-laku donk, gak punya pacar," canda Rosa. "Kakak yang akan jadi pacar elo," ujar Rizal tersenyum.
"Suka ngarang dech, ntar pacar Kakak marah, Rosa gak mau jadi perusak hubungan orang," rajuk Rosa cemberut. Rizal tertawa. "Elo itu gemesin tau klo lagi ngambek," candanya. "Kakak hanya milik elo, percaya itu," bisiknya mencium pelipis Rosa.
"Kaaaak, nyebelin ich, suka banget cium-cium Roza di tempat umum." Kata Rosa cemberut. Rizal tertawa. Mereka makan sambil bercanda tawa, setelah makan merekapun pulang.
🌺🌺🌺🌺🌺
Hubungan Rosa dan Rizal semakin dekat, satu sekolah pun menggosipkan mereka berpacaran yang membuat cowok-cowok disekolah menjadi segan dan takut untuk menyakiti Rosa karena mereka tau Rosa jago taekwondo.
Ketika Rosa sedang makan mie ayam di kantin. "Hai Sa, sendiri? Mana yang lain?" tanya Winda tiba-tiba duduk di samping Rosa yang sedang makan mie ayam di kantin. "Masih di kelas Kak," jawab Rosa.
"Elo beruntung dapet pacar kaya' Rizal," ujar Winda. "Maksudnya?" balas Rosa bingung.
"Iya, semua satu sekolah udah tau kalo kalian berdua pacaran," jawab Winda. "Oh ya? Kok gitu?" tanya Rosa.
"Rizal itu idola di sekolah ini, semua cewek banyak ingin merebut hatinya walau mereka tau Rizal itu cowok yang dingin dan cuek bahkan dijuluki beruang kutub sama para cewek disini," Kata Winda. Rosa tertawa. "Apa Kak? beruang kutub?" tanyanya mengulangi perkataan Winda.
"Iya, beruang kutub, kenapa elo tertawa? Emang ada yang lucu?" tanya Winda.
"Gak kok, lucu aja Kak Rizal kok dapet julukan gitu, padahal sebenernya dia itu ramah lo, suka becanda bahkan suka usil sama kaya' Rian," jawab Rosa. "Oh ya? Rizal gitu yach? Gue yang hampir 3 taon sekelas dengannya aja jarang liat dia tertawa," jelas Winda.
"Iya, emang Rizal dijuluki beruang kutub, tapi walau seperti itu, cewek-cewek di sini semakin tertantang untuk mendapatkan hatinya, siapa sich yang gak mau punya pacar, kapten basket, ketua OSIS, jago taekwondo, ganteng lagi," jelas Winda.
"Kak Rizal gak gitu Kak, dia baik, sama seperti Rian, bahkan dia juga slalu ada untuk Rosa, klo Rosa mau minta temenin kemana aja, tinggal telpon kok, dia juga perhatian gak cuek, klo Rosa salah, suka nasehatin, dia memberitahu dimana letak kesalahan Rosa secara detail, dia juga suka jagain Rosa klo ada cowok yang jahat sama Rosa," ungkap Rosa.
"Oooh, gue baru tau tuch, berarti gue emang belum kenal deket dengan Rizal," ujar Winda.
🌸🌸🌸🌸🌸
Ketika sedang asyik cerita. "Hai Sa, mana yang lain?" tanya Rizal duduk disamping Rosa mencium pucuk kepala Rosa. "Kaaaaak, nyebelin ich, ini kantin bukan rumah, malu tau cium-cium Rosa," cerocos Rosa tanpa titik koma sambil membelai pucuk kepalanya.
Rizal tertawa mengacak gemas rambut Rosa. "Elo hebat, bisa buat Rizal tertawa lepas gitu, klo dengan orang, jangankan tertawa senyum aja susah," ujar Winda. "Loh ada Winda toh, sampe gak nyadar," ujar Rizal.
"Iyalah gak nyadar, udah ketemu pujaan hati, jadi dunia serasa milik berdua," canda Winda. "Kakak duluan," sambungnya ketika pesenan somaynya udah selesai.
"Cerita apa sama Winda?" tanya Rizal. Rosa menceritakan apa yang dia bicarakan dengan Winda tadi. "Emang kita pacaran?" tanya Rosa menatap Rizal. "Menurut elo?" balas Rizal menatap Rosa.
"Gak lah, Kakak gak pernah nembak Rosa," kata Rosa. "Gitu yach? Harus nembak? Kakak sering bilang sayang ke elo itu gak cukup?" ujar Rizal.
"Yeeee Kakak, Rian itu hampir bilang sayang ke Rosa tiap hari, sehari itu aja bisa lebih 20 kali, klo cuma kata sayang aja bisa jadian, berarti Rosa sama Rian pacaran juga? padahal kami saudara sesusuan," jelas Rosa menatap Rizal.
"Kalo gitu, jaga hati elo untuk Kakak yach, sampe Kakak siap nembak elo," ucap Rizal. "Gak mau, kan Kakak udah punya pacar?" tanya Rosa menatap Rizal dan Rizal mendapatkan luka dimata gadis itu.
"Kakak serius Sa, jaga hati untuk Kakak yach?" ucap Rizal menatap Rosa dan menggenggam tangan Rosa. "Karna ini, di sini hanya milik elo," sambungnya meletakkan tangan Rosa yang digenggamnya ke dadanya.
Rosa mematung, matanya mengerjap pelan tanda dia salah tingkah. 'Aduuuh, jantung gue mau copot, andai bisa menghilang gu akan menghilang dari hadapannya,' Gumam Rosa.
"Kakak serius Sa." Kata Rizal menggenggam tangan Rosa yang membuat Rosa tersentak dan tersadar.
__ADS_1
"Apaan sich Kak," lirih Rosa melepaskan tangannya digenggaman Rizal kemudian beranjak memesan es cappucinno untuk menghilangkan debar jatungnya.
🌹🌹🌹🌹🌹
Rosa kebingungan ketika kembali ke meja melihat mie ayamnya lenyap. "Loh, mie ayam Rosa mana Kak?" tanyanya bingung. Rizal menatap Rian. Mengertilah Rosa. "Riaaaan, kenapa mie ayam gue di makan? Mesen sendiri napa? Nyebelin banget," teriak Rosa mengacak-ngacak rambut Rian. "Kelamaan Sa, mau nunggu lagi, gue keburu laper," ucap Rian.
Rosa hanya cemburut akhirnya duduk disamping Rian sambil memainkan pipetnya. "Loh kok malah duduk? Gak jadi mesen?" tanya Rian.
"Uang gue abis, tadi ditabung di koperasi, rencananya mau di tabung semua, tapi gue lupa bawa bekal yang disiapkan oleh mama di atas meja tadi," lirih Rosa.
Vivi duduk disamping Rosa. "Elo masih mau beli arloji itu Sa?" tanyanya.
Rosa menggeleng. "Arlojinya udah gak ada lagi, lagian juga arloji itu kemahalan untuk gue, ntar klo uang gue udah cukup beli arloji model lain aja," jelasnya. "Lagian juga gue gak mau ntar sama lagi dengan orang di sekolah ini klo tetap beli," lirihnya.
"Oooh, arloji itu udah laku? Siapa yang beli?" tanya Retno. "Kak Rizal kemaren belinya, minta temenin gue," lirih Rosa.
"Arloji itu untuk siapa Kak? Bukannya arloji itu arloji cewek?" tanya Untari. "Untuk pacarnya lah Tar, lah untuk orang spesial di hati, ya kan Kak?" tanya Rosa menatap Rizal. Rizal menemukan luka di mata Rosa.
Rizal hanya tersenyum. 'Maafin gue Sa, udah buat elo terluka, padahal itu semua gue lakukan untuk elo,' Gumamnya.
"Bener Kak?" tanya Gavin. Rizal hanya tersenyum menengadahkan kedua tangannya dan mengangkat alis satu. Rian pun mengerti.
Dia mendekati Rosa dan merangkul bahu gadis itu. "Gak usah beli arloji lagi, ntar elo dapet arloji sesuai yang elo impikan," ucapnya. "Maksudnya?" tanya Rosa.
"Iya Sa, gue sependapat tuch sama Rian, sayang uangnya," Kata Vivi tersenyum menggoda.
"Katanya elo tadi mau mie ayam, pesen aja, ntar Kakak bayar," ucap Rizal. "Bener Kak? Boleh pesen? Sekalian es cappucinnonya yach," rengek Rosa.
Rizal hanya mengangguk. "Makasih Kak," ujar Rosa tanpa sadar mencium pipi Rizal. Rizal terpaku, badannya menegang memegang pipinya yang dicium oleh Rosa yan tlah memesan makanan.
Rizal terpaku memegang pipinya yang di cium Rosa. "Ciye, ciye, yang dapet ciumama dari pujaan hati, gak gak dicuci tuch muka," canda Rian menyenggol bahu Rizal.
"Kakak suka Yan, Kakak suka liat matanya berbinar seperti tadi, klo dia jadi milik Kakak, kakak gak akan slalu buat mata itu berbinar seperti tadi," lirih Rizal memandang Rosa yang sedang memesan mie ayam tak berkedip sambil memegang pipinya.
"Sepertinya Kak Rizal bener-bener sayang Rosa Yan," ujar Retno. "Sekarang kalian tau kan kenapa gue mati-matian ingin mereka berdua jadian?" tanya Rian.
Rosa membawa mie ayam yang sudah di pesannya kemudian duduk di samping Rizal. "Loh kok pindah Sa?" tanya Retno. "Ntar mie ayam gue dihabisin sama Rian," Kata Rosa.
"Alesan, bilang aja klo pengen deket dengan Kak Rizal," ledek Rian. "Atau Mas Angga tercinta," bisik Rian tersenyum nakal.
Rosa mendelik. "Didenger Kak Rizal malu tau," bisiknya padahal tanpa mereka sadari Rizal mendengar semuanya.
'Siapa Mas Angga? Pacar Rosa? Sudahlah, ntar gue tanya sama Rian,' Gumamnya dalam hati.
"Bodo'," kata Rian melenggang pergi yang membuat Rosa tambah melotot.
Vivi dan lainnya melihat Keakraban Rosa dan Rizal, sesekali Rizal menyuapi makanan yang mereka makan dan mengecak gemas rambut Rosa, terkadang mencium pucuk rambut Rosa.
"Mereka bener-bener lupa klo ada orang, belum jadian udah gitu," ucap Untari.
"Napa? Iri? Tuch Gavin nganggur," canda Rian. Gavin melotot menendang tulang kaki Rian.
Rian tertawa. "Hebat kan Kak Rizal, dalam waktu singkat udah deket sama Rosa, bahkan Rosa udah ada nama kesayangan untuk Kak Rizal loh," ucapnya. "Oh ya, siapa?" tanya Gavin dan yang lainnya bersamaan.
Rian tertawa. "Kompak banget," ledeknya. "Ya iyalah penasaran," ucap Untari. "Mas Angga," bisiknya. "Tapi dia gak mau manggil Kak Rizal Mas Angga karna malu dan Kak Rizal pun belum tau," sambungnya.
"Iya, kemaren dia cerita, bahkan Rosa itu sering berkhayal jadi pacar Kak Rizal," kata Vivi. "Berarti Rosa bener-bener cinta dengan Kak Rizal?" tanya Gavin. "Iya, bahkan dari mereka pertama bertemu, diantara mereka berdua udah ketemu chemistry dan gue percaya Kak Rizal adalah yang terbaik untuknya," jelas Rian.
Tanpa terasa bel pun berbunyi dan mereka masuk ke kelas masing-masing.
🥀🥀🥀🥀🥀
__ADS_1
Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, ♥️, ⭐, vote dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all 😘😘😘.