
Ketika sepulang sekolah, Rosa sedang membereskan bukunya, Bobby mendekat. "Sa, sini dulu," ucapnya menarik tangan Rosa ke taman belakang kelas tempat biasa Rosa memakan bekalnya.
"Ada apa sich Bob, kok tarik-tarik gue," ujar Rosa mengikuti Bobby. "Gimana jawabannya Sa?" tanya Bobby menatap lekat mata Rosa.
"Maaf Bob, gue gak bisa," jawab Rosa pelan menundukkan kepalanya. "Kenapa Sa?" tanya Bobby. "Ya karna gue gak suka dengan elo, gue cuma nganggap elo sebagai teman," tanya Rosa.
"Bohong, bukannya selama ini kita deket?" tanya Bobby. "Emang klo kita deket, gue suka elo gitu?" tanya Rosa menatap Bobby. "Gue deket dengan Rian, Gavin dan Yoga, berarti gue juga suka mereka?" sambungnya lagi.
Bobby mengangkat dagu Rosa, mata mereka beradu. "Apa karna Rian?" tanyanya. Rosa menggeleng. "Gue gak ada hubungan apa-apa dengan Rian," jawabnya.
Bobby mendekatkan wajahnya ke wajah Rosa, ketika bibirnya akan bersentuhan, Rosa mendorong Bobby. "Jangan Bob," lirih Rosa menatap Bobby yang menjauh karena dorongannya.
Bobby kembali mendekatkan wajahnya dan mendorong Rosa ke dinding. "Jangan Bob, lepasin gue," teriak Rosa. Bobby tak memperdulikan omongan Rosa, dia terus berusaha mencium bibir Rosa.
Rosa semakin memberontak. "Lepasin gue Bob, gue mohon," isak Rosa. Bobby tak memperdulikan tariakan Rosa. "Lepaaaas," teriak Rosa semakin memberontak dan semakin memberontak.
"Teriak Sa, teriak lah sepuas elo, sekarang sudah sepi, guru sudah pada pulang," bisik Bobby di telinga Rosa. Rosa semakin memberontak.
π»π»π»π»π»
Rian yang curiga Rosa gak keluar-keluar dari sekolah kembali masuk lagi karna sekolah sepi. "Mana sich Rosa kok gak nongol-nongol?" gumamnya dalam hati. Dia pun masuk ke dalam sekolah lagi.
"Loh kok balik lagi? Mana Rosa," tanya Mimi yang baru keluar dengan Rizal karna habis rapat OSIS.
"Rosa Kak, ditungguin dari tadi, gak keluar-keluar, sekolah udah sepi, gue takut ada apa-apa," jawab Rian balik lagi masuk ke dalam sekolah. Akhirnya Rizal dan Mimi mengikuti Rian.
πππππ
"Itu suara Rosa Kak." Kata Rian ketika mendengar teriakan Rosa di belakang kelas. Dia pun berlari ke belakang kelas.
__ADS_1
Rian terbelalak ketika Bobby ingin mencium Rosa yang sedang kuat tenaga memberontak.
Dan
"Bugh, bugh,bugh" Rian memukul Bobby dengan membabi buta. Rosa terduduk terisak menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya.
"Elo gak papa Sa?" tanya Rizal membantu Rosa berdiri. Rosa masih terdiam dan terisak tanpa sadar Rizal pun memeluk Rosa.
Tangis Rosa pecah dipelukan Rizal. "Rosa takut Kak, Rosa takut," isaknya.
Rizal mempererat pelukan Rosa. "Menangislah Sa, klo itu membuat elo puas," bisiknya.
Rosa terdiam dalam pelukan Rizal. Dia menemukan ketenangan dalam pelukan tersebut. "Kak Rizal, kenapa gue bisa tenang banget ketika bisa menangis di pelukkannya, sama seperti gue nangis dipelukan Rian," gumamnya dalam hati.
"Kakak janji mulai sekarang akan slalu jadi pelindung elo," bisik Rizal. Rosa masih terisak dalam pelukan Rizal.
"Menangislah klo itu membuat elo puas," kata Rizal membelai rambut Rosa dan menciumnya lama.
"Elo apain Rosa haaah," teriak Rian memukul Bobby membabi buta. Bobby terjatuh. "Apa hubungannya dengan elo? Kenapa elo slalu ikut campur dengan urusan Rosa?" teriak Bobby menarik kerah baju Rian dan memukulnya.
"Jangan pernah lagi ganggu Rosa, elo nyakitin Rosa berarti elo telah menyakiti gue, karna gue dengan Rosa adalah satu kesatuan," teriaknya. Bobby tertawa mengejek Rian. "Elo dengan Rosa satu?" Elo siapa dia? haah?" teriak Bobby berdiri sempoyongan dan memukul Rian.
Rian mengelak dari pukulan Bobby kemudian memukul Bobby dengan membabi buta.
"Rian, sudah, Bobby sudah babak belur," kata Mimi menarik tangan Rian. Rian terdiam mengontrol emosinya.
Rian menendang Bobby yang tak berdaya. "Pergiii," teriaknya lagi sambil menunjuk ke atas. Bobby langsung berlari dengan tertatih.
Rian mendekati Rosa. Elo gak papa Sa?" tanyanya. Rosa menggeleng dan menghambur ke pelukan Rian. Kebiasaannya dari dulu ketika dia galau. "Gue takut Yan, gue takut," isaknya.
__ADS_1
Mimi dan Rizal berpandangan. "Rosa bener-bener trauma Mi," ucap Rizal. "Iya Zal, disaat seperti ini, hanya pelukan yang bisa menenangkan dia dan itu pelukan Rian, Rosa, walau dia sering bertingkah bar-bar tapi klo dia diperlakukan seperti tadi oleh lelaki, dia akan gak berdaya karna panik dan takut," tutur Mimi menatap Rian dan Rosa yang sedang berpelukan.
"Sekarang elo tau khan kenapa gue paling gak suka klo elo deket dengan Bobby?" tanya Rian menatap Rosa. Rosa balik menatap Rian. "Gue tau Sa, Bobby dan Reihan itu gak pantes untuk elo, mereka hanya menciptakan air mata di mata elo," tutur Rian menatap Rosa membingkai wajahnya, lalu menghapus air matanya dengan ke dua jempolnya yang berada di pipi Rosa.
"Yuk kita pulang," kata Rizal merangkul bahu Rosa. "Elo mau pulang dengan Kak Rizal?" ucap Rian. "Terserah, kepala gue pusing Yan," ucap Rosa pelan mencari tempat duduk untuk bersandar dan memejamkan matanya. "Elo laper?" kata Rian mendekati Rosa. Rosa menganggukkan kepalanya.
"Emang tadi gak bawa bekal?" tanya Rian. "Udah, tapi kan bagi dua pas istirahat tadi," jelas Rosa pelan.
"Oh iya, gue lupa, elo khan rakus, mana bisa bekal di bagi dua," canda Rian. "Rian nyebelin ich, sodaranya sakit kok malah di ledekin," rengek Rosa cemberut. "Gue beneran pusing, bukan main-main," Kata Rosa menarik tangan Rian dan meletakkan telapak tangan Rian di keningnya.
Rizal tersenyum menatap Rosa tak berkedip ketika ia memperhatikan interaksi dua sahabat itu.
"Ciye, ciye, ciye, yang jatuh cinta," canda Mimi menyenggol bahu Rizal. "Iya Mi, gue bener-bener jatuh cinta dengannya, gak tau ini perasaan cinta yang sebenarnya atau cuma rasa cinta monyet," kata Rizal menatap Rosa tak berkedip.
"Kalo gue nilai, elo itu bukan cinta monyet dech, elo itu bener tulus sayang dengan Rosa," kata Mimi.
"Kita cari makan dulu Yan, takutnya Rosa pingsan," kata Rizal. "Iya, Kakak bener, lebih baik Rosa makan dulu," canda Rian.
"Iya, yuk Sa, hati-hati," Kata Rizal membimbing Rosa. "Kakak udah pesen taksi, kita makan di tempat favorit kita yach," sambungnya merangkul bahu Rosa.
Rosa menganggukkan kepalanya. "Berarti kita gak ikut yach, takut ganggu," ledek Rian tersenyum nakal. "Ya kan Kak?" sambungnya menyenggol bahu Mimi.
Rosa cemberut. Rian tertawa mengacak gemas rambut Rosa. "Klo udah gitu, Rosa dianter pulang yach Kak, jangan sampe lecet," canda Rian. Rosa tambah cemberut di dalam taksi.
Rizal terbahak. "Elo itu bener-bener gemesin tau," ucapnya mengacak rambut Rosa.
Merekapun akhirnya pulang.
πΈπΈπΈπΈπΈ
__ADS_1
Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, β₯οΈ, β, vote dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all πππ.