Kekuatan Cinta Sejati Yang Tulus

Kekuatan Cinta Sejati Yang Tulus
Bab 41 Kecupan Pertama


__ADS_3

Sepulangnya Vivi dan Rian dari rumah sakit. "Titip Rosa yach Zal, Mama ke administrasi dulu, terus mau pulang, buat rainbow cake untuk Rosa dia kemaren pesen pengen makan rainbow cake, bentar lagi Papa nyampe dari belanja," kata Linda. "Iya Ma," tutur Rizal.


Linda pun meninggalkan Rosa dan Rizal berdua diruangan. Rizal menatap Rosa iba. Dia benar-benar tak tega melihat Rosa seperti itu.


"Maafin Mas Ra, Mas udah buat Ara gini,"bisik Rizal mencium kening Rosa, kedua mata Rosa yang sedang terpejam, kedua pipinya dan mengecupΒ  bibir mungil Rosa.


Rosa terjaga ketika bibirnya dikecup lembut Rizal. Dia kembali memejamkan matanya menikmati perlakuan Rizal ketika tau Rizal yang mengecup bibirnya.


Dia membuka matanya ketika Rizal selesai mengecup bibirnya. Rizal tersenyum menatap sayang rosa. "Pura-pura tidur yach, suka Mas kecup?" katanya mengacak gemas rambut Rosa sambil tersenyum nakal.


Rosa hanya diam saja. "Mas Angga masih disini? Mana Mama?" tanyanya lemah.


"Mama ngurus administrasi, Papa lagi nebus obat, A' Wahyu ngambil barang," ujar Rizal. "Ara mau apa? Mas ambilin," tawarnya.


Rosa menggeleng lemah. "Ara pengen Mas Angga disini, jangan tinggalin Ara Mas," lirihnya pelan menggenggam tangan Rizal.


"Ara kok ngomong gitu? Mas gak akan ninggalin Ara, Mas sayang banget dengan Ara, gak akan mungkin ninggalin Ara," ujar Rizal membalas genggaman tangan Rosa dan mencium tangan Rosa lama.


"Ara janji jangan gini lagi yach,"ujar Rizal. "Kalo ada apa-apa cerita dengan Mas, bukankah kita pernah berjanji gak ada ketertutupan antara kita? Semua akan kita selesaikan bersama-sama,"sambungnya menatap Rosa.


"Maafin Ara Mas, pada saat itu Ara bener-bener kecewa dan gak bisa berfikir jernih," lirih Rosa lemah. "Ara segalanya bagi Mas, bukankah Ara tau itu? Jangan pernah berfikir Mas akan ninggalin Ara, Iam your's and you are mine, remember that," ujar Rizal menatap dalam manik mata gadis tersebut dan mencium tangan Rosa yang berada digenggamannya lama.


Rosa menemukan kesungguhan di mata Rizal. "Bukankah kita pernah berjanji," belum selesai Rizal ngomong. "Apapun yang terjadi,"belum selesai Rizal bicara. "Kita akan slalu bersama," ucap Rizal dan Rosa bersamaan bertatap mata.


"Ingetin Ara soal itu Mas," lirih Rosa. Rizal tersenyum menatap sayang Rosa."Mas gak akan pernah bosan dan lelah mengingatkan semua itu Ra,"ujarnya membelai rambut Rosa. "Makasih Mas," ujar Rosa menatap lemah Rizal.


"Mulai dech kebiasaan, slalu makasih terus, jangan ada ketertutupan antara kita, sakit Ara sakit Mas, begitupun sebaliknya karna sekarang kita adalah satu, darah Mas mengalir dalam tubuh Ara, itu sudah jadi sebuah bukti Mas gak akan pernah ninggalin Ara, inget janji bulan bintang kita?" ujar Rizal. Rosa mengangguk.


"Sampe kapan pun Mas akan tetap jadi bulan untuk Ara, setia menunggu kemanapun Ara pergi, Mas akan slalu jadi tempat kembali," ujar Rizal menggenggam tangan Rosa. Rosa menemukan kesungguhan di mata elang lelaki itu.


"Sekarang, gak usah banyak fikiran, fokus untuk kesehatan," ujar Rizal membelai sayang rambut Rosa. Rosa memejamkan matanya menikmati belaian Rizal.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


Selang agak lama, suster memberi makan sore untuk Rosa. "Makasih Sus,"ucap Rizal. Suster hanya mengangguk.


"Mau makan sekarang Ay?" tawarnya menatap Rosa. Rosa mengangguk. Rizal pun menyuapi Rosa makan.


"Ara mau minum Mas," lirih Rosa pelan berusaha duduk. "Gak usah duduk, Mas ambilin airnya pake pipet yach," ujar Rizal mengambil air minum yang hangat menggunakan pipet karna dia tau biasanya kalo seperti itu Rosa gak bisa minum air dingin.


"Kepanasan gak airnya?" sambungnya menatap Rosa. Rosa menggeleng. "Kok Mas Angga tau kalo Ara habis makan mau minum air hangat dan gak mau air dingin?" ujar Rosa menatap Rizal.


"Ya tau lah Ay, waktu Ara sakit di perkemahan dulu kan begitu, kan Mas yang nemenin Ara," ujar Rizal. "Mas Angga masih inget?" tanya Rosa.


"Gak mungkin lupa lah Ay, Mas merasa jadi cowok yang beruntung karna bisa deket dengan cewek yang slama ini Mas cinta," ujar Rizal. "Maksudnya?" tanya Rosa.


"Dari pertama kita ketemu ketika kita tabrakan itu, inget gak?" tanya Rizal. Rosa mengangguk. "Di persimpangan jalan itu kan?" ujarnya.


"Mas sudah bener-bener jatuh cinta dengan Ara dan Mas semakin jatuh cinta ketika melihat Ara bercanda tawa dengan Rian ketika di MOS," kenang Rizal.Β  "Mas perhati'in Ara? Kok Ara gak nyadar?" tanya Rosa.


"Ara baris belakang, Ara takut pingsan kalo didepan, jadi gak terlalu fokus kedepan, itu pun kemaren hampir pingsan," ujarnya. "Mimi dan Rian tau kalo Mas suka Ara, makanya dia lebih sering ninggalin kita berdua," ujar Rizal.


"Kok gitu?" tanya Rosa. "Karna Mimi takut kalo Mas tinggal berdua dengan dia, Indra macem-macem dengan Ara dan dia gak bisa melawan Indra dan jika Rian yang nunggu Ara pasti Indra nyuruh Rian ke lapangan dan Ara ditinggal sendiri," jelas Rizal tanpa terasa bubur yang di tangan Rizal pun sudah habis.


πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž


Sejam kemudian, Arya datang. "Wah udah makan Nak?? Baru datang makannya? Mana Mama?" tanya Arya menaruh belanjaannya. "Iya Pa, Mama lagi ngurus administrasi, banyak banget Pa? Belanja apa?" tanya Rizal mencium punggung tangan lelaki itu.


"Ini, roti tawar, selai kacang sama coklat terus susu, untuk rosa, biasanya kalo dia udah ngedrob gini, bawa'annya mau makan melulu, kan isi perutnya udah habis keluar tadi," jelas Arya sambil menyusun belanjaannya.


"Sudah agak mendingan nak?" tanyanya mencium kening anak gadisnya."Masih pusing Pa," ujar Rosa lemah. "Mual?"tanya Arya.


Rosa menggeleng lemah. "Papa tadi cari keju, gak ada, besok kita cari lagi yach, siapa tau ketemu, makan rotinya pake selai dulu yach, burgernya nanti, Papa tadi sudah ngomong sama A' Wahyu dan Dirga kalo ntar bawa daging, mayones, tomat, selada, yang ada di kulkas kalo sambel gak usah dulu ya nak karna Rosa belum boleh makan sambel," ujar Arya membelai rambut Rosa. Rosa hanya diam saja menahan pusing.

__ADS_1


"Ntar Rizal aja beli kejunya Pa, pas pulang nanti," tawar Rizal menyuapi Rosa. "Iya, Rosa ini kalo sakit kaya' gini, mau makan terus, tapi makannya agak cerewet, gak mau sembarangan, kadang mau makan kue masakan Mama aja, jadinya terpaksa Mama pulang buat camilan dia, iya nak?pesen kue apa sama Mama?" tanya Arya.


"Rainbow cake," jawab Rosa. "Tuch kan zal, pesen rainbow cake harus buatan Mama mana mau dia buatan bakery, dia hapal rasa buatan mamanya, berarti habis ngurus administrasi pasti Mama langsung pulang buat raimbow cake," ujar Arya mengacak rambut Rosa.


"Iya, Mama tadi juga bilang gitu,katanya mau langsung pulang buat rainbow cake," ucap Rizal. "Ya papa, lidah Rosa kan pahit, semua makanan gak enak, tapi perut Rosa laper, maunya makan yang manis-manis, suka buka kartu ach, malu-maluin," rajuk Rosa cemberut.


Rizal tertawa mengacak gemas rambut Rosa. "Iya, biasanya setelah itu minta apa lagi?Bolu lapis, brownies atau bolu gulung? Satu minggu dia di rumah sakit, satu minggu Mama berkutat di dapur buat bolu pesenan dia, yang anehnya lagi dia itu pasti slalu tau kalo itu buatan Mama atau beli di bakery," ujar Arya.


"Berarti masakan Mama udah mendarah daging Pa di lidah Rosa," canda Rizal mengambilkan Rosa minum. "Hati-hati Ay,"sambungnya sambil memberi minum Rosa.


"Mas pulang dulu yach, udah sore mau bersih-bersih, ntar kesini lagi," ucapnya mencium kening Rosa.


Setelah pamit sm Arya dia pun pulang. "Rizal cowok yang baik, kaya'nya sayang banget sama Rosa, pantes anak papa ini sampe begini kalo kehilangan dia," ujar Arya membelai rambut Rosa.


Rosa hanya diam saja memejamkan matanya menahan pusing dan pada akhirnya tertidur.


🌺🌺🌺🌺🌺


Menjelang tengah malam, Rizal terjaga ketika Rosa memanggil namanya. "Mas di sini Ay," bisik Rizal menggenggam tangan Rosa. Rosa terjaga. "Mas Angga kok masih di sini? Mama mana?" ujar Rosa.


"Mama tidur, kecapekan, Ara butuh apa? Biar Mas ambilin," tawar Rizal. Rosa menggeleng kemudian memejamkan matanya menahan rasa sakit di kepalanya.


"Tidurlah lagi, ini masih malam, Mas di sini nunggu Ara," ujar Rizal. Rosa masih terdiam memejamkan matanya, mulai terdengar isak tangisnya.


"Apa yang dirasakan? Kenapa Ara nangis?" ujar Rizal menghapus air mata Rosa. "Kepala Ara pusing Mas, Ara mau pulang, Ara gak mau di sini, badan Ara sakit semua, banyak banget jarumnya," rengek Rosa sesegukan. Air matanya deras mengalir di sudut mata indahnya yang sedang terpejam.


"Sweety yang sabar yach, maafin mas udah buat Ara jadi gini, Mas pijitin kepalanya, sekarang Ara tidur yach," ujar Rizal memijat kepala Rosa.


Rosa terdiam menikmati pijatan Rizal, tanpa sadar akhirnya diapun tertidur sambil memeluk tangan Rizal seperti yang sering dilakukan ketika sakit.


🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, β™₯️, ⭐, vote dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all 😘😘😘.


__ADS_2