
Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like,β₯οΈ,vote, hadiah dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all πππ.
π»π»π»π»π»
Hari berganti hari, waktu pun berlalu, tak terasa kedatangan rombongan dari SMA Negeri 1 Bandung. Rizal yang jadi ketua OSIS jadi super sibuk.
Dia mengatur jalannya acara selama satu minggu bersama wakilnya Renata salah satu temannya yang mengidolakannya. Renata sangat bahagia, apalagi perlakuan Rizal dengannya kian manis tak dingin seperti beruang kutub lagi.
"Ma, Rizal berangkat," pamit Rizal dengan Shella. "Pulang sore lagi?" ujar Shella.
"Iya Ma, hari ini acaranya, bis dari Bandung datangnya nanti sekitar jam delapanan," jawab Rizal.
"Ciyeee, yang mau ketemu pujaan hati," goda Iin. Rizal mendelik. "Ntar kualat baru tau, godain Kakak terus," ujarnya mengacak bebas rambut Iin.
"Kaaak, berantakan lagi kan rambut Iin, nyebelin ich," rajuk Iin cemberut merapikan rambutnya yang membuat Rizal terbahak.
"Tan, kami pergi," pamit Iin mencium punggung tangan Shella. "Bawa mobil jangan ngebut, mentang-mentang mau ketemu pujaan hati," goda Shella.
"Mama ich, kok ikut godain," rajuk Rizal menyalakan mobilnya. "Gak malu, udah gede juga ambekkan," ledek Iin masuk ke mobil.
Rizal hanya menjulurkan lidahnya kemudian mereka pergi ke sekolah.
πππππ
Sekitar jam delapan pagi, rombongan dari SMA Negeri 1 Bandung sampai di SMA Negeri 1 Surabaya. Vivi dan yang lainnya yang menjadi penyambutan tamu mencari sosok sahabat yang mereka rindukan.
"Hei Sa, pa kabar?" sapa Untari menepuk bahu Rosa. Rosa menoleh, dia melonjak kegirangan ketika melihat sahabatnya semua ada di meja penerimaan tamu.
"Elo gemukkan Sa, pasti nich pipi jadi bulan-bulanan Kak Rizal," goda Retno menowel-nowel pipi Rosa yang agak gemukkan. "Nyebelin ich," rajuk Rosa mengembungkan pipinya.
"Apalagi kalo gitu, pasti Kak Rizal tambah gemes " goda Vivi memukul pelan pipi Rosa. "Emang gue bener-bener gemukkan?" Rosa memutar tubuhnya.
"Gak juga, tapi gemuk dikit," ujar Untari. "Ya sama aja Tar, gemuk namanya," ujar Rosa.
Sofi dan yang lainnya bepandangan. "Rosa kok jadi gitu?" ujar Siti. Sofi angkat bahu.
"Kenapa? Heran liat kelakuan Rosa yang kekanak-kanakan? Asli Rosa emang gitu kok, ya Ndre," ujar Fatur merangkul bahu Andre. Andre hanya tersenyum.
"Emang iya? Perasaan Rosa selama ini sosok yang dewasa dan tegas? Apalagi kalo sedang mimpin rapat atau jadi ketua panitia," ujar Sofi.
"Belum tau dia Ndre, ntar elo liat sendiri kelakuan sahabat elo yang satu itu, pasti aslinya keluar semua masalahnya balik kandang," ujar Fatur. Merekapun ikut ke aula untuk mengikuti acara pembukaan.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Ketika acara pembukaan, Rizal maju ke podium untuk menyampaikan kata sambutan dari tuan rumah karna dia sebagai ketua OSIS dan ketua panitia acara.
"Mas Angga," gumam Rosa dalam hati menatap Rizal yang berada di podium dengan kerinduan dan Andre menyadari itu. "Apakah Kak Rizal yang berada di podium itu pacarnya Rosa?" gumamnya.
__ADS_1
"Ciyeee, ciyeee, ciyeee, yang kangen dengan pujaan hati," goda Sofi menyenggol bahu Rosa yang membuat Rosa tersentak. "Tau dari mana kalian?" tanyanya.
"Mau tau aja," goda Siti tersenyum nakal. "Elo gak asyik ach, punya pacar sekeren Kak Rizal gak cerita-cerita ke kita," ujar Sofi.
"Iya elo Sa, masa' cuma gue dan Sofi aja gak tau, apa karna kita berdua jomblo?" ujar Siti. "Gak penting," lirih Rosa.
"Yach pentinglah Sa, kita kan sahabat elo, gue juga gak akan tau kalo kemaren gak ada masalah dengan Fatur," gerutu Nurul. "Iya, penting lah Sa, kita kan sahabatan," ujar Sofi.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Usai acara pembukaan, Fikri ketua OSIS SMA Negeri 1 Surabaya mendekati Rosa. "Sa, elo data yang mau ikut lomba, ntar anter ke ruang panitia yach," ujar Fikri. "Iya Kak," jawab Rosa kemudian mendata peserta lomba.
"Sudah di data belum peserta lombanya?" ujar Rizal mendekati Fikri. "Iya, itu lagi di data sama Rosa di sana," ujar Fikri menujuk ke arah Rosa.
"Rosa?" lirih Rizal menatap Rosa dari kejauhan. Dia tersenyum menatap kerinduan pada gadisnya. "Kenapa Zal? Liatin Rosa kok gitu?" selidik Fikri
"Gak, gue ke sana dulu yach," pamit Rizal mendekati Rosa yang sedang asyik mendata peserta lomba. Fikri hanya mengangguk.
"Dooor," teriak Rizal memegang bahu Rosa dari belakang. Rosa menjerit dan terlonjak kaget. Semua melihat ke arah Rizal dan Rosa termasuk Fikri dan Andre.
"Mas Angga, kebiasaan ich suka ngagetin," rajuk Rosa cemberut memukul lengan Rizal dengan pelan. "Kaya'nya pipinya tambah cubby, buat Mas tambah gemes," goda Rizal mencubit gemas pipi Rosa.
"Maaaas," rajuk Rosa menatap manja Rizal yang membuat Rizal terbahak. "Pa kabar gadis manis Mas ini heeeem," ujarnya merangkul bahu Rosa dan mencium pelipis gadis itu.
"Berarti Kak Rizal ini yang kata Rosa pacarnya," gumam Andre menatap nanar Rosa yang sedang bercengkrama dengan Rizal. "Kenapa Ndre?" ujar Sofi ikut mengikuti ekor mata Andre.
"Oh itu, Kak Rizal pacarnya Rosa, mereka udah pacaran dari Rosa kelas satu SMP, selama ini merasa menjalani hubungan LDR," sambungnya.
"Iya, mereka bisa awet sampe sekarang juga karna Rosa, elo tau ndiri kan mereka hampir putus karna keegoisan Nurul?" ujar Sofi.
"Mas ke ruang panitia yach," pamit Rizal mencium kening Rosa. Rosa mengangguk. "Ntar Ara juga ke sana buat anter data peserta lomba," ujarnya mencium punggung tangan Rizal.
Rizal terbengong melihat perubahan pada diri Rosa. "Rosa kok semakin jadi santun, buat gue tambah cinta," gumamnya menatap tangannya yang habis dicium oleh Rosa.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Ketika Rosa sedang berjalan ke ruang panitia, tiba-tiba matanya ditutup. Rosa memberontak. "Siapa sich ini! Lepasin gue!" teriaknya. Rian terbahak mengambil dompet di saku Rosa.
"Riaaaan!! Kembali dompet gue!" teriak Rosa mengejar Rian yang sedang terbahak sambil mengacungkan dompet Rosa.
"Hei Sa, foto Kak Rizal di dompet elo ganteng banget, gue ambil yach," canda Rian mengambil foto Rizal di dompet Rosa. "Rian, elo ngambil foto Kak Rizal," rajuk Rosa menghentakkan kakinya dan meniup kelingkingnya kemudian berbalik ke ruang panitia
"Nah loh Yan, ngambek beneran," ujar Vivi. " iya, kejar sana, ntar elo juga yang susahΒ baru juga ketemu udah keluar aslinya," ujar Retno. Rian pun menyusul Rosa.
Sofi dan yang lainnya terbengong melihat kelakuan Rosa. "Kenapa Rosa berubah begitu?" ujar Sofi. Nurul mengedikkan bahunya.
"Iya yach, kemana dewasa dia slama ini? Kok kekanak-kanakkan banget?" ujar Siti. "Baru tau yach? Yach gitu asli Rosa," ujar Fatur mendekati Sofi, Nurul dan Siti.
__ADS_1
π₯π₯π₯π₯π₯
Diruang panitia, Rosa celingukan mencari Fikri ketika melihat tak ada orang, tiba-tiba dia dipeluk dari belakang yang membuat Rosa panik dan memberontak. "Lepaaaas!!!" teriaknya membuat Andre yang kebetulan ada di sana karna mau memberikan peserta lomba cowok berlari ke ruang panitia karna mendengar suara Rosa.
Langkahnya terhenti ketika melihat Rosa yang sedang berpelukkan dengan Rizal. "Rosa, ternyata emang bener-bener hatinya tak tersentuh lagi, hatinya udah milik Kak Rizal," gumamnya menatap Rizal dan Rosa yang sedang berpelukkan
Rosa terdiam mematung ketika dia mencium aroma maskulin yang sangat dia hafal di memorinya kemudian berbalik. "Maaaaas!!! Suka banget ngagetin, Ara gak suka," rajuk Rosa memukul dada Rizal dengan kedua tangannya.
Rizal hanya terkekeh memeluk erat gadisnya. "Mas kangen banget dengan Ara," bisiknya membelai rambut Rosa dan menciumnya lama. "Iya tapi jangan gitu juga caranya, Mas kan tau kalo Ara trauma dengan keadaan ini? Ara kira ada yang mau jahat dengan Ara," ujar Rosa membalas pelukkan Rizal.
Rizal tertawa mengacak gemas rambut Rosa. "Ara nyari Kak Fikri Mas, mau nyerahin peserta lomba yang ceweknya, mana Kak Fikri, katanya disuruh ke sini," ujar Rosa.
"Tadi pamit mau keliling sebentar, mungkin ke taman bunga," ujar Rizal. "Taman bunga? Emang di sini ada taman bunga?" ujar Rosa.
Rizal mengangguk. "Tuch ada di belakang ruangan ini," ujar Rizal menunjuk jendela. Rosa mendekati arah yang ditunjuk Rizal. Rosa terbelalak, matanya membulat dengan sempurna. "Mas, ini bagus banget," ujarnya menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya.
"Kak, gue mau nyerahin peserta lomba," ujar Rosa menyerahkan peserta lomba ketika melihat Fikri yang datang bersama Andre. Fikri menerimanya. "Elo ikut cerdas cermat, udah dimasukkin?" ujarnya meneliti nama yang diberikan Rosa.
Rosa mengangguk. "Gue, Sofi dan Siti kan?" ujarnya. "Iya, udah bener ini," jawab Fikri.
"Dari mana? Dari tadi dicari'in Rosa dari tadi," tanya Rizal mendekati Fikri. "Gue dari keliling, liat Andre yang mau nyerahin peserta lomba juga yach jadi Andrenya sekalian ikut ke sini karna mau ngerekap peserta cowok dan ceweknya," ujar Fikri.
"Nich dompet, ntar gue dicuekkin lagi gara-gara ngambek," ledek Rian menyerahkan dompet pada Rosa. "Usil," gerutu Rosa mengambil dompetnya.
"Kenapa dompet ada di Rian?" ujar Rizal. "Biasalah Kak, udah lama gak liat Rosa rame kangen," ujar Rian tersenyum jahil.
Rizal hanya menggelengkan kepalanya. "Gak berubah, seragam kalian itu udah putih abu-abu bukan putih merah lagi," gerutunya. Rian cengengesan keluar ruangan.
"Itu tadi Rian?" ujar Andre. Rosa mengangguk. Yang kata gue bilang kembaran Fatur," ujarnya memeriksa dompetnya.
"Gue balik kerombongan kak yach," pamit Andre. Fikri hanya mengangguk. Andre pun berlalu pergi
"Rian!!! Fotonya beneran diambil kan!" teriaknya mengejar Rian. "Iya, iya, gue kembali'in nich, ntar ngamuk lagi," ledek Rian memberika foto Rizal pada Rosa.
"Dasar usil," gerutu Rosa menaruh foto Rizal di dompetnya lagi. "Foto apa sich?" ujar Rizal penasaran merampas foto di tangan Rosa.
"Loh ini kan foto Mas Ay?" ujarnya bingung mengembalikan fotonya pada Rosa. "Emang, lah gue ngambilnya dari dompet Rosa.
Rizal tersenyum menatap Rosa sayang. "Mas kira foto pacar Ara di Bandung," ujarnya. "Mas, kok ngomong gitu? Ara kan sa...," belum selesai Rosa bicara.
"Ssst, simpan kata-kata itu, Mas tau kok Ara sayang mas, gak bilang juga tau," ujar Rizal menaruh telunjukknya di bibir mungil Rosa.
"Loh jadi kalian berdua?" belum selesai Fikri bicara. "Iya Fik, ini hidup dan matinya gue," potong Rizal merangkul bahu Rosa.
"Maaaaas, suka gitu dech," ujar Rosa menunduk malu, wajahnya bersemu. "Tuch kan, apalagi kalo sedang begini, gemesin tau," ujar Rizal mengacak gemas rambut Rosa.
"Ara siap-siap dulu Mas, karna mau nyiapin lomba cerdas cermat," pamit Rosa. Rizal hanya mengangguk. "Jaga hati Mas yach," ujarnya menunjuk dada Rizal.
__ADS_1
Rosa hanya mengangguk kemudian pergi meninggalkan Rizal dan Fikri.
Bersambung