Kekuatan Cinta Sejati Yang Tulus

Kekuatan Cinta Sejati Yang Tulus
Bab 54 Rasa Bersalah


__ADS_3

Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like,β™₯️,vote, hadiah dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all 😘😘😘.


🌻🌻🌻🌻🌻


Ketika sedang istirahat, "Kak Rosa, dicari'in dari tadi, kok Dirga gak liat," ujar Dirga memeluk kakak semata wayangnya. "Loh De', udah istirahat?" tanya Rosa mengacak rambut Dirga.


"Ini Fi, ade' lelaki gue satu-satunya," ujar Rosa merangkul bahu Dirga. Dirga menyalami Sofi dan lainnya satu-satu.


"Adek elo cuma satu Sa? Perasaan gue dua dech," ujar Sofi. "Ya dua, satunya perempuan, jadi bener kan ini adek lelaki gue satu-satunya?" ujar Rosa.


"Kakak pulang ke rumah gak? Masalahnya rumah sepi," ujar Dirga. "Gak tau, liat aja nanti. Loh emang kenapa?" tanya Rosa.


"Ya siapa tau mau pulang, masalahnya Papa keluar kota cuma ada Mama, besok atau lusa baru pulang, semalem aja Kak Rizal nginep di rumah, nemenin kami," jelas Dirga. "Gak tau juga Kakak De', liat nanti yach, Loh Kak Rizal nginep dirumah? Gak bilang sama Kakak," ujar Rosa.


"Wah kaya'nya udah deket banget Kak Rizal dengan keluarga elo, sampe sering nginep," ujar Andre. "Maafin gue Ndre, gue gak bermaksud..." belum selesai Rosa bicara.


"Sudahlah Sa, gak usah dibahas lagi, gue udah tau kok semuanya, yang penting kita masih bisa sahabatan kan?" potong Andre merangkul bahu Rosa. "Iyalah Ndre, you are my best friend forever," ujar Rosa membalas rangkulan Andre.


"Kak, Dirga ke kelas yach, soalnya bel masuk," pamit Dirga. Rosa hanya mengangguk menatap Dirga.


Andre yang tau tatapan kosong mata Rosa langsung merangkul bahu Rosa."Itu aja gue rasa cukup, elo gak usah mikir yang macem-macem lagi," ujarnya. "Tapi Ndre..." belum selesai Rosa bicara.


"Berisik lo ach, yuk kita ngikutin lomba lagi, jalani kegiatan di sini, jangan terlalu merasa bersalah, ntar elo drob," potong Andre mengajak Rosa ke lapangan Rosa terdiam mengiringi Andre.


πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž


Ketika makan siang, " Udah makan Ay? Udah dapet nasi belum?" ujar Rizal mendekati gadisnya. Rosa hanya menggeleng lemah.


"Kenapa? Ara sakit?" ujar Rizal memegang kening Rosa. Terlihat kecemasan di mata Rizal. "Wah Kak Rizal so sweet banget, perhatian banget dengan Rosa," ujar Sofi.


"Ara gak sakit, Ara cuma gak nafsu makan Mas," lirih Rosa menepiskan pelan tangan Rizal yang berada di keningnya.


"Mana boleh gitu, ntar sakit, pingsan, penyakit kambuh, masih banyak kegiatan hari ini," tegas Rizal. "Iya Sa, Kak Rizal bener, inget kata A' Wahyu," ujar Fatur.


"Kalian ikut aja yuk, makan bareng kami di kantin," tawar Rizal. "Gak usah Kak, kami maklum kok kalian baru ketemu, kalo elo mau makan dengan Kak Rizal dengan yang lainnya juga gak papa kok," ujar Andre.


"Maafin gue Ndre, gue gak maksud..." belum selesai Rosa bicara. "Sudahlah Sa, semua udah pada tau kok, gue malah sedih kalo kehilangan sahabat seperti elo," potong Andre.


Rosa berbalik mengiringi langkah Rizal, sesekali dia menoleh kebelakang menatap nanar Andre, dia benar-benar merasa bersalah karna tak bisa jujur dengan Andre sahabatnya sendiri.


Rizal tau apa yang dirasakan oleh Rosa merangkul posesif bahu gadis itu untuk menunjukkan pada orang bahwa Rosa miliknya.


🌺🌺🌺🌺🌺


Di kantin, Rizal membuka nasi bungkus yang telah dibagikan oleh panitia. "Wah Ay, kebetulan nasi ayam bakar, kesukaan Sweety ini," ujarnya. "Tapi Ara sedang gak nafsu makan," lirih Rosa.


"Harus makan, bentar lagi acara dimulai lagi loh," ujar Rizal. "Mas pesen es cappucinno dulu," ujar Rizal berdiri memesan es cappucinno kesukaan Rosa.


'Andre, maafin gue karna gak bisa jujut dengan elo, pasti elo bener-bener kecewa dengan gue, apa elo masih mau jadi sahabat gue ketika elo tau kebenarannya kalo gue dan Kak Rizal pacaran, tapi disisi lain gue gak mau kehilangan Mas Angga, gue bener-bener sayang dengan Mas Angga,' gumam Rosa sambil mengaduk-aduk nasi yang sudah di buka Rizal.


"Mas suapin, sini, udah lama gak nyuapin Ara," tawar Rizal ketika melihat Rosa masih saja mengaduk-aduk nasinya mengambil sendok di tangan Rosa. Rosa tersentak kaget membiarkan Rizal mengambil alih sendoknya.


Rizal menyuapi Rosa sambil bercanda tawa. "Emang A' Wahyu bilang apa aja sama Ara," ujar Rizal sambil menyuapi Rosa. Rosa menggelengkan kepalanya. "Ara lupa, habisnya banyak banget pesannya, yang Ara inget, disuruh jangan telat makan, terus jangan terlalu capek, A' Wahyu juga, kenapa juga banyak pesenan, udah tau Ara orangnya pelupa," cerocos Rosa tanpa titik koma.


Semua akhirnya tertawa. "Elo Sa, lucu, kangen gue liat elo ngomong gitu," ujar Rian memukul pelan bahu Rosa.


Rosa terbatuk. "Hati-hati," ujar Rizal mengangsur minum pada Rosa. "Riaaaan!! Elo itu yach nyebelin banget," rajuk Rosa cemberut yang membuat Rizal terbahak memgacak gemas rambut Rosa.


"Mulai dech manjanya," ledek Rian. "Bodo'," ujar Rosa menjulurkan lidahnya.


Sesaat dia melupakan rasa bersalahnya dengan sahabatnya Andre. Tanpa dia sadari Andre menatap nanar Rosa dari kejauhan. 'Ternyata gue belum bener-bener deket di hati Rosa, walau dia sering bersikap kekanak-kanakan tapi gue gak pernah liat dia tertawa lepas begitu,' gumamnya dalam hati.


"Kenapa Ndre?" ujar Fatur melihat ikut melihat ekor mata Andre. "Kenapa elo heran liat Rosa bersikap kekanak-kanakan gitu? Bukannya dia biasa gitu dengan elo?" sambungnya.

__ADS_1


"Bukan, gue cuma merasa sepertinya Rosa tak senyaman dia berada diantara Rian dan yang lainnya, apa pernah elo liat dia tertawa lepas seperti itu disaat kita bersama? Paling cuma senyum aja," ujar Andre.


"Iya Ndre, elo bener, kok Rosa jadi kekanak-kanakkan gitu," ujar Nurul. "Mungkin itu sisi Rosa yang slama ini gak kita lalui," ujar Siti.


Fatur tertawa. "Kenapa elo tertawa?" ujar Sofi. "Iya, ada yang lucu?" ujar Siti bingung.


"Yang lucu itu kalian, berarti kalian bener-bener gak tau Rosa, Rosa sering kok tertawa lepas gitu, apalagi kalo penyakit jahilnya kambuh, elo gak inget apa Ndre, dia tertawa lepas ketika dia nimpuk jendela kamar gue terus malah kena kepala gue karna gue buka jendela?" ujar Fatur.


"Iya, gue baru inget, dia juga sering tertawa gitu kalo jahilnya sedang kumat," ujar Andre. "Kenapa dengan kami dia gak pernah bersikap gitu?" ujar Sofi.


Fatur mengedikkan bahunya. "Berarti kalian belum tau dengan Rosa, tanya tuch Andre kalo Rosa lagi ngambek gimana, bibirnya aja bisa dikuncir," ujarnya. "Heeee, iya, apalagi kalo dia diledekkin," ujar Andre. Akhirnya merekapun makan siang sambil bercanda tawa.


🌸🌸🌸🌸🌸


Tanpa terasa sudah tiga hari Rosa dan teman-temannya study banding di Surabaya. Selesai diberi pengarahan di aula, semua peserta lomba mengambil tempat sesuai arahan. "Sa," kata Andre tiba-tiba memegang bahu Rosa dan limbung.


Rosa menoleh karna pegangan bahu Andre. "Ndre, kenapa elo?" ujarnya panik. "Kepala gue pusing," lirih Andre.


"Ayo, kita duduk dulu," ajak Rosa membimbing Andre untuk duduk. "Elo tadi sarapan," ujar Rosa.


Andre menggeleng. "Gue tadi bangun kesiangan," lirih Andre. Rita yang melihat semua itu kejadian itu kesal. "Rosa, set jadi orang, udah dapetin ketua OSIS disini masih aja mau ngegebet Andre," gerutunya.


"Kenapa Andre?" ujar Sofi yang melihat Andre dibimbing Rosa. "Gue cari sarapan, wajah elo pucat banget," ujar Rosa berlari mencari sarapan untuk Andre.


"Gue ada roti Ndre, elo makan dulu," tawar Sofi memberikan Andre roti. "Ini susunya, biar elo gak lemas," ujarnya lagi memberi sekotak susu yang slalu ada di tasnya.


"Untuk elo?" Ntar maag elo kambuh Fi," ujar Andre. Sofi menggeleng. "Gue bawa banyak kok, elo tau sendiri kan gue gak bisa gak ada semua ini karna penyakit gue," ujar Sofi membuka isi tasnya agar Andre bisa melihatnya.


"Bisa anter ke UKS aja Fi? Kepala gue pusing banget," ujar Andre. "Iya, elo makan dulu, biar sambil gue pijat kepala elo," ujar Sofi memijat kepala Andre.


Dia sangat khawatir dengan keadaan Andre karna sebenarnya dia mencintai Andre tapi Andre belum menyadari itu.


🌹🌹🌹🌹🌹


Di koridor kelas, ketika Rosa sedang mencari sarapan untuk Andre. "Hei Sa, sebenernya mau elo itu apa sich? Serakah banget jadi orang," ujar Rita mendorong Rosa. Rosa yang tak siap terhuyung ke belakang. "Maksud elo apa?" ujar Rosa bingung.


Rosa terbelalak, dia tak menyangka akan mendapatkan cacian seperti itu dari Rita, dia menggelengkan kepalanya. "Gue gak pernah merasa seperti itu, gue dan Andre hanya bersahabat, gak lebih dari itu," lirihnya menatap Rita.


"Kalo emang benar, kenapa dia menolak gue? Itu karna elo juga kan?" ujar Rita. "Kalo itu elo tanya sendiri dengan Andre, permisi," pamit Rosa meninggalkan Rita, air matanya deras mengalir.


'Apa iya Andre sakit karna gue? Apa bener Andre angun kesiangan karna gak tidur mikirin gue?' gumamnya dalam hati. Iin yang melihat kejadian itu langsung mencari Rizal memberitahu kejadian tadi karna dia sangat faham disaat seperti ini Rosa butuh Rizal.


Ketika Rosa sedang membawa teh panas ke UKS untuk Andre, tiba-tiba dengan sengaja Rita menabraknya dari belakang sehingga Rosa terjatuh dan teh yang dia bawa tumpah mengenai tangannya, tangan Rosa melepuh.


"Aduuh," rintih Rosa mengibaskan tangannya yang terkena teh panas, cangkir pun jatuh berantakan. "Uups gak sengaja," ujar Rita tersenyum sinis.


"Jalan hati-hati biar gak nabrak," sinisnya lagi. Siti yang melihat kejadian itu geram, dia mengepalkan tangannya ingin melabrak Ritacyang telah berlari. Rosa menarik tangan Siti dan menggelengkan kepalanya.


Rizal yang memang sedang mencari Rosa melihat kejadian itu, dia pun mendekati Rosa. "Ara gak papa Ay," ujar Rizal. Rosa menggeleng sambil meniup tangannya yang melepuh. "Tapi teh untuk Andre tumpah," lirih Rosa penuh sesal.


"Andre udah dibawa ke UKS, ada Sofi disanaΒ  Sofi udah buatin teh hangant untuk Andre," ujar Rizal. "Yuk kita ke ruang panitia ngobatin tangan Ara yang melepuh," ajaknya merangkul bahu Rosa. Rosa hanya mengiringi Rizal.


"Rita tadi emang sengaja nabrak Rosa Kak, mau gue labrak, tapi Rosa ngelarang," ujar Siti. "Iya, Kakak liat kok tadi kejadiannya," ujar Rizal.


"Iya Rosa sich terlalu baik, disakiti diem aja, yach Rita tambah ngelunjak," gerutu Siti. "Maksudnya?" ujar Rizal.


Siti akhirnya menceritakan perlakuan Rita yang sering membully Rosa tapi Rita hanya diam. "Oh gitu, bisa bahaya kalo gitu," ujar Rizal.


"Bahaya? Bahaya kenapa?" ujar Siti. "Takut emosi Rosa meledak, Kakak titip Rosa, tolong kabari kalo Rosa ada apa-apa terutama disaat dia gak bisa mengontrol emosinya," ujar Rizal.


"Maksudnya?" ujar Siti. "Kakak gak bisa cerita, yang terpenting sekarang tolong jaga Rosa, jangan biarkan dia deket dengan Rita," ujar Rizal.


"Kami ke ruang UKS yach," pamitnya. Rizal dan Rosa pun ke ruang UKS untuk mengobati luka Rosa.

__ADS_1


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Di ruang UKS, "Cari siapa?" tanya Rizal ketika melihat ekor mata Rosa tak diam seperti mencari sesuatu. Andre Mas, mana Andre? Katanya di UKS," ujar Rosa.


"Ada, sedang istirahat, di ruangan itu," jawab Rizal menunjuk satu ruangan. "Ara mau liat Andre Mas," ujar Rosa.


"Nanti, kita obati dulu tangan Ara yang melepuh, baru kita liat Andre, Andre juga sedang istirahat, jangan diganggu," ujar Rizal.


"Hati-hati Mas, sakit," ringis Rosa. "Ini sudah pelan Ay," ujar Rizal menatap Rosa. Dia melihat air mata Rosa tlah menganak di kelopak matanya.


"Sudah selesai," ujarnya kemudian memeluk Rosa. Dia sangat tau gadisnya itu butuh pelukkan disaat galau seperti ini. Pecahlah tangisnya. "Ara," ujarnya membelai rambut Rosa. "Semua salah AraΒ  Mas, bener kata Rita, andai Ara jujur dari pertama, Andre gak akan sakit gini," isaknya sesegukkan.


"Gak ada yang salah, semua mengalir apa adanya, denger Mas, Andre bisa ngerti kok kenapa Ara lakukan semua," ujar Rizal membingkai wajah Rosa dan menghapus air matanya.


"Denger Mas, Rita itu cuma iri dengan Ara karna Ara sampe sekarang masih bisa deket dengan Andre, sedangkan Rita? Andre bener-bener gak mau deket lagi," ujarnya menatap manik mata Rosa.


"Tapi Mas..." belum sempat Rosa. "Percayalah, kita bisa mengatasi bersama seperti masalah kita sebelumnya," potongnya.


"Masih inget janji kita?" ucapnya. "Apapun yang terjadi, kita akan tetap bersama," ucap Rizal dan Rosa bersamaan dan saling menatap.


"Kita liat Andre di dalem, mungkin udah bangun dari tidur," ajar Rizal menarik lembut tangan Rosa. Rosa mengiringi langkah Rizal.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Ketika dalam ruangan UKS, Rosa melihat Andre yang sudah disuapi Sofi. "Udah agak mendingan Ndre?" ujar Rosa. "Iya Sa, Alhamdulillah, Fatur tadi beli'in bubur ayam untuk gue, jadi gue udah sarapan, tadi juga Sofi udah tadi gue roti sama teh manis kok," jawab Andre.


"Iya, Sofi gercep loh Sa, keliatan panik banget, gue curiga nich, jangan-jangan..." goda Fatur melirik Sofi. Sofi hanya mendelik. "Suka ngelantur, gue kalo liat diantara kalian kaya' Andre tadi ya panik lah, kalian kan sodara gue," jawab Sofi menutupi salah tingkahnya.


"Yang bener? Tapi mata elo gak bilang gitu, ada, sesuatu gitu," goda Fatur menyenggol bahu Sofi. "Mulai usilnya, suka goda'in orang," ujar Rosa menoyor kepala Fatur.


"Mas keluar dulu yach, kalo kalian mau ngobrol," pamit Rizal mencium kening Rosa. Rosa hanya mengangguk.


"Loh Kak, kok keluar? Gak ganggu kok," ujar Andre. Rizal tersenyum. "Siapa tau ada yang ingin kalian obrolkan," jawabnya berlalu pergi.


"Kak Rizal pengertian banget Sa, tau aja kalo ada yang kalian sembunyikan," ucap Fatur. "Emang kita ada masalah apa Sa?" ujar Andre.


"Gue minta maaf Ndre, pasti elo gini gara-gara gue kan?" lirih Rosa. "Gak lah Sa, gue tadi bangun kesiangan jadinya gak sempet sarapan," ujar Andre.


"Iya, elo kesiangan bangun karna semalem mikirin gue kan?" lirih Rosa. Andre mengangkat bibirnya miring dan menaikkan alisnya satu. "Siapa elo? Kok gue fikirin semaleman," canda Andre.


"Andre, suka gitu ich," rajuk Rosa cemberut. Sofi, Nurul danΒ  Siti berpandangan melihat tingkah Rosa yang kekanak-kanakkan dengan Andre.


Fatur tertawa. "Nah lo Ndre ngambek dianya kalo udah pasang muka gitu," ledek Fatur.


"Emang ada masalah apa diantara kalian? Kayanya Fatur tau banyak nich," selidik Sofi. "Gak ada apa-apa kok," ujar Andre menatap tajam Fatur seolah mengisyaratkan untuk diam.


Fatur hanya mengedikkan bahunya. "Elo mau tau Sa? Gak ada yang salah dalam hal ini, karna apapun yang terjadi, gue, Sofi, Nurul dan Fatur akan tetap jadi sahabat elo," ujar Andre menggenggam tangan Rosa.


"Satu lagi," sambungnya. "Apa," ucap Rosa. "Bersikaplah seperti diri sendiri, karna gue, Sofi, Nurul dan Fatur adalah sahabat elo sama seperti Rian dan lainnya," ucap Andre.


"Iya Sa, jujur liat elo bisa tertawa lepas tanpa beban membuat gue sakit disini," lirih Sofi menatap Rosa menunjuk dadanya. "Kenapa?" ucap Rosa.


"Karna elo bisa jadi diri sendiri dengan Rian dan lainnya tapi dengan gue elo slalu dewasa, jadi elo nganggap gue apa? Jujur gue sering iri dengan Fatur dan Andre," ujar Sofi.


"Ada apa dengan gue," ujar Fatur. "Karna sekeras apapun usaha gue untuk membuat elo tertawa tanpa beban gak pernah bisa melihat elo tertawa lepas seperti elo dengan Fatur, sekeras apapun gue berusaha goda elo, gak akan pernah bisa melihat sisi kekanak-kanakkan elo ketika elo dengan Andre," lirih Sofi menatap Rosa.


"Tuch, elo denger sendiri," ujar Andre. "Iya Sa, sampe-sampe gue cemburu loh dengan elo ketika Fatur bisa nyaman dan tertawa-tawa dengan elo disaat nyanyi bersama, sedangkan dengan gue jadi sosok pendiem, elo inget kan," ujar Nurul.


"Jadi, pada intinya elo gak usah merasa bersalah dalam hal ini," ujar Andre. "Sepertinya gue udah nemuin peganti elo," bisiknya yang membuat mata Rosa membulat sempurna.


"Siapa?"Β  bisik Rosa. "Ntar aja, gue mau masti'in dulu apa dia mempunyai perasaan yang sama gak dengan gue," bisik Andre.


"Apaan sich, orang banyak bisik-bisik, gak boleh tau," kata Sofi. "Rahasia," ucap Andre dan Rosa bersamaan yang membuat yng lainnya pun tertawa bersama.

__ADS_1


Rizal tersenyum melihat Rosa bisa tertawa lagi. "Syukurlah dia kembali ceria," gumamnya.


Bersambung


__ADS_2