
Rizal memarkirkan mobilnya di parkiran cafe langganan es creamnya. "Ara mau duduk dilesehan itu Mas," ujar Rosa menunjuk tempat lesehan dan berlari-lari kecil menuju tempat lesehan tersebut.
Rizalpun menyusul gadisnya setelah memarkirkan mobilnya sambil merangkul bahu Rosa menuju tempat yang di tunjuk Rosa.
Rosa langsung duduk menyelonjorkan kakinya. "Suka banget kaya'nya duduk begini," ujar Rizal mengacak rambut Rosa dan merangkul bahunya. Rosa menjatuhkan kepalanya di pundak Rizal.
"Iya Mas, enak duduk di sini santai, anginnya sepoi-sepoi, lagian juga pemandangannya bagus ngadep ke taman Ara suka," jawabnya memejamkan matanya menikmati angin yang datang sepoi-sepoi.
"Mau pesen es cream apa Ay? Cappucinno, mocca atau coklat?" tawar Rizal ketika pelayan datang memberikan menu pesanan.
"Terserah Mas ajalah," ujar Rosa.
Rizal memesan satu es cream yang cangkir besar. "Kita minumnya berdua aja yach," ujar Rizal.
Rosa menganggukkan kepalanya. "Lagian juga kan klo Ara makan sendiri gak abis juga klo sebanyak ini Mas, lah cangkirnya gede'," cerocosnya tanpa titik koma.
Rizal hanya tertawa mengacak gemas rambut Rosa.
Mereka makan suap-suapan sambil bercanda tawa.
π»π»π»π»π»
Ketika Rosa sedang bercanda tawa. "Ciyeee yang sedang merayakan ultah," ledek Rian mendekati Rosa. "Loh Rian? Ngapain di sini?" ujar Rosa bingung. "Ini kan tempat umum, emang gak boleh?" ledek Rian.
"Elo tuch yach, ditanya malah balik nanya?" gerutu Rosa menoyor kepala Rian. Rian hanya tertawa. "Gue beli soto, Mama tadi pesen soto," ujarnya duduk di samping Rosa. "Perasaan kemaren elo mau makan nasi bakar di deket sekolah Kak Rizal Sa, kok malah di sini?" ujar Rian menyomot gorengan yang ada di depannya.
"Udah, gue udah dari sana, sekarang di sini karna mau makan es cream," jelas Rosa. "Walah keenakan tuch Kak, semua maunya diturutin, awas ntar ngelunjak," ledek Rian.
Rizal hanya tertawa. "Elo tuch yach, ngomong sembarangan," gerutu Rosa menoyor kepala Rian. Rian hanya tergelak.
__ADS_1
"Tuch pesenenan gue udah kelar, duluan yach, ntar kelamaan ganggu orang kasmaran," ledek Rian. Rosa mendelik.
"Gue lupa, bayarin gorengan gue," bisik Rian berlalu meninggalkan Rizal dan Rosa.
πππππ
Ketika Rosa sedang menikmati segarnya udara. "Ay, Mas punya satu lagi hadiah," ujar Rizal. "Apa itu Mas?"tanya Rosa.
Rizal memberikan sebuah kotak yang sudah dibungkus dengan kertas kado. "Ini, kado anniversary kita satu tahun," ujarnya.
"Ara buka yach?" tanyanya. Rizal mengangguk. Rosapun membuka kado yang diberikan Rizal.
Matanya membulat sempurna ketika melihat bola kaca tersebut. "Bagus banget Mas," ujarnya menggoncang-goncang pelan aquarium tersebut. Bermunculanlah serbuk putih memenuhi bola tersebut.
" Ara mau liat? Sini," ujar Rizal mengambil bola kaca di tangan Rosa. Rizal memencet tombol yang ada di aquarium tersebut dan mengguncangnya.
Muncullah serbuk hitam menutupi dua sejoli yang sedang duduk di bangku panjang dan akhirnya turun lagi sehingga dua sejoli yang dudu di bangku panjang tersebut terlihat lagi.
"Mas ingin hubungan kita seperti mereka yang ada dalam bola kaca ini," ujar Rizal menatap Rosa sambil mengguncang-guncang bola kaca tersebut.
Rosa mengerjapkan matanya menatap Rizal tanda dia bingung dan salah tingkah kemudian memggelengkan kepalanya tanda belum mengerti.
"Dua sejoli di dalam bola kaca, walau mereka terhalang badai salju," ujar Rizal mengguncang bola kaca tersebut hingga bermunculan serbuk putih.
"Walau ada angin atau badai," sambungnya memainkan bola kaca tersebut hingga keluarlah serbuk hitam menutupi dua sejoli tersebut. "Mereka tetap bersama," sambungnya masih memainkan mainan bola kaca tersebut dan menatap manik mata gadisnya itu.
Rosa terpaku pada bola kaca tersebut. "Ay, mau kan?" ujar Rizal menggenggam tangan Rosa yang membuat Rosa tersentak.
Rosa menatap balik Rizal. Dia menemukan kesungguhan di mata Rizal dan pada akhirnya dia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Makasih Ay, makasih," bisik Rizal memeluk Rosa. "Bantu Ara untuk itu Mas," bisik Rosa membalas pelukan Rizal.
"Mas janji akan mengingatkan semuanya," ujar Rizal. "Pulang yuk, Ara bentar lagi kursus," ajak Rosa
"Yach udah, yuk kita pulang," jawab Rizal. Merekapun pulang.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Diperjalanan pulang, Rosa sibuk memainkan bola kaca yang di beri oleh Rizal. Dia sibuk menggoncang-goncangkan bola kaca tersebut sehingga serbuk putih bertaburan menutupi dua sejoli yang sedang berangkulan di bola kaca tersebut, setelah dua sejoli tersebut kelihatan, dia melanjutkan memencet tombol lagi dan muncullah serbuk hitam menutupi kedua sejoli yang sedang berangkulan di bola kaca tersebut hingga dua sejoli tersebut kelihatan.
Rosa melakukannya berulang-ulang. Rizal tersenyum melihat gadisnya yang sedang asyik bola kaca tersebut. "Ara suka?" tanya Rizal sambil menyetir. Rosa menganggukkan kepalanya. "Suka Mas, suka banyak," ujarnya. "Makasih Mas, Ara gak tau lagi mau ngomong apa, semua yang Ara mau slalu Mas tau, walau Ara gak ngomong, tapi Ara? Ara belum tentu ngerti Mas," lirih Rosa.
Rizal memarkirkan mobilnya di depan rumah Rosa karna udah nyampe. "Mas gak suka Ara bilangΒ yang tak terduga yang terkadang Mas pun gak kefikiran kalo Ara akan memberikan hal yang Mas sukai, secara tidak langsung Ara sudah berusaha untuk mengerti Mas," ujarnya menatap Rosa.
"Dengar Mas, ketika Mas menentukan pilihan hati klo Ara adalah pilihan hati Mas, semakin Mas deket dengan Ara, Mas semakin mengerti kenapa Rian mati-matian menjaga Ara, karna ketulusan yang Ara berikan dengan setiap orang, selalu dekat dengan orang dari sini, bukan karna ada udang di balik batu," ujarnya menunjuk dada Rosa.
Rosa terpaku menatap mata teduh Rizal yagg sedang menatapnya. Mata gadis itu mengerjap pelan karna salah tingkah. Dia benar-benar menemukan kesungguhan di mata Rizal.
"Dan Mas janji, gak akan ada satu orang pun bisa membuat Ara terluka, sama seperti Rian, Mas paling gak suka liat air mata di wajah Ara Mas ini," goda Rizal mencentil gemas hidung bangir Rosa. Rosa hanya cemberut.
Rizal terbahak melihat kelakuan Rosa. "Ara gemesin tau gak klo sedang gitu, jadi pengen tak cium," godanya mengacak gemas rambut Rosa. Rosa tambah cemberut.
"Mas janji akan berusaha buat Ara bahagia," bisik Rizal memeluk Rosa erat. "Makasih Mas," bisik Rosa.
"Rosa masuk dulu," ujarnya. "Bola kacanya tinggal," teriak Rizal.
"Lupa kata Rosa tersenyum mengambil bola kaca di atas dasbord mobil Rizal. "Mas bantu bawa kuenya," ujarnya mengambil kue ultah dan yang lainnya.
Setelah pamit dengan orang tua Rosa, Rizal pun pulang.
__ADS_1
πΈπΈπΈπΈπΈ
Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, β₯οΈ, β, vote dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all πππ.