
Ketika pulang sekolah. "Nunggu siapa De'?" tanya Rian pada Dirga. "A' Wahyu Kak, katanya mau jemput lagi, tapi kok lom nyampe? Tau gini coba Dirga ikut aja ke rumah sakit tadi," keluh Dirga.
"Kerumah sakit? Siapa sakit?" tanya Rian. " Kak Rosa sakit, tadi janjinya mau ngambil antrian aja, trus ntar siang berobatnya, gak tau kenapa lama banget," ujar Dirga.
"Kak Rosa sakit apa?" tanya Rian. "Typus Kak Rosa kambuh, seminggu yang lalu dia menggigil kedinginan, jadi pas cek darah di rumah sakit, Kak Rosa harus bedrest dan opname, tapi Kak Rosa gak mau, jadinya Papa panggil dokter ke rumah untuk ngontrol kesehatan Kak Rosa, tapi ya itu tadi, klo periksa darah kan harus ke lab, jadinya Kak Rosa bolak balik ke rumah sakit periksa darah apa typusnya masih ada," jelas Dirga.
"Berarti slama ini sering pergi sama A' Wahyu itu ke rumah sakit?" ujar Vivi. "Iya Kak," ujar Dirga.
π»π»π»π»π»
Ketika sedang asyik cerita. "Hei Yan, mana Rosa? Apakah pulang lagi?" tanya Rizal yang baru datang. "Iya Kak, tadi dijemput A' Wahyu," ujar Rian.
Rizal mendesah kecewa terduduk di depan mobilnya. "Kenap Rosa akhir-akhir ini berubah?" ujarnya. "Kak Rosa juga sering melamun sendiri sambil memainkan aquariumnya, terkadang memandang foto Kak Rizal sambil nangis, kata Sinta gitu, klo ditanya tentang Kak Rizal, dia selalu menghindar," ujar Dirga.
"Kenapa Rosa?" ujar Rizal. "Apa Kakak punya pacar selain Rosa?" selidik Rian menatap tajam Rizal.
"Pacar yang mana Yan? Pacar Kakak cuma Rosa," ujar Rizal bingung. "Iya Kak, Rosa juga cerita gitu, dia menganggap Kakak mengakhiri semuanya, makanya dia bersikap begitu, menghindari Kakak karna dia gak bisa menerima semuanya," ujar Vivi.
"Iya Kak? Bener Kakak menduakan Rosa?" murka Rian, matanya melotot karna murka.
"Yan, sabar dulu, pacar yang mana? Kakak aja bingung siapa yang dikira Rosa pacar Kakak," ujar Rizal tambah bingung.
"Rosa melihat Kakak merangkul cewek di bandara ketika menjemput A' Wahyu, terus Rosa juga sering melihat Kakak pergi satu mobil dengan cewek itu, iya Kak?" ujar Vivi. "Iya Kak? Bener? Pantes Kakak jarang jemput Rosa, yang sering satu mobil sama Kakak itu pacar Kakak yang baru yach? Pantes Rosa tadi lihat kaya' sedih banget," ujar Retno.
Rian melotot. "Bener kan? Udah gue bilang, jangan kecewa'in Rosa, kenapa Kakak lakukan itu?" murkanya memegang kerah baru Rizal dan mengepalkan tangannya mau meninju Rizal.
__ADS_1
"Stooop!!" teriak Iin keluar dari mobil ketika melihat Rizal akan di pukul oleh Rian. Semua menatap Iin. "Nah ini, iya ini pacar Kak Rizal yang baru? Ciri-cirinya persis yang dibilang Rosa," ujar Untari menatap Iin dari atas sampai bawah.
"Iya, elo bener Tar, mirip banget ciri-cirinya dengan apa yang di bilang Rosa," ujar Retno. "Sebenernya ada apa ini?" ujar Iin bingung.
"Ini Iin, sepupu Kakak, bukan pacar Kakak, dia sekolah satu sekolah dengan Kakak," jelas Rizal merangkul bahu Iin. "Iya, gue sepupu Kak Rizal, bukan pacar, gue tinggal di rumah Kak Rizal dan satu sekolah dengan Kak Rizal, sebenernya ada apa ini? Siapa mereka Kak? Kenapa dia mau mukul Kakak," ujar Iin bingung.
Rizal menceritakan semua kejadian kesalahpahaman yang mereka alami. "Gue janji akan menjelaskan semuanya pada Rosa Kak," ujar Iin. "Kalian tenang aja, Kak Rizal itu cinta mati sama Rosa, gak mungkin dua'in Rosa, lah dia semingguan ini uring-uringan gara-gara Rosa hindari, Tante aja bingung liat kelakuan dia yang sering ngurung diri di kamar," sambungnya.
"Maafin gue Kak, gue fikir Kakak bener-bener nyakitin Rosa," lirih Rian merangkul bahu Rizal. "Gak papa kok Yan, Kakak tau elo sayang Rosa," balas Rizal membalas rangkulan Rian.
πππππ
Setengah jam kemudian. "Kelamaan De' nunggunya?" tanya Wahyu yang baru datang. "Iya A', kok lama banget? Katanya tadi cuma mau ngantre nomor, tapi kok lama?" ucap Dirga. "Iya, Kak Rosa gak bisa ditinggal," ujar Wahyu.
"Kenapa Kak Rosa?" tanya Dirga. "Tadi pas ngantre nomor, Kak Rosa pingsan pas habis muntah-muntah, trombositnya turun, masuk UGD, hbnya turun, jadi Aa' nunggu Mama dulu baru bisa jemput, ini aja mau nyari darah untuk Kak Rosa karna stok darah di rumah sakit gak ada, darah Kak Rosa kan langka," lirih Wahyu.
"Berarti emang elo ditakdirkan gak boleh jauh dari Rosa," ujar Vivi. "Apa golongan darah Rosa?" ujar Rizal.
"AB rhesus negatif," jawab Wahyu dan Rian hampir bersamaan. "Kalo gitu, Kakak langsung ke rumah sakit aja, golongan darahnya sama dengan Kakak," ujar Rizal.
"Klo gitu kami ikut mobil Kakak langsung ke rumah sakit," ujar Rian. "Ayo, siapa yang mau ikut naik mobil Kakak," tawar Rizal menatap yang lainnya yang masih terpaku. Merekapun mengiringi langkah Rizal dan pergi ke rumah sakit.
"Gue pulang naik taksi aja Kak, sekalian ngabarin tante, gue kan abis ini mau kursus," ujar Iin. "Iya, bilang Kakak ke rumah sakit yach," ujar Rizal. Iin mengangguk.
"Jaga Rosa Zal, dia gadis baik," ujar Wahyu menepuk bahu Rizal pelan. "Rizal janji A'," ujar Rizal menatap Rizal.
__ADS_1
"Dia sayang banget dengan elo, elo sgalanya baginya, dia begini juga karna elo, jangan sakiti dia," ujar Wahyu penuh harap. Rizal hanya mengangguk. Kemudian mereka kerumah sakit.
"Kita pulang dulu, baru ke rumah sakit," ujar Wahyu menatap Dirga. Dirga hanya mengangguk, kemudian mereka pulang.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Sesampai di rumah sakit, Rizal langsung ke bagian donor darah, ternyata darahnya cocok dengan darah Rosa, diapun langsung donor darah untuk Rosa, Rian dan Vivi langsung ke ruangan Rosa dirawat.
"Ma, Rosa mau pulang, Rosa gak mau di sini," isak Rosa. "Yang sabar yach nak, ini untuk kebaikan Rosa juga," ujar Linda membelai rambut Rosa.
"Udah beres semua? Darah udah dapet?" tanya Linda ketika melihat Wahyu. "Udah Ma, tadi Rizal yang donor darah dua kantong, tadi pas periksa ternyata darah Rizal cocok dengan darah Rosa," ujar Wahyu.
"Apa? Mas Angga donor darah ke gue?" lirih Rosa lemah. "Iya Sa, elo tuch salah paham, yang sering jalan itu sepupu Kak Rizal, bukan pacar Kak Rizal," ucap Vivi.
"Iya Sa, elo sich cemburu gak jelas, percaya aja sama gue, Kak Rizal itu yang terbaik untuk elo, dia bener-bener tulus sayang elo," ujar Rian.
Rosa hanya diam saja memejamkan matanya, menarik nafas panjang. "Kenapa elo? Kepalanya pusing? Atau mual?" tanya Rian. Rosa mengangguk. "Pijatin Yan," rengek Rosa.
"Mulai manjanya klo sedang sakit," ledek Vivi. Rosa hanya mencibir. Rian tertawa, diapun memijat kepala Rosa.
Rosa memejamkan mata menikmati pijatan Rian. "Tidurlah, biar istirahat dan cepet sembuh," titah Rian. "Elo di sini aja, jangan kemana-mana," rengek Rosa memeluk tangan Rian.
"Wah anak gadis Mama ini manja banget, gak malu apa diliat temen-temennya," ledek Linda. Rosa hanya cemberut. Semua tertawa.
Ketika Rosa tertidur, Rian dan yang lainnya pulang.
__ADS_1
πΈπΈπΈπΈπΈ
Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, β₯οΈ, β, vote dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all πππ.