Kekuatan Cinta Sejati Yang Tulus

Kekuatan Cinta Sejati Yang Tulus
Bab 22 Kejadian Sepulang Kursus


__ADS_3

Sepulang kursus, "Sa, gue ke toilet dulu," ucap Vivi. "Gue tunggu di depan yach," ujar Rosa. Vivipun pergi ke toilet.


"Nunggu siapa Sa?" tanya Rian mendekati Rian. "Vivi yan, katanya tadi dia mau ketoilet dulu, tapi kok lama banget," gerutu Rosa.


Rian tertawa, "Yach udah, kita tunggu dulu, klo masih lama baru ntar kita susul kedalem lagi," katanya. Rosa hanya mengedikkan bahunya.


"Elo ngapain di sini? Bukannya elo tes naik sabuk?" tanya Rosa. "iya, udah kelar, tadi itu ada orang yang khawatir sweetynya pulang sendiri, dia mau jemput gak bisa karna masih disuruh pelatih melatih orang yang mau naik sabuk," ledek Rian.


Rosa mendelik, "Lebay lo ach," gerutunya menoyor kepala Rian. Rian terbahak.


🌻🌻🌻🌻🌻


Langkah Vivi terhenti ketika ada suara orang memanggilnya. "Loh Firman? Ada apa?" tanyanya keheranan. "Gue mau nunggu jawaban surat gue yang waktu itu," kata Firman menatap Vivi.


"Maaf Man, gue gak bisa," kata Vivi. "Kenapa Vi?" tanya Firman. "Karna gue hanya menganggap elo temen gue," kata Vivi.


"Apa karna sudah ada lelaki lain di hati elo?" kata Firman. Vivi menggeleng, "gue gak suka elo Man dan perasaan gak bisa dipaksa," kata Vivi pelan.


Tanpa sadar Firman mendekatkan wajahnya ke wajah Vivi. Vivi langsung mendorong Firman hingga terjatuh kemudian berlari kencang menghindari Firman yang masih mengejarnya.


πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž


Vivi menarik tangan Rosa dengan cepat, "Ayo Sa, kita pulang," ucapnya ngos-ngosan. Dia tak menyadari kalau ada Rian di samping Rosa.


"Elo kenapa sich? Kok kaya' dikejer setan gitu?" Selidik Rosa kebingungan. "Iya Vi, kenapa?" tanya Rian keheranan.


Vivi hanya terdiam mematung menatap nanar Firman yang sedang mencarinya. Rian menangkap ketakukan tersirat dari mata Vivi.


"Elo diapain Firman?" selidiknya menatap Vivi yang sedang berlindung dibalik badannya dan mencengkram tangannya seraya minta perlindungan.


"Gue takut Yan," lirih Vivi. "Tadi dia mau mencium bibir gue," lirihnya lagi. "Apa?!" Teriak Rian melotot, "Elo jadian dengan Firman?! Kan udah gue bilang, gue paling gak suka klo elo jadian dengan Firman?!" murkanya menatap Vivi nyalang.


Vivi menggeleng, "Gue nolak dia Yan, terus, dia gak terima karna gue tolak, jadinya dia berbuat gitu," lirih Vivi pelan menundukkan kepalanya.


"Kelewatan Firman, kok jadi gitu? Setau gue dia itu baik," kata Rosa.

__ADS_1


"Iya, sama kata elo bilang Bobby dulu baek, gak taunya, apa coba?" ledek Rian. Rosa hanya mencibir.


"Sekarang elo tau kan alasan gue kenapa gue paling gak suka klo elo deket-deket dengan Firman apalagi sampe jadian? Klo udah gini baru tau," gerutu Rian.


"Yee maaf, kan kemaren-kemaren Firman gak gitu," kata Vivi. "Iya, Rosa juga bilang gitu, Bobby baik kok," ledek Rian. Rosa hanya mendelik.


"Sudahlah, mulai sekarang elo gak usah pulang sendiri, sekolah sama kursus gue jemput, ntar klo mau kemana-mana bilang ntar gue temenin," kata Rian.


"Makasih Yan, tapi Rosa?" kata Vivi. "Kenapa dengan gue?" balas Rosa bingung.


"Iya, kan biasanya Rian itu jadi satpam elo, kemana-mana slalu ditemenin Rian, apa gak masalah?" tanya Vivi.


"Rosa udah punya bodyguard, dia kan ada Mas Angga tersayang," ledek Rian. Rosa melotot menoyor kepala Rian. Rianpun tertawa dan merekapun pulang bersama.


🌺🌺🌺🌺🌺


Sepulang kursus, ketika Rosa sedang menunggu taksi, "Sa, sini dulu," Kata Bobby menarik tangan Rosa. "Ada apa Bob?" tanya Rosa mengiringi langkah Bobby.


"Gue masih berharap elo jadi pacar gue Sa," kata Bobby. "Maaf Bob, gue gak bisa, bukankah elo tau klo gue udah pacaran dengan Kak Rizal?" kata Rosa.


Rosa menggeleng, "Gak Bob, bukan karna itu, gue deket dengan Kak Rizal sebelum gue tau klo dia adalah orang terpenting di sekolah," kata Rosa.


"Alah, omong kosong," teriak Bobby mencengkram dagu Rosa dengan keras dan berusaha menciumnya.


Rosa mendorong Bobby sekuat tenaga, "Lepas," teriaknya. Bobby masih berusaha mencium Rosa. "Bobby, lepasi gue," isak Rosa.


Rizal yang baru datang melihat kejadian itu langsung emosi, tangannya mengepal keatas dan memukul Bobby. "Lepasin Rosa!!" teriaknya. "Elo apain Rosa haaah?!" murkanya memukul Bobby bertubi-tubi, matanya memerah menandakan dia benar-benar marah. Bobby babak belur.


"Mas, udah, Bobby udah babak belur, kasian, Ara gak papa kok," kata Rosa membelai pelan Rizal. Rizal menatap Rosa, emosinya melunak ketika melihat mata teduh gadis itu dan menghentikan memukul Bobby.


"Pergi lo, klo smpe gue liat nyakitin Rosa, gue habisin lo!" teriaknya yang membuat Bobby pergi.


"Ara gak papa Ay?" tanya Rizal menatap gadisnya. "Rosa hanya menggeleng. "Tapi Ara takut Mas, Bobby udah sering banget gituin Ara," ucap Rosa pelan terisak.


Rizal memeluk Rosa, pecahlah tangis Rosa. "Menangislah, klo itu buat Ara tenang Ay, Mas janji akan slalu jadi pelindung Ara dan akan jadi bulan untuk Ara tempat Ara kembali," bisik Rizal membelai rambut Rosa pelan dan menciumnya lama.

__ADS_1


Rosa memejamkan matanya menikmati perlakuan Rizal. "Kenapa berada dipelukan Mas Angga membuat gue bener-bener tenang," gumamnya dalam hati.


"Udah, gak usah nangis lagi, Ara kan tau Mas itu paling gak suka klo liat air mata Ara," ujar Rizal membingkai wajah Rosa dengan kedua tanganya dan menghapus air mata yang berada di pipi Rosa menggunakan kedua jempolnya.


Rosa menatap Rizal, dia mengerjap matanya pelan, tanda dia salah tingkah. Rizal terbahak melihat tingkah Rosa. "Elo itu gemes gak klo gitu," godanya mengacak gemas rambut gadisnya itu.


Rosa hanya cemberut yang membuat Rizal semakin terbahak. "Udah sore, yuk pulang," katanya merangkul bahu Rosa.


"Tapi Ara pengen ke taman," katanya. "Yach udah, kita ketaman, tapi sebentar aja yach, udah sore," kata Rizal.


Rosa mengangguk, kemudian merekapun ke taman.


🌸🌸🌸🌸🌸


Sesampainya di taman, Rosa berlari-lari kecil, sesekali berhenti menghirup wangi bunga di taman itu. Rizal mengiringi langkah gadisnya dari belakang sambil membeli camilan.


"Kita duduk di situ yuk," ajak Rizal menarik Rosa ke bangku yang tepat menghadap hamparan bermacam-macam bunga. Rosa mengiringi langkah Rizal dan duduk disamping Rizal.


Rizal merangkul bahu Rosa, Rosa menjatuhkan kepalanya di pundak Rizal dan membelai pipi Rizal.


"Kenapa?" tanya Rizal menggenggam tangan Rosa yang berada di pipinya dan menciummnya lama. "Makasih Mas, slalu ada untuk Ara," kata Rosa. "Mas, sayang Ara, gak akan mungkin membiarkan Ara terluka, Mas akan jaga Ara seperti Mas jaga diri Mas sendiri," kata Rizal mencium rambut Rosa yang berada di pundaknya.


Rosa memejamkan mata sesekali menikmati harum bau bunga-bunga di taman sambil menggenggam tangan Rizal, sesekali meremasnya dan menciumnya.


Rizal membiarkan tangannya dimainkan gadisnya, sesekali diapun menyuapi Rosa camilan yang di beli.


"Sepertinya, Ara Mas ini suka banget dengan bunga," kata Rizal. "Iya Mas, bahkan Rosa punya impian punya rumah dikelilingi taman bunga," kata Rosa tanpa sadar sesekali membelai pipi Rizal dan memainkan bibir Rizal.


Rizal menggigit gemas jari Rosa yang berada di bibirnya hingga Rosa terlonjak. "Mas Angga, nyebelin ich, kaget tau," rengeknya. Rizal tertawa. "Habisnya seneng banget dari dulu ngacak-acak wajah Mas," ujar Rizal mengacak rambut Rosa.


"Iya yach Mas, Ara aja gak nyadar," ujar Rosa terkekeh. "Never main, cause Iam yours and you are mine," bisik Rizal ditelinga Rosa.


Rosa hanya mencibir, "Yuk pulang, udah sore, ntar dicari'in,' kata Rizal. Rosa mengangguk akhirnya merekapun pulang.


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, β™₯️, ⭐, vote dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all 😘😘😘.


__ADS_2