
Satu jam dari operasi, Rianpun sadar. "Gue dimana?" tanyanya bingung. "Aaaaw, sakit," ringisnya memgang perutnya.
"Jangan banyak gerak Yan, elo baru sadar," ujar Rosa membelai lengan Rian pelan. "Mana Vivi?" tanyanya. "Tuch tidur, gara2 kecapekan nangisin elo y gak keluar-keluar dari ruang operasi," tunjuk Rosa ke arah Vivi yanh terlelap di bahu Retno. "Syukurlah dia gak papa," lirih Rian.
"Kaya'nya dia beneran sayang elo Yan, dia bener-bener gak mau pergi dari ruang operasi walau di ajak makan dulu," ujar Yoga. "Mana Vivi sekarang?" tanya Rian lemah.
"Ke toilet dengan Retno dan Untari, cuci muka kali karna kebanyakan nangis," ucap Yoga.
"Klo elo mencintainya kenapa elo gak bilang aja dengannya? Bukankah dia memang menantikan kata-kata itu keluar dari mulut elo? " tanya Gavin. "Gue takut Vin, gue takut ketika gue mengungkapkan semuanya dia menjauh dari gue," lirih Rian.
"Bukankah kalian tau kedekatan dia dengan Firman, apa yang terjadi setelah Firman mengungkapkan isi hatinya? Dia menjauh kan?" lirihnya lagi.
Mereka tak menyadari ternyata Vivi mendengar semua obrolan mereka. "Vivi melakukan hal itu karna dia tau Firman gak tulus sayang dia, bukankah elo sendiri yang bilang kalo elo gak suka dia deket-deket dengan Firman?" ujar Rosa.
"Iya Sa, karna gue tau Firman itu sama seperti Bobby dan gue gak suka kalian tersakiti," lirih Rian lemah. "Maka dari itu Yan, buru-buru ditembak, ntar keburu diembat orang," ledek Yoga. "Gue juga bingung," lirih Rian.
"Gak pake bingung-bingungan, tembak aja langsung, gue yakin kok Vivi mau nerima elo," ujar Rosa membelai lengan Rian. "Iya Yan, gue dukung elo," ujar Gavin. "Kami semua dukung elo kok, ya gak temen-temen," ujar Untari. Semua dengan kompak menunjukkan jempolnya tanda oke.
π»π»π»π»π»
Ketika selesai berbicara, Vivi masuk dengan santainya seolah-olah tak mendengar apapun. "Loh Vi? Sendiri? Mana Retno?" tanya Rosa. Vivi angkat bahu, gue kira udah kesini karna tadi pas keluar toilet, gue gak liat dia, elo jahat banget sich ninggalin gue," gerutunya seolah-olah tak mendengarkan apapun.
"Sini Vi, dari tadi Rian nanyain elo," ajak Rosa menarik tangan Vivi menyuruh duduk. Vivipun duduk di samping bangkar Rian.
__ADS_1
"Gue sembuh Vi, gue selamat, gue gak pergi," lirih Rian menatap gadis yang dia cintai itu. Vivi tersenyum. "Gue percaya elo gak akan ninggalin gue Yan," ujar Vivi menggenggam tangan Rian dan meletakkan dipipinya.
"Jangan nangis lagi yach, gue sakit liat air mata elo, sama seperti gue sakit liat air mata Rosa," lirih Rian lemah menghapus air mata Vivi mengunakan tangannya yang berada di pipi gadis itu.
"Jatuh cinta niyee," ledek Retno menyenggol bahu Vivi. Vivi tersentak dan tersadar yang membuat wajahnya semakin bersemu merah.
"Ciyee, ciyeee," ledek Gavin dan yang lainnya bersamaan. "Udah ach, gue pulang yach, ntar ganggu yang sedang kasmaran lagi,"
Yoga yang membuat semua tertawa.
"Gue ikut nebeng Ga," ujar Retno. "Gue pulang yach, cepet sembuh," bisiknya. Rian mengangguk. "Makasih yach, moga cepet jadian," bisik Rian yang membuat Retno mendelik.
"Gue mau cari makan, sekalian nelpon mama, takut nyari'in," kata Rosa. "Yuk Mas," ajaknya menarik tangan Rizal kemudian mereka keluar satu persatu.
"Semoga dengan ditinggal berdua mereka bisa jadian yach Mas," ujar Rosa. "Semoga, sepertinya semangat banget pengen mereka jadian," ledek Rizal mengacak gemas rambut gadisnya.
Di ruangan, hanya tinggal Rian dan Vivi. "Kenapa mata elo bengkak?" tanya Rian. "Sudahlah gak usah difikrkan, yang penting elo selamat, gue bener-bener takut tadi Yan, takut elo bener-bener ninggalin gue," lirih Vivi pelan.
"Gue kan pernah bilang sama elo Vi, gue gak akan pernah ninggalin elo, gue janji akan slalu jaga elo seperti gue jaga Rosa dulu, gue sayang elo Vi," ujar Rian menggenggam tangan Vivi dan menatapnya. Vivi menemukan kesungguhan dimata Rian. "Gue juga, gue bener gak bisa kehilangan elo," lirih Vivi menaruh tangan Rian di pipinya.
"Apakah elo mencintai gue seperti yang gue rasakan slama ini?" ujar Rian lemah. Vivi terdiam. Dadanya bergemuruh tak menentu, rasa bahagia dan haru jadi satu karna tlah lama dia menunggu kata-kata itu keluar dari mulut Rian, tanpa terasa air matanya deras mengalir.
"Vi, kenapa elo nangis?" ucap Rian menghapus air mata Vivi dengan tangan yang berada di pipi gadis itu. Vivi menggeleng. "Gue udah lama menantikan kata-kata itu keluar dari mulut elo Yan," lirihnya.
__ADS_1
"Gue janji akan bahagiain elo Vi," lirih Rian. "Gak usah difikirkan yang penting elo sekarang sembuh," ucap Vivi. "Sekarang makan yach," ucap Vivi menyuapi Rian.
πππππ
Beberapa jam kemudian, Rosa dan Rizal kembali bersama Mimi. "Wah udah makan Yan," ujar Rosa mendekati Rian membelai pipinya. "Gak ada orang dirumah, jadi gue jemput Kak Mimi ke rumah," bisiknya ditelinga Rian.
"Gue ngerepotin elo," lirih Rian. "Suka gitu dech, gue getok baru tau," gerutu Rosa.
"Sadis lo Sa, gue gini aja mau digetok," gerutu Rian. Rizal tertawa. "Kebiasaan, dimana tempat rame kalo ada kalian, inget ini rumah sakit," ujarnya.
"Kaya'nya ada yang jadian nich," ledek Rosa menatap tangan Rian dan Vivi yang tanpa sadar saling menggenggam. Rian menggaruk kepalanya yang tak gatal karna salah tingkah.
"Berarti kejadian penusukan membawa berkah donk," ledek Rizal. "Kaaak Rizaal, mulai lagi kan ngeledeknya," gerutu Vivi memukul pelan lengan Rizal yang membuat Rizal terbahak.
"Maaaaas, rumah sakit, kok berisik banget," ujar Rosa menepuk bahu Rizal. "Uuups, lupa," ujar Rizal menutup mulutnya.
"Ini gimana ceritanya bisa jadi gini?" tanya Mimi. Rosa menceritakan kronologis kejadiannya. "Jadi ceritanya ini nolong pujaan hati," ledek Mimi.
"Iya gak gitu gak jadian Kak, abisnya sama-sama gengsi," ledek Rosa. Akhirnya semua tertawa.
Menjelang sore, Rosapun pun pamit pulang. "Gue ikut pulang Sa," ujar Vivi. " Gue pulang dulu, besok kesini lagi," bisik Vivi mencium kening Rian.
Rian hanya mengangguk. "Titip Vivi," lirih Rian ketika Rosa pamit mencium keningnya. "Iya, tenang aja ntar dijaga pujaan hati elo sampe rumah tanpa lecet," ledek Rosa yang membuat akhirnya tertawa. Setelah itu merekapun pulang.
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊ
Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, β₯οΈ, β, vote dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all πππ.