Kekuatan Cinta Sejati Yang Tulus

Kekuatan Cinta Sejati Yang Tulus
Bab 45 Kejutan Part 3


__ADS_3

Hari berganti waktu pun berlalu, tanpa terasa ultah Rosa udah dekat. "Udah beli kado untuk Rosa Kak? Bentar lagi Rosa ultah loh," ujar Rian mengingatkan. "Udah Yan, kemaren Kakak udah pesen antingan inisial R, kata pegawai toko satu minggu lagi selesai, pas lah ketika Rosa ultah, Rosa kan dua minggu lagi ultah," ujar Rizal.


"Kaya'nya sekarang Kakak udah ngerti banget dengan Rosa yach, emang dia sekarang sedang nabung karna mau membeliΒ  antingan," ujar Rian. "Yach taulah Yan, dia kan menginginkan seperangkat perhiasan, andai Kakak bisa membelikan seperangkat perhiasan langsung, pasti udah Kakak belikan dari dulu, tapi perhiasan itu sangat mahal, gak cukuplah uang saku Kakak mau beli," lirih Rizal.


"Jadi Kakak cicil aja perhiasannya," lirihnya lagi. "Sepertinya Kakak berjuang keras untuk buat Rosa bahagia," ujar Rian.


"Ya iyalah Yan, Kakak kan dulu pernah janji akan berusaha buat Rosa bahagia semampu Kakak, Rosa itu gadis yang tulus, Kakak berharap dia bisa bahagia bersama Kakak dan Kakak akan buat dia bahagia karna Kakak gak yakin ada cewek yang tulus sayang Kakak seperti Rosa sayang Kakak, Kakak gak mau kehilangan itu semua," ujar Rizal.


"Berarti gue gak salah pilih donk Kak Rizal jadi pasangan Rosa, sepertinya Rosa juga udah sayang banget dengan Kakak, gue juga gak tau apa yang akan terjadi kalo dia kehilangan Kakak, mungkin akan kejadiannya akan terulang lagi seperti dulu ketika dia salah paham dengan Kak Iin," lirih Rian.


"Kakak juga gak bisa kehilangan dia sekarang, karna hanya dia yang bisa ngerti Kakak," lirih Rizal. "Gue punya ide Kak, gue pengen ngerjain Rosa pas ultah dia," ujar Rian.


"Oh ya? Gimana caranya? tanya Rizal. "Tapi jangan kelewatan Yan, kasian Rosa," ujar Rizal.


"Gak, Kakak mau tau kan sebesar apa dia mencintai Kakak?" ucap Rian. "Kakak tau kok, dia sayang banget dengan Kakak, ketika dia masuk rumah sakit itu udah jadi bukti, terus mau bukti gimana lagi?" ujar Rizal.


"Kita minta bantuan Mama, biar Mama juga tau sebesar apa Rosa sayang Kakak, " ujar Rian. "Ide bagus Yan, habisnya Mama sering ngeledekin Kakak karna terlalu bucin dengan Rosa," ujar Rizal.


"Emang Kakak bucin sama Rosa, yang lain aja bilang gitu," ledek Rian. "Sialan lo Yan," gerutu Rizal yang membuat Rian terbahak.


🌷🌷🌷🌷🌷


Hari berganti hari tanpa terasa hari ultah Rosa sudah tiba. Rizal dan Rianpun membuat kejutan yang telah di rencanakan jauh-jauh hari di rumah Rizal. "Loh ngapain kalian?" ujar Sandra melihat Rian membalut kaki, kepala dan tangan Rizal dengan perban seolah-olah Rizal kecelakaan.


"Kata Mama mau liat seberapa besar sayang Rosa untuk Rizal, ntar Mama bisa liat sendiri seberapa besarnya cinta Rosa ke Rizal," ujar Rizal. "Maksudnya? Mama gak ngerti," tanya Sandra.


"Nanti elo telpon Rosa In sambil nangis-nangis, bilang ke Rosa kalo Kakak kecelakaan," ujar Rizal menatap Iin. "Kalian ini, ada-ada aja kerjaannya," ujar Shella.


Setelah siap semua, Iin pun nelpon Rosa mengkhabarkan Rizal kecelakaan. Rosa pun panik langsung ke rumah Rizal.


🌿🌿🌿🌿🌿


Sesampai di rumah Rizal. "Mana Kak Rizal Ma?" ujar Rosa panik sambil mencium punggung tangan wanita itu. "Di kamar Sa," jawab Sandra.


Rosa langsung menghambur ke kamar Rizal. "Kak Rizal, kenapa begini? Kenapa gak dibawa ke rumah sakit aja?" ujar Rosa panik melihat laki yangΒ  dicintainya. "Baru pulang dari rumah sakit Sa," jawab Rian.

__ADS_1


"Kenapa dibawa pulang? Seharusnya kan di rumah sakit?" ujar Rosa. Rizal menggenggam tangan Rosa. "Mas yang minta Ra," ujarnya menatap Rosa.


"Kenapa Mas? Bukankah seharusnya lebih bagus di rumah sakit daripada di rumah? Kita ke rumah sakit ya," ujar Rosa. Rizal menggeleng. "Karna Mas merasa umur Mas gak lama lagi," jawabnya menatap Rosa.


"Mas gak boleh ngomong gitu, Mas gak boleh tinggalin Ara," ujar Rosa menggenggam tangan Rizal. Air matanya mulai mengambang di kelopak matanya. "Kalo Mas pergi, jaga diri baik-baik yach, semoga Ara dapet pengganti yang lebih baik dari Mas," lirih Rizal lemah.


"Gak, Ara gak mau, Ara maunya Mas, Mas gak boleh pergi," ujar Rosa mulai terisak air matanya mengalir deras disudut matanya yang indah. "Gimana Ara mau bahagia kalo sumber kebahagiaan Ara mau pergi ninggalin Ara," lirihnya.


"Kenapa kalian diam aja, ayo kita bawa ke rumah sakit, Yan ayo Yan, gue gak mau kehilangan Mas Angga," isaknya menatap Rian dan menarik tangan Rian. "Kenapa Ma? Kenapa Mas Angga gak dibawa ke rumah sakit?Bukannya semua peralatan disitu lebih canggih?" sambungnya menatap Sandra dengan muka memelas air matanya deras mengalir.


"Sweety," ujar Rizal menarik tangan Rosa. Rosa menatap Rizal sambil terisak. "Percuma Mas di bawa ke rumah sakit karna waktu Mas gak lama, belum sampe ke rumah sakit mungkin Mas udah gak ada," lirih Rizal menatap Rosa. Rosa hanya terdiam sambil nangis sesegukkan.


"Mas Angga gak boleh ngomong gitu, Mas Angga gak boleh tinggalin Ara, Ara gak mau kehilangan Mas Angga," isak Rosa menggenggam tangan Rizal. "Ara gak boleh sedih ya, permintaan Mas yang terakhir, tetaplah bahagia walau tanpa Mas, tetap jadi my sweet girl yang ceria," ujar Rizal menghapus air mata Rosa.


Rosa menggeleng tapi dia masoh tetap terisak. "Selamat tinggal Ra," ujar Rizal kemudian pura-pura meninggal. Rosa menjerit sekuat-kuatya. "Maaaaaas Anggaaa!!! Bangun Maaas!!" teriaknya mengguncang bahu Rizal kuat.


"Jangan tinggalin Ara Mas," isaknya sesegukan mengguncang bahu Rizal dengan kuat. Air matanya deras mengalir disudut matanya yang indah. Sandra dan Iin berpandangan.


"Rosa bener-bener sayang Rizal In, pantes rizal berusaha buat dia bahagia," ujar Sandra. "Iya Tan, Kak Rizal adalah segala-galanya bagi rosa, karna menurut Rosa cuma Kak rizal yang ngerti dia," ujar Iin.


Tiba-tiba. "Selamat ulang tahun, kami ucapkan," nyanyi Retno, Yoga, Untari, Davin, Vivi dan Rian secara bersamaan. Rosa kaget kemudian berdiri dan menghapus air matanya.


"Suprise, selamat ulang tahun Sa," ujar Rian mengacak rambut Rosa dan mencium pelipisnya. Akhirnya rizal pun bangun dari tidurnya. "Selamat ulang tahun Ay," bisik Rizal merangkul Rosa dari belakang.


"Maaas Angggaaa!!!! Iiichhh nyebelin banget sich," rajuk Rosa berbalik memukul dada Rizal. Rizal tersenyum nakal memeluk erat Rosa.


"Ayo ditiup lilinnya Sa," ujar Vivi. "Iya, nanti lilinnya meleleh," ujar Untari. Rosa pun meniup lilin dikue ultahnya. "Jangan suka gitu ach, Ara gak suka," rajuk Rosa yang masih berada dipelukan Rizal sambil menatap Rizal cemberut. Rizal tersenyum menatap gemas gadisnya. "Jelek tau gitu," godanya menarik gemas bibir mungil Rosa yang sedang cemberut.


Rosa semakin cemberut yang membuat Rizal terbahak. "Mas mau ambil pisau dulu," bisiknya meninggalkan Rosa dan ke dapur. "Mama percaya kan kalo Rosa sayang Rizal?" bisik Rizal di telinga Sandra. "Iya, Mama percaya, moga langgeng sampe pelaminan yach," Sandra.


"Masih lama Ma, Rizal mau belajar yamg bener dulu, cari kerja baru ngelamar Rosa," ujar Rizal. Sandra cuma tersenyum kemudian pergi meninggalkn mereka.


πŸ¦‹πŸ¦‹πŸ¦‹πŸ¦‹πŸ¦‹


Seperginya Sandra. "Gue tau, ini pasti ide konyol elo kan?" gerutu Rosa menunjuk Rian. Rian hanya tertawa. "Iya, karna gue suka liat elo panik kaya' tadi," ledeknya.

__ADS_1


"Nyebelin ach," rajuk Rosa memukul ringan tangan Rian. Kemudian setelah berfoto-foto mereka pun makan kue rame-rame.


Rizal memberikan sebuah kado. "Selamat ulang tahun Ay," ujar Rizal memberikan kado dan mengecup lembut bibir Rosa. "Maaas, malu tau, diliat orang," rajuk Rosa melepaskan kecupan Rizal.


Rizal tertawa. "Mereka gak liat," godanya. "Ciye, ciye, ciye, mulai dech dunia milik berdua," goda Rian. Semua tertawa.


"Apa isinya Mas?" tanya Rosa menatap Rizal. Rizal mengangkat bahunya. "Buka aja," ujarnya menatap Rosa.


Rosa membukanya. Mata Rosa membelalak, matanya berbinar indah, kedua tangannya menutup mulutnya yang terbuka. "Ini kan anting-anting yang Ara mau Mas," ujarnya. "Suka?" ujar Rizal.


Rosa menganggukkan kepalanya. "Makasih Mas, makasih," ujar Rosa memeluk Rizal. Rizal membalas pelukan Rizal. "Mas janji akan buat Ara bahagia, apapun caranya," bisiknya mencium rambut Rosa.


Rosa terdiam dalam pelukkan Rizal. "Mas suka liat binar di mata Ara, itu kebahagiaan Mas yang tak tergantikan dengan apapun," ujar Rizal menatap Rosa membingkai wajah gadis itu dengan kedua tangannya.


Rosa mengerjapkan matanya beberapa kali karna salah tingkah. Rizal tersenyum. "Ara, kalo gitu gemesin tau," ujarnya merangkul bahu Rosa kemudian mengajaknya duduk.


"Sini Mas pake'in anting-antingnya," tawar Rizal. Rosa memberikan anting-antingnya dan Rizal pun memasangkan ke telinga Rosa. Rosa tersenyum memegang telinganya yang sudah dipasang anting-anting kado dari Rizal sambil tiduran di pangkuan Rizal.


"Pas gak di telinga Ara?" ujar Rizal membelai rambut Rosa yang berada di pangkuannya. Rosa hanya mengangguk.


"Yang dunia milik bedua, yang lain pada ngontrak," ledek Rian. Rosa hanya mencibir. Rizal terbahak menarik gemas bibir Rosa.


"Maaas, sakit," rengek Rosa menatap manja Rizal. "Suka liatin Mas gitu ach," ujar Rizal menggaruk kepalanya yang tak gatal karna salah tingkah.


Yoga tertawa. "Kak Rizal udah satu tahun lebih pacaran masih juga salah tingkah," ledeknya. Semua akhirnya tertawa.


🌼🌼🌼🌼🌼


"Ayo anak-anak makan dulu," ujar Sandra. "Hore makan, gue duluan ach," ujar Yoga. "Ach elo Ga, urusan makan pasti duluan," ledek Gavin.


Merekapun mengikuti Sandra dan makan bersama sambil bercanda tawa. Setelah makan mereka pun pulang.


🦚🦚🦚🦚🦚


Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, β™₯️, ⭐, vote dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all 😘😘😘.

__ADS_1


__ADS_2