Kekuatan Cinta Sejati Yang Tulus

Kekuatan Cinta Sejati Yang Tulus
Bab 47 Perpisahan Part 2


__ADS_3

Keesokan harinya. "Udah siap semua?" tanya Linda. "Iya Ma," jawab Rosa. "Kak, ada Kak Rizal," ujar Dirga.


"Kapan berangkat Ra?" ujar Rizal mendekati Rosa. "Sekarang ini lagi beres-beres Mas, pesawat berangkat jam 10 pagi ini," ujar Rosa menatap Rizal. Tersirat kesedihan yang dalam di mata Rosa.


"Kapan berangkat Sa?" ujar Rian dan Vivi bersamaan. "Suka banget ngagetin," rajuk Rosa cemberut. Vivi dan Rian tertawa.


"Gua akan kehilangan kemanjaannya Vi," lirih Rian. "Iya Yan, gue juga, pasti akan kangen ketika dia bercerita gaya rel kereta apinya," ujar Vivi.


"Sepertinya udah lengkap Sa," ujar Retno menyelidik tubuh Rosa sambil berputar di tubuh Rosa. "Apa?" ujar Rosa bingung.


"Ini," ujar Retno melambaikan lengan Rosa sehingga gelang dan cincin Rosa kelihatan. "Ini," sambungnya menunjuk kalung di leher Rosa. "Dan ini," sambungnya lagi menunjuk anting di telinga Rosa.


"Iya, gue baru nyadar, ini yang baru, kapan dapetnya Sa?" ujar Untari menunjuk cincin Rosa. "Kemaren dapetnya, kata Kak Rizal buat pengikat," ujar Rosa.


"Wiiih Kak Rizal keren, dalam dua tahun dia bisa mewujudkan mimpi elo Sa," ujar Gavin. "Elo pakai semua? Gak takut bahaya tuch?" ujar Yoga.


"Ya dibawa lah, ini kan pengganti Kak Rizal ketika gue jauh dari dia," lirih Rosa pelan menundukkan kepalanya. Rizal hanya tersenyum menatap gadisnya sambil merangkul bahu Rosa dan mencium pelipis Rosa.


"Udah selesai? Yuk berangkat?" ajak Wahyu. "Yuk Ra," ujar Rizal merangkul bahu Rosa. Rosa menatap Rizal. Rizal menangkap kesedihan yang tersirat di mata gadisnya tapi dia masih berusaha untuk tersenyum.


"De', klo mau ikut mobil Rizal, ikut aja bareng dengan Vivi, Rian dan yang lainnya, Aa' aja yang bareng mobil Papa," ujar Wahyu ketika Rosa membuka pintu mobil Arya.


Wahyu sangat mengerti apa yang dirasakan oleh Rizal dan Rosa. Rosa menatap Wahyu. Wahyu menganggukkan kepalanya dan membelai rambut Rosa.


"Makasih Mas," lirih Rosa ketika Rizal membukakan pintu mobil untuknya dan menjatuhkan pantatnya di jok mobil Rizal.


Dia memejamkan matanya. Air matanya mengalir deras disudut mata indahnya yang sedan terpejam. "Udah donk Ay, jangan gini, Mas jadi tambah sedih," lirih Rizal menggenggam tangan Rosa. Rosa membalas genggaman tangan Rizal.


"Iya Sa, elo jangan gini donk, gue kan jadi sedih juga," ujar Rian menepuk bahu Rosa dari belakang.


🌺🌺🌺🌺🌺


Di bandara, ketika Rosa sedang ngecek barang. "Kakak akan kehilangan dia Yan," lirih Rizal pelan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Gue juga Kak sama Kak, akan kehilangan dia," lirih Rian.

__ADS_1


"Jangan terlalu ditampakkan kesedihan kita, ntar Rosa tambah sedih," ujar Retno. "Iya kak, bener juga," balas Yoga.


"Ma, Rosa berangkat," pamit Rosa pada Linda dan mencium punggung tangan Linda. "Jaga kesehatan di sana nak, " ujar Linda memeluk Rosa membelai punggung Rosa pelan.


"Pa, Rosa pergi," pamit Rosa pada Arya. "Nurut dengan Kak Wahyu yach nak, maafin Papa udah misahin kalian berdua," ujar Arya.


"Jangan bilang kalo Ara akan pergi," lirih Rizal menatap Rosa. "Ara gak akan pergi dari hati Mas," ujar Rosa matanya memanas.


"Rosa," lirih Rizal memeluk Rosa. Tangis Rosa pecah dalam pelukkan Rizal. "Jaga hati untuk Mas, Mas slalu nunggu Ara disini," bisiknya.


Rosa mengangguk dalam pelukkan Rizal. "Semua Ara pake dan Ara bawa ke Bandung, biar Ara merasa Mas slalu bersama Ara," lirihnya. Rizal mencium rambut Rosa lama.


"Rosa, gue gak akan lupa dengan elo," bisik Vivi memeluk Rosa. Rian tak dapat berkata-kata, air matanya deras mengalir, dia langsung memeluk Rosa. "Jaga kesehatan, jaga diri baik-baik," bisiknya.


"Anak lelaki gak boleh cengang, jaga Vivi untuk gue," ujar Rosa. "Rosaaa!!!," teriak Untari dan Retno menghambur kepelukan Rosa, merekapun terisak bersama.


Begitupun Gavin dan Yoga. "Kalian yang akur yach, gue pasti kangen dengan sahabat-sahabat seperti kalian," isak Rosa. "Sama, gue pasti akan kangen elo, elo baik-baik disana yach," ujar Retno.


"Kami nunggu elo kembali," bisik Untari. "Hati-hati," ujar Gavin. "Jangan lupakan kami," ujar Yoga.


"Denger Mas, Ara gak boleh gini, semua untuk kebaikan Ara," ujar Rizal menatap Rosa membingkai wajah Rosa dengan kedua tangannya dan menghapus air mata Rosa dengan kedua jempolnya yang berada di pipi gadis itu. Rosa menggelengkan kepalanya.


"Ayo De', ntar ketinggalan pesawat," ajak Wahyu. "Iya Ay, pergilah, Mas nunggu disini, Mas akan slalu jadi pantai tempat kembalinya ombak atau bulan yang slalu menantikan bintang," ujar Rizal.


"Inget janji kita?" ujar Rizal. "Apapun yang terjadi, kita akan slalu bersama," ucap Rizal dan Rosa bersamaan saling menatap. Rizal menganggukkan kepalanya.


"Ayo De'," ajak Wahyu merangkul bahu Rosa. "Titip Rosa A'," ujar Rizal menatap Wahyu penuh harap. Wahyu hanya mengangguk menepuk pelan bahu Rizal.


Rizal melambaikan tangan ketika Rosa menoleh. Setelah pesawat Rosa datang merekapun pulang.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Di Bandung"

__ADS_1


Di bandara, ternyata Novi istri dari Wahyu sudah menunggu. "Lama nunggu?" ujarnya mencium kening Novi. "Gak juga, baru nyampe," jawab Novi.


"Ini Rosa A'?" sambungnya. Wahyu mengangguk. "Ini siapa A'?" ujar Wahyu bingung. "Ini istri Aa, Teh Novi," ujar Wahyu.


Rosa mencium punggung tangan Novi. "Ada apa-apa ngomong dengan Teteh," tawar Novi. Rosa hanya menganggukkan kepalanya.


"Kok matanyanya bengkak? Habis nangis?" tanya Novi. "Iya, bahkan sepanjang jalan di pesawat tadi nangis terus," lirih Wahyu.


"Yuk, pulang, udah siang, Ade' laper? Apa kita makan dulu," tawar Wahyu. Rosa hanya menggeleng.


"Teteh tadi masak, kita makan dirumah aja, sepertinya Rosa lelah," ujar Novo membelai rambut Rosa. Akhirnya merekapun pulang ke rumah Wahyu.


🌹🌹🌹🌹🌹


Keesokkan harinya. "De', ayo siap-siap mau sekolah," ujar Wahyu. "Jangan murung terus, mana Ade' Aa' yang ceria? Nanti kan pasti ketemu lagi dengan Rizal," sambungnya membelai sayang rambut Rosa.


Rosa yang sedang memainkan aquarium kesayangannya pun beranjak dari duduknya dan bersiap ke sekolah.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


"Di Jakarta"


Sofi sedang siap-siap mau ke bandara karna dia diterima di SMU Negeri 1 Bandung. "Gue boleh ikut nganter?" ujar. "Elo ini Rin, seneng banget ngagetin orang," gerutu Sofi.


Rinto tertawa. "Boleh, ntar gue bilang sama Papa dulu," ujar Sofi. Rinto mendesah menatap Sofi. "Sofi, apakah elo akan lupa dengan gue ketika elo di sana?" gumamnya dalam hati.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Di bandara, Sofi bersiap akan berangkat. "Gue pergi yach," ujarnya menatap Rinto. "Elo hati-hati yach, jangan lupa dengan gue," ujar Rinto.


"Gak lah Rin, lah gue pulang juga masih kesini, kita kan sahabatan, elo akan slalu jadi sahabat terbaik gue," ujar Sofi. "Ternyata gue hanya,sebatas sahabat dihatimu padahal gue mencintai elo Fi," gumam Rinto dalam hati.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, β™₯️, ⭐, vote dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all 😘😘😘.


__ADS_2