Kekuatan Cinta Sejati Yang Tulus

Kekuatan Cinta Sejati Yang Tulus
Bab 28 Bintang Sekolah


__ADS_3

Ketika istirahat, Rosa sedang bercanda tawa dengan Rian dan teman-temannya yang lain, namanya, Amel, Winda dan Rizal dipanggil lewat pengeras suara. "Tuch Sa kenapa nama elo dipanggil?" tanya Retno. "Gak tau, gue kesana dulu," ujar Rosa berlari-lari kecil ke kantor.


Di kantor, "Oooh, kalian sudah datang, mari sini masuk," ajak Marta. Mereka pun masuk ke ruangan Marta. "Sini duduk disini," perintah Marta. Merekapun duduk di kursi yang disediakan oleh Marta diruangannya.


"Begini, kalian Ibu suruh mewakili dari sekolah untuk mengikuti lomba olimpiade sains tingkt SMP di tingkat kabupaten atau kota karena kemaren kan kalian menang ditingkat kecamatan," jelas Marta. "Kapan lombanya Bu'?" Tanya Winda. "Sekitar satu minggu lagi, siapkan diri karna kita akan menginap," jelas Marta.


"Menginap Bu'? Berapa lama?" Tanya Rosa. "Sekitar satu minggu, diusahakan ikut ya nak, karna harapan satu-satunya dari sekolah ini hanya kalian, Rizal mewakili bidang studi fisika, Rosa matematika, Amel Fisika, Mimi dan Winda Biologi," jelas Marta memberikan surat pengantar pada Rizal, Rosa, Winda dan Amel untuk diberikan ke orang tua, setelah itu mereka berduapun pamit.


🌻🌻🌻🌻🌻


Sekembalinya mereka dari ruang Bu' Marta kepala sekolah mereka. "Sweety mau ikut?" tanya Rizal menatap Rosa. "Gak tau Mas, Ara bingung, makanya Ara tadi ngomong sama Bu' Marta tanya Papa dulu, Ara takut gak diizinin Papa karna nginep seminggu lg, Mas kan tau sendiri Papa, gimana?" Lirih Rosa menatap Rizal.


"Ntar Mas bantu ngomong sama Papa, kalo diizinin, kita pergi bareng Mas jemput, kan kita gak sendiri? Guru bidang study yang lainnya ikut juga, gak mungkin Papa gak ngizinin, kita nginep kan untuk urusan sekolah bukan bersenang-senang? Papa pasti sering jenguk karna gak terlalu jauh dari rumah, kan mash dikota?" jelas Rizal.


"Makasih Mas," kata Rosa menatap Rizal. Rizal tersenyum, mengacak gemas rambut gadisnya.


💎💎💎💎💎


        Sekembalinya dari kantor, "Kenapa elo dipanggil?" tanya Rian. Rosa mnyerahkn surat izin yang harus ditanda tangani oleh orang tuanya untuk mengikuti lomba olimpiade sains. "Wah hebat lo Sa, elo ikutan?" tanya Rian. "Gak taulah Yan, elo tau ndiri Papa? Apalagi seminggu lama banget," lirih Rosa menatap Rian.


"Ntar gue bantu ngomong sama Papa, kan ada Kak Rizal juga yang jaga elo," ujar Rian merangkul bahu rosa. "Makasih Yan." lirih Rosa.


Rian tersenyum mengacak rambut rosa kemudian merangkul bahu rosa. "Gue janji Sa, akan melakukan yang terbaik untuk elo karna gue sayang elo," ujarnya menatap sahabatnya itu.


"Lebay lo," ledek Rosa memukul pelan bahu Rian. rian hanya tertawa. Rosa mencibir kemudian meninggalkan Rian ke kelas.


"Sepertinya elo sayang banget dengan Rosa Yan," ujar Vivi menatap Rosa dari kejauhan. "Iya Vi, dia segalanya bagi gue karna itu gue sayang dia dan akan slalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya karna gue bener-bener gak bisa jauh dari dia," jelas Rian.


"Rosa juga bilang gitu dengan gue," kata Vivi. "Kalian mau tau??? Kenapa gue begitu? Karna dia orang yang paling ngerti gue, cuma dia yanh tau perubhan, sikap gue ketika gue punya masalah padahal terkadang gue sendiri tak menyadarinya dan gue yakin kalian juga merasa begitu," jelas Rian.


"Iya, elo bener yang Rosa itu slalu tau ketika guet sedang menyimpan masalah," ujar Retno.


🌺🌺🌺🌺🌺


        Hari berganti hari tanpa terasa hari keberangkat Rosa pun datang. Arya mengantarnya ke sekolah, dia menemui guru Rosa dan ngobrol-ngobrol sebentar untuk menitipkan anaknya pada gurunya.


"Kita tinggal nunggu bis datang," ujar Elisabeth guru matematika Rosa sekaligus wali kelasnya. "Papa pulang nak yach, jaga diri, jaga kesehatan, inget jangan begadang, semua obat udah disiapin di tas sama Papa," ujar Arya membelai rambut Rosa.


Rosa hanya mengangguk dan mencium punggung tangan Arya. "Ini uang untuk jaga-jaga, hemat-hemat yach nak," sambungnya mengulurkan beberapa lembar uang. "Iya Pa," jawab Rosa mengambil uang itu.


"Mana Rizal?" tanyanya. "Itu lagi ngatur barang-barang sama Pak Hasron Pa, karna bisnya baru datang," ujar Rosa menunjuk Rizal.


Arya pun mendekati Rizal. "Zal, Papa pulang nak yach," ujar Arya menepuk bahu Rizal pelan ketika Rizal sedang nyusun barang. "Oooh iya pa," Kata Rizal mencium punggung tangan Arya.


"Titip Rosa, jaga makannya terutama ketika makan nasi, Rizal tau kan Rosa gak bisa makan apa? " tanya Arya. "Iya pa, lagian juga kan ntar Rizal yang ngatur makan yang lainnya," tutur Rizal.


"Ini uang, kalo ada apa-apa dengan Rosa, Rosa itu fisiknya lemah, jangan disuruh kecapekan," jelas Arya mengangsur beberapa lembar uang.


"Gak usah Pa, Papa tadi juga ngasih Rizal uang kok,malah bawa ATM Papa," ucap Rizal menolak uang pemberian Arya.


"Itu kan untuk Rizal nak, ini untuk Rosa kalo terjadi apa-apa, pegang aja dulu," ujar Rizal menarik tangan Rizal memberikan uang itu. "Iya Pa, Rizal janji akan jaga Rosa," tutur Rizal.


"Papa percaya itu, jangan khianati kepercayaan Papa yach, klo ada apa-apa hubungin Papa," ujar Arya menepuk bahu Rizal.Rizal hanya mengangguk. Aryapun pulang.


"Loh Rizal? Ikut juga?" tanya Wira Papanya Amel. "Iya om," ujar Rizal mencium punggung tangan Wira.


"Pantes Amel semangat banget ikut olympiade," ujar Wira. Rizal hanya tersenyum.


"Titip Amel yach," ujar Wira. "Maaf Om, Amel kan udah besar, dia bisa jaga diri kok, lagian juga apa mau dia diatur-atur sama Rizal? Bukannya Amel suka semau-maunya?" tutur Rizal. "Oh gitu?" ujar Wira.


"Iya Om, Rizal takut gak bisa jaga amanah dari Om, sekali lagi maaf," tutur Rizal. "Yach udah kalo, gitu gak papa, "kt Wira terus berlalu.


"Sepertinya yang jatuh cinta ini bukan anaknya tapi orang tua yang punya anak gadis yach," canda Hasron. "Ach Bapak bisa aja," ucap Rizal menggaruk kepalanya yang gak gatal. "Sepertinya udah deket banget sama keluarga Rosa, udah berapa lama pacaran?" selidik Hasron. "Belum juga satu tahun Pak, baru beberapa bulan," jelas Rizal. "Seringg main kerumah ya kok bisa deket banget?" tanya Hasron. "Gak juga, paling pas nganter Rosa aja, itupun jarang mampir," jelas Rizal.


"Oooh, gak tiap malam minggu ngapel toh?" canda Hasron merangkul bahu rizal. "Gak Pak, Rosa gak mewajibkan itu, kata dia di sekolah juga sering ketemu, pulang sekolah juga sering bareng, siapa tau rizal mau kumpul keluarga kalo malem minggu karna bagi Rosa keluarga lebih penting," ujar Rizal.


"Rosa bener-bener dewasa yach," ujar Hasron. "Iya Pak, dibalik sifat kekanak-kanakannya Rosa itu dewasa," ucap Rizal. Hasron hanya tersenyum.


"Yuk berangkt, bis sudah siap," titah Hasron.


"Ay duduk dengan Mas yach?" ajak Rizal menarik lembut tangan Rosa. Rosa hanya mengangguk. "Bu', Rosa duduk sama Mas Angga aja," tutur Rosa menatap Elisabeth.


"Oh iya, gak papa," ujar Elisabeth mengacak rambut Rosa. "Ada apa-apa panggil ibu yach,"sambungnya kemudian bis pun berangkat.


🌸🌸🌸🌸🌸


      Diperjalanan, Rosa mengambil jaketnya ditas dan memakainya."Mas kira Sweety gak bawa jaket," ujar Rizal mengurungkan niatnya memberikan jaketnya pada Rosa.


"Iya Kak, kata Mama dalam perjalana nanti di bis dingin, nanti Rosa masuk angin, Mama juga udah nyiapin minyak kayu putih sama bolu takut Ara kelaperan," ujar Rosa menatap Rizal.


"Bahkan Mama nyiapin kantong untuk Ara muntah, takut Ara mabok," sambungnya.


"Ara beruntung punya orang tua kaya' Mama dan Papa," ucap Rizal merangkul bahu Rosa. Rosa menjatuhkan kepalanya dipundak Rizal.

__ADS_1


"Klo ngantuk tidur aja, gak papa kok," ucap Rizal mencium rambut Rosa yang berada dipundaknya. Rosa hanya terdiam dipelukan Rizal sambil menatap jendela menikmati pemandangan yang mulai menghijau.


"Pemandangannya bagus Mas yach," ujar Rosa menatap jendala dan tanpa sadar meraba pipi Rizal. "Ara suka pemandangan seperti ini?" tanya Rizal. Rosa mengangguk. "Pemandangan ini menyejukkan mata," ujarnya semakin merapatkan kedua tangannya di dadanya dan merapatkan tubuhnya ketubuh Rizal.


"Kenapa? Dingin?" tanya Rizal. Rosa mengangguk. Rizal mengambil selimut yang tersedia dibelakang setiap jok bis penumpang dan menyelimutkannya pada Rosa. "Makasih Mas," lirih Rosa menatap Rizal.


Rizal hanya tersenyum mengacak rambut Rosa. "Tidurlah, perjalanan masih jauh," perintahnya mencium rambut Rosa dan membelainya. "Kok Mas tau?" ujar Rosa menatap Rizal sambil memainkan bibir Rizal.


"Ya taulah Ay, Mas kan sering ke kabupaten, ujar Rizal mengigit gemas jari Rosa y berada dibibirnya. "Maaas, nyebelin ich," rengeknya memukul dada Rizal kemudian cemberut.


Rizal tertawa." Sweety kalo gini bener-bener gemesin tau gak, tak kecup baru tau tuch bibir," godanya tersenyum nakal menarik gemas bibir Rosa yang sedang cemberut. Rosa tambah cemberut.


Rizal tambah tertawa. "Tidurlah, kalo udah nyampe ntar dibangunin," ucapnya membelai rambut Rosa yang berada dipundaknya dengan sayang dan menciumnya. Rosa pun tertidur dalam belaian Rizal bahkan tertidur dipangkuan Rizal.


"Sepertinya Rizal bener-bener sayang dan menjaga Rosa Pak," ujar Elisabeth memandang Rizal dan Rosa y tengah tertidur.


"Iya Bu, tadi Pak Arya aja nitip Rosa dengan Rizal, bahkan memberi uang dengan Rizal untuk kebutuhan Rosa kalo ada yang mendesak, sepertinya Pak Arya bener-bener percaya dengan Rizal untuk menitipkan Rosa bahkan makan Rosapun disuruh Rizal yang ngaturnya karna Rosa ada pantangan makanan dan Rizal tau itu, " jelas Hasron.


"Oh gitu, tadi Pak Arya juga nitip Rosa dengan saya dipesenin agar jangan begadang karna Rosa gak bisa begadang takut badannya ngedrob," jelas Elisabeth.


🌹🌹🌹🌹🌹


           Selang beberapa waktu. "Zal, bangun kita bentar lagi mau nyampe, bangunin Rosa," titah Hasron. Rizalpun terjaga. "Iya Pak, " ujar Rizal. "Ay, bangun, kita bentar lago nyampe. " Sambungnya pelan membelai rambut Rosa.


Rosa terjaga dan langsung duduk ketika sadar tidur dipangkuan Rizal. "Ara tertidur dipangkuan Mas Angga yach, maafin Ara Mas," lirih Rosa pelan. Rizal tersenyum. "Gak pa-pa kok, bukankah Mas ini milik Ara? Ara mau tidur didada Mas juga gak papa," ujarnya menatap sayang Rosa.


"Yuk siap-siap, bentar lagi nyampe, " sambungnya menurunkan koper Rosa setelah nyampe dipenginapan merekapun turun.


🥀🥀🥀🥀🥀


       Hari berganti hari tanpa terasa sudah tiga hari Rosa dan kawan nginep di kabupaten, ketika Rizal mau ngambil nasi, dia melihat Rosa keluar kamar, diapun memanggilnya. "Mau kemana Ay?" tanyanya mengiringi Rosa. "Ara mau makan diluar Mas, tadi udah pamit dengan Bu' Elisabeth, Ara mau beli nasi diwarung depan hotel aja," lirih Rosa.


"Loh bukannya nasi udah dipesen sama Amel?" tanya Rizal. "iya, tp Amel pesennya semua nasi rendang Mas, Mas Angga kan tau Ara gak bisa makan nasi rendang?" lirih Rosa pelan menatap Rizal. " Apa?? keterlaluan Amel, bukankah dia tau Ara gak bisa makan rendang? Pasti dia sengaja pesen semua nasi rendang, Mas tadi udah pesen nasi ayam bakar untuk swetty," ujar Rizal.


"Sudahlah Mas, gak usah diperpnjng, Rosa beli aja makan diwarung depan," Ujar Rosa menatap Rizal kemudian pergi. "Bareng, Mas ikut makan dengan elo," Ujar Rizal. Merekapun makan di warung makan di depan hotel.


"Maafin Mas Ay," lirih Rizal menatap gadisnya yang sedang makan. "Loh untuk apa?" ujar Rosa menatap rizal.


"Andai Mas tadi gak menitipkan pesenan nasi dengan Amel, mungkin Ara gak akan makan disini, Mas tadi mau cepet diajak nemenin Pak Hasron jadinya nitip nasi sama Amel, tapo sebenernya Mas udah ngasih kopelan dengan dia nasi yang mau dibeli, " ujar Rizal.


"Udahlah Mas, gak ush diperpanjang lagi, yang penting sekarang Ara juga udah makan disini kan?" ujar Rosa menggenggam tangan Rizal. Rizal tersenyum mengacak rambut Rosa.


"Janji jangan buat keributan Mas yach, kita ditempat orang, gak enak," ucap Rosa menggenggam tangan Rizal. "Maksudnya," ucap Rizal bingung.


"Tapi jangan kelewatan seperti yang sudah-sudah," ucap Rosa menatap Rizal. Rizal hanya tersenyum mennganggukkan kepalanua. Merekapun melanjutkan makan mereka.


💐💐💐💐💐


     Sepulangnya dari warung mkn. "Elo tuch yach mel keterlaluan banget jadi orang!!" murka Rizal menunjuk Amel. "Ada apa ini?"tanya Elisabeth menengahi.


"Gak tau Bu, datang-datang langsung marah-marah," gerutu Amel. "Gue tau elo sengaja kan pesen nasi semua nasi rendang??!! Elo tau kalo rosa gak bs mkn rendang??!! Bukankah gue tadi udah kasih kopelan dengan elo nasi-nasi yanh harus dipesen???!!" teriak Rizal mengguncang bahu Amel. Matanya memerah.


"Rizal sudah, jangan diperpanjang, rosa udah maafin kok," bujuk Hassron membelai lengan Rizal.


"Iya Kak Rizal bawel ich, Rosa aja gak ribut," gerutu Amel. "Gak Pak, Amel itu sengaja pesen semuanya nasi rendang biar Rosa gak bisa makan, kalo gak digini'in dia itu besok berulah lg, dia itu klo bisa berusaha buat Rosa susah disini," ujar Rizal.


"Gak boleh berprasangka buruk lah Zal," ujar elisabeth. "Sudah, sudah, sudah, gak usah ribut, elo jg mel, perasaan dimana-mana slalu buat masalah, apalagi dengan Rosa, sebenernya salah Rosa itu apa sich?" selidik Winda.


"Rosa lagi, Rosa lagi, kenapa sich slalu Rosa yang dibela?" gerutu Amel. "Elo punya otak, seharusnya bisa berfikir kenapa slalu Rosa yang dibela orang!!!" teriak rizal menunjuk muka Amel.


"Maaas, sudah," ujar Rosa menarik pelan lengan Rizal. Rizal masih memaki Amel.


"Maaassss, udah, gak ush diperpanjang, semua udh selesai," ujar Rosa menatap Rizal. Rizal melunak, emosinya mulai stabil, dia bener-bener kalah ketika Rosa sudah menatapnya dengan tatapan mata yang memelas dan pada akhirnya berhenti memaki Amel. Semua berpandangan.


"Kita keluar yuk, duduk dilobby hotel, disana tadi Rosa liat ada creamer hangat, Rosa pengen minum disana dan pengen makan steak disana," kata Rosa menarik pelan tangan Rizal kemudian mengajak Rizal kebawah. Rizalpun terdiam mengiringi Rosa. Mereka kebawah.


"Tuch Mel, liat sendri kan? Elo itu berhenti buat Rosa susah dan berhentilah mengharapkan seorang Rizal karna Rizal gak akan pernah berhenti melindungi Rosa dan elo liat sendiri kan?? Rizal itu cuma bisa tenang kalo rosa yang nenaningin, Rizal itu sudah bertekuk lutut dengan Rosa," ujar Winda. Amel mendengus sebal dan pergi meninggalkn mereka.


🌷🌷🌷🌷🌷


          Sepulangnya Rosa dari lobby hotel. "Tidur jangan malem yach, ntar sakit, besok masih mau lomba," ujar Elisabeth mendekati Rosa. Rosa hanya mengangguk. "Kemana kalian berdua tadi?" tanya Elisabeth menatap Rosa. "Cuma ke lobby Bu, Rosa cuma pengen nenangin Mas Angga," lirih Rosa.


"Mas Angga? Ooh, panggilan sayang Roza dengan Rizal Mas Angga?" Ujar Elisabeth. Rosa hanya mengangguk.


"Sepertinya Rizal ngerti banget dengan Rosa," ujar Elisabeth. "Mas Angga itu akan lebih tenang setelah marah kalo dia minum creamer hangat," ujar Rosa.


"Sepertinya Rosa juga ngerti banget dengan Rizal, sudah berapa lama kalian pacaran? Udah lama yach?" Selidik Elisabeth. "Baru kok Bu, baru beberapa bulan," ujar Rosa.


"Iya, sepertinya kalian sangat ngerti begitu lama, seperti sudah lama kenal," kt Elisabeth. "Gak kok Bu, tapi memang kami kenal sebelum Rosa masuk SMP sini, Kak Rizal sering ikut nimbrung klo Rosa lagi kumpul-kumpul bareng dengan, bahkan Mas Angga sering nemenin Rosa klo sedang ada pertandingan balet," ujar Rosa. Elisabeth tersenyum. "tidurlah,sudah malem," titahnya membelai rambut rosa. Rosa hanya mengangguk, kemudian merekapun tidur.


🌿🌿🌿🌿🌿


      

__ADS_1


    Hari berganti hari tanpa terasa satu minggu sudah Rosa lomba di kabupaten dan dia sudah kembali ke rumah, hari ini pengumuman lomba yang diikutinya bersama teman-temannya dikabupaten dan akan diumumkan pada upacara hr ini. Ternyata Rosa dan Rizal y menjadi pemenangnya, merekapun maju kedepan untuk mengambil trofi dan piagam.


"Rosa dan Kak Rizal bener-bener pasangn serasi yach, sama-sama pinter dibidang sains," ujar Retno. "Iya, gue baru nyadar loh," ujar Vivi.


"Ya iyalah, siapa dulu mak comblangnya, gue," ucap Rian. "Iya, mereka berdua memang benar-bener bintang sekolah, belum prestasi-prestasi yang lainnya di bidang ekskul," ujar Yoga.


🌱🌱🌱🌱🌱


       Pada suatu hari, Rosa dipanggil oleh margareth karna menang dalam lomba mengarang bebas dalam bahasa Inggris dan dia disuruh ikut mewakili sekolahnya untuk mempresentasikan karangan tersebut menggunakan bahasa Inggris juga. "Apa?? Rosa gak merasa ikut lomba itu Bu," ujar Rosa. "Ibu yang memasukkannya karna Ibu fikir karanganmu bagus dan ternyata bener kan?karanganmu menang," ujar margareth.


"Kapan Bu?" tanya Rosa. "Minggu depan," ucap Margareth. "Apa?? Tapi Rosa belum ada persiapan Bu," ujar Rosa terbelalak.


"Iya, ibu yakin Rosa bisa kok, kita pergi dari sekolah, ini surat pengantarnya, nginep dua hari, kita berangkat dari sekolah jam sembilan pagi," jelas margareth. "Rizal juga ikut kok karna dia mewakili taekwondo dari sekolah kita, ibu sudah menghubungi papa Rosa dan Ibu juga bilang kalo Rizal juga ikut untuk kompetisi nanti," sambungnya mendekati Rosa.


"Mas Angga juga ikut?" tanya Rosa. "Iya, bahkan Rian, Vivi juga ikut, mereka mau pentas nari," jelas Elisabeth. Rosapun kembali ke kelas.


🦋🦋🦋🦋🦋


       Sekembalinya kekelas. "Ngapain elo dipanggil kekantor?" Ujar Vivi. Rosa menceritakan kejadian dikantor. "serius sa???asyik donk kt pergi barg,"ucap Vivi.


"Iya, minggu depan perginya," ucap Rosa. "Retno sama Yoga juga pergi kok, mereka ngisi acara perwakilan dari band sekolah kita," ucap Rian.


"Waaah enak dunk rame," ucap Retno. "Berarti tere cs ikut dunk," ujar Rosa. "Iyalah Sa pasti ikut," ucap Rian.


"Elo jangan jauh-jauh dari gue yach," ujar Rosa menatap Rian. "Loh kenapa?" ujar Rian. "Ntar gue berantem lagi, gue takut," lirih Rosa pelan menundukkan kepalanya.


"Iya, tapi kak Rizal juga ada kok," ucap Rian merangkul bahu Rosa. rosa hanya diam saja kemudian diapun meninggalkan teman-temannya ke kelas.


🌼🌼🌼🌼🌼


           Hari berganti hari waktu keberangkatan pun tiba. "Jauh perjalanannya yach?" tanya Vivi. "Gak tau, gue aja gak tau dimana tempatnya, tapi Mama udah bawain gue jaket sama makanan kok, takut gue kelaperan di jalan," ujar Rosa. "Asyik dunk, bisa makan-makan dijalan," ucap Rian. "Ach elo Yan, makan itulah yang difikirkan," canda Vivi. Semua tertawa.


"Tuch bis udah dateng, yuk kita kesana?" ujar Vivi. "Iya, ayo kita kesana," Ajak Untari. Merekapun mendekati bis.


"Gue duduk sama kakak yach," ujar Amel bergelayut manja di tangan Rizal. "Maaf Mel, gue duduk sama Rosa," ucap Rizal menepiskan tangan Amel dilengannya.


"Kenapa sich Kak Rosa terus?" gerutu Amel sebal. "Mel, Mel, itu aja ditanya, ya karna Kak Rizal sayang Rosa lah bukan elo dan mereka berdua pacaran, dia lebih milih Rosa lah," ledek Yoga memukul pelan bahu Amel.


"Sweety kita duduk berdua, seperti kemaren yach," ujar Rizal menggenggam tangan Rosa. Rosa hanya mengangguk, kemudian mereka pergi.


🦚🦚🦚🦚🦚


       Diperjalanan, Rizal merangkul bahu Rosa. Rosa menjatuhkn kepalanya dipundak Rizal. "Mas tau tempat ikut lomba?" tanyanya "Tau, sekita dua jam kalo gak macet, Mas biasa kok kesana," ucap Rizal menatap rosa.


"Dua jam?? Lama yach," ujar Rosa menatap jendela sambil meraba pipi Rizal kemudian memainkan bibir dan telinga Rizal.


"Kalo Sweety mau tidur, tidur aja gak papa kok, seperti waktu kita ke kabupaten," ujar Rizal mencium rambut Rosa. Rosa hanya menggeleng.


"Loh kenapa? Semua udah pada tidur tuch," ujar Rizal melihat Vivi dan lainnya. Rosa melihat yang lainnya.


"Sini tidur dipangkuan Mas, seperti kemarin pas kita ke kabupaten," ujar Rizal menyuruh Rosa berbaring dipangkuannya. Rizal membelai rambut Rosa dipangkuannya.


Rosa *******-***** tangan Rizal dan memeluk tangan lelaki itu sesekali menciumnya. "Sweety ini, kaya'nya suka banget ngeraba-raba dan peluk tangan Mas," ujar Rizal membelai rambut rosa. "Sama, Mas juga suka cium rambut rosa." ujar Rosa duduk dan menatap Rizal. Rizal tersenyum menatap Rosa.


Rosa mencium pipi Rizal berulang-ulang kemudian memeluk erat Rizal. "Gak tidur?" ucap Rizal membelai rambut rosa yang berada didadanya dan mencium rambut gadis itu.


Rosa menggelengkn kepalanya yang masih berada didada Rizal. "Ara ingin menikmati perjalanan ini sama Mas Angga," katanya sambi meraba-raba pipi Rizal dan memainkan telinga Rizal.


"Tuch liat, kelakuan sodara elo," ujar Gavin menyenggol bahu Rian. "Siapa?" tanya Rian bingung.


"Rosa lah, siapa lagi, dunia milik berdua, yang lain ngontrak," ledek Yoga memperhatikan Rosa dan Rizal. "Iri? Noh Retno, mumpung belum ada yang nembak, ntar keduluan orang gigit jari," ledek Rian.


"Apaan sich elo, ntar didenger Retno, dia jadi jauhin gue," gerutu Yoga menoyor kepala Rian. "Ketauan, suka Retno yach?" selidik Untari.


"Berisik lo pada, ntar Retno bangun, denger kan, gue dijauhin," gerutu Yoga. Rianpun terbahak.


"Ketimbang elo iri liat kemesraan Kak Rizal dengan Rosa, mending buruan tuch Retno di iket kaya' Kak Rizal ngiket Rosa," ledek Gavin yang membuat semua tertawa. Akhirnya merekapun bercengkrama bersama sampai tempat tujuan.


🌴🌴🌴🌴🌴


             Seminggu telah usai dari acara lomba ekskul antar sekolah dan tibalah pengumuman pemenang lomba. Ternyata Rizal dan Rosa lagi yang jadi pemenangnya. Artikel Rosa menang jadi,juara satu karna dia bisa menguasai isi artikel tersebut dengan speech english yang memuaskan sedangkan Rizal menjuarai lomba taekwondo antar sekolah.


"Rosa dan Rizal bener-bener pasangan serasi yach Bu," ujar Marargareth. "Iya, mereka itu kompak bangte dari saling memahami sampai prestasi, sama seperti Romeo dan Juliet, tak terpisahkan, sejodoh kali, gak disekolah dan di atas panggung " ucap Elisabeth menatap Rizal dan Rosa yang ada di depan menerima tropi dan piagam dari kepala sekolah dengan tabjub .


Semua siswa disekolahpun mengatakan hal yang sama.


"Tuch Mel liat, memang rosa yang lebih pantas dapetin seorang pangeran berkuda putih seperti Rizal bukan elo, Rosa itu seorang putri raja dengan segudang prestasinya bukan itik buruk rupa yang sering elo katakan, kita bisa jadi seorang putri itu dari kepribadian dan talent bukan karna harta kekayaan yang dibawa orang tua, lah elo?? Elo punya apa yang bisa dibanggakan??? Hanya membanggakan harta ortu aja, gue jugamerasa Rosa gak miskin-miskin amet, bapakya itu seorang pegawai swasta yang punya jabtan tinggi, kenpa gue tau??? Karena Om Arya Papanya Rosa satu kantor dengan Papa gue dan Om Arya adalah atasan papa gue, tp dia tetap  tampil sederhana selayaknya orang biasa, gak kaya' elo manja dan slalu meremehkan org lain yang elo rasa gak selevel dengan elo padahl pada sejatinya, elo gak bisa menerima kekalahan kan? Lo bukan hrt elo cari sendiri,slalu menghambur-hamburkan uang orang tua elo,mikir-mikir," kata alan menunjuk kepala Amel.


"Tere, Winda dan Ilona aja nyadar diri kok pas Rizal telah memilih rosa jd pacarny, elo?? Malah gak terima, inget Mel semua y elo inginkan itu gak bs elo miliki semau elo seperti orang tua  elo yang slalu menuruti semua  meninggalkan Amel sendiri. Amel hanya mendengus sebal meninggalkan mereka semua.


🐳🐳🐳🐳🐳


Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, ♥️, ⭐, vote dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all 😘😘😘.

__ADS_1


__ADS_2