
Hari berganti bulam pun berlalu, tanpa terasa Rosa dan teman-temannya melakulan laporan pertanggungjawaban pengurus OSIS. Rosa dan teman-temannya jadi sangat sibuk, hampir tiap hari pulang sore.
Linda sangat mengkhawatirkan kesehatan Rosa. Dia slalu menyiapkan bekal untuk Rosa agar Rosa tak terlambat makan. "Susunya jangan lupa diminum Sa, sarapan jangan lupa," titah Linda. "Iya Ma, udah Rosa minum," ujar Rosa.
"Ini bekalnya, waktu makan siang, makan dulu, baru lanjut kerja, vitaminnya abis makan jangan lupa di minum, Dirga ntar ingetin Kak Rosa, titip pesen dengan Kak Rian," ujar Linda. "Iya Ma, bereslah itu," ujar Dirga.
"Ya Mama, kaya' Rosa anak kecil aja," rajuk Rosa cemberut. "Kan Rosa suka lupa klo asyik kerja nak, lupa sgalanya," ujar Linda membelai rambut Rosa.
Mereka pun pamit ketika Rizal datang menjemput. "Titip Rosa Zal, bilang sama Rian, semua udah disiapin di tas, makannya yang penting," ujar Linda ketika Rizal pamit dengannya.
"Ya Ma," jawab Rizal mencium punggung tangan Linda. "Ya Mama, mulai dech, semua dipesenin, Rosa kaya' anak kecil," rajuk Rosa cemberut.
Rizal hanya terkekeh. "Ya berarti Mama sayang dengan Ara," ujarnya mengacak gemas rambut gadisnya. Merekapun pergi ke sekolah setelah pamit dengan Linda.
"Sebenernya, Mas juga khawatir dengan kesehatan Ara, kok jadi sibuk banget akhir-akhir ini," ujar Rizal sambil menyetir. "Ya kan kerjanya rame- rame Mas," ujar Rosa.
"Iya Mas ngerti, tapi kan gak harus sampe sore, ini sore klo gak dijemput, gak pulang, makan juga kalo gak diingetin pasti lupa walau bawa bekal," omel Rizal. Dirga tertawa.
"Kenapa tertawa De'?" Tanya Rosa. "Kasian Kak Rosa, dari tadi diomelin, tadi diomelin Mama, sekarang Kak Rizal, kemaren Kak Rian," ledeknya. "Ya yang ngomel kan sayang Kak Rosa De'," ujar Rizal.
"Iya sich Kak, sebenernya Dirga juga mau ngomel juga karna Kak Rosa sibuk, tapi takut kualat," ujar Dirga. ""Loh kenapa kalo Kakak sibuk?" ujar Rosa.
"Dirga gak ada yang ngajarin pr," ujar Dirga cengar cengir. "Dasar," gerutu Rosa memukul pelan bahu Dirga.
"Ciyee, yang di anter kekasih," ledek Rian dipintu gerbang ketika melihat Rizal membukakan pintu. "Mas ke sekolah yach," ujarnya mencium kening Rosa." Inget, jaga hati," sambungnya menunjuk dada Rosa.
Rosa hanya mengangguk. "Titip Rosa Yan, awas jangan telat makan," ujar Rizal. Rian hanya melingkarkan jarinya membentuk huruf O tanda oke. Mereka pun masuk ke kelas.
π»π»π»π»π»
Ketika usai makan malam, Arya mendekati Rosa. "Sa, Papa punya rencana mau nyekolahkan Rosa di Bandung nak," ujarnya. Rosa terbelalak. "Kenapa Papa gak bilang Rosa dulu?" Ujarnya.
"Nak, Papa ingin yang terbaik untuk Rosa, semua sudah diurus oleh A' Wahyu, Rosa dapet beasiswa masuk SMA Negeri 1 di Bandung, sayang kalau gak diambil nak," ujar Arya.
"Tapi Pa, Rosa gak mau, terus Rosa sendirian di sana?" isak Rosa. "Kan ada A' Wahyu nak, nanti Rosa tinggal dengan A' Wahyu," ujar Arya.
"Papa jahaaaaat," teriak Rosa berlari ke kamar membanting pintu kamarnya kemudian menangis sejadi-jadinya.
πππππ
Setelah mendapat kabar itu, hari-hari Rosa pun dilalui dengan kemurungan dan Rian yang paling peka dengan perubahan gadis itu. "Sa, ada apa?" tanyanya duduk di samping Rosa ketika Rosa sedang duduk di bangku taman perumahan.
Rosa terlonjak kaget. "Sejak kapan elo di sini?" ujarnya menatap Rian. Rian menemukan kesedihan yang mendalam di mata gadis itu.
Rosa hanya menggelengkan kepalanya. "Sa, inget penyakit elo, elo gak boleh banyak mikir," ujar Rian merangkul bahu Rosa.
Tanpa sadar Rosa menjatuhkan kepalanya di pundak Rian. Dia memejamkan matanya. 'Apakah di Bandung nanti gue bisa dapet sahabat seperti elo Yan, yang paling ngerti gue, yang hanya menatap mata aja bisa ngerti apa yang gue mau,' gumamnya tanpa sadar keluar air mata disudut kelopak mata indahnya yang sedang terpejam.
Tubuhnya bergetar menahan isakan. "Elo kenapa? Kenapa elo nangis?" ujar Rian membelai rambut Rosa yang berada di pundaknya.
"Gue dapet beasiswa di Bandung Yan," lirih Rosa masih terdengar isak tangisnya. "Kok bisa? Bukannya kita belum dapet ijazah?" tanya Rian.
"A' Wahyu yang ngurus semuanya, Papa ngirim fotocopy raport gue dari kelas tujuh, jadi A' Wahyu yang daftarin lewat jalur khusus," lirih Rosa.
__ADS_1
"Lah bagus dong, berarti elo hebat, kenapa elo jadi sedih?" ujar Rian. Rosa menggelengkan kepalanya. "Gue gak mau Yan, gue gak mau pisah dari kalian, gue juga gak tau apakah gue dapet temen-temen yang ngerti gue di sana sama seperti kalian," lirih Rosa. "Terutama dengan Kak Rizal, gue gak biaa jauh dari dia," sambungnya.
"Gue yakin Sa, Papa ingin yang terbaik untuk elo, walau kita jauh kan tapi kami akan slalu dekat di sini" ujar Rian menatap Rosa menunjuk dada gadis itu.
Rosa hanya menggelengkan kepalanya dipelukan Rian. "Gue gak yakin gue bisa Yan," lirihnya. "Gue yakin elo bisa Sa, elo cewek yang kuat, gue percaya itu," ujar Rian.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Pada suatu hari, sehabis latihan. "Rosa udah cerita belum Kak?" ujar Rian. "Cerita? Cerita apa? Tentang beasiswa?" ujar Rizal.
Rian mengangguk. "Berarti udah cerita?"Β ujarnya. "Iya Yan, kemaren pas makan bareng," lirih Rizal.
"Kasian Rosa Kak, semenjak tau kabar itu, dia slalu murung," ujar Rian. Rizal mendesah. "Mau gimana lagi Yan, kalo emang itu yang terbaik untuknya menurut Papa, sebenernya kalo maunya Kakak, dia masuk satu sekolah dengan Kakak, jadi bisa jaga dia," lirih Rizal.
"Ada baiknya Kakak aja dia jalan, atau kemana kek, menghibur dia biar gak sedih, fue khawatir Kak, dengan adanya masalah ini, Rosa jadi drob, Kakak tau sendiri kan kalo dia udah drob?" ujar Rian.
"Iya juga sich, sebenernya ada yang lebih Kakak khawatirkan," lirih Rizal. "Apa itu Kak?" tanya Rian.
"Berpaling dari Kakak, jujur, Kakak takut Rosa akan berpaling dengan A' Wahyu, apalagi ketika dia cerita kemaren mau tinggal satu atap," lirih Rizal.
"Gak mungkinlah Kak, A' Wahyu itu udah dianggap Kakak sendiri sama Rosa, Rosa itu cinta mati sama Kakak, percaya gue," ujar Rian.
"Tapi Yan, walau saudara, mereka tetap gak sedarah dan posisinya hanya saudara angkat, Rosa itu gadis yang polos dan lugu, dia mudah terpikat dengan kebaikan orang yang berada didekatnya," ujar Rizal menatap nanar ke arah langit.
"Tapi perlu Kakak tau, Rosa itu ketika jatuh cinta, dia akan mencintai sepenuh hati dan akan menjaga cinta itu, berusaha untuk membuat orang yang dicintainya bahagia walau dia harus terluka, makanya gue slalu menjaga dia dari cowok seperti Bobby dan yang lainnya, gue gak mau dia jatuh cinta dengan lelaki seperti itu yang tak menutup kemungkinan akan slalu menyakitinya," ujar Rian.
"Ntahlah Yan, Kakak bingung, kita pulang yuk udah sore, mungkin hari Minggu ini Kakak ke rumah Rosa mau ngajak dia jalan," ujar Rizal merangkul bahu Rian. Rian hanya mengangguk membalas rangkulan Rizal. Merekapun pulang.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Rosa terlonjak kaget. "Mas Angga? Ngagetin ich," rajuk Rosa cemberut. Rizal terbahak mengacak gemas rambut Rosa.
"Mau kemana?" tanya Rosa. "Terserah, mau kemana, Mas kangen, udah lama kita gak jalan bareng dan cerita," ujar Rizal. "Lebay," cibir Rosa.
Rizal terbahak. "Ya bener lah Ay, lah dia sibuk persiapan ujian sam laporan pertanggungjawaban OSIS, Masnya dianggurin," goda Rizal melipat kedua tangannya ke dada dan mencondongkan badannya ke tubuh Rosa sambil mengangkat alisnya satu.
"Maaas, gak boleh liatin Ara gitu," rengek Rosa cemberut menutup wajah Rizal dengan kedua tangannya karna salah tingkah yang membuat wajahnya bersemu merah.
Rizal pun terbahak. "Gemesin tau gitu," godanya. "Buruan siap-siap," sambungnya mengacak gemas rambut Rosa. Rosa pun siap-siap.
Rizal mendesah. 'Akankah gue kehilangan dia nantinya,' gumamnya menatap kepergian gadisnya yang akan bersiap-siap.
"Mau kemana kita Ay?" tanya Rizal. "Ke pantai yach Mas, udah itu kita ke taman," ujar Rosa menatap Rizal.
"Oke tuan putri," goda Rizal. Rosa hanya mencibir, kemudian menatap luar jendela. 'Akankah kebersamaan ini berakhir?' gumamnya dalam hati. Tanpa sadar kelopak matanya sudah di penuhi air mata yang hampir tumpah.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Sesampainya di pantai. "Ay, kita udah sampe," ujar Rizal. Rosa masih terpaku. Rizal membukakan pintu dan sabuk pengaman Rosa yang membuat Rosa tersentak.
Rosa buru- buru menghapus air matanya yang akan tumpah. "Yuk turun," ajak Rizal menggamit lengan Rosa dan merangkul bahu gadisnya. Rosa hanya terdiam menggenggam erat tangan Rizal yang berada di bahunya.
Sesampai di tepian pantai Rosa melepaskan sepatunya dan berlari di pinggiran pantai, dia membiarkan ombak menjilati kakinya yang telanjang.
__ADS_1
Dia merentangkan kedua tangannya sambil memejamkan matanya, kemudian berteriak sekuat-kuatnya. Rizal tau betul kalo sedang begitu, gadisnya itu benar-benar sedang galau.
Dia membiarkan Rosa sendiri di tepian pantai sambil memantaunya dari jauh karna diaΒ tau Rosa butuh waktu sendiri.
"Akan semuanya berakhir? Akankah masih ada kebersamaan gue dengan Mas Angga kalo gue ke Bandung? Atau gue akan kehilangan Mas Angga?" gumamnya dalam hati.
Matanya memanas, air matanya pun mengalir deras dari sudut mata indahnya yang sedang terpejam.
Rizal mendekati Rosa karna merasa sudah terlalu lama di tepian pantai. "Sudah terlalu lama di sini Ay, ntar Ara sakit," bisiknya merangkul Rosa dari belakang meletakkan dagunya dibahu Rosa.
Rosa memejamkan matanya menyandarkan kepalanya di bahu Rizal. Rizal merangkul Rosa dari belakang. "Kita cari tempat yach karna udara di sini dingin, nanti Ara sakit," bisiknya.
Rosa berbalik memeluk Rizal dan akhirnya pecahlah tangis Rosa dipelukan Rizal. "Ara," lirih Rizal membalas pelukkan Rosa. "Menangislah kalo itu membuat Ara puas," sambungnya.
Rizal sangat mengerti perasaan Rosa saat ini. Rosa menatap Rizal. Terdapat kesedihan tertangkap di wajah Rosa. Rizal membingkai wajah Rosa menghapus air mata Rosa dengan kedua jempol tangannya yang berada di pipinya.
"Mas ngerti apa yang Ara rasakan saat ini, kalo memang itu yang terbaik, Mas berusaha untuk ikhlas, walau berat," ujar Rizal. "Tapi Mas, Ara gak bisa, Ara gak bisa jauh dari Mas," lirih Rosa.
"Walau jauh, kita akan slalu dekat disini," ujar Rizal menunjuk dada Rosa. "Dan harus Ara tau, Mas akan tetap jadi bulan yang slalu menantikan bintang, Mas akan tetap jadi pantai yang slalu menantikan ombak, yang pasti Mas disini menunggu Ara, Mas akan slalu jadi tempat Ara kembali," sambungnya.
Rosa menatap mata elang Rizal. Terlihat kesungguhan dalam manik mata lelaki itu.
menatap gadisnya.
Rizal tersenyum menatap Rosa. Senyum yang Rosa sangant kagumi sampe sekarang. "Udah ach gak usah nangis lagi, masih inget janji kita?" ujar Rizal menatap mata indah Rosa.
Rosa menganggukkan kepalanya. "Apapun yang terjadi kita akan slalu bersama," ucap Rizal dan Rosa bersamaan sambil bertatapan. Rizal tersenyum memeluk Rosa.
"Ingetin Ara tentang hal itu Mas," ujar Rosa menatap Rizal. "Mas gak akan pernah berhenti dan bosan untuk mengingatkan semuanya Ay," bisik Rizal memeluk erat Rosa.
"Yuk, ke tepi, kita cari makan, bentar lagi waktu makan siang," ajak Rizal menggenggam tangan Rosa. Rosa hanya terdiam mengiringi Rizal. Merekapun makan siang.
π₯π₯π₯π₯π₯
Ketika di taman, Rosa berlari mendahului Rizal. Dia duduk di pondokan yang berada di taman. Rizal membeli camilan sambil mengiringi Rosa jalan ke pondokan.
Dia duduk di samping Rosa dan merangkul bahu gadis itu. "Jangan sedih terus dong Ay, Mas jadi tambah sedih," ujarnya. Rosa menjatuhkan kepalanya di pundak Rizal. Rizal membelai rambut Rosa dengan sayang kemudian menciumnya.
Rosa memejamkan matanya menikmati belaian tangan Rizal. "Jangan sedih terus, ntar sakit, Ara kan lom ujian," ujar Rizal membelai rambut Rosa. Rosa terdiam membiarkan Rizal yang sedang memainkan rambutnya, sesekaliΒ mencium rambut gadis itu.
Rosa hanya terdiam menikmati belaian Rizal. Dia mengambil snack yang di beli Rizal kemudian memakannya.
"Mas janji kan gak akan ninggalin Ara?" lirih Rosa menatap mata elang Rizal. Rizal menatap Rosa. "Listen to me, you are my everything in my life, so I never go in your life," ujar Rizal menatap mata indah Rosa.
"Ara bener-bener gak bisa kehilangan Mas, Ara takut, dengan adanya jarak yang jauh di antara kita, membuat Mas berpaling dari Ara, apalagi Mas adalah lelaki yang digandrungi para gadis," lirih Rosa.
Rizal menggenggam erat tangan Rosa dan menatap Rosa. "Bukankah Mas pernah bilang? Iam your's and you are mine? Apa yang dalam diri mas adalah milik Ara termasuk di sini," ujarnya menggenggam tangan Rosa meletakkan di dadanya. "Dan Mas berharap Ara juga menjaga ini untuk Mas," sambungnya menunjuk dada Rosa.
"Ara janji Mas, akan menjaga semuanya untuk Mas," ujar Rosa. "Sebenernya malah Mas yang khawatir gadis Mas ini nanti berpaling hati," ujar Rizal. "Karna Mas yakin di sana nanti pasti banyak lelaki yang ingin merebut hati Ara dari Mas," lirihnya. Rosa menggelengkan kepalanya yang masih berada di pundak Rizal. "Ara gak tau di sana apakah Ara bisa menemekan lelaki yang ngerti Ara seperti Mas ngerti Ara," lirihnya.
Menjelang sore,Β merekapun pulang.
πππππ
__ADS_1
Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, β₯οΈ, β, vote dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all πππ.