
Sepulang sekolah, ketika Rosa sedang berjalan. "Rosa tunggu," teriak Bobby belari-lari kecil. Rosa menghentikan langkahnya. "Kenapa Bob," tanyanya.
"Gue nunggu jawaban dari elo, siapa tau elo berubah fikiran," ujar Bobby. "Maaf Bob, gue kan udah bilang kemaren, gue gak bisa," ujar Rosa menatap Bobby.
"Kenapa Sa? Apa karna Rian? Atau elo udah punya cowok yang elo suka?" tanya Bobby. Rosa hanya menggeleng dan menundukkan kepalanya.
Bobby mengangkat dagu Rosa dan menatapnya. Mata mereka saling menatap tanpa sadar Bobby pun mendekatkan bibirnya ke bibir Rosa. Rosa mendorong dengan sekuat tenaga yang membuat Bobby terjatuh. Rosapun berlari cepat menghilang di kerumunan siswa yang lainnya.
๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป
Rosa berlari dengan cepatnya sambil sesekali memastikan Bobby agar tidak mengejarnya dan akhirnya
ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย "Braaaaak"
Rosa menabrak seseorang yang ternyata Rizal yang baru keluar dari kelas. "Maaf," kata Rosa membereskan bukunya dengan terburu-buru sambil sesekali menoleh ke belakang memastikan Bobby tak mengikutinya, dia tak menyadari kalau yang di tabraknya adalah Rizal.
"Gak papa kok," ujar Rizal membantu membereskan buku Rosa. "Loh Rosa?" ujarnya lagi ketika sadar Rosa yang menabraknya.
"Udah dua kali loh nabrak Kakak gini," Candanya tersenyum jahil. "Rosa gak sengaja Kak," lirih Rosa pelan menundukkan kepalanya.
"Cari siapa? Sepertinya terburu-buru," ucap Rizal. Rosa menggeleng. "Rosa cari Rian Kak, mau pulang," ujarnya berdiri setelah selesai membereskan bukunya.
Baru akan melangkah, Rosa melihat Bobby yang masih mencarinya. "Bobby," gumam Rosa lirih tanpa sadar mencengkram erat lengan Rizal.
Dia bersembunyi di belakang Rizal seraya minta perlindungan ketika melihat Bobby mendekat.
Cengkramannya pada Rizal semakin erat ketika Bobby semakin mendekat dan semakin menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh Rizal, nafasnya mulai memburu karna ketakutan. Rizal mulai paham keadaannya.
"Elo ngindari Bobby?" tanya Rizal. Rosa mengangguk menundukkan kepalanya. "Rosa takut kak," ujarnya pelan, suaranya mulai bergetar.
"Dia tadi mencoba melakukannya lagi," sambungnya menatap Rizal. Matanya mulai berkaca-kaca. "Temenin Rosa cari Rian Kak yach, Rosa bener takut," sambungnya lagi memegang kedua lengan Rizal.
Rizal balik menatap mata Rosa. "Rosa, klo liat elo gini, apalagi dengan pandangan mata memohon gitu, bener-bener buat gue gak tega," gumamnya dalam hati menatap Rosa.
"Pulang sama Kakak yach, Kakak anter sampe rumah," katanya.
__ADS_1
Rosa mengangguk. "Makasih Kak." Kata Rosa.
"Gak usah makasih, makasih gitu, kakak gak suka," ucap Rizal mengacak rambut Rosa. Rosa menatap Rizal bingung mengerutkan dahinya sambil mengerjapkan matanya pelan.
Rizal tertawa. "Elo gemesin tau gak," katanya. Rosa cemberut. "Kakak kan udah pernah bilang, Kakak akan slaluย jadi bulan untuk elo, slalu jadi tempat kembali untuk elo," tutur Rizal menatap Rosa. Rosa menemukan kesungguhan di mata lelaki itu.
"Kita pulang sekarang yuk," ucap Rizal menggenggam tangan Rosa. Rosa menatap Rizal mengerjapkan matanya. Rizal tersenyum mengacak gemas rambut Rosa. Rosa membalas genggaman tangan Rizal.
"Rian kemana sich? Biasanya Rosa suka pulang sama Rian, ini malah ngilang gak tau kemana, bener-bener jailangkung tuch anak," cerocos Rosa tanpa titik koma. Rizal tertawa melihat kelakuan Rosa dan mengacak gemas rambutnya. "Kenapa harus Rian?" tanyanya.
"Karna cuma Rian yang slalu ada untuk Rosa dan ngerti Rosa, Rian itu bagi Rosa seperti paranormal," jelas Rosa. "Kok bisa?" tanya Rizal.
"Karna dia itu bisa ngerti apa yang ada di hati Rosa walau Rosa hanya menatapnya," jelas Rosa menatap Rizal. "Oh ya? Berarti Rian hebat donk," ujar Rizal. Rosa mengedikkan bahu. "Iya Rian itu peka banget, bahkan dengan yang lain, gak kaya' Rosa saking gak pekanya ada cowok yang suka Rosa aja Rosa gak nyadar " cerocos Rosa tanpa titik koma.
Rizal terdiam menatap Rosa dengan takjub. "Rosa, elo gini bener-bener gemesin," gumamnya masih menatap Rosa yang bercerita dan terus cerita. "Kak, Kakak kenapa?" tanya Rosa menatap Rizal yang terpaku dan menggoyangkan lengan Rizal yang membuat Rizal tersentak kaget. "Gak papa kok," ujarnya. "Yuk pulang," sambungnya dan kembali menggenggam tangan gadis itu. Rosa pun membalasnya.
๐๐๐๐๐
Baru akan melangkah. "Apa-apaan ini? Lepas!!Lepas!!!" teriak Ilona melepaskan tangan Rizal dan Rosa. Mereka kaget. "Elo juga Sa, ganjen banget jadi cewek, setiap cowok mau elo embat," sindir Ilona mendorong Rosa.
Melihat Rosa seperti itu, Rizal langsung memeluk Rosa dari belakang. "Rosa tenang, ayo tenang, tarik nafas dan hembuskan," bisiknya. Rosa mulai melunak. Nafasnya kembali tenang. "Elo gak mau kan nanti klo Ilona masuk rumah sakit?" bisik Rozal. Rosa mengangguk.
Rizal semakin erat memeluk Rosa. "Kita pulang," ujar Rizal menatap Rosa dan membingkai wajahnya. Rosa terdiam menatap Rizal. Rizal tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Kak, kenapa Rosa yang dibela sich? Kan gue yang babak belur?" tanya Ilona merangkul lengan Rizal. "Lepasin gue, Rosa juga gak akan jadi gini klo gak elo yang mulai, dia jadi seperti ini karna membela diri," tegas Rizal menepiskan tangan Ilona.
"Tapi Kak," belum selesai Ilona bicara. "Denger gue, jangan pernah ganggu Rosa lagi karna gue sudah jadi milik Rosa," bisik Rizal mencondongkan wajahnya ketelinga Ilona.
"Maksud Kakak?" tanya Ilona bingung. "Rosa pacar gue, sampe gue liat elo atau yang lainnya berusaha nyakitin Rosa, akan berurusan dengan gue bukan dengan Rian saja, cam kan itu," tegas Rizal menunjuk kening Ilona.
"Gak mungkin," kata Ilona. "Yuk Sa, kita pulang," ucap Rizal menggenggam tangan Rosa.
Rosa menatap Rizal. "Kak Rizal bilang gue pacar dia? Sama seperti dia bilang ke Tere? Emang kami pacaran? Bukankkah dia gak pernah nembak gue?" gumamnya.
"Ada apa?" kata Rizal menatap Rosa yang sedang menatapnya. Rosa menggeleng. "Yuk pulang," ajak Rizal menggenggam tangan Rosa dan di balas oleh Rosa.
__ADS_1
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Rian yang penasaran dengan keramaian mendekati. "Ada apa sich?" tanyanya pada salah satu siswa. Salah satu siswa menceritakan bahwa Rosa dan Ilona berantem. Rian mendengar itu langsung meyeruak ke kerumunan. "Ciye, ciye, ciye, pegangan tangan," canda Rian.
Rosa reflek langsung melepaskan genggaman tangannya karna salah tingkah. "Elo itu kemana aja sich? Elo mau tahu? Gue hampir celaka tadi, gara-gara Bobby, untung ada Kak Rizal yang bantu gue," gerutu Rosa menatap Rian dan menoyor kepalnya.
"Gue tadi ke toilet Sa, emang kenapa?" tanya Rosa. Rosa menceritakan kejadian sepulang sekolah tadi.
Rian terbelalak. "Bobby ganggu elo lagi," katanya. Rosa mengangguk. "Untung ada Kak Rizal tadi yang bantuan gue," ujarnya. "Bener-bener kelewatan tuch anak," maki Rian mengepalkan tangannya ke atas.
"Sudahlah, yang penting gue selamat," tutur Rosa. "Pulang yuk, gue Laper," sambungnya.
"Elo ngajak kami pulang atau ngajak Kak Rizal?" canda Rianย tersenyum nakal. Rosa mendelik dan menoyor kepala Rian mendahului langkah mereka. Rian pun tertawa.
"Pulang dengan Kak Rizal ya, gue mau nemenin Kak Mimi," tawar Rian. Rosa mengangguk.
"Yuk Sa, mau makan dulu atau langsung
ng pulang?" Kata rizal. "Pulang aja Kak, tar Mama nyari'in," ujar Rosa. Merekapun akhirnya pulang.
Di perjalanan menuju halte. "Gue denger-denger Rosa tadi berantem yach Kak?" tanya Rian. "Iya Yan, habis babak belur Ilona karna ulah Rosa," jelas Rizal.
"Tapi kaya'nya biasa aja tuch," ucap Rian menatap Rosa. "Untung Kakak inget kata elo, klo Rosa sedang seperti itu hanya bisa ditenangkan dengan pelukan," jelas Rizal menatap Rosa dari kejauhan.
"Dan Kakak berhasil?" tanya Rian. Rizal mengangguk. "Walau sebenarnya pertamanya sulit karena ternyata tenaga dia kuat juga ketika berantem," jelasnya.
"Berarti kakak udah deket dihatinya," ucap Rian. " Wah hebat elo Zal, dalam waktu dekat bisa mengambil hatinya," ucap Mimi merangkul bahu Rizal.
"Yang bener Mi? Tapi kenapa dia akhir-akhir ini sepertinya menghindari gue?" tanya Rizal. "Karna dia takut rasanya semakin besar pada Kakak yang membuat dia sakit hati dan setau dia Kakak kan udah punya cewek yang di cintai," jelas Rian.
"Bukannya Kakak sering bilang klo Kakak sayang dia? Itu gak cukup ya?" tanya Rizal. "Klo bilang sayang, gue juga sering bilang sayang ke dia Kak, Rosa menganggap Kakak sayang dia sama seperti sayang gue ke dia, makanya dia takut untuk melanjutkan perasaannya, takut cintanya bertepuk sebelah tangan," jelas Rian.
"Lama banget sich jalannya, ngomongin apa sich?" tanya Rosa mendekati Rian dan yang lainnya. "Mau tau aja, yuk kita pulang," ajak Rian merangkul bahu Rosa. Akhirnya mereka mempercepat langkahnya ke halte bis untuk menunggu taksi.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
__ADS_1
Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, โฅ๏ธ, โญ, vote dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all ๐๐๐.