
Hubungan Rosa dan Rizal semakin dekat, begitupun Vivi dan Rian, cinta mereka berdua pun semakin bersemi tapi mash lebih memilih untuk memendamnya karna masing-masing takut dengan kehilangan.
Suatu pagi, Rizal menjemput Rosa sekolah. "Rosa udah pergi Ma?" tanyanya mencium punggung tangan Linda. "Ada, emang ditunggu kaya'nya nak," ucap Linda. "Rosa, Rizal jemput nak," teriaknya.
Rosapun buru keluar dan pamit dengan Rizal. "De', jadi gak ikut ke depan," teriaknya. "Iya Kak, bentar," teriak Sinta dan Dirga buru-buru kemudian mereka pergi.
Di tengah perjalanan. "Nunggu Rian Vi?" tanya Rosa membuka kaca mobil. "Iya Sa, paling bentar lagi nyampe kok," ujar Vivi.
"Ikut kami aja yuk, ntar klo ketemu Rian diajak sekalian," ajak Rosa. "Emang mobil muat?" tanya Vivi melongokkan kepalanya ke dalam mobil.
"Kan Dirga dengan Sinta cuma sampe depan? Lah sekolahnya deket sini kok," ujar Rosa. "Gk usah Sa, biar gue nunggu Rian aja," ujar Vivi.
"Tau, tau, jalan berdua kan lebih romantis daripada naik mobil," ledek Rizal. "Kak Rizal apaan sich, perasaan ngeledek terus dari kemaren," gerutu Vivi memukul pelan lengan Rizal. Rizal hanya terbahak.
"Tuch, bener kan, Rian dateng," ujar Vivi menunjuk Rian yang akan kesini. "Yakin nich gak mau ikut?" tanya Rosa. "Iya Rosa cantik, gue jalan sama Rian aja, lagian masih pagi kok, cukuplah waktunya kalo jalan," ujar Vivi.
"Alah, bilang aja gak mau diganggu, mo kasmaran dengan Rian," ledek Rizal. "Kaaaak Rizal!!!" teriak Vivi. "Nyebelin ich," gerutunya.
Rizal semakin terbahak dan akhirnya merekapun pergi mendahului Vivi dan Rian dengan mobilnya.
π»π»π»π»π»
Di sore yang cerah, Rian, Vivi dan Rosa sedang menunggu Rizal menjemput Rosa."Kak Rizal belum datang Sa?" tanya Rian mendekati Rosa. Rosa menggeleng.
"Yach udah, kita tunggu Kak Rizal," ujar Rian duduk disamping Rosa, diikuti oleh Vivi.
"Ciyeee, yang tambah lengket, kaya'nya bentar lagi kita dapet traktiran nich Ret," ledek Yoga ngelirik Rian dan Vivi. "Apaan sich elo, dasar tukang gosip," gerutu Rian menoyor Yoga yang akhirnya membuat Yoga tertawa menggelegar.
"Gue ke toilet dulu," ujar Rosa. "Ikut Sa," ujar Vivi mengiringi Rosa. Merekapun ke toilet.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, dua pasang mata mengintai mereka. "Ayo, kita jalankan aksi kita, mumpung Rian di depan dan Rizal belum menjemput," bisik Bobby menarik tangan Firman. Firmanpun mengiringi langkah Bobby.
Ketika Vivi bsru keluar dari toilet, tiba-tiba dia dibekap dari belakang dan dibawa paksa ke belakang gedung, Retno yang mengetahui kejadian itu langsung berlari menemui Rian minta pertolongan dan diapun tau kalo Rizal baru saja sampai untuk menjemput Rosa.
"Yan, buruan, tolong Vivi," ujarnya panik menarik tangan Rian. "Kenapa Vivi?" selidik Rian.
"Gak sempet cerita, buruan ikut gue, ntar gue cari bantuan," ujar Retno menarik tangan Rian. Rian pun mengiringi Retno pergi ke belakang gedung.
Matanya langsung tertuju ke arah dimana Rosa yang sedang dilecehkan Bobby dan Vivi yang sedang dilecehkan oleh Firman.
Mata Rizal memerah tanda dia benar-benar marah, tangannya mengepal erat hingga buku kukunya memutih ketika melihat gadis yang dicintainya disakiti.
"Lepasin gue Bob, gue mohon," isak Rosa yang berusaha melepaskan diri dari Bobby. "Lepasin Rosa!!!" teriak Rizal memukul tengkuk Bobby yang membuat Bobby jatuh terjengkang.
"Gak akan gue biarin elo nyakitin Rosa," murka Rizal memukul Bobby bertubi-tubi, Bobby berlari disaat melihat banyak orang dan satpam menuju kearah mereka.
"Ara gak papa Ay?" tanya Rizal membingkai wajah Rosa yang sudah banjir air mata dan menghapusnya dengan kedua jempolnya. Rosa hanya menggeleng sambil terisak.
"Yang tenang yach, Mas akan slalu jadi pelindung Ara," bisik Rizal memeluk Rosa.
Berlainan dengan Rian, diapun memukul Firman hingga Firman kewalahan. Firman yang panik karna sudah dikelilingi oleh orang akhirnya mengeluarkan pisau dan menusuk Rian.
Rian yang tak siap menjadi limbung yang membuat Vivi berteriak histeris karna melihat kejadian itu sehingga Firman pun dapat melarikan diri.
"Riaaaan!!!! Tidaaaak!!!" teriaknya histeris memeluk Rian yang sudah berlumuran darah.
"Elo gak papa Vi?" lirih Rian yang sedang terbaring lemah sambil memegangi perutnya yang mengeluarkan darah karna tusukan pisau Firman.
"Rian Mas, ayo kita bawa kerumah sakit," ujar Rosa panik ketika melihat saudara sesusuannya emah tak berdaya. "Iya, Mas siapin mobil dulu," ujar Rizal. "Pak, tolong bawa Rian ke mobil saya," sambungnya pada satpam yang telah datang. Merekapun kerumah sakit.
__ADS_1
πππππ
Diperjalanan. "Yan, elo harus kuat, elo gak boleh ninggalin gue, bertahan Yan," isak Vivi membelai kepala Rian yang berada dipangkuannya. "Vi, gak jangan nangis, gue lega elo gak papa, percaya gue, gue gak papa," ujar Rian lemah berusaha menggapai pipi Vivi untuk menghapus air mata gadis yang dia cintai dalam diam tersebut.
"Iya, elo harus kuat, gue gak mau kehilangan elo, elo bertahan yach," isak Vivi menggenggam tangan Rian yang berada dipipinya. Rian memejamkan matanya menahan sakit diperutnya.
"Kak, buruan Kak, kasian Rian," isaknya panik. "Iya Vi, sabar yach, ini juga udah cepet, lagi macet" ujar Rizal.
"Biar Ara coba minta tolong orang buat kasih jalan," ujar Rosa membuka kaca mobil.
"Minta tolong donk minta jalan, ada orang sekarat di mobil mau ke rumah sakit," teriaknya.
"Iya, bener, darahnya banyak keluar," teriak salah satu warga yang mengintip dari kaca yang pada akhirnya merekapun memberikan jalan.
"Pinter, pacar Mas ini, Mas aja gak kefikiran melakukan hal itu," ucapnya menepuk pucuk kepala Rosa. Rosa hanya tersenyum menatap Rizal. Rizal menemukan kecemasan yang sangat dalam di mata gadisnya yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Yang sabar yach Ay, kita berdoa, Mas tau apa y Ara rasakan sekarang." ujar Rizal menggenggam tangan Rosa karna dia tau kepanikan Rosa pada Rian. Rosa hanya tertunduk dan mulai terisak. Rizalpun menambah kecepatan mobilnya ke rumah sakit.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Setelah hampir setengah jam diperiksa. "Rian operasi, perutnya robek besar," bisik Rizal. Mata Rosa membulat sempurna. "Tapi gak papa kan?" suaranya bergetar, terdapat lautan air mata di pelupuk matanya yang sebentar lagi akan tumpah.
Melihat semua itu Rizal pun memeluk Rosa yang membuat tangis Rosa pecah. "Ara gak mau kehilangan Rian Mas," isak Rosa. "Mas yakin kok, Rian kuat, kita berdoa yach, semoga Rian baik-baik saja," bisik Rizal membalas pelukan Rosa dan membelai rambut gadisnya itu.
"Kasian Vivi, pasti dia merasa bersalah dalam hal ini, sepertinya dia benar-benar merasa bersalah," lirih Rosa menatap Vivi yang sedang tertidur di pundak Retno.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, β₯οΈ, β, vote dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all πππ.
__ADS_1