Kekuatan Cinta Sejati Yang Tulus

Kekuatan Cinta Sejati Yang Tulus
Bab 58 Sweet Seventeen Part 2


__ADS_3

Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya kalo ceritanya membosankan dan typo bertebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, dan tekan bintang lima, jangan lupa gift dan follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all 😘😘😘.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Hari berganti tanpa terasa sudah empat hari Rosa dan temannya di Surabaya, ketika sedang asyik menghitung nasi mau makan siang Rosa dipanggil ke pengeras suara. "Nama elo dipanggil Sa, kenapa?" Kata Andre. "Gak tau Ndre, gue kesana," ujar Rosa berlari kecil menuju arah pengeras suara.


Dia terkejut ketika melihat Arya." Loh Papa? Kenapa kesini? Kapan pulang? Bukannya Papa diluar kota?" ujar Rosa mencium punggung tangan Arya. "Ikut Papa yuk, Papa udah izin kok sama sekolah," ajak Arya yang berencana mengurus KTP.


"Kita mau kemana?" tanya Rosa. Arya cuma tersenyum mengacak rambut anak gadisnya. "Ini kantor apa Pa? Ngapain kita kesini?" tanya Rosa menatap sekeliling ketika mereka sampai dikantor tempat buat KTP.


"Kita buat KTP karna anak Papa sekarang udah besar 17 tahun wajib punyaΒ  KTP," jelas Arya mengacak rambut Rosa.


🌷🌷🌷🌷🌷


Ketika semua sudah masuk ke mobil mau pulang ke hotel, Rian tiba-tiba menarik tangan Rosa. "Sa, kak Rizal ayo cepet sini," ujar Rian tiba-tiba menarik tangan Rosa.


"Kenapa dengan Mas Angga?"tanya Rosa. "Ayo sini cepet," ujar Rian panik menarik tangan Rosa ke ruang panitia yang membuat Rosa tambah panik.


Andre dan Sofi yang baru turun karena dompet Andre tinggal melihat kejadian itu akhirnya mengikuti mereka karena takut terjadi apa-apa tapi langkahnya terhenti ketika melihat Retno dan Yoga menyiapkan kue ulang tahun.


"Rosa hari ini ulang tahun?" tanya Andre menatap Sofi. Sofi mengangkat bahu. "Mas Angga, bangun Mas," ujar Rosa panik memukul pipi Rizal melihat lelaki yang dicintainya terbaring tak berdaya.


"Yan, kenapa Mas Angga? Ayo kita bawa ke rumah sakit, ayo Yan," ujar Rosa menarik tangan Rian. "Maaaas bangun, jangan tinggalin Ara," isak Rosa mengguncang bahu Rizal, air matanya deras mengalir dari sudut matanya yang indah.


"Ayo Yan, kok diem aja? Kita bawa Mas Angga ke rumah sakit,"isaknya menarik tangan Rian kuat-kuat. Sofi dan Andre berpandangan.


"Kak Rizal bener-bener berarti bagiΒ  Rosa Fi, segitu paniknya dia liat Kak Rizal seperti itu, padahal itu cuma pura-pura aja," ujar Andre melihat Rian memberi isyarat agar Vivi, Gavin, Untari Retno dan Yoga masuk.


Tiba-tiba "Selamat ulang tahun kami ucapkan," nyanyi Vivi dan lainnya bersamaan sambil membawa kue ultah beserta lilinnya. Sofi dan Andre berpandangan dari kejauhan. Rosa kaget dan menghapus air matanya kemudian berdiri.


Rizal pun bangun. "Selamat ulang tahun Sweety," bisik Rizal merangkul Rosa dari belakang dan memberi sebuah kado. "MasΒ  Anggaaaaa, iiih nyebelin banget," rengek Rosa memukul dada Rizal.


"Ayo ditiup lilinnya Sa,"ujar Retno. "Iya, ntar lilinnya habis," sambung Yoga. Rosa pun meniup lilin. "Becandanya gak asyik ah," rajuk Rosa cemberut menatap Rizal.


Rizal tersenyum mengecup lembut bibir Rosa. "Maaas, kebiasaan ih, gak malu apa diliat orang?" cerocos Rosa melepaskan kecupan Rizal. "Anggap aja mereka gak liat Ay," goda Rizal.


"Gak liat??? mereka semua punya mata tau, kebiasaan suka gak tau sikon," gerutu Rosa. "Mulai tuch klo sudah berdua, lupa sama yang lain, yang lain pada ngontrak," ledek Vivi.

__ADS_1


"Iya ih, Mas Angga emang suka gitu, kebiasaan," gerutu Rosa. "Salah sendiri jadi orang kokΒ  gemesin," ujar Rizal menatap sayang gadisnya yang masih dalam pelukannya.


"Jangan gitu lagi ah Mas, kalo Ara yang jantungan terus pingsan gimana coba?" ujar Rosa menatap Rizal yang masih memeluknya. "Kak Rizal kan ada? Bukannya elo kalo pingsan obatnya cuma Kak Rizal," canda Yoga.


"Panik banget kaya'nya Sa liat Kak Rizal kaya' tadi, sayang banget ya sama Kak Rizal?" ledek Rian merangkul rosa. "Pasti ini ide elo kan? Elo itu biasanya slalu buat kaya' gini hampir tiap tahun, ayo ngaku," gerutu Rosa menatap Rian yang sedang merangkulnya sambil menunjuknya.


Rian tertawa. "Iya, gue suka liat elo panik tadi, gue hampir aja ketawa, gue lupa ngerekam tadi, coba bawa handycam," ujar Rian. "Apalagi Kakak tadi, Rosa kuat banget guncang bahu, mana air matanya netes lagi di pipi Kakak, untung bisa Kakak tahan tawanya," ujar Rizal.


"Makanya gue suruh Vivi masuk cepet-cepet tadi, takutnya gue gak bisa menahan tawa, kacau semuanya," ujar Rian. Semua tertawa.


"Elo Sa, digituin hampir tiap tahun, tapi gak hapal-hapal," ujar Retno. "Ya gak kepikiran lah Ret, gak ada kejadian apa-apa aja gue lupa kalo hari ini ultah, apalagi dibuat gitu, ya tambah gak kefikiran, gue panik," ujar Rosa.


"Dibuka Sa kadonya, gue penasaran, besar banget kotaknya," ujar Vivi. Rosa pun membukanya. Rosa terbelalak, kedua tangannya menutup mulutnya yang sedang terbuka ketika membuka kado yang diberikan Rizal.


"Mas Angga, kotak musiknya bagus banget," teriaknya melonjak kegirangan memegang kedua tangan Rizal dan menatap Rizal, terlihat binar dimatanya. Rizal tersenyum. "Ara suka?" ujarnya mencium kening Rosa.


"Suka banget, makasih Mas, kok bisa tau Ara mau beli kotak musik kaya' gini?" ujar Rosa memeluk Rizal erat. "Oh ya? Kebetulan kali, Mas gak tau loh kalo Ara sedang ngincer kotak musik ini," ujar Rizal mencium pucuk kepala Rosa yang berada dipelukkannya.


"Oh ya? Kok bisa?" ujar Rosa. "Berarti kalian berdua itu sehati," ujar Gavin.


"Ini ceritanya kemaren itu bingung mau cari kado untuk elo apa, kebetulan liat kotak musik itu, jadinya dibeli sama Kak Rizal," ujar Rian. "Beli kotak musik itu juga karna ada yang spesial kok," ujar Rizal.


"Berarti sama seperti arti ini donk," ujar Rosa menunjukkan aquarium yang diberi Rizal beberapa tahun yang lalu. "Anak pinter," ujar Rizal menepuk pucuk kepala Rosa pelan.


Sofi dan Andre berpandangan. "Kak Rizal bener-bener ngerti Rosa Ndre," ujar Sofi. "Jangan suka kaya' tadi Mas, Ara gak suka," rajuk Rosa menatap manja Rizal.


Rizal tersenyum merangkul Rosa. "Ara panik banget tadi kaya'nya," godanya mengacak rambut Rosa. "Ya iyalah Mas, Mas itu sgala-galanya bagi Ara, Ara gak mau kehilangan Mas dan gak akan pernah bisa," lirih Rosa menatap rizal.


Rizal tersenyum mengacak rambut Rosa. "Mas juga Ay, Ara segala-galanya bagi Mas, jaga hati untuk Mas yach," ujar Rizal menatap Rosa menunjuk dadanya. "Rosa janji Mas," ujar Rosa menatap Rizal.


"Kuenya di makan dong, gue laper," celetuk Yoga. "Alah Ga, elo itu emang dari dulu makan itulah yang nomor satu," ledek Untari. Akhirnya merekapun tertawa.


Rizal pun keluar mau pinjam pisau dengan ibu kantin. "Loh kalian? Udah lama disini? Kok gak ikutan ke dalem tadi?" sapa Rizal baru sadar kalo ada Sofi dan Andre. "Nanti ganggu acara kalian, kami balik lagi ada yang tinggal," balas Andre mengambil dompet dia yang tertinggal di ruang panitia.


"Kami balik ya, bis nunggu lama nanti,yuk Fi," ajak Andre menarik tangan Sofi. "Hei tunggu dulu, bawa kuenya," teriak Rosa. "Besok aja, tinggalin kami, bis nunggu lama," teriak Sofi melambaikan tangannya.


🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


"Gue baru tau kalo Rosa hari ini ulang tahun," ujar Andre. "Iya, gue juga, Rosa gak pernah cerita" balas Sofi. "Pantes Rosa sayang banget dengan kak Rizal, Kak Rizal bener-bener ngerti apa yang Rosa mau tanpa Rosa sadari," ujar Andre.


"Iya, gue baru ngerti kenapa Rosa bisa sayang banget dengan Kak Rizal, Rosa beruntung dapet Kak Rizal, andai ada cowok yang bisa ngerti gue kaya Kak Rizal ngerti Rosa," ujar Sofi.


"Ada," ujar Andre menatap Sofi. "Siapa?" tanya Sofi. "Gue," goda Andre tertawa mengacak rambut Sofi karena memang sebenarnya dia sudah mulai mencintai Sofi tapi belum berani mengungkapkannya.


"Ach elo Ndre, becandanya gak lucu tau," gerutu Sofi memukul ringan bahu Andre. 'Andai itu bener terjadi Ndre, gue seneng banget,' gumamnya dalam hati menatap Andre karena dia sudah lama mencintai Andre.


"Kenapa liatin gue gitu? Suka ya sama gue?" goda Andre menatap balik Sofi, dia menemukan tatapan penuh cinta di mata gadis itu untuknya. "Apaan sich elo," lirih Sofi memukul ringan lengan Andre dan menundukkan kepalanya karena salah tingkah. Wajahnya bersemu merah.


Andre tertawa mengacak rambut Sofi. 'Sepertinya cinta gue kali ini tidak bertepuk sebelah tangan,' gumamnya. "Kenapa liatin gue gitu," ujar Sofi tambah salah tingkah.


Andre hanya mengedikan bahunya. "Yuk kita ke bis," ajaknya menggenggam tangan Sofi. Sofi mematung menatap Andre yang menggenggam tangannya. 'Andre menggenggam tangan gue, kenapa gue jadi deg-degan gini,' gumamnya dalam hati.


"Ayo, kok malah bengong," ajak Andre semakin erat menggenggam tangan Sofi. Akhirnya Sofipun membalas genggaman tangan Andre kemudian mereka kembali ke bis.


Tanpa mereka sadari dari dalam bis Rita menatap mereka dengan tak suka. 'Sialan, ternyata bener yang dibilang Andre, Sofi dan dia sekarang pacaran, tambah gue gak bisa mendaptkan hatinya lagi,' gumam Rita sebal.


🌱🌱🌱🌱🌱


Sekembalinya Rizal dari mengambil pisau, diapun memberi pisau dengan Rosa. Rosa memotong kue ultahnya dan menyuapi rizal. Rianpun mengabadikan semuanya dalam potret milik Rizal. "Makasih Ay," ujar Rizal mencium kening Rosa. Rizal pun mengambil sisa potongan kue Rosa menyuapi Rosa.


"Makasih Mas," ujarnya menjatuhkan kepalanya dipundak Rizal. "Ciye,ciyee, romantis niye," ledek Sofi. Rosa hanya mencibir.


"Ara mau ninggalin untuk Sofi, Andre, Fatur, Nurul dan Siti Mas,"katanya menatap Rizal."Ya terserah Ara Ay," ujar Rizal mengacak rambut Rosa.


Rosa pun memotong sebagian untuk mereka. "Anter sekarang ya ke hotel," ujar Rosa menatap Rizal dengan pandangan memelas.


"Ara, slalu aja gitu," ujar Rizal mengacak rambut rosa karna dia bener-bener luluh kalo Rosa sudah menatap dengan pandangan seperti itu dan Rosa tau itu.


"Gak besok aja Sa?udah sore," ujar Rian.


"Maunya sekarang, ayo," rengek Rosa menarik tangan Rizal masih dengan tatapan mata yang memelas.


"Kelakuannya Yan, slalu gitu pake kelemahan Kakak dari matanya," ujar Rizal. Rian tertawa."Kita pulang aja Kak, udah sore juga,"katanya.


"Kita beres-beres dulu," ujar Rizal mengacak gemas rambut Rosa. Setelah beres-beres merekapun pulang dan Rizal pun mengantar Rosa ke hotel untuk mengantar kue kemudian mereka pulang.

__ADS_1


Bersambung


Β 


__ADS_2