Kekuatan Cinta Sejati Yang Tulus

Kekuatan Cinta Sejati Yang Tulus
Bab 32 Sebuah Kalung


__ADS_3

Hari berganti hari bulan pun berlalu tak terasa tabungan Rosa sudah cukup untuk beli kalung. Selama ini dia sangat menginginkan sebuah kalung yang berukirkan namanya daHari berganti hari bulan pun berlalu tak terasa tabungan menyisihkan uang sakunya untuk membeli kalung tersebut, ketika pulang sekolah, Rosa mengambil uang tabungan tersebut karna dia berencana sepulang sekolah ini mau ke toko perhiasan.


"Mana Rosa? Kok lom keluar?" tanya Rizal melihat Rian nunggu di parkiran. "Lagi ngantri Kak, dia mau ngambil tabungannya, ini gue nunggu dia, dia minta temenin ke toko perhiasan," ujar Rian.


"Mau beli apa?" ucap Rizal. "Mau beli kalung Kak, kata Vivi, Rosa lagi ngincer seperangkat perhiasan cincin dan gelang pangkal namanya yang adaย  di toko pas di mall kemaren, rencananya dia mau beli kalung tapi karna uangnya gak cukup untuk beli kalung, dia nabung lagi, sekarang mungkin baru cukup, dia slalu mengajak lewat memutar cuma ingin liat kalung y dileher patung untuk memastikan apakah kalung itu sudah laku apa blm selama hampir enam bulan ini," jelas Rian.


"Dia gak cerita ke Kakak," ujar Rizal duduk disamping Rian.


"Yah kakak, kaya' gak tau Rosa aja, Rosa itu klo punya keinginan pasti gak akan pernah cerita, Rosa juga gak pernah cerita kalo dia mau beli sesuatu, tapi kami berdua tau kok dari gerak gerik dia ketika melihat barang tersebut, matanya lain Kak," ujar Rian.


Rosa sebenernya bukan tidak punya keinginan seperti cewek pada umumnya, dia jg pengen pakai kalung, cincin yang lagi ngetren dipake cewek-cewek sekarang tapi dia lebih memilih diam dan berusaha untuk menabung lebih giat untuk mendapatkan itu, apalagi melihat cewek disekolah memakai gelang ukiran nama mereka, gue tau rosa menginginkan itu semua,dari sorot matanya pun gue bisa menangkap itu," sambungnya.


"Apalagi klo sampe dia ngomng "pasti gelang yang kaya' gitu mahal yach Yan" tapi matanya gak berkedip menatap gelang yang dipake oleh cewek disekolah, Papa kemaren mau nambah uang jajan Rosa karna dia tau Rosa mau menginginkn kalung itu,tapi Rosa menolakny dan dia berbohong dengan papa klo dia gak menginginkan apa-apa, Rosa klo ngomong asal ceplos sambil bercanda dan tertawa lepas biasanya itu keinginan dia yang terpendam kak," sambungnya lagi.


"Maksudnya?" tanya Rizal. "Rosa itu suka ngomong sendri, kalo dia sedang jalan ke mall pengen sepatu, dia suka ngomong sendri, kapan ya gue punya sepatu seperti ini, berarti dia pengen beli sepatu itu," ujar Rian.


"Ketika jalan sama Vivi dia melihat kalung yang terpajang dipatung, dia slalu nyeletuk, bagus kalung itu ya Vi, coba matanya huruf R pasti lebih bagus, apalagi kalo huruf R nya diukir menyatu dengan kalung, pasti lebih bagus lagi,"ย  sambungnya.


"Iya Kak, pernah pas gue jalan sama Rosa, dia beli kotak perhiasan kosong, pas gue becandain, beli itu isinya bukan kotakny, dia menjawab, iya nanti gue isi dengan kalung berpangkal huruf nama gue, katanya sambil tertawa lepas, dari situ gue tau klo dia sedang menginginkan kalung karna sekarang dia slalu bawa bekal ke sekolah," ucap Vivi.


"Gue tau banget Rosa Kak, kalo dia sudah bawa bekal dari rumah, pasti dia ada keinginan mau beli sesuatu krn dia akan menabungkan semua uang jajan di koperasi sekolah dan disaat ngumpul uang untuk dapatkan barang tersebut pasti ada aja tercetus dr mulutnya menyebutkn barang yang akan dia beli sambil bercanda tertawa lepas," ucap Rian.


"Pernah suatu waktu, gue minta temenin dia beli cincin untuk Vivi, ada anting berpangkal nama R, gue denger dia menanyakannya, gak tauny harganya mahal, membuat dia mengurungkan niat untuk membelinya, Rosa bener menginginkan seperangkat perhiasan yang berpangkal nama dia kak," ujar Rian. "Berarti Kakak bener-bener belum ngerti Rosa" lirih Rizal pelan. "Biasa seperti itu Kak, seiring wktu pasti nanti Kakak bisa ngerti," ucap Rian merangkul bahu Rizal.


"Kelamaan Yan? Tadi ngantri dulu, yuk berangkat," ajak Rosa yanh tidak menyadari kalo ada Rizal. "Gak dianter Kak Rizal aja Sa? Kak Rizal bawa sopir loh," ujar Rian.


"Loh ada Mas Angga? Ara kira udah pulang duluan," ujar Rosa duduk di samping Rosa.


"Emang Ara mau kmn?" tanya Rizal menatap Rosa. "Iya Sa? Elo mau pergi sama Kak Rizal?" tanya Rian.


"Terserah, kalo gak ganggu Mas Angga," ujar Rosa menatap Rizal. "Ya gak lah Ai, Mas kesini kan memang mau jemput Ara," ujar Rizal.


"Kalo gitu gue pulang ya," ujar Rian mengacak rambut Rosa. Rosa menganggukkan kepalanya kmudian Rizal dan Rosapun pergi. Rian dan Vivipun pulang.


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป

__ADS_1


Sesampai ditoko perhiasan, Rosa menanyakan kalung tersebut, ternyata kalung tersebut sudah terjual. Rosa bener-bener kecewa terlihat sekali kekecewaan tersirat dimatany oleh rizal. "Kenapa Ay? Kok balik lagi?" ujar Rizal setelah menyuruh sopir pulang.


"Kalungnya sudah diambil orang Mas, Ara liat sendiri tadi, Rosa cuma kalah cepat beberapa menit dari orang itu dan tadi stok kalung yang terakhir, kalo masih mau boleh dipesen lagi, tapi harganya naik dua kali lipat karna matanya diukir nama," lirih Rosa.


"Uang Ara gak cukup, cuma cukup untuk uang mukanya aja, andai kemarin Ara kesini gak menundanya hari ini, pasti kalung itu udah jadi milik Ara," lirihnya lagi menundukkan kepalanya.


Rizal bener-bener mengerti perasaan gadis itu, Rosa bener-bener kecewa.


"Kita pesen aja ya, ntar klo udah dateng barangnya, ambilnya barengย  Mas," ajak Rizal menarik tangan Rosa. tosa menarik tangan Rizal dan menggelengkan kepalanya. "Kita pulang aja, mungkin memang bukan rezeki Araa," ujarnya pelan.


"Biarlah Ara nabung lagi aja, siapa tau kalo uang tabungan Rosa cukup, kalungnya udah ada lagi," sambungnya.


'Maafin Mas yang gak ngerti Ara, andai Mas tau elo suka dengan kalung itu, pasti sudah Mas beli untuk Ara, Mas janji Ay, Mas akan mewujudkannya termasuk gelangnya dan antingny juga,' gumam Rizal dalam hati mntp rosa.


"Kita makan dulu ya," ajaknya menggenggam tangan Rosa. Rosa hanya menganggukkan kepalanya kemudian merekapun makan.


๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž


Rosa termenung ketika setelah makan sambil memainkan pipet digelas esnya. 'Berarti gue hrs nabung lg, nabung enam bulan aja baru cukup separuhnya, berarti harus nabung enam bulan lagi baru dapet separuh lagi, sthn donk jdny,lama bgt bru bs dapetin kalung itu,iya klo ada,klo hbs lg,sdhlah,mungkin memang blm rezeki gue beli kalung seperti itu,gue hrs melupakan beli kalung itu.' gumamnya dalam hati.


"Kenapa Mas?" ucapnya. "Kita pulang, kenapa? Kok bengong?" tanya Rizal. Rosa menggeleng. "Yuk pulang," ajaknya menatap Rizal dan berangkat dari duduknya.


Rizal melihat kekecewaan yang dalam tersirat dimata gadis itu. "Maafin Mas Ay," katanya. "Loh untuk apa?" tanya Rosa.


"Andai Mas tau Ara mau beli kalung itu, mungkin dari kemaren-kemaren kalung itu udah Mas beli untuk Ara," lirih Rizal pelan menggenggam tangan Rosa. "Sudahlah kak, lupakan saja, mungkin bukan rezeki Ara, Ara juga gak terlalu berharap lagi untuk beli kalung itu karna harganya terlalu mahal untuk Ara," lirih Rosa pelan.


"Yuk pulang," ajaknya menggamit lengan Rizal. Kemudian mereka pulang.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Pada suatu hari di tempat latihan. "Gimana kak? Jadi Rosa beli kalung?" tanya Rian. "Gak jd Yan," lirih Rizal pelan.


"Kok gitu?" tanya Rian. "Kalungnya udah dibeli orng, beberapa menit seblum kami datang dan Rosa melihatnya, dia bener-bener kecewa, terlihat dari matanya Yan," lirih Rizal pelan.


"Pantes Rosa murung beberapa hari ini, mungkin dia masih kepikiran kalung itu," ujat Rian."iya Yan kata yang punya toko bisa pesen lagi, pas Kakak ajak mesen dianya gak mau karna uang yang dia punya gak cukup, hanya cukup DP aja, maksud Kakak waktu itu, biar Kakak yang bayatin, tapi tetap dia gak mau, sepanjang jalan dia cuma diem aja sambil melamun, kaya'nya dia kecewa bgt," ujar Rizal.

__ADS_1


"Ya iyalah Kak, kalung itu udah lama dia incer, bahkan hampir tiap hari memastikan kalung it msh ada ap gak,gue bnr2 ngerti perasaan dia, kemaren gue dan Vivi nawarin minjemin uang sama dia biar bisa beli kalung itu, tapi dia gak mau, menurutnya "kalung tu gak terlalu penting, gak perlu sampe mau ngutang segala belinya, kalo gak dapet berarti bukan rezeki gue" kata dia bilang gitu," ujar Rian.


"Tapi Kakak udah pesen kok sepulang dari nganter dia kerimah, rencananya untuk hadiah ultah dia ntar, Mas mesen pangkal namanya dengan gelangnya," ujat Rizal. "Bukankah itu mahal Kak?" tanya Rian.


"Biarlah Yan, Mas rela kok asal Rosa bahagia, Mas gak bisa liat dia kaya' kemaren, dia bener-bener kecewa dan itu terlalu sakit untuk Kakak, lagian juga kan jadinya lama, mungkin satu bulan lebih, jadi cukuplah gue bisa ngumpulin uang dari uang jajan Kakak, paling kalo masih kurang nanti minta sama Mama," ujar Rizal.


"Kakak bener-bener sayang Rosa," ucap Rian. "Dia sgala-sgalanya bagi Kakak Yan, Mas akan berusaha buat dia bahagia bagaimanapun cranya, melihat binar dimatanya yang indah adalah kebahagian Kakak yang tak bisa digantikan oleh apapun," ujar Rizal. "Berarti gue bener gak salahย  pilih, memilih lelaki buat Rosa," ujar Rian menepuk bahu Rizal pelan.


"Lagian juga, Mama suka banget sama Rosa Yan,bener kata Mama, Rosa itu orangnya baik, santun, dan tulus, Kakak gak mau kehilangan itu semua," ujar Rizal.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Tiba saat pengambilan kalung. "Ma, minta uang donk," kata Rizal mendekati mamanya. "Untuk apa Zal? Banyak banget?" ujar Shella kaget ketika Rizal menyebutkan nominal uang yang Rizal pinta.


"Nebus kalung dan gelang untuk Rosa, Rizal mau kasih kejutan dengan dia, dia bentar lagi ultah, dia sangat menginginkan kalung itu Ma, Rizal gak bisa liat dia kecewa lagi kaya' kemarin, uang Rizal gak cukup, Mama tambahin yach," rengek Rizal.


"Kecewa gimana?" tanya Shella. Rizal pun menceritkn usaha Rosa untuk mendapatkan kalung itu. "Gak taunya pas uang tabungannya udah cukup kalungnya diambil orang, mau pesen lagi harganya udah naik, Rizal gak bisa liat Rosa kecewa gitu Ma, ya Ma tambahin uang Rizal," rengek Rizal dengan Shella.


"Iya, iya," ucap Shella mengambil uang dikamar. "Makasih Ma, Rizal sayang Mama," ujap Rizal mencium pipi Shella ketika Shella memberi sejumlah uang yanh dia pinta. "Anak Mama ini sayang banget kaya'nya sama Rosa, ntar ditinggal baru tau," canda Shella mengacak gemas poni anaknya.


"Gak lah Ma, Rosa itu sayang banget sama Rizal, gak mungkin dia ninggalin rizal, makanya Rizal akan berusaha buat dia bahagia," ucap Rizal. "Kepedean," canda Shella. "Ya iyalah, ntar Mama bisa liat sendiri besarnya rasa sayag Rosa sama Rizal," ucap Rizal kemudian pergi ngambil kalung dan gelang.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


ย ย ย ย ย ย ย  Ketika mengambil pesenan kalung dan gelang, dia bertemu dengan Rahel temen satu kelasnya yang suka dia dari pertama masuk sekolah. "Loh Rizal? Ngapain disini?" selidik Rahel. "Rahel?? Gue ngambil pesenan kalung dgn gelang, sebulan yang lalu pesen, elo sendiri?" tanya Rizal.


"Gue mau beli anting," jawab Rahel. "Makaskh Mbak," ucap Rizal mengambil pesenannya. "Loh Zal, kalung dan gelangnya bagus banget, nempa yach, huruf R lagi, sama seperti pangkal nama gue," ujar Rahel yang menyangka Rizal membelikan untuknya.


Rizal hanya tersenyum. "Gue duluan yach," ujarnya melambaikan tangannya. Tahel hanya mengangguk.


'Pasti Rizal akan ngasih kejutan ke gue,' gumam Rahel dalam hati tersenyum menatap Rizal yang mulai menjauh.


๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€


Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, โ™ฅ๏ธ, โญ, vote dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜.

__ADS_1


__ADS_2