Kekuatan Cinta Sejati Yang Tulus

Kekuatan Cinta Sejati Yang Tulus
Bab 8 Perkemahan


__ADS_3

Haripun berlalu tanpa terasa sudah satu Minggu Rosa dan teman-temannya MOS.


Di acara penutupan MOS anggota panitia OSIS mengadakan perkemahan Sabtu Minggu atau PERSAMI.


Rizal sebagai ketua OSIS menjadi sibuk menyiapkan acara demi acara untuk acara Persami.


Dan dia memilih Mimi sebagai wakil koordinatoor PERSAMI.


"Lagi sibuk Zal?" kata Mimi mendekati Rizal yang sedang menulis. "Gak juga Mi, ada apa?" kata Rizal menghentikan aktivitasnya.


"Gue minta tolong dong, Rian dan teman-temannya menjadi satu kelompok dan koordinator kelompoknya itu gue," kata Mimi.


"Beres, kaya'nya sayang banget sama ade' sampe-sampe gak mau pisah," canda Rizal.


"Bukan gitu Zal, kemaren Papa nitip Rosa sama gue, karna dia gak pernah ikutan kegiatan yang beginian, takutnya ada apa-apa ntar," kata Mimi.


"Dan gue denger tadi, Indra ngomong sama Winda klo dia mau deketin Rosa malam ini karna Indra udah suka Rosa," sambungnya.


"Elo tau sendiri Indra? Nganggap cewek itu kaya barang, klo udah bosen di tinggal dan cari yang baru? Gue gak mau Rosa diperlakukan begitu, Rosa gadis yang polos dan belum pernah pacaran-pacaran bahkan gak ngerti masalah gituan, gue gak mau dia jadi korban Indra berikutnya," sambungnya lagi.


Bisa diaturlah, klo perlu kita berdua jadi koordinatornya, itung-itung gue yang mau mengadakan pendekatan dengan dia," kata Rizal.


"Wah pinter lo cari kesempatan," canda Mimi. Rizal tertawa. "Iyalah Mi, gue bener-bener jatuh cinta sama Rosa," katanya.


"Kaya'nya elo bener-bener cinta mati dengan Rosa yach," canda Mimi.


"Iya Mi, bener kata Rian, Rosa itu gadis yang tulus, gue yakin klo dia mencintai seseorang dia akan mencintai dengan setulus hati dan gue berharap lelaki itu adalah gue," kata Rizal.


"Gue dukung elo, tapi klo elo udah dapetin hatinya, jangan sakiti dia yach, klo bener-bener terjadi gue gak tau Rian akan melakukan hal apa dengan elo," kata Mimi.


Rizal tertawa. "Beres, akan gue jaga Rosa klo dia jadi gadis gue dan gue gak akan biarin air mata keluar dari matanya," katanya merangkul Mimi.


"Yach udah, gue pulang yach, Rian dan Rosa nungguin, kaya'nya Rosa gak nyadar dech klo elo sekolah disini," kata Mimi.


"Biarin lah, kejutan untuk dia nanti sore," kata Rizal membereskan bukunya. Mimipun pulang.


🌻🌻🌻🌻🌻


Menjelang sore, mereka pun bersiap siap berangkat. Rosa dijemput oleh Mimi dan Rian."Nanti kalo di sana, jangan pergi sendirian, kemana-mana minta temenin Kak Mimi atau yang lainnya," kata Arya sambil memasukkan keperluan Rosa.


"Iya Pa," kata Rosa sambil membantu Arya menyiapkan keperluannya.


"Papa percaya kok sama kalian, Mimi kan koordinator dan panitianya, papa titip Rosa ya nak," kata Arya. "Iya Pa," kata Mimi. "Ini uang, klo Rosa ada apa-apa, Rosa baru kali ini ikut kegiatan seperti ini, takutnya nanti ada apa-apa," kata Arya memberikan uang dengan Mimi. "Iya Pa," kata Mimi menerima uang dari Arya.


"Rian, obat-obatan Rosa ada di tas, klo ada apa-apa hubungi Papa," kata Arya. "Iya Pa " kataΒ Β  Rian.


"Kami pamit dulu Pa," kata Mimi mencium punggung tangan Arya, di ikuti oleh Rian dan Rosa.


πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž


Rosa dan temannya sudah berada di sekolah, merekapun sudah mendirikan tenda.


"Tar, jangan jauh-jauh dari gue," kata Rian. "Loh kenapa?" kata Rosa.


"Tar elo diculik hantu penghuni sekolah, elo kan jelek," kata Rian. "Elo itu yach, nyebelin banget sich," teriak Rosa mengejar Rian.


Rian tertawa berlari menghindari Rosa yang mengejarnya. Tiba-tiba "braaaak" Rian terjatuh menabrak seseorang.


"Aduuuuh, maaf Kak, gue gak sengaja," kata Rian yang tau klo Rizal yang ditabrak, diapun berdiri membersihkan badannya.


Rizal hanya tersenyum. "Udah pasang tendanya?" katanya menatap Rian dan Rosa. "Udah Kak, tadi dibantu Kak Mimi," kata Rian.


Rosa tertawa. "Makanya jangan suka ganggu orang cantik," katanya mendekati Rian yang sedang berbicara dengan seseorang.


"Elo tuch yach, suka banget klo gue susah," kata Rian. Rosa hanya mencibir. "Loh Kak Rizal sekolah sini toh?" kata Rosa menatap Rizal.


"Lah elo gak tau slama ini Kak Rizal sekolah sini? Orang terkenal gini kok gak tau?" kata Rian.


"Diiih mana gue tau, lah slama ini gak pernah liat," kata Rosa.


"Yang bener Sa elo gak tau? Semua orang membicarakannya termasuk Tere sama Amel tuch, seorang Kak Rizal ketua OSIS dan kapten basket yang jago taekwondo, mereka menjadikan Kak Rizal gebetan loh," kata Rian.


"Ooh Rosa ngerti, jadi Kak Rizal yang dibilang Amel tadi itu Kakak toh," kata Rosa menatap Rizal dan mengerjapkan matanya.


Rizal tertawa melihat tingkah Rosa yang menggemaskan." Elo itu yach, bener-bener menggemaskan", katanya mengacak rambut Rosa lalu menciumnya.


"Kaaak, nyebelin ich, jangan gitulah, ini disekolah, Rosa gak mau ntar tuch penggemar-penggemar Kakak melotot," kata Rosa nyerocos tanpa titik koma.


Rizal semakin tertawa dan merangkul bahu Rosa. "Siapa suruh jadi gadis gemesin heeem," katanya mengangkat alis satu.


"Iya Sa? Amel bilang gitu? Trus elo apain?" kata Rian. "Gue diemin aja, tinggal pergi, tar gue khilaf, berantem lagi, elo tau sendiri klo gue berantem," kata Rosa. "Iya, iya, ngerti, preman komplek kan udah insyaf," canda Rian.


"Elo tuch yach, nyebelin, nyebelin, nyebelin," teriak Rosa mengacak-acak rambut Rian. "Aduh, duh, sakit tau," kata Rian menghindar. "Bodo', bodo', bodo," kata Rosa semakin mengacak-ngacak rambut Rian.


Rizal tertawa melihat kelakuan Rosa. "Kakak mau donk digitu'in," candanya. "Gak mau, ntar Rosa kualat," kata Rosa.


"Kok bisa?" kata Rizal. "Kakak kan lebih tua daripada Rosa, masa' iya Rosa mainin kepala Kakak," kta Rosa. Rizal terbahak mengacak gemas rambut Rosa.


"Elo gak ikut-ikutan kaya' mereka?" kata Rian merangkul bahu Rosa. "Maksudnya?" kata Rosa bingung. "Ya, ngambil hati Kak Rizal, biar Kak Rizal tertarik dengan loe," kata Rian.


Gak penting," kata Rosa. "Elo kan suka sama Kak Rizal?" kata Rian tersenyum nakal.


"Apaan sich elo," kata Rosa menoyor kepala Rian.


Rian tertawa. "Tapi bener kan?" Kata Rian tersenyum nakal.


"Kita itu deket dengan orang itu dari sini," kata Rosa menunjuk dada Rian. "Bukan karna ada apanya tapi apa adanya," Sambungnya.


"Maksudnya?" tanya Rian. "Iya, deket dari orang itu harus dari hati, gue deket sama Kak Rizal itu karna Kak Rizal itu baik, perhatian, sam kaya' elo, jadi gak penting bagi gue Kak Rizal itu siapa terlepas dia adalah siswa terkenal di sekolah ini, lagian juga Kak Rizal itu bisa nilai sendiri kok kepribadian gue tanpa gue harus bersikap manis atau gak karna gue paling gak bisa jadi orang lain seperti Amel dan yang lainnya," Kata Rosa." Iya kan Kak?" Sambungnya menatap Rizal.


Rizal tersenyum. "Itu yang Kakak suka dari elo Sa, elo itu lain dari cewek yang lain, tulus dan apa adanya." Kata Rizal merangkul bahu Rosa dan menatapnya.


Rosa tergagap ketika matanya beradu dengan mata Rizal. "Aduuuuh jantung kok gak bisa di kondisikan," gumamnya dalam hati. "Aduh, kenapa gue terjebak gini? Jantung gue bedegup kencang," gumam Rizal.


"Ciye, ciye, ciye, yang jatuh cinta," canda Rian yang membuat keduanya tersadar. Rosa hanya mencibir dan meninggalkan Rian dan Rizal kemudian kembali ke tenda.


Tanpa mereka sadari Amel melihat dari kejauhan. "Rosa? Kok bisa sedekat itu dengan Kak Rizal? Bisa-bisanya Kak Rizal tertawa tanpa beban dengan Rosa sedangkan dengan orang lain jadi orang yang dingin seperti beruang kutub," gumamnya sebal. "Awas Rosa mau jadi saingan gue, gue akan buat perhitungan dengan elo," gumamnya lagi.


🌺🌺🌺🌺🌺


Usai mandi sore, Rian melihat gak ada Rosa di tendanya. "Mana Rosa? Mandi?" katanya.


"Gak tau, tadi katanya mau mandi, tapi gak pulang-pulang kesini padahal duluan dia mandi daripada gue," kata Retno.


"Tadi gue liat dia ngobrol dengan Amel di deket musolla, gak tau ngobrol apa, tumben dia akur," kata Vivi.


Rian melotot. "Apa? Amel?" teriaknya. "Kok perasaan gue gak enak," sambungnya menyusul Rosa di deket musolla.


"Elo mau kemana Yan?" tanya Mimi. "Nyari Rosa kak, kata Vivi tadi lagi ngobrol dengan Amel, gue takut dia berantem lagi," jawab Rian.


"Apa? Iya gue gak kepikiran yach, yuk kita cari Rosa juga," ujar Retno menarik tangan Yoga. Merekapun mencari Rosa.


🌸🌸🌸🌸🌸


Dugaan Rian benar, dia melihat Rosa dan Amel berantem. "Mau elo itu apa sich? Mentang-mentang gue diemin jadi ngelunjak," teriak Rosa mendorong Amel dan terjatuh.


"Elo itu gue bilang gak usah ganjen napa? Kak Rizal itu gebetan gue, malah elo deketin.l," teriak Amel menjambak rambut Rosa.


"Gue deket dengan Kak Rizal itu sebelum gue masuk sekolah ini, jadi apa hak elo ngelarang gue," teriak Rosa mendorong Amel.


Amelpun terjatuh dan menyerang Amel dengan membabi buta. Amel kewalahan menghadapi Rosa.


"Rosa, sudah, malu diliat orang," kata Rian menarik tangan Rosa. "Gak Yan, harus diberi pelajaran, didiemin ngelunjak," teriak Rosa menepiskan tangan Rian.


Rian memeluk Rosa dari belakang. "Rosa, elo harus tenang, kontrol emosi elo," bisiknya. Rosa mulai melunak tapi nafasnya masih memburu.


"Tarik nafas, hembuskan, elo tenang yach," bisik Rian. Tanpa sadar Rosa mengangguk.


"Rian bener-bener bisa buat Rosa tenang," kata Vivi. "Iya, emang dari dulu cuma Rian yang bisa mengatasi watak tempramental Rosa," kata Retno.


"Tolong urus Amel kak, gue mau urus Rosa dulu, emosinya, belum sepenuhnya stabil," kata Rian menepuk bahu Mimi.


Mimi hanya mengangguk dan mengajak Amel yang sudah babak belur oleh Rosa untuk di obati.


🌹🌹🌹🌹🌹


Di ruang panitia. "Elo itu Mel, berhenti buat masalah sama Rosa napa? Perasaan gak pernah berubah," gerutu Mimi mengobati luka Amel.


"Kak Rizal? Mau ngobatin luka gue yach?" kata Amel merangkul lengan Rizal ketika melihat Rizal masuk ke ruang UKS. "Lepas," teriak Rizal menepis tangan Amel dan berlalu meninggalkan Amel.


"Sebenernya masalah elo sama Rosa itu apa sich?" kata Winda.


"Gue benci Rosa Kak, Rosa itu slalu merampas apa yang gue punya dari dulu, sekarangpun dia mau merebut Kak Rizal dari gue padahal gue yakin banyak yang suka dia," kata Amel.


Mimi tertawa. "Mengambil Rizal dari elo? Gak salah tuch? Emang Rizal milik elo? Kapan dia jadi milik elo?" katanya.


"Ya sebentar lagi, Kak Rizal itu gebetan gue dan sebentar lagi dia akan jadi pacar gue," Kata Amel.


Mimi tertawa. "Elo? Jadian sama Rizal?" katanya. "Ngaca donk, elo itu bukan tipe Rizal," ejeknya.


"Alah, bilang aja Kakak suka juga sama Kak Rizal kan?" Tanya Amel.


"Gue? Suka Rizal? Klo itu bener udah dari kelas 1 kali gue pacaran sama dia," jawab Mimi.


"Elo mau liat?" Sini gue kasih tau," sambungnya menarik tangan Amel.


"Tuch liat, apa Rizal peduli sama elo? Dia hanya peduli sama Rosa, elo fikir Rosa sama seperti kalian yang mencari ketenaran dari seorang Rizal? Gak sama sekali, Rosa sudah lebih dulu deket dengan Rizal sebelum dia masuk sini, bahkan dia gak tau klo Rizal adalah sosok yang tenar di sekolah," sambungnya.


"Mereka di luar sekolah saling mendukung, Rosa sering memberi dukungan di saat Rizal lomba taekwondo dan begitupun sebaliknya, Rizal sering mendukung Rosa ketika Rosa lomba tari balet," sambungnya lagi.


"Rosa bisa balet?" tanya Winda. "Iya Win, Rosa dari kelas 3 SD ikut tari balet dan dia slalu jadi juara perwakilan si tempat kursusnya," jawab Mimi.


"Oh, berarti waktu gue liat Rosa pas kita tanding basket dengan anak SMP N 2 itu dia lagi memberi semangat dengan Rizal?" tanya Winda.


"Iyalah, memberi semangat siapa lagi? Yang dia kenal cuma Rizal, lah wong dia belmu masuk sekolah ini," jawab Mimi. "Jadi Mel, hapus semua impian elo untuk dapetin Rizal karna Rizal itu hanya milik Rosa dan Rosa hanya milik Rizal, cam kan itu," ejek Mimi menunjuk kening Amel dan meninggalkan Amel.


Amel mendengus sebal kemudian meninggalkan Winda dan Mimi di ruang panitia.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Rizal mendekati Rosa yang sedang berbaring di tenda. "Mana Rosa?" katanya.


"Tuch di dalem, Rian sedang buatin coklat panas untuk Rosa, kami dilarang deketin dia karna kata Rian emosi Rosa belum stabil," kata Vivi.


Rizal tersenyum. "Tenang aja Kakak bisa kok ngontrol emosinya," katanya. "Iya Kak? Gimana caranya?" tanya Yoga.


"Rosa itu gadis yang tulus, orang tulus seperti Rosa dideketin dari sini," jawab Rizal menunjuk dada Yoga.


"Gue ngerti, Rosa itu di deketin dari hatinya, jadi klo kita udah deket di hatinya, kita bisa meredam emosinya," kata Vivi.


" Anak pinter, tuch tau," kata Rizal menepuk pucuk kepala Vivi dengan pelan. "Kakak masuk yach," sambungnya.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Di tenda. "Sa," kata Rizal membelai pelan rambut Rosa yang sedang berbaring.


Rosa yang berbaring kaget. "Kak Rizal?" katanya bangun dari pembaringan dan duduk.


Rizal tersenyum. "Udah mendingan?" tanyanya. "Emang Rosa kenapa? Rosa gak papa kok," jawab Rosa.


"Kakak denger tadi elo berantem, mana yang sakit?" tanya Rizal menarik pelan tangan Rosa. Rosa meringis kesakitan.


"Tuch kan, Kakak pernah bilang, gak usah berantem, jadinya gini, sakit semua badannya," tutur Rizal.


"Tapikan Amel yang mulai Kak, Rosa udah diem aja, tadi dia bener-bener kelewatan, jadi Rosa reflek" tutur Rosa pelan menundukkan kepalanya.


"Iya, kakak ngerti kok, Kakak percaya klo bukan elo yang mulai, Kakak cuma gak bisa liat elo terluka Sa, iya sekarang gak terlalu parah, besok-besok? Gak menutup kemungkinan elo akan terluka lebih parah kan?" tanya Rizal menatap Rosa.


Rosa balik menatap Rizal, dia menemukan kesungguhan dimata Rizal. Matanya mengerjap pelan tanda dia salah tingkah karna ditatap Rizal seperti itu.


Rizal tertawa. "Elo tuch ya gemesin tau," katanya memencet gemas hidung Rosa. "Kaaak, sakit tau," ucap Rosa cemberut mengusap hidungnya.


"Gitulah Rosa Kak, berantem kuat, giliran udah luka semua ngeringis" ujar Rian tiba-tiba nongol.


"Elo tuch yach, udah kaya' jailangkung." Kata Rosa. Rizal terbahak. "Masa Rian dibilang jailangkung Sa," ucapnya.


"Iyalah jailangkung, apa coba namanya klo bukan jailangkung tiba-tiba nongol, tiba-tiba ngilang," ucap Rosa tanpa titik koma yang membuat Rizal dan Rian tertawa.


"Kok ketawa? Apanya coba yang lucu?" kata Rosa cemberut. "Elonya yang lucu klo ngomong gitu," ucap Rizal mengacak gemas rambut Rosa.


"Nich, gue bawain coklat anget, biar mood elo balik lagi," kata Rian meletakkan secangkir coklat panas.


"Makasih Rian baik," ucap Rosa tersenyum menepuk pelan kedua pipi Rian.


Rizal tambah terbahak. "Elo itu sa, tambah gemesin tau," ucapnya mengacak gemas rambut Rosa.


"Gue keluar takut ganggu yang lagi kasmaran," ledek Rian mengacak rambut Rosa dan keluar tenda.


Rosa mendelik. Rian tertawa kemudian keluar tenda. Seperginya Rian, Rizal dan Rosapun bercanda tawa bersama.


🌷🌷🌷🌷🌷


Waktupun berlalu, tiba acara api unggun. Mereka bernyanyi bersama mengelilingi api unggun dan memainkan beberapa permainan dalam satu kelompok.


Rosa tertawa bahagia bersama teman-temannya tanpa disadarinya Rizal dan Indra menatap dari kejauhan.


"Rosa manis banget kalo lagi tertawa lepas seperti itu," gumam Rizal dalam hati.


"Rosa bener-bener gemesin klo lagi lepas gitu, gue bener-bener jatuh cinta dengannya," gumam Indra menatap Rosa dari kejauhan.


"Seru gak?" tanya Rian merangkul Rosa. Rosa mengangguk. "Gue gak pernah merasakan keseruan seperti ini," jawabnya.


"Kan apa gue bilang? Seru, elo gak percaya," ucap Rian.


"Gue ke tenda yach, ngantuk," ujar Untari. "Gue juga, yuk Tar kita ke tenda," ucap Retno merangkul bahu Untari.


Satu demi satu teman-teman Rosa pun kembali ke tenda dan tinggallah Rosa sendirian.


"Sendirian Sa?" tanya Indra mendekati Rosa yang sendirian. "Iya Kak, semua sudah kembali ke tenda," jawab Rosa menggeser tempat duduknya.


"Kenapa elo belum tidur?" tanya Indra. "Rosa gak bisa tidur Kak,"Β  jawab Rosa pelan merapatkan tangannya ke dada karna kedinginan.


"Dingin yach? Pake jaket Kakak," tutur Indra melepas jaketnya dan ingin memakaikan jaketnya ke bahu Rosa.


Baru akan memakaikan jaketnya. "Sa, yuk ke tenda, semua pada nungguin elo," ujar Rian menarik tangan Rosa.


"Apa-apaan sich Yan, Rosa masih mau disini," gerutu Indra kesal.


"Maaf Kak, Rosa gak bisa begadang, tar klo kemaleman dia bisa sakit," jawab Rian meninggalkan Indra yang sedang kesal.


🌿🌿🌿🌿🌿


Di tenda, Rosa dan teman-temannya berkumpul bersama. "Kita maen tebak lagu yach, Kakak ambil gitar di ruang panitia," kata Rizal beranjak dari duduk dan mengambil gitar di ruang panitia.


Ketika sesang bercanda tawa selesai bermain. "Kak Rizal keren, bisa maen gitar, ajari gue dong," ujar Yoga mendekati Rizal.


"Iya kak, Yoga mau nembak Retno tuch biar romantis," canda Rian. "Apaan sich lo," gerutu Yoga menoyor kepala Rian.


"Ketauan niye naksir Retno," canda Gavin. "Berisik lo pada, denger Retno nanti dia ngindarin gue," gerutu Yoga. Semua tertawa.


Akhrinya Yoga, Gavin, dan Rian belajar bermain gitar dengan Rizal di luar tenda.


Untari dan Retno berpandangan. "Sepertinya Rosa bener-bener suka Kak Rizal Ret," ucap Retno.


"Iya Tar, kaya'nya emang bener- bener jatuh cinta," ucap Retno.


"Kak Rizal multi talent kan? Makanya yang cocok mendampingi Kak Rizal itu harus multi talen juga," ujar Mimi menepuk pelan bahu Rosa.


Rosa terlonjak kaget. "Iya Kak, Kak Rizal keren, multi talent, tutur Retno.


"Makanya jodohnya itu harus sama multi talent juga dan itu semua elo Sa," ujar Mimi menatap Rosa.


"Rosa gak pantes untuk Kak Rizal Kak, Kak Rizal itu terlalu sempurna untuk Rosa," ujar Rosa pelan menundukkan kepalanya.


Mimi tersenyum. "Yang nilai kita itu orang lain Sa, bukan diri kita sendiri," ujarnya menatap Rosa.


"Gue tidur, ngantuk," ucap Retno, disusul oleh Untari dan Vivi.


"Kakak ngecek tenda lain dulu yach sama yang lainnya," ucal Mimi beranjak. Rosa mengangguk.


🌱🌱🌱🌱🌱


Menjelang tengah malam, Indra yang melihat Rosa duduk sendirian di depan tenda sambil menatap bintang. "Belum tidur Sa?" tanyanya.


Rosa menggeleng. Belum ngantuk Kak," jawabnya pelan.


"Kakak temenin yuk, kita duduk di sana," kata Indra mengajak Rosa duduk di balik pohon. Rosa mengangguk dan mengikuti Indra.


Baru beranjak. "Sa, ikut tidur sama Kakak yuk," ujar Mimi menarik tangan Rosa.


"Loh Kak Mimi udah selesai ngecek tendanya?" tanya Rosa.


"Iya, yuk tidur sama Kakak, Kakak temenin," jawab Mimi.


Indra berdecak sebal. "Kalian bersaudara ini kenapa sich? Slalu menghalangi gue deketin Rosa? Tadi Rian sekarang elo," geramnya memutar bola mata dengan malas.


"Karna gue tau siapa elo dan gue gak mau Rosa bernasib sama dengan mantan-mantan elo yang klo elo bosan ditinggalin," jawab Mimi.


"Lagian juga suka-suka Rosa lah mau jalan sama siapa, lah dia aja mau ngobrol sama gue," ucap Indra.


"Karna Rosa gak tau elo sebenernya," kata Rosa. "Dan Rosa juga sudah jadi milik orang lain, klo sampe dia tau elo nyakitin dia, bisa habis lo," bisiknya.


"Maksudnya apa coba? Milik siapa? Emang Rosa barang?" tanya Rosa.


"Tuch Rosa aja gak merasa dimiliki siapapun," ejek Indra tersenyum sinis.


"Elo mau tau Rosa milik siapa?" bisik Mimi mencondongkan kepalanya ke telinga Indra.


"Tuch liat dia sedang jalan kesini," bisiknya lagi menunjuk ke arah Rizal yang sedang berjalan menuju mereka.


"Kak Rizal??" tutur Rosa tanpa sadar berlari kearah Rizal meninggalkan Indra dan Mimi.


"Tuch lo liat? Msh gak percaya? Rosa nyusul Rizal kan?" bisik Mimi meninggalkan Indra yang sedang termangu.


"Sialan Rizal, gue kalah cepet dari dia," gumam Indra mengepalkan tangannya ke udara.


πŸ¦‹πŸ¦‹πŸ¦‹πŸ¦‹πŸ¦‹


"Loh Rosa? Kok belum tidur?" tanya Rizal kaget ketik melihat Rosa menyusulnya.


"Rosa gak bisa tidur Kak," jawabď Rosa pelan menundukkan kepalanya.


"Yuk Kakak temenin malam ini," kata Rizal menarik pelan tangan Rosa. Rosa mengiringi langkah Rizal.


Beberapa jam kemudian. "Lom ngantuk Sa?" tanya Rizal duduk disamping Rosa.


Rosa menggelen.," Rosa gak bisa tidur Kak," jawabnya sambil merapatkan kedua tangannya di dada karna kedinginan.


"Dingin? Pake jaket Kakak yach?" bisik Rizal melepaskan jaketnya kemudian menaruhnya dipundak Rosa.


"Makasih Kak," tutur Rosa menatap Rizal memegang jaket Rizal dengan kedua tangannya.


"Kita ke tenda yuk, cerita-cerita disana," ucap Rizal. Akhirnya mereka ketenda.


Rizal menumpuk tas Vivi, Retno, Mimi, Untari dan Rosa jadi satu, kemudian dia bersandar ditas-tas tersebut.


"Tiduran disini Sa, biar enak, santai bisa liat bintang dari tenda," ujar Rizal menepuk kakinya pelan agar Rosa mau berbaring di pangkuannya.


Rosa menggelengkan kepalanya. "Badan Rosa berat Kak, ntar kaki Kakak kesemutan," katanya.


"Gak papa kok, yuk sini," ucap Rizal menarik pelan tangan Rosa. Rosapun menurut.


Rosa memejamkan matanya menikmati belai tangan Rizal dikepalanya. "Jadi inget nenek, dulu waktu gue gak bisa tidur, nenek slalu memperlakukan gue gini," gumamnya dalam hati tanpa terasa air matanya keluar dari sudut mata indahnya yang sedang terpejam.


"Kenapa nangis? Kakak nyakitin Rosa yach?" tanya Rizal menghapus air mata Rosa ketika merasakan air mata Rosa yang mengalir dipangkuannya.


Rosa menggeleng. "Rosa inget nenek Kak, dulu waktu nenek masih hidup ketika Rosa gak bisa tidur, Rosa sering diperlakukan seperti ini sambil memandang bintang dilangit," jawabnya.


"Rosa suka filosofi bulan dan bintang yang diceritakan nenek, tentang kesetiaaan," Sambungnya.

__ADS_1


"Oh ya? Kakak gak pernah denger, gimana itu?" tanya Rizal.


"Bulan dan bintang itu tak pernah terpisahkan, mereka saling melengkapi walau terkadang jarang bersama, bulan slalu setia menantikan bintang di gelapnya malam walau dia tau kalo bintang gak tiap malam datang menemani, begitupun bintang, ketika dia bermunculan, dia akan dengan rela menyinari malam dengan sinarnya membantu bulan menambah keindahan malam," ucap Rosa pelan.


"Keren tuch, klo gitu, kita aja buat janji bulan dan bintang," Kata Rizal menatap Rosa. "Maksudnya?" tanya Rosa bingung.


"Iya, Kakak janji akan slalu jadi bulan untuk elo, kemanapun dan dimanapun elo berada, Kakak akan slalu di sini menunggu elo dan menjaga elo dan Kakak janji Kakak akan jadi tempat elo kembali," jawab Rizal menatap Rosa.


Rosa mengerjapkan matanya pelan tanda dia bener-bener salah tingkah. "Apa iya Kakak akan slalu ada untuk Rosa? Seperti Rian?" tanyanya.


Rizal tertawa." Elo itu gemesin tau," ucapnya. "Iya Sa, Kakak janji akan slalu ada untuk elo, bahkan lebih dari Rian," ucapnya.


Rosa memejamkan matanya menikmati belaian Rizal dan akhirnya tertidur dipangkuan Rizal.


🌼🌼🌼🌼🌼


Menjelang subuh, Retno terbangun, dia kaget ketika melihat Rizal tidur ditenda. "Vi, vi, vi, bangun," bisik Retno.


"Ada apa?" kata Vivi mengucek-ngucek matanya.


"Liat tuch," nisik Retno menunjuk Rosa yang sedang tertidur di pangkuan Rizal.


Mata Vivi membulat sempurna. Begitupun Untari yang terbangun karna berisik.


"Mereka jadian?" kata Untari. Retno dan Vivi angkat bahu.


"Jangan dibangunkan dulu, kasian Rosa, dia baru jam 3 pagi bisa tidur, kalian siap-siap sana biar gak ketinggalan subuh berjemaah," kata Mimi ketika Vivi mau membangunkan Rosa.


"Iya Kak," kata Vivi. "Yuk, siap-siap, ntar ngantri," kata Untari. Retno dan Vivi pun mengiringi Untari yang sudah duluan keluar tenda.


🦚🦚🦚🦚🦚


Rosa terjaga ketika mendengar suara mengaji dari musollah sekolah.


"Gue tertidur di pangkuan Kak Rizal semaleman?" gumam Rosa dalam hati kemudian duduk menatap Rizal.


"Kak Rizal bener-bener terlihat manis ketika sedang terlelap seperti ini," gumamnya lagi sambil membelai pipi Rizal.


Rizal terjaga ketika merasakan belaian di pipinya tanpa sadar memegang tangan Rosa yang berada di pipinya.


"Loh Rosa? Udah bangun?" katanya menatap Rosa.


Rosa kaget mengerjapkan matanya tanda salah tingkah dan menarik tangannya.


"Maafin Rosa Kak," katanya pelan menundukkan kepalanya.


"Loh untuk apa?" kata Rizal.


"Udah bangunin Kakak," kata Rosa pelan menundukkan kepalanya.


Rizal tersenyum mengacak gemas rambut Rosa." Gak papa kok, malah Kakak yang makasih udah di bangunin, heeem," katanya menaikkan alisnya satu menatap Rosa.


Rosa cuma mau balikin ini," kata Rosa meyodorkan jaket Rizal. "Makasih untuk malam ini," sambungnya menatap Rizal.


Rizal balik menatap Rosa. Dia menemukan ada cinta di mata gadis itu untuknya.


Rosa menundukkan kepalanya kemudian pergi untuk bersiap-siap sholat subuh.


"Rosa, sepertinya cinta gue gak bertepuk sebelah tangan," gumamnya dalam hati menatap kepergian gadis itu.


🌴🌴🌴🌴🌴


Ketika selesai mandi pagi. "Kenapa kepala gue? Kok pusing banget?" gumam Rosa dalam hati memegang kepalanya.


"Kenapa elo Sa?" kata Retno ketika melihat Rosa memegang kepalanya.


"Kepala gue, kepala gue sakit banget, tolong gue Ret," kata Rosa memegang kepalanya dan tertatih berjalan.


"Awas hati-hati," kata Vivi ikut membimbing Rosa.


Baru beberapa langkah jalan tiba-tiba Rosa pingsan. Vivi, Retno dan Untari panik.


"Gue cari pertolongan," kata Untari berlari mencari pertolongan.


"Iya buruan, setelah itu cari Rian, karna cuma Rian yang bisa mengatasi Rosa pingsan," kata Retno.


Baru beberapa langkah jalan. "Nah itu Rian, kebetulan banget," gumam Untati dalam hati.


"Riaaaan," teriak Untari mengejar Rian.


"Kenapa lo, ngos-ngosan gitu? Ketemu setan di kamar mandi?"canda Rian.


"Bukan, Rosa, Rosa pingsan, ayo buruan," kata Untari menarik tangan Rian terburu-buru.


"Apa? Rosa pingsan?!" teriak Rian panik. "Dimana?" sambungnya tambah panik.


"Di kamar mandi ayo buruan," kata Untari menarik tangan Rian. Merekapun ketempat Rosa pingsan.


Rian langsung mengangkat tubuh Rosa dan membawanya ke ruang UKS disamping ruang panitia.


🐳🐳🐳🐳🐳


Di ruang UKS. "Loh, kenapa Rosa Yan?" kata Mimi ketika melihat Rian membopong Rosa.


"Pingsan Kak," kata Rian. Tolong siapin tempatnya," sambungnya.


"Ret, tolong bawa tas Rosa kesini, cek dalam tasnya ada gak minyak kayu putih, klo gak ada tolong minta Yoga atau Gavin beli sekalian beli pipetnya," mata Rian.


"Gak sekalian rotinya?" kata Mimi yang tau Rosa pasti kelaperan klo habis pingsan.


"Gak usah kak, ditas Rosa kan masih ada, ntar kita aja beli roti sekalian beli sarapan, takut ntar Gavin dan Yoga salah beli roti," kata Rian.


Retno membentuk jempol dan telunjuknya dengan huruf O tanda oke. "Yuk, temenin gue, klo yang Rian bilang tadi gak ada elo langsung cari Yoga atau Gavin untuk beli," katanya menarik tangan Untari.


"Gue ikut yach," kata Vivi. "Gak usah, elo temenin Rosa disini sama Rian, bukannya cuma kalian berdua yang bisa nenangin Rosa?" kata Mimi.


🌾🌾🌾🌾🌾


Rizal bingung ketika masuk ruang panitia ada Rian dan teman-temannya.


"Ada apa ini? Kok rame banget?" katanya. "Rosa pingsan, itu Rian sedang berusaha menyadarkannya," Kata Mimi yang sedang membuatlan teh panas.


"Itu teh untuk siapa?" kata Rizal. "Untuk Rosa, biasanya setelah siuman dia minta teh anget," kata Mimi.


"Sini biar gue yang bawa, elo nerusin mimpin senam yach, tadi gue ngatur anak-anak senam," kata Rizal. Mimi menyatukan jempol dan telunjuknya menjadi angka nol tanda oke.


"Udah sadar Yan?" kata Rizal. "Belum Kak, ini lagi berusaha dibuat sadar," Kata Rian memijat mijat jari kaki Rosa pelan dengan minyak kayu putih.


"Vi, tolong deketin dihidungnya, biar tercium sama Rosa," Sambungnya memberikan minyak kayu putih.


"Harus gitu yach Yan caranya biar Rosa cepet sadar?" kata Rizal memperhatikan Rian.


"Iya Kak, ini pertolongan pertama ketika Rosa pingsan, Kakak harus bisa yach, klo Kakak jadi pacar Rosa, bisa meyadarkan Rosa ketika pingsan," kata Rian.


"Emang Rosa sering pingsan?" kata Rizal. "Iya Kak, ini pasti karna kurang tidur semalem dan tekanan darahnya turun," kata Rian.


☘☘☘☘☘


"Haus, Yan gue pengen minum, seperti biasa," kata Rosa lemah tanpa membuka matanya karna pusing. Rian memberikan teh hangat dan pipetnya.


"Sepertinya udah hafal banget klo Rian yang ada disampingnya," kata Rizal.


"Iya Kak, Rosa sudah biasa seperti ini dan memang slalu Rian yang ada disampingnya," kata Yoga.


"Loh kalian disini semua? Gue kira cuma Rian seperti biasa yang nungguin gue pingsan," kata Rosa ketika membuka matanya.


"Gak lah Sa, mereka juga slalu ada kok tiap elo pingsan, bedanya mereka itu yang nyari perlengkapan elo ketika elo sadar, kan elo banyak ritual biar cepet sadar dan banyak maunya klo sadar dari pingsan," Kata Rian.


Rosa cemberut. Rian tertawa mengacak rambut Rosa. "Gue beli sarapan, elo mau minta apa? Biasanya elo klo sakit gini kan cerewet sama makan," katanya.


"Seblak, gue pengen seblak," Kata Rosa. Rian melotot. "Gak, gak, elo kan baru sadar, perut juga masih kosong," kata Rian.


"Yach udah, klo gak boleh, gue pengen nasgor sea food di deket tempat kursus balet gue," kata Rosa. Rian melotot. "Itu khan jauh Sa, yang lain aja," kata Rian.


Rosa cemberut. "Elo ini gimana sich, tadi nawarin mau makan apa, giliran gue minta, gak boleh semua," xerocosnya tanpa titik koma. "Ya gak yang jauh juga Sa," kata Rian.


"Yach udah, klo gitu terserah lah mau di beli'in apa, gue mau tidur," kata Rosa menutup mukanya dengan bantal.


"Aduh, ngambek lagi nich anak, bisa-bisa satu minggu gak ditegur," gerutu Rian menggaruk kepalanya yang gak gatal.


"Sa, mau beli apa?" sambungnya berusaha membuka bantal yang menutupi Rosa karna di tahan Rosa dengan kuat. "Terserah." teriak Rosa masih dari bawah bantal.


"Iya, iya, ntar gue beli'in," Kata Rian. Rosa bangun dari tidurnya. "Bener Yan, makasih, Rian baik dech, jadi tambah sayang," kata Rosa memukul pelan kedua pipi Rian. "Ada aja maunya, gue dibilang sayang," gerutu Rian.


Rizal tersenyum menatap Rosa dan Rian yang sedang berinteraksi membujuk Rosa tentang makanan.


"Rosa, elo bener-bener gadis yang manis ketika ngambek gitu, gue jadi tambah gemes liat elo gitu, rasa gak sabar untuk memiliki elo," gumamnya dalam hati.


"Titip Rosa Kak, gue pergi dulu," kata Rian. Rizal hanya mengangguk.


"Titipan gue, jangan lupa," Kata Rosa." Iya bawel," kata Rian.


"Janji," kata Rosa menyodorkan kelingkingnya dengan Rian. "Iya janji," kata Rian menautkan kelingkingnya dengan kelingking Rosa kemudian menyatukan jempol mereka dan bersalaman.


"Jangan rewel, kasian Kak Rizal," kata Rian mengacak rambut Rosa. Rosa mendelik. Rian tertawa kemudian meninggalkan Rosa dan Rizal.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Rizal tersenyum menatap Rosa. "Kenapa liatin Rosa gitu?" kata Rosa bingung.


"Elo itu lucu, apa lagi klo lagi ngambek sama Rian kaya' tadi, gemesin tau," kata Rizal.


Rosa cemberut. Rizal tertawa mengacak gemas rambut Rosa. "Kakak suapin yach bolunya sambil nunggu sarapan dari Rian," katanya.


Rizalpun menyuapi Rosa sambil bercanda tawa.


🍁🍁🍁🍁🍁


Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, β™₯️, ⭐, vote dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all 😘😘😘.

__ADS_1


__ADS_2