
Hari berganti hari, tanpa terasa hari keberangkatan Rosa ke Bandung sudah di depan mata. Vivi dan Rian sedang bermain ke rumah Rosa membantu Rosa menyiapkan perlengkapan.
"Yan, temenin gue belanja," ujar Rosa. "Kapan? Sekarang?" ujar Rian.
"Gak lah, ntar siang, nungguΒ Mama pulang," ujar Rosa. "Emang yang lain kemana?" ujar Vivi.
"Mama sama Papa kondangan, Dirga maen basket, Sinta les di sekolah," ujar Rosa.
"Gue pulang Sa, ntar Mama nungguin," ujar Vivi. "Emang mau kemana?" tanya Rosa. "Gue mau ketempat nenek," ujar Vivi.
"Gue ikut pulang ach, ada Dirga juga udah pulang Sa, sekalian mau nganter Vivi" ujar Rian. "Lebay lo Yan, rumah Vivi di depan sini juga, pake nganter-nganter segala," ledek Rosa.
"Biarin lah, biar ada tanggung jawabnya sebagai pacar," ujar Rian. "Ya kan Vi?" ujarnya nerangkul bahu Vivi.
Vivi hanya mencibir yang membuat Rosa tertawa.
π»π»π»π»π»
Setengah jam kemudian Rizal dan Wahyu datang. "Loh kok bisa bareng? Ketemu di mana?" tanya Rosa.
"Dijalan De', tadi mobil pecah ban, ketemu Rizal kebetulan mau kesini, yach udah jadinya Aa' ikut nebeng mobil Rizal," ujar Wahyu.
Tiba-tiba telpon rumah berdering. Wahyu langsung mengangkatnya. "De', ada telpon dari Rian," ujar Wahyu. "Ara angkat telpon dulu," pamit Rosa dengan Rizal.
Rizal menganggukkan kepalanya Rosapun menyambut telpon dari Rian, Wahyupun kembali ke ruang tamu ngobrol dengan Rizal.
"Sa, gue gak bisa nemenin elo ke pasar karna Mama sakit, gak ada orang dirumah," ujar Rian dari sebrang. "Iya gak papa Yan, ntar gue minta anter Mas Angga aja," ujar Rosa.
"Ooh ada Kak Rizal toh, yach udah ntar gue ganggu orang yang kasmaran," ledek Rian. "Riaaaan!! Elo tuch yach, nyebelin banget, awas kalo ketemu," gerutu Rosa.
Terdengar suara Rian dari sebrang sebelum menutup telpon. "Ngeledek melulu, nyebelin banget jadi orang," gerutu Rosa menutup telpon kemudian menyusul Rizal dan Wahyu yang sedang bercengkrama di ruang tamu.
πππππ
Diruang tamu. "Rian nelpon tadi kenapa?" tanya Rizal. "Gak jadi nemeni Ara ke pasar karna Mama sakit, gak ada yang jagain rumah," lirih Rosa.
__ADS_1
"Minta anter Rizal De', percuma ada pacar gak bisa nganterin elo kemana aja," ujar Wahyu. "Emang Mas Angga supir Rosa apa?" protes Rosa.
"Emang Rizal siapa elo?" goda Wahyu. "A' Wahyu, suka gitu dech," rajuk Rosa cemberut.
"Hei gak malu sama Rizal, kok manjanya keliatan," goda Wahyu. "Bodo'," rajuk Rosa.
"Kelakuan dia yang kaya' gini ini A' ntar buat gue kangen" ujar Rizal mengacak gemas rambut Rosa.
Wahyu tertawa. "Yuk berangkat ke pasar, ntat kesorean," ajak Rizal.
"Kami pergi dulu A'," pamit Rosa mencium punggung tangan Wahyu. "Makasih A', udah meyakinkan gue," ujar Rizal menatap Wahyu.
"Sama-sama, Aa' juga punya kewajiban membahagiakan Rosa karna dia gadis yang baik," ujar Wahyu menepuk bahu Rizal pelan.
"Apa sich lama banget? Ngobrolin apa?" ujar Rosa. "Mau tau aja, rahasia lelaki, yuk kita berangkat," ajak Rizal merangkul kedua pundak Rosa.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Ketika diperjalanan. "Ayo Mas, kok lama banget jalannya," ajar Rosa menarik tangan Rizal dan bergelayut manja di lengan Rizal.
"Kak, kok bengong?" ujar Rosa menatap Rizal. "Gak papa," ujar Rizal.
"Mikirin apa sich?" ujar Rosa menatap Rizal tanpa berkedip yang membuat Rizal salah tingkah. "Ara, udah dibilang jangan natap Mas gitu, suka banget buat salah tingkah," ujar Rizal memencet gemas hidung bangir gadis itu.
"Maaas, sakit, nyebelin ich," rajuk Rosa cemberut. "Yang nyebelin siapa? Suka banget bikin Mas salah tingkah heeem," ujar Rizal merangkul bahu Rosa mencium pelipis gadis itu. Merekapun berbelanja.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Usai belanja, Rizal mengajak Rosa makan siang karna dia berencana memberikan sebuah cincin. "Tuch ayam bakar kesukaan Ara udah dateng," ujar Rizal ketika pelayan mengantarkan ayam bakar pesenan Rosa.
Rizal menatap Rosa yang sedang menikmati makannya dengan lahap. "Maafin Mas Ra, Mas udah meragukan cinta Ara," gumamnya dalam hati.
Rosa yang sadar diperhatikan menghentikan makannya. "Kok liatin Ara gitu? Nasi Mas gak dimakan?" ujarnya menatap Rizal. "Maafin Mas yach," ujar Rizal menggenggam tangan Rosa.
"Untuk apa? Emang Mas ada salah?" tanya Rosa bingung. "Semuanya, terutama ketakutan Mas kehilangan Ara," lirih Rizal sambil mengaduk soto dengan emping kusukaannya.
__ADS_1
"Maksudnya?" ujar Rosa tambah bingung. "Mas suka parno sendiri, takut bener-bener kehilangan Ara suatu saat nanti karna Ara sekolah di Bandung ikut A' Wahyu, tiga tahun bukanlah waktu sebentar untuk kita menjalin hubungan jarak jauh, Mas takut seiringnya waktu Ara berpaling dari Mas," lirih Rizal.
"Gak kebalik apa? Bukannya ntar Mas yang ninggalin Ara?" lirih Rosa. "Mas kan terkenal, semua orang pasti ingin jadi pasangan Mas apalagi mereka tau pacar Mas jauh dari Mas," lirihnya lagi sambil melanjutkan minum cappucinno kesukaannya sambil menyandarkan tubuhnya dilenganckokoh Rizal yang sedang menyantap makanannya dsn sesekali menyuapi Rosa ketika Rosa memintanya.
"Gak lah Ra, hati Mas udah Mas beri utuh untuk Ara, gak bersisa untuk siapapun, lagian juga A' Wahyu meyakinkan Mas yang membuat Mas bener-bener yakin kalo Ara gak akan ninggalin Mas," ujar Rizal sambil makan soto yang sudah dicampur emping.
"Emang A' Wahyu cerita apa?" ujar Rosa. "Banyak, yng membuat Mas sekarang bener-bener yakin menyerahkan seutuhnya hati Mas untuk Ara dan Ara harus tau itu, jika Mas kehilangan Ara, bukan separuh hati Mas yang terluka tapi seluruh hati Mas dan mungkin gak akan pernah bangkit lagi," lirih Rizal menatap Rosa.
Rosa menemukan kesungguhan di mata elang lelaki itu. "Bukankah Mas juga tau kalo Mas itu segalanya bagi Ara? Ara gak bisa jauh dari Mas," ujar Rosa menggenggam tangan Rizal.
Rizal tersenyum, senyum yang slalu Rosa kagumi. "Mas gak akan pernah jauh dari Ara, karna Mas slalu ada disini," ujarnya menunjuk dada Rosa.
"Inget gak janji kita?" ujarnya. "Apapun yang terjadi, kita akan slalu bersama," ucap mereka berdua bersamaan saling menatap.
Rizal memeluk Rosa. "Percayalah Mas akan slalu jadi pantai tempat kembalinya ombak dan slalu jadi bulan yang menantikan bintang, sejauh Apapun Ara pergi, Mas akan slalu jadi tempat Ara kembali," bisiknya.
Rosa terdiam dipelukkan Rizal. "Akankah gue merasakan pelukan ini lagi?" gumamnya dalam hati. "Mas ada sesuatu untuk Ara," ujar Rizal.
"Apa?" tanya Rosa. Rizal mengeluarkan cincin bermatakan huruf R. Mata Rosa membulat sempurna, kedua tangannya menutup mulutnya yang terbuka.
"Ini kan cincin yang Ara pengen," ujar Rosa. "Suka? Mas pakein yach," tawar Rizal memakaikan cincin pada jari Rosa. Rosa tersenyum menatap jari manisnya yang telah melingkar cincin.
"Pas dijari Ara?" ujar Rizal. Rosa mengangguk. "Awas jangan nakal disana nati, Ara udah Mas iket pake cincin ini," goda Rizal menunjuk jari Rosa.
Rosa cemberut. "Emang Ara anak kecil dibilang nakal," rajuknya. Rizal terbahak melihat kelakuan Rosa. "Sweety klo lagi ngambek gemesin tau gak, tambah sweet," goda Rizal.
1
Rosa tambah cemberut. "Udah selesai beres-beres berangkat besok?" tanya Rizal. Rosa mengangguk. "Dibantu Rian dan Vivi tadi, ini belanjaan yang kurang untuk dibawa kesana nanti," ujar Rosa menunjukkan catatan yang dibeli dengan Rizal tadi.
"Belanjaan tadi dicatet dulu?"heran Rizal. "Iyala, ntar belanjaan yang penting gak kebeli lagi," ujar Rosa. "Teratur banget Ay," ujar Rizal mengacak rambut gadisnya yang berada dipundaknya. Rosa hanya terdiam memainkan pipet esnya.
"Udah makannya? Kita pulang yuk, udah sore," ajak Rizal. Rosa mengangguk kemudian mereka pulang. Usai membantu Rosa mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa besok, Rizal pun pamit pulang.
πΉπΉπΉπΉπΉ
__ADS_1
Buat kakak-kakak dan bunda-bunda yang baik hati, maaf sebelumnya klo ceritanya membosankan dan typo betebaran dimana-mana, tolong krisannya, maklum baru pemula. Tolong dukungan atas tulisan recehku yach. Tolong mainin jempolnya mampir ke tombol like, β₯οΈ, β, vote dan tekan bintang lima, jangan lupa follow akunku ya. Makasih atas partisipasinya. Love all πππ.