Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 20. Memulai Lembaran Baru


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu setelah kejadian yang menegangkan itu. Nasib Jack yang sangat tragis seperti anak buahnya dulu yang harus berakhir di kandang singa milik Rere.


Rere tak pernah memberi ampun pada siapapun yang mengusiknya, apa lagi sampai melibatkan teman-teman atau keluarganya.


Saat ini Rey berkunjung kembali kemension Rere, para penghuni mension tak heran lagi jika Rey sering datang kemari. Sesampainya di dalam, suasana sunyi dan sepi membuat Rey bertanya-tanya.


“Bi… dimana Rere,” tanya Rey pada salah satu Art dimension Rere.


“Ohh… non Rere lagi ditaman belakang tuan. Tuan langsung kesana saja,” jawabnya dengan ramah.


“Terima kasih bi,” ujar Rey.


Rey langsung melangkahkan kakinya menuju taman belakang mension, sesampainya disana, Rey melihat Rere sedang menyirami bunga-bunga yang bermekaran. Rere sangat suka sekali dengan bunga-bunga, apa lagi mawar. Banyak sekali jenis mawar yang tertanam ditaman belakang Rere.


Reypun mendekat kearah Rere, “ Re…” panggil Rey.


Rere yang merasa namanya dipanggil menoleh kearah sumber suara, dia tidak kaget lagi dengan kedatangan Rey.


“Ada apa Rey?” tanya Rere dengan wajah datarnya.


“Kemarilah,” panggilnya


“Ada apa?” tanyanya lagi.


Rey langsung membuka kotak yang berisikan gelang couple mereka dulu, Rere yang tau isi dari kotak yang dibawa Rey terkejut tak menyangka.


“Inii…” ucap Rere terjeda setelah melihat isi dari kotak itu. Rere tak pernah mengira jika gelang itu masih tersimpan rapi ditangan Rey. Ia mengira jika Rey sudah membuang gelang itu.


“Ini gelang yang pernah kau berikan padaku,” jelas Rey.


Sebelum Rere pergi meninggalkan kota ini, gelang couple miliknya ia berikan pada Rey, entah apa alasannya.


Flashback 7 tahun yang lalu…


Setelah Rere tau jika Rey memiliki wanita lain, Rere memutuskan Rey dengan rasa sakit yang tak terkira. Rere memutuskan untuk pergi jauh dari kota kelahirannya untuk melupakan semua rasa sakit dan kenangan yang sudah ia lalui.


Sebelum Rere pergi, ia memutuskan untuk memberikan gelang couple yang ia kenakan peda Rey. Entah apa alsannya, hanya Rere yang tau.


“Kenapa kau mengajakku bertemu disini Re?” tanya Rey pada Rere.


“Aku hanya memberikan ini untukmu,” jawab Rere yang memberikan kotak merah pada Rey.


“Apa ini?” tanya Rey penasaran sambil membuka kotak itu.

__ADS_1


“Bukankah ini gelang milikmu? Kenapa kau berikan padaku?” Tanyanya bingung setelah melihat apa isi dari kotak itu.


Rere hanya tersenyum mendengar pertanyaan Rey, “Aku ingin kau yang menjaganya saat ini,” jelas Rere.


“Kenapa begitu?” Tanya Rey yang masih bingung.


“Emm… tidak apa-apa. Aku hanya ingin kau yang menjaganya kali ini. jika itu memang milikku, dia akan kembali ketanganku bagaimanapun jalannya,” terangnya pada Rey.


“Tapi inikan memang milikmu Re, aku kembalikan lagi padamu,” ucap Rey sambil mengembalikan kotak yang berisikan gelang milik Rere.


“Tidaakk… kau saja yang menyimpannya. Jika kau tidak mau, kau buang saja gelang itu,” jelas Rere dengan tersenyum menutupi rasa kecewanya.


“Huuhh… yasudah kalu begitu,” pasrah Rey.


“Aku pamit ya,” pamit Rere dengan senyum kecewanya.


Rey yang melihat Rere pergi hanya diam memandang sampai Rere tidak terlihat lagi. Rey tidak tau jika pertemuannya itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Rere.


Flashback off…


“Kau masih menyimpannya?” tanya Rere.


“Aku tau apa artinya saat kau mengatakannya dulu padaku Re. Ini milikmu, gelang ini kembali ketanganmu Re, bukan hanya gelang itu yang kembali, tapi aku juga kembali,” jelas Rey yang memakaikan kembali gelang Rere.


“Reeey…” ucap Rere sambil mendongakkan wajahnya dengan air mata yang menetes.


Rey yang melihat air mata Rere langsung menyekanya, “jangan menangis, maafkan aku Re. Aku terlalu bodoh pernah menghianatimu, maafkan aku,” ujar Rey dengan rasa bersalahnya.


“Aku memaafkanmu Rey,” ucap Rere pelan yang masih bisa didengar oleh Rey.


Rey yang mendengarnya merasa senang, “Kita mulai semuanya dari awal, aku janji tidak akan mengulangi hal bodoh itu lagi,” janji Rey dengan sungguh-sungguh.


Rere hanya menyahutinya dengan menganggukkan kepalanya. Rere mulai menerima semua yang sudah berlalu dan memulai membuka lembaran baru.


Memang tak mudah melupakan kesalahan karena penghianatan, tapi kita juga tidak boleh berlarut-larut, itu sama saja dengan menyakiti diri kita sendiri.


“Terima kasih,” ujar Rey


“Kau harus menepati janjimu,” jawabnya.


Rey menempelkan keningnya ke kening milik Rere dan tangannya memeluk erat pinggang Rere dengan perasaan bahagianya.


Ditengah-tengah kebahagiaan mereka, sedari tadi ada yang melihat kemesraan mereka. “Uhuuyy… uhuuyyy…” sorak Arin dan Agnes yang sedari tadi menyaksikan adegan romantis itu.

__ADS_1


Arin datang berkunjung sedari tadi, sesampainya dia didalam hanya melihat Agnes sendiri diruang berkumpul sambil menonton TV. Agnes yang menanyakan keberadaan Rere pada salah satu Art pun menyusul bersama Arin ketaman belakang.


Saat mereka sampai ditaman belakang, mereka melihat jika ada Rey dan Rere, mereka memilih diam dan menyimak tak jauh dari sana.


Rere dan Rey yang mendengar sorak soray dari dua orang itu melonjak kaget dan langsung melepaskan pelukannya.


“Kenapa dilepaskan, lanjutkan saja kemesraan kalian,” kata Agnes dengan antusiasnya.


“Diam kau,” sungut Rey dan Rere bersamaan.


Rere dan Rey sedikit kesal dengan ulah dua orang soplak itu karena momen mereka terganggu.


Dua orang pengacau itu hanya menyengir kuda menunjukkan giginya dengan jari mereka membentuk huruf V.


Rere memutuskan masuk kedalam dengan rasa kesalnya diikuti oleh Rey dibelakangnya. Dua orang soplak tadipun juga mengikuti langkah Rere menuju ruang berkumpul.


Sesampainya didalam, Rey duduk disamping Rere, Rey yang dengan nyamannya bersandar dibahu Rerepun memejamkan matanya karena merasa lelah dengan pekerjaannya yang selama beberapa hari ini menyita waktu tidurnya.


Rere yang mengetahui Rey tertidur membiarkannya saja dengan posisi nyamannya. Rere memilih fokus mengotak atik ponselnya untuk mengecek laporan yang diterima melalui emailnya.


“Dunia milik berdua ya, yang lain cuma ngekos,” sindir Agnes yang melihat pemandangan di depannya.


Bugh…


Bantal mendarat mulus di wajah Agnes tanpa hambatan apapun.


“Berisik,” sengal Rere.


Arin yang melihatnya tertawa puas.


“Apa kau ingin balas dendam padaku, bu boss?” ujar Agnes dengan wajah memelasnya setelah menerima hadiah dari Rere.


“Kalau kau masih berisik, aku sumpal mulutmu itu,” kesal Rere pada Agnes. Rere ingin melampiaskan kekesalannya tadi karena momen bahagianya terganggu ulah Agnes dan Arin.


“Kau jahat sekali bu boss,” sahutnya dengan wajah yang sedikit manyun.


“Tlaktirannya dong Ree…” usul Arin yang diangguki oleh Agnes.


“Kalian pergi saja ke café biasa,” jawab Rere yang masih fokus mengotak atik ponselnya. Ia mengiyakan saja kata dua soplak di hadapannya itu. Dari pada dia yang nantinya dibuat pusing karena ulah kedua orang itu.


Jawaban Rere disambut antusias dua orang itu, dengan semangatnya mereka langsung melesat pergi. Rere yang melihat kelakuan dua orang itu sudah tidak kaget lagi, apa lagi berurusan dengan makanan.


Rey masih belum membuka matanya, entah karena saking nyamannya atau karena rasa lelahnya. Rere hanya tersenyum melihat Rey yang masih setia terpejam.

__ADS_1


__ADS_2