
Waktu sudah berganti malam, saat ini Rere dan Agnes sedang menonton film horror dilantai bawah. Agnes yang sedari tadi menggigit jari telunjuknya karena takut, sesekali dia juga menutup wajahnya dengan bantal. Tidak seperti Rere yang melihatnya dengan wajah datarnya tanpa ekspresi apa-apa.
“Arrkkkhh…” teriak Agnes yang memenuhi ruangan karena rasa kaget akibat jamscare dari film yang ditonton.
Rere yang terkejut mendengar teriakan Agnes langsung menghadiahi bantal dengan kerasnya.
Bugh…
“Auuhh…” ringis Agnes yang mendapat timpukan dari Rere.
“Bisa tidak, gak usah teriak-teriak, buat orang kaget saja,” geram Rere karena kaget dengan teriakan Agnes.
“Aku kan kaget bu boss,” ucap Agnes dengan wajah cemberut dan mengelus-elus bahunya yang habis ditimpuk oleh Rere.
“Lagian, itu kenapa juga setannya tiba-tiba muncul gak bilang-bilang dulu,” elaknya yang membela diri.
“Bilang saja kau takut, kenapa menyalahkan setannya pula. Kalau kau takut gak usah liat lain kali,” sungut Rere.
“Siapa juga yang takut? Orang aku cuma kaget doang,” elaknya lagi yang tak terima dikata takut oleh Rere.
“Terserah kau lah,” ucap Rere dengan menggerakkan malas bola matanya.
Setelah film yang mereka berdua lihat selesai, mereka berduapun memutuskan kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat karena jam sudah menunjukkan tengah malam.
***
Keesokan paginya, Rere sudah selesai berdandan dan bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan untuk mengecek berkas-berkas yang membutuhkan tanda tangannya.
Setibanya Rere di perusahaan, dia langsung disibukkan dengan banyaknya berkas yang menggunung karena beberapa hari dia tidak datang ke perusahaan.
Saat Rere fokus dengan semua tumpukan berkas-berkas dihadapannya, terdengar suara ketokan pintu dari luar.
Tok... tok... tok...
"Masuk," sahut Rere dari dalam dengan pandangannya yang masih tetap fokus membolak-balikkan berkas ditangannya.
"Maaf nona, pihak dari Abraham Group sudah datang," lapor Liam.
Yap saat ini ada pertemuan kerjasama antara Abraham Group dan A'C Company. Rey masih belum tau jika Rerelah pemimpin dari A'C Company, perusahaan properti yang cukup terkenal di negara Amerika dan di kota kelahirannya saat ini.
"Beritahu mereka, 5 menit lagi aku akan datang keruang meeting," perintah Rere.
"Baik nona," jawab Liam yang langsung melaksanakan perintah dari atasannya.
5 menit kemudian Rere menuju keruang meeting untuk membahas kerjasama antara perusahaannya dan perusahaan yang di pimpin oleh Rey.
Kedatangan Rere membuat fokus Rey langsung tertuju pada Rere.
"Maaf saya sedikit terlambat," ucap Rere saat tiba didalam ruangan.
"Tidak apa nona, kami juga baru saja sampai," jawab sekertaris Rey.
__ADS_1
Rere langsung duduk menempati kursi duduknya. Pandangan mata Rey tak pernah lepas memandang wajah Rere.
Mereka mulai berbincang-bincang mengenai hal serius hingga memakan waktu 2 jam lamanya. Rere tau jika Rey sedang menatapnya sedari tadi, tetapi Rere memilih mencoba bersikap profesional dan mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh sekertaris Rey.
Saat semua dirasa cukup akhirnya kedua belah pihak menyetujui.
"Emm... saya suka dengan penjelasannya, simple dan tidak berbelit-belit. Saya setuju untuk bekerjasama dengan Abraham Group," ujar Rere.
"Terima kasih, nona. Semoga kerjasama kita ini mendapatkan hasil yang memuaskan. Dan semoga kerjasama ini menjalin erat pertemanan kita," jawab sekertaris Rey.
"Baiklah pertemuan kita cukup sampai disini. Jika ada hal yang lebih lanjut hubungi tuan Liam saja," sambung Rere.
"Baik, nona. Terima kasih banyak," ucap kembali sekertaris Rey.
Merekapun berjalan keluar ruangan, saat diluar Rey menyuruh sekertarisnya kembali terlebih dahulu, ia memutuskan untuk tidak kembali ke perusahaannya lebih dulu karena ingin menemui Rere sebentar.
"Kau kembali saja dulu, nanti aku menyusul. Aku masih ada urusan sebentar," ujar Rey pada sekertarisnya itu.
"Baik, tuan. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu," jawabnya dengan sedikit menunduk memberi hormat.
Rey memutuskan untuk menuju keruang CEO dimana ada Rere disana.
Tok... tok... tok...
"Buka pintunya, Li" perintah Rere pada Liam.
Liam langsung membukakan pintu dan melihat Rey berdiri disana.
"Yasudah, suruh dia masuk. Dan tinggalkan kami sebentar," ucap Rere.
Liam langsung mempersilahkan Rey untuk masuk setelah itu dia pamit dan membiarkan nonanya berdua dengan Rey.
"Kenapa?" Tanyanya melihat kedatangan Rey.
"Tidak, aku hanya ingin bersamamu," jawab Rey singkat dengan senyumnya yang menawan.
"Jadi inilah pemimpin dari A'C Company perusahaan yang cukup terkenal yang selama ini disembunyikan identitasnya, hmm?" Tanya Rey yang duduk bersebelahan dengan Rere di sofa panjang yang ada diruangan itu.
"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?" Sambungnya.
"Bukankah sekarang kau sudah tau," jawab Rere.
Rey langsung tersenyum tak menyangka ternyata orang yang ada dihadapannya ini sangat hebat. Diapun merasa bangga pada Rere.
"Apa lagi yang tidak aku ketahui hmm?" Tanyanya kembali.
"Emm... tidak ada," jawab Rere.
"Ayo kita makan siang. Sudah waktunya makan siang, jangan sampai kau kelelahan," ajak Rey dengan perhatiannya.
Rere langsung melihat jam tangan yang melingkar di tangannya, dan benar saja sudah waktunya makan siang.
__ADS_1
"Yasudah ayo. Aku ajak Arin juga, oke," jawab Rere.
Mereka berduapun keluar dari ruangan, Rere mengajak Arin namun sayangnya Arin tidak bisa ikut. Tadinya dia ingin ikut bergabung, tapi karena pekerjaannya yang masih banyak dia memutuskan tidak bergabung dulu. Akhirnya Rey pergi berdua dengan Rere.
Setibanya mereka sampai di restoran yang dekat dengan kantor Rere, mereka langsung duduk dan memesan makanan.
Makanan yang mereka pesanpun segera tiba. Rere langsung melahap dengan semangatnya makanan kesukaannya. Rey yang melihatnya dibuat gemas.
"Pelan-pelan, tidak ada yang merebut makananmu Re," ujar Rey.
"Besok malam ikut aku ya," ajak Rey yang membuat Rere penasaran.
"Kemana?" Tanyanya.
"Kerumahku, bertemu mama sama papa," jawabnya dengan menatap gemas Rere.
"Bagaimana kabar papa sama mama? Apa mereka baik-baik saja?" Tanya Rere. Semasa dulu, Rere sudah sangat dekat dengan keluarga Rey. Bahkan saat Rere pergi karena ulah Rey, mama dan papa Rey memarahi Rey tak henti-hentinya.
"Mereka semuanya baik. Aku hanya ingin membicarakan hubunganku denganmu. Aku ingin kita segera menikah," jawabnya.
Rere yang mendengar jawaban Rey langsung tersedak karena kaget.
Uhuukk... uhukk...
Rey yang melihatnya segera memberikan air pada Rere sambil menepuk-nepuk pelan punggung Rere.
"Hati-hati kalo makan," ucap Rey.
"Bagaimana aku tidak tersedak, lagian kau sendiri yang membuatku kaget," sungut Rere. "Apa secepat itu Rey?" Sambungnya.
"Lebih cepat lebih baik, aku tidak mau kehilanganmu lagi Re," lirihnya.
"Cukup yang kemarin saja. Aku tau aku salah Re, mungkin kau juga masih ragu denganku. Tapi aku sudah bertekad untuk memperbaiki semuanya dari awal. Maafkan atas tindakanku yang begitu bodoh," sambungnya dengan wajah penyesalannya.
Rere yang melihat penyesalan dalam mata Rey hanya diam tidak berkata apa-apa. Bukannya Rere tidak percaya, bukannya Rere tidak mau menikah dengan Rey, justru itu adalah impian Rere. Tapi dia ingin melihat bagaimana kemajuan usaha yang dilakukan oleh Rey.
"Sudah habiskan dulu makananmu sebelum waktu istirahat habis," ucap Rere mengalihkan pembicaraan. Mereka berduapun melanjutkan makan mereka yang terkadang terselipkan candaan-candaan kecil mereka berdua.
Setelah makan siang selesai, mereka langsung kembali ke perusahaan masing-masing. Tapi sebelum itu, Rey mengantarkan Rere dulu keperusahaannya. Dia tidak membiarkan Rere pergi sendiri.
Sesampainya diperusahaan, Rere melanjutkan mengecek semua berkas-berkas yang menumpuk. Hingga tak sadar jika waktu sudah menunjukkan jika jam kerja kantor telah selesai.
Semua karyawan Rere bersiap-siap untuk pulang tak kecuali Rere.
Rere yang keluar dari ruangannya bersamaan dengan Arin yang baru saja keluar.
"Haii Rinn... barengan yuk," ajak Rere.
"Emmm... bolehdeh, ayuk lah. Sekali-kali deh bareng Rere, hehehe," jawab Arin.
Mereka berdua akhirnya pulang bersama dengan mengendarai mobil Rere. Dalam sepanjang perjalanan, mereka tidak bisa diam karena Arin yang terus saja nyerocos tanpa hentinya.
__ADS_1
Setelah mengantar Arin, Rere langsung menuju kemension. Rere langsung masuk kedalam dan segera membersihkan tubuhnya yang sudah lengket karena keringatnya.