
"Bibii... Lalita sama Celo sudah pulang belum?" Tanya Rere tiba di rumah.
Merasakan firasat buruk tadi, Rere segera melesat pulang untuk melihat keadaan Celo dan Lalita.
"Belum nyonya." Jawab salah satu ART itu.
"Maaf, nyonya. Kami lalai. Nona Lalita dan tuan kecil di bawah anggota Nicky." Lapor salah satu anak buah Rere yang datang dalam keadaan babak belur.
"APA!!" Suara Rere menggema. Anak buahnya hanya menunduk tidak berani menatap Rere.
"Apa yang kalian lakukan sedari tadi?" Rere marah.
"Maaf, nyonya. Mereka sangat banyak. Kami kalah jumlah," terangnya.
Saat mereka melihat Lalita di bekap, mereka segera keluar dari tempat persembunyian dan melawan anak buah Nicky. Namun, mereka kalah jumlah. Anak buah Nicky langsung saja melumpuhkan anak buah Rere yang hanya beberapa itu.
"Obati luka kalian. Aku akan segera ke markas." Sarkas Rere melangkahkan kakinya cepat.
Di perjalanan, Rere segera memasang earphone dan menghubungi Daniel yang ada di markas.
"Siapkan semua pasukan kita. Dan kau cari Lalita dan Celo di mana saat ini. Anak buah Nicky membawa mereka berdua. Hubungi Agnes untuk segera datang ke markas." Perintah Rere saat sambungan telfonnya terhubung.
Rere memutuskan sambungan telfonnya lalu menghubungi Rey.
"Apa kau sibuk?" Tanya Rere.
"Tidak, ada apa?" Jawab Rey di seberang sana.
"Cepat datanglah ke markas. Tidak ada waktu lagi." Ucap Rere lalu mematikan sambungan terfonnya.
"Sepertinya ada hal yang sangat penting." Gumam Rey.
"Prayoga... kamu handle dulu kantor saat ini. Ada hal penting yang harus saya urus," Rey menyambar jasnya lalu segera berjalan keluar dengan terburu-buru.
Rere sudah tiba di markas dan tak lama kemudian Agnes juga sampai di sana.
Mereka berdua melangkahkan kaki masuk ke dalam dengan aura yang sangat kuat.
"Bagimana, Niel. Kau sudah menemukannya?" Tanya Rere saat baru saja tiba.
"Menurut anak buah kita yang disana. Nona dan tuan kecil di bawa ke markas mereka. Markas mereka berada di pinggir hutan," jawab Daniel.
"Kau siapkan semuanya. Kita menunggu Rey untuk datang." Perintah Rere.
Di markas kelompok Nicky...
Lalita mulai mengerjapkan matanya. Ia terbangun dengan kondisi terikat dan di dudukkan di kursi.
"Eehh... di mana aku? Kenapa aku terikat begini? Siapa yang melakukan ini?" Ia bermonolog dengan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian suara pintu terbuka dan menampakkan sosok pria yang ia temui tadi.
Matanya melotot setelah tau siapa orang itu.
"Kau..." ucapnya.
"Apa yang sudah kau lakukan, hah? Lepaskan aku. Di mana keponakanku?" Cerca Lalita.
"Hahahaa... tenanglah nona manis. Aku tidak akan menyakitimu," jawab Nicky santai.
"Kenapa kau menculikku, hah?" Lalita membentak Nicky dengan keras.
"Aku hanya ingin kakakmu itu datang. Aku ingin dia mati di tanganku." Jawab Nicky dengan mata yang penuh dendam.
"Untuk apa kau mengincar nyawanya, hah?" Ucap Lalita memberontak.
__ADS_1
"Aku ingin membalaskan dendam atas kematian kakakku karena kakakmu yang telah membunuhnya."
Lalita memandang marah pria di hadapannya itu.
"Tidak mungkin. Kakakku bukanlah seorang pembunuh," sentak Lalita.
"Rupanya kau belum tau siapa sebenarnya kakakmu itu nona," ucap Nicky dengan tersenyum sinis.
"Apa kau ingin tau?" Sambung Nicky menaikkan sebelah alisnya.
"Kakakmu adalah seorang mafia. Dan dia yang telah membunuh kakakku."
Lalita terkejut mendengar perkataan dari Nicky.
"M-mafia? Tidak mungkin. Itu tidak mungkin. Kau pria pembohong." Suara Lalita meninggi.
"Kalau kau tidak percaya, kau lihat saja nanti." Ucap Nicky meninggalkan Lalita.
"Heiii pria brengsek... lepaskan aku," Lalita berteriak sekencang mungkin. Namun, Nicky tidak memperdulikan teriakan Lalita.
Ia terus berjalan menuju ruangan miliknya.
"Kau sudah kirimkan apa yang aku perintahkan tadi?" Tanya Nicky pada salah satu anak buahnya.
"Sudah tuan.
"Bagus, kita tunggu mereka datang." Nicky menyeringai.
"Mama... papa... kakak... tolong selamatkan aku. Hikss... hiks..." ucap Lalita lirih.
Kembali ke sisi Rere...
Rey segera masuk ke dalam markas dengan langkah terburu-buru.
"Sebenarnya ada apa, Re?" Rey mendudukkan dirinya di sofa.
"Lalita dan Celo di bawa oleh Nicky." Jawab Rere.
"30 menit lagi kita akan berangkat. Kau hubungi Liam, suruh dia langsung menuju lokasi sekarang." Ucap Rere tegas.
Daniel pun segera menghubungi Liam.
"Kita pergi kesana secara bergantian, agar pergerakan kita tidak di ketahui."
"Agnes, kau berangkatlah dulu bersama dengan 200 anggota kita. Hubungi Liam jika sudah sampai. Bawa juga anggota sniper untuk bersiap di sana." Perintah Rere.
"Siap bu bos." Agnes segera melangkah keluar dan menyiapkan anggotanya.
"Daniel, kau siapkan kesayanganku. Aku akan membawanya. Jika sudah selesai, kau langsung berangkat bersama dengan anggota lainnya."
Daniel sudah menebak apa yang akan terjadi jika Rere sampai membawa kesayangannya ke sana.
Tiing... bunyi notifikasi dari ponsel Rere.
Rere membukanya dan melihat isi pesan tersebut.
Rere yang mendapat foto kiriman dari anak buah Nicky pun merasa geram. Foto itu menunjukkan jika Celo dan Lalita tengah di ikat.
"Kenapa kita tidak langsung berangkat saja, sayang?" Rey merasa cemas akan keselamatan Celo dan Lalita.
"Kita tidak bisa terburu-buru Rey. Bagaimanapun, kita harus punya persiapan yang matang. Setelah ini kita berangkat," jelas Rere.
"Kenapa kita tidak langsung berangkat saja, sayang?" Rey merasa cemas akan keselamatan Celo dan Lalita.
"Kita tidak bisa terburu-buru Rey. Bagaimanapun, kita harus punya persiapan yang matang. Setelah ini kita berangkat," jelas Rere.
__ADS_1
Sesaat kemudian, Rere pun pergi menuju lokasi bersama dengan Rey. Semua anak buah yang ia perintahkan sudah stand by di sana.
Mereka melakukan pergerakan dengan sangat senyap agar tidak di ketahui oleh musuh.
Sesampainya disana, Rere segera keluar menuju mendekat ke arah Daniel, Agnes dan Liam yang sudah ada di sana terlebih dulu.
"Bagaimana untuk semua persiapannya?" Tanya Rere.
"Semua sudah berada di posisi masing-masing. Anggota sniper kota juga sudah stand by." Terang Daniel.
"Bagaimana dengan posisi Celo dan Lalita?"
"Mereka di tempatkan secara terpisah," sahut Daniel.
"Oke, pasang earphone kalian masing-masing. Dan kita berpencar. Kau buat keributan terlebih dahulu dengan pasukanmu Niel," perintah Rere.
"Aku akan menghadapi Nicky, jika kalian sudah selesai. Bantu yang lainnya," sambung Rere. Mereka mengangguk faham.
"Oke, kita berpencar sekarang."
Sedangkan di dalam sana...
"Bagaimana, apa sudah ada pergerakan dari wanita itu?" Tanya Nicky pada anak buahnya.
"Belum terlihat sama sekali pergerakan mereka, tuan." Jawabnya.
Dan tiba-tiba saja...
Dooorr... door.... door....
Pyaarr...
Suara baku tembak mulai terdengar. Kaca-kaca yang ada di sana sebagian sudah pecah.
"**!**," umpat Nicky. Dia belum bersiap sama sekali
"Cepat kalian serang balik mereka." Perintah Nicky. Mereka semua pun keluar dan melakukan aksi baku tembak.
Doorrr... doorr.... door....
Suara tembak saling bersahut-sahutan.
Daniel yang berada di arah depan menggila tanpa henti.
Doorr... doorr... dorr...
Ia melesatkan tembakannya mengenai semua sasaran.
Bugh...
Daniel terjungkal karena pukulan keras dari belakang.
"Haiiss... kurang ajar kau." Kegilaan Daniel terpancing saat dirinya mendapat pukulan.
Dia melancarkan aksinya membalas pukulan dari anak buah Nicky.
Bugh... bughh...
Dua tendangan telak di layangkan oleh Daniel.
Dia kembali menembakkan pelurunya ke arah musuh...
Dorr... dorr....
__ADS_1