
Pagi harinya, Celo sudah rapi dengan kaos santainya.
Ia pun menuju kamar Lalita untuk mengajaknya bermain. Sedangkan Rey dan Rere bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
"Onty... kata mama sama papa Celo punya adik. 2 lagi," ujar Celo bersemangat. Bukannya menunjukkan angka 2 justru ia menunjukkan 3 angka dengan jarinya.
"Itu 3 Celo, bukan 2. Kalau 2 itu begini," ralat Lalita sambil membenahi jumlah jari Celo.
"Apa itu benar? Berarti kakak hamil lagi? Anak kembar? Waahh... sepertinya akan ramai sekali rumah ini nantinya ya," ucap Lalita ikut merasa senang.
"Nanti Celo bisa ajak main sama Lucas dan Lucia," girang Celo.
"Jangan ngadi-ngadi anak tuyul." Sahut Lalita mendengar perkataan Celo.
Sedangkan di kamar Rey dan Rere...
Rere merapikan dasi yang di kenakan oleh Rey. Rey sedari tadi memandang wajah Rere tanpa henti.
"Kenapa sedari tadi memandangku, hmm?" Tanya Rere.
Rey meletakkan kedua tangannya di pinggang Rere.
"Kamu semakin cantik," jawab Rey dengan tersenyum.
"Masih pagi, jangan menggombal terus." Sahut Rere.
"Apa kamu sudah memberitahu keluarga kita kalau akan ada anggota baru lagi?"
"Emm... belum." Jawab Rere.
Rey memeluk erat tubuh Rere. "Kalau begini terus kapan berangkatnya?" Protes Rere.
"Meskipun telat tidak akan ada yang berani marah," jawab Rey dengan santainya.
Memang ada benarnya juga. Siapa juga yang akan berani memarahi Rey maupun Rere.
"Kita kan harus kasih contoh yang baik pada karyawan, Rey."
"C!*um aku dulu," ucap Rey.
Rere pun menuruti permimtaan Rey.
"Kenapa hanya di pipi?" Protesnya.
"Lalu?" Rere memicingkan alisnya.
"Di sini." Tunjuk Rey pada bibirnya.
Cuup..
Rere meng*ccup singkat bibir Rey. Rey tersenyum lalu meng*c*p kembali bibir Rere dengan lama.
"Sudah ayo. Nanti keburu siang." Ajak Rere mengakhiri c!uman mereka di pagi hari.
.
.
__ADS_1
.
9 bulan kemudian...
"Mama... kenapa adik Celo tidak keluar-keluar. Apa mereka tidak mau bermain dengan Celo?" Ujar Celo yang mulai lancar dalam berbicara.
"Tunggu sebentar ya. Mereka juga sudah sabar kok ingin bermain dengan Celo," jawab Rere dengan tersenyum.
"Coba Celo ajak adiknya bicara," ucap Rere pada Celo.
Celo terlihat sangat senang. Hampir setiap hari Celo mengajak adik-adiknya berbicara.
"Hai adik... kapan kalian keluar? Nanti kakak ajak main dengan Lucas dan Lucia. Di rumah banyak sekali ice cream dan makanan, nanti kita makan sama-sama ya." Ucapan Celo di respon oleh kedua adiknya.
"Mereka bergerak mama." Girang Celo.
"Anak papa kenapa ini? Sepertinya senang sekali?" Rey menghampiri Celo dan menc!*um pipi gembul Celo.
"Tadi Celo mengajak mereka berbicara pa. Mereka bergerak," cerita Celo antusias.
"Berarti mereka sudah tidak sabar untuk bermain dengan kakak Celo," ujar Rey.
"Mana manggaku, Rey?" Sahut Rere menanyakan mangga pesanannya.
Rey memberikan mangga yang ia beli tadi. Rere membuka kresek hitam itu dengan mata yang berbinar.
"Sepertinya ini segar sekali," ujar Rere.
Rere pun memanggil salah satu ART untuk mengupaskan mangga yang sudah matang itu
Tak lama kemudian, mangga yang di kupas itu pun sudah ada di depan Rere.
"Apa itu enak?" Tanya Rey melihat wajah Rere yang menggemaskan.
Di kehamilannya yang ke dua ini Rere banyak sekali makan, hingga pipinya pun semakin gembul. Mungkin karena mengandung dua bayi sekaligus, makanya porsi makannya bertambah.
"Coba ini. Ini rasanya segar, tidak masam tidak manis. Kau pintar memilihnya," ujar Rere sambil menyuapkan mangga itu ke Rey.
"Enak kan?" Tanya Rere saat Rey mengunyah mangga itu.
"Enak. Rasanya pas. Habiskan, jangan biarkan mereka demo denganmu," canda Rey.
"Celo mau?" Tawar Rere pada Celo.
"No, mama. Nanti adiknya marah sama Celo. Biar Celo minta sama bibi lagi," tolak Celo. Rey merasa gemmas dengan Celo.
Celo tidak pernah merasakan iri meskipun saat ini sang mama sudah mau melahirkan. Justru Celo sangat antusias dengan kehadiran adik-adiknya nanti.
Rey dan Rere tidak akan membiarkan Celo iri dengan adik-adiknya nanti. Mereka tetap memberikan kasih sayang dan memperhatikan Celo dengan baik.
"Kalau adeknya sudah lahir, Celo mau kasih nama apa?" Tanya Rey pada Celo.
Rere dan Rey sudah mengetahui jenis kelamin buah hatinya untuk yang sekarang. Yang satu perempuan dan satunya laki-laki.
Celo pun berfikir-fikir untuk memberi nama adik-adiknya.
"Kalau perempuan namanya clara, laki-laki namanya calvin," cetus Celo setelah berfikir cukup lama.
__ADS_1
"Nama yang bagus," ucap Rey menyetujui Celo.
"Eemmm gimana kalau... Clara Brillian Abraham dan Calvin Bryano Abraham?" Sahut Rere.
Celo dan Rey saling pandang sebelum menyetujui.
"Setuju." Serempak Rey dan Celo.
"Helloooow epribody..." teriak Lalita di tengah-tengah mereka.
"Apasih aunty. Berissik," sahut Celo mendengar suara Lalita yang baru saja datang.
"Hehee..." cengir Lalita dengan watadosnya.
"Dari mana saja kau? Ngapel?" Ucap Rere.
"Siapa yang ngapel sih. Ngapel sama siapa coba?" Sungut Lalita tak terima.
"Mainmu kebanyakan sama Agnes. Pantes saja mulutmu gak bisa di rem kalau tereak-tereak," sungut Rere tak mau kalah.
"Kok aku yang di bawa-bawa?" Agnes yang mendengar namanya di sebut melotot tidak terima.
"Memang dari mana kalian?"
"Biasalah dari cafe. Dari pada bosen juga," jawab Agnes.
"Pasti dari ngapel kan kalian?"
"Kau tau Rey. Agnes sekarang lagi dekat dengan Vano," celetuk Rere tanpa ba bi bu be bo.
"Benarkah itu? Wahh... sepertinya akan ada yang melepas masa lajangnya," goda Rey.
Agnes langsung melototkan mata. "Apasih... aku cuma temanan doang kok," elak Agnes dengan wajah paniknya.
"Kau kira aku ini mudah di bohongi? Kau kira Vano juga tidak cerita denganku? Apa kau juga lupa kalau aku ini siapa?" Cerca Rere. Wajah Agnes semakin merah padam karena ketahuan.
"Kapan Vano cerita sama kamu? Kenapa kamu tidak bilang dengan aku?" Sahut Rey pada Rere.
"Hahaha.... wajahmu seperti tomat matang, kak." Gelak tawa Lalita terdengar melihat wajah Agnes.
"Suut... anak kecil. Diamlah," sungut Agnes pada Lalita.
"Kalau memang iya juga tidak apa-apa kali, Nes. Vano orangnya baik. Jangan sampai kau menyesal nanti kalau dia ada yang nyerobot duluan," ucap Rey.
"Dengar tu. Kalau sama suka udah langsung gas aja kali." Imbuh Lalita.
Agnes pun memanyunkan bibirnya. Dia mencoba tidak memberitahu dulu, eehh... ketahuan duluan deh.
"Tapi... aku masih ragu. Kan ini juga pertama kali bagiku dekat sama lawan jenis," lirih Agnes dengan wajah sedikit memelas.
"Aku tau itu. Tapi mau sampai kapan, Nes? Sudah waktunya dirimu ada pendamping hidup. Rere sudah ada aku yang menjaganya, kau tidak perlu khawatir. Aku yang menjamin jika dirimu akan bahagia dengan Vano," tutur Rey.
"Dan kau juga Lita... peka terhadap sekitarmu. Ada orang yang juga diam-diam selalu memandangmu." Sahut Rere pada Lalita.
"Hahh... siapa?" Lalita di buat bingung dengan ucapan sang kakak.
Lalita memang cerewet minta ampun, tapi dia juga sering cuek dengan sekitarnya.
__ADS_1
Jelas Rere tahu jika Daniel diam-diam selalu memandang Lalita. Agnes pernah menceritakan akan hal itu waktu dulu.
"Kau tidak tau?" Sahut Agnes. Lalita menggelengkan kepala dengan wajah polosnya.