Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 61.


__ADS_3

Tengah malam Rere terbangun karena merasa sangat lapar.


"Kenapa aku tiba-tiba merasa lapar sekali?" Gumam Rere meletakkan tangannya di depan perut.


Dia pun menyibakkan selimut yang menutupi dirinya lalu turun ke bawah untuk mencari sesuatu yang bisa di makan.


Ia melihat di sekitar dapur namun tidak menemukan sesuatu di sana.


Ia coba melihat ke dalam kulkas untuk mencari sesuatu. Di lihatnya ada cake coklat, Rere pun nmengambil dan segera memakan cake itu.


"Eemmm... enak," ujar Rere mengunyah cake tersebut.


15 menit kemudian, ia kembali ke kamar agar Rey tidak mencarinya nanti.


Keesokan paginya...


Rey terbangun dengan perut yang merasa mual. Ia memutuskan untuk ke kamar mandi dan memuntahkannya di sana.


Hoekk.. hoek...


"Aaiishh... kenapa tiba-tiba aku mual seperti ini?" Gumamnya setelah mengelap mulutnya.


Ia kembali ke kamarnya saat di rasa tidak mual lagi.


"Kenapa wajahmu sedikit pucat seperti itu?" Tanya Rere yang juga baru saja bangun melihat Rey keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sedikit pucat.


"Emm... tidak apa-apa, sayang. Aku hanya merasa mual sedikit tadi," jawab Rey kembali berbaring ke atas kasur dan memeluk tubuh Rere.


"Kau muntah?" Tanya Rere di angguki oleh Rey.


"Kenapa kau jadi manja sekali?" Rere bingung dengan sikap Rey yang seperti anak kucing.


"Biarkan saja seperti ini. Aku ingin memelukmu," jawab Rey. Rasanya ia ingin terus menerus berdekatan dengan sang istri.


Rere membiarkan saja apa yang di lakukan oleh Rey. Rey pun kembali tertidur dengan wajahnya bersembunyi di perut Rere.


"Pagi mamaa... papa..." Celo datang ke kamar mereka dengan wajah gembira.


"Kenapa papa belum bangun ma?" Tanya Celo melihat sang papa memeluk mamanya.


"Ssuutt... biar papa tidur dulu. Papa masih sakit," terang Rere karena ia melihat wajah pucat Rey tadi.


Celo mengangguk faham dengan ucapan sang mama.


"Celo tidak mandi?"


"Mau sama mama," jawab Celo ikut memeluk tubuh Rere.


Rere tersenyum ke arah Celo. "Yaudah ayok," ajak Rere agar. Rere membenarkan posisi tidur Rey perlahan-lahan agar tidak terbangun.


Rere berjalan ke arah kamar mandi dengan menggendong Celo.


Setelah 30 menit, Rere memakaikan baju ganti untuk Celo terlebih dulu.


"Celo sama aunty dulu ya," ujar Rere. Rere pun mnegantar Celo ke kamar Lalita.


Setelah itu ia kembali ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.


Rere berencana untuk ke markas pagi ini, tapi melihat kondisi Rey saat ini, ia menundanya dulu. Mungkin nanti siang atau sore.


Pukul 09.00 pagi...


Rey terbangun dari tidurnya melihat Rere sudah berdandan cantik di sana.


"Kau sudah bangun?" Ucap Rere melihat Rey terbangun.


Rey tidak menjawab, perutnya merasa sangat mual. Dia pun buru-buru untuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Huek... huek...


Rere yang mendengar Rey kembali muntah menyusul ke kamar mandi.


"Kamu tidak apa, Rey?" Tanya Rere sedikit cemas. Ia khawatir jika ada masalah akibat luka tembakan kemarin. Ia membantu mengusap-usap punggung Rey agar sedikit baikan.


"Entahlah, sayang. Rasanya mual sekali," jawab Rey sedikit lemas.


"Istirahat dulu, oke. Aku akan meminta bibi membuatkan bubur."


Rey pun kembali ke kamar dan duduk bersender di atas kasur.


Tak lama kemudian Rere membawa bubur itu dan menyuapkan pada Rey seperti biasanya.


Skiipp...


Pukul 01.00 siang...


Keadaan Rey sudah cukup membaik. Rere pun mengatakan pada Rey jika ingin ke markas.


"Aku ingin ke markas, dulu." Ijin Rere.


"Aku akan ikut," jawab Rey.


"Tapi kamu masih belum sembuh, Rey." Ujar Rere kembali.


"Aku sudah lebih merasa baik, sayang. Aku juga bosan 5 hari tertidur terus," jawab Rey. Rere akhirnya mengiyakan ucapan Rey.


Celo yang sedari tadi berada di bawah bersama Lalita bertanya-tanya melihat sang mama berdandan rapi.


"Mama mau pelgi kemana?" Tanya Celo penasaran.


"Mama mau pergi ke tempat uncle Daniel. Apa Celo mau ikut?"


Celo antusias mendengar jawaban sang mama.


"Onty ayo." Ajak Celo pada Lalita.


"Memangnya mau kemana kak?" Lalita pun bertanya.


"Kau akan tau nanti jika ikut," jawab Rere.


Lalita pun ikut saja, ia merasa jika ini akan ada yang asik nanti.


Markas The Lion...


Setibanya Rere disana. Ia segera masuk di ikuti Rey dan Lalita.


Lalita merasa bingung berada di sana. Baru pertama kali ia melihat bangunan itu dengan banyak orang.


"Kalian disini dulu oke. Kalo mau berkeliling, ajak salah satu dari mereka. Atau tidak, tunggu Aunty Agnes dulu." Ujar Rere pada Celo dan Lalita.


"Kau mau ikut, Rey?" Tanya Rere.


"Jelas saja aku akan ikut denganmu. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri." Jawab Rey.


Tak lama kemudian Agnes datang.


"Heelloooooww everybody..." teriak Agnes baru saja tiba.


"Bukan hutan, gak usah teriak-teriak," sungut Rey pada Agnes.


"Pa boss kayak gak tau aja," jawab Agnes.


"Kau temani mereka dulu, Nes. Ajak Lita berkeliling. Aku mau ke ruang bawah tanah. Daniel sudah menungguku."


Rere berjalan ke ruang bawah tanah di ikuti oleh Rey, sedangkan Agnes mengajak Lalita dan Celo untuk berkeliling di markas.

__ADS_1


Daniel menyambut kedatangan Rere di sana.


Rere menganggukkan kepala saat Daniel menyapanya.


"Buka pintunya," titah Rere.


Nicky menatap dendam pada Rere saat ini.


Kondisinya yang sudah sangat berantakan dengan luka yang ia terima. Kedua tangannya di ikat dengan besi agar tidak bisa lari kemana-mana.


"Dasar wanita sialan." Nicky mengumpati Rere. Rere hanya diam tak menyahuti umpatan dari Nicky.


Rey yang mendengar itu ingin sekali menghajar Nicky, namun tangannya di cekal oleh Daniel.


"Jangan mengganggu nyonya di saat dia sedang marah," bisik Daniel pada Rey.


Rey pun melihat saja apa yang akan di lakukan oleh Rere.


"Lepaskan aku," berontak Nicky.


"Kenapa kau hanya diam, hah? Kau takut jika aku bisa lepas? Hahahah..." tawa Nicky keras seprti orang gila.


Rere pun meminta anak buahnya untuk membawakan sekotak belati.


Saat di bukanya kotak itu, Rere langsung melayangkan ke arah Nicky.


Syuutt... jleeb...


Belati itu tertancap di salah satu lengan Nicky.


"Aakkhh..." teriaknya menahan sakit. Darah pun menetes dari lengan Nicky.


"Itu karena kau menyentuh anakku," tukas Rere dengan tegas. Aura di sana menjadi sangat dingin karena kemarahan Rere.


Syuutt... syuut... jleb...


Satu lagi belati mendarat di kedua paha milik Nicky.


"Dan itu, karena kau menyentuh adikku."


Dor... dor... dor...


Rere menembak Nicky secara beruntun di lengan,  kaki dan dada. Tapi tidak sampai mengenai jantung Nicky.


"Itu untuk suamiku," jawab Rere tegas.


Raut wajahnya menunjukkan kemarahan yang sangat besar karena Nicky melukai Rey.


"Kenapa kau tidak langsung saja membunuhku?" Ucap Nicky dengan suara lemah.


Rere pun mendekat ke arah Nicky dengan tatapan dinginnya.


"Tidak semudah itu," ucap Rere sambil menepuk pipi Nicky.


Rere pun kembali melangkahkan kakinya keluar. Tatapan Nicky penuh dengan dendam dan kebencian pada Rere.


"Kau urus sisanya. Aku sedang tidak berselerah bermain-main. Atau tidak, biarkan saja dia mati dengan sendirinya." Ucap Rere pada Daniel.


Entah kenapa hari ini ia seperti tidak ada mood untuk bermain dengan musuh. Biasanya dia tidak akan membiarkan musuh itu hidup lebih lama.


Daniel sendiri pun juga bingung. Tidak seperti biasanya Rere seperti itu. Tapi dia mengiyakan saja apa yang di katakan oleh Rere.


Rere pun kembali ke ruangan berkumpul untuk menyenderkan dirimya.


"Ada apa denganmu, nyonya. Tidak biasanya seperti ini?" Tanya Daniel.


"Entahlah, aku lagi tidak ada mood melakukannya," jawab Rere menggedikkan bahunya.

__ADS_1


__ADS_2