Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 41. Tendangan Si Kecil


__ADS_3

Malam harinya, sepasang suami istri itu sedang duduk bersantai di hadapan layar TV yang sangat lebar.


Tiba-tiba saja Rere meringis karena tendangan kuat dari dalam perutnya, "aauuhh..."


Rey mendengar ringisan Rerepun menoleh ke arahnya, "ada apa, sayang? Apa ada yang sakit?" Tanyanya dengan wajah cemas.


"Tidak apa, dia sangat aktif di dalam," jawab Rere dengan mengelus perutnya.


"Benarkah?" Sambung Rey di angguki kepala oleh Rere. Reypun mencoba mengelus perut Rere dan mendapat respon, Rey tersenyum melihat calon buah hatinya itu sangat aktif di dalam.


Rey akhirnya sedikit menunduk ke arah perut Rere dan mulai berbicara, "anak papa sehat-sehat ya di dalam, papa dan mama menyayangimu. Jangan keras-keras nendangnya, nanti mama sakit. Cepat keluar ya, papa dan mama menunggumu," ucap Rey di sambut tendangan lagi dari dalam.


Rey sangat senang dan menikmati masa-masa kehamilan Rere sekarang. Ia tidak berhenti-hentinya untuk bersyukur di beri kesempatan seperti ini dengan orang yang ia cintai.


Rere tersentuh dengan ucapan Rey hingga air matanya jatuh membasahi pipi lembutnya, Rey melihat Rere menangis kembali cemas.


"Ada apa, hmm? Kenapa menangis?" Tanya Rey mengelap air mata Rere.


"Tidak... aku hanya merasa bahagia dan tersentuh," jawabnya.


"Sudah, jangan nangis lagi ya. Tidak baik, nanti bisa berpengaruh pada kandungan kamu," ucap Rey kemudian me****m kedua kelopak mata Rere.


"Bagaimana jika anak kita yang terlahir nanti seorang perempuan?" Tanya Rere.


"Aku tidak pernah mempermasalahkan itu perempuan atau laki-laki, yang penting sehat tanpa kurang apapun. Laki-laki dan perempuan sama saja bukan? Aku akan selalu menyayanginya," jelas Rey dengan tersenyum.


"Ayo kita istirahat, kamu perlu banyak istirahat," ajak Rey.


Pagi harinya pukul 08.00...


"Kamu tidak ke kantor, Rey?" Tanya Rere.


"Nanti siang saja, aku ingin menemanimu," jawab Rey yang menenggelamkan wajahnya ke perut Rere.


Rere mengelus pucuk kepala Rey yang sedang tiduran di atas pahanya.


"Aku tak apa, Rey. Bukankah ada pertemuan penting hari ini? Agnes dan Daniel akan ke sini."


"Kalau begitu aku menunggu Agnes dan Daniel sampai disini, biar aku bisa tenang nanti. Aku khawatir kamu kenapa-napa," terangnya lembut.


"Baiklah, akan aku siapkan untukmu. Sebentar lagi mereka juga akan tiba."


"Tidak usah, kamu istirahat saja. Aku tidak ingin kamu kelelahan," tolak Rey lembut.


"Tak apa Rey. Aku masih kuat, aku juga butuh bergerak. Anggap saja olahraga kecil-kecilan," jawab Rere.


"Terima kasih," ucap Rey beranjak bangun dan me****m singkat kening Rere.

__ADS_1


Rey pun segera bersiap-siap di bantu oleh Rere, tak lama akhirnya Agnes dan Daniel tiba di rumah yang Rere tempati bersama Rey sekarang.


"Nona dan tuan silahkan di minum dulu," ujar salah satu ART di sana.


"Terima kasih," ucap Daniel dan Agnes bersamaan.


Tak lama kemudian Rey dan Rere pun keluar, Rey sudah berpakaian rapi dengan setelan jasnya dan siap untuk pergi ke kantor.


Saat ini mereka menempati kamar yang ada di lantai bawah karena kandungan Rere sudah mulai membesar dan untuk antisipasi agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan nantinya.


"Kalian sudah datang," suara Rere terdengar.


"Haii bu boss... bagaimana keadaan calon keponakan kami?" Tanya Agnes.


"Dia baik, sangat aktif juga di dalam," jawab Rere.


"Anak papa gak boleh nakal ya, papa kerja dulu," Rey mensejajarkan badannya dengan perut untuk mengajak calon buah hatinya berbicara.


Sering-sering mengajak berbicara pada calon bayi juga sangat bagus, hal itu bisa mempengaruhi perkembangannya dan mudah untuk ia mengenal suara orang-orang di sekitarnya, terutama ayah dan ibu.


Tak lupa juga Rey me****m perut Rere tanpa ada rasa malu di hadapan Agnes dan Daniel.


Daniel dan Agnes hanya bisa melengos berpura-pura tidak melihat keromantisan di depan mata masing-masing.


"Aku berangkat dulu ya," pamit Rey men***m kening Rere.


"Aku titipkan Rere pada kalian berdua, jika nanti ada apa-apa hubungi aku," ujar Rey pada Agnes dan Daniel.


"Siap pa boos/tuan," jawab Agnes dan Daniel bersamaan.


Rey melenggang pergi menuju perusahaan.


"Bagaimana keadaan di markas, Niel?" Tanya Rere.


"Di markas aman, meskipun ada kecoa masuk tapi semuanya sudah beres," jawab Daniel.


"Oke baguslah. Kau pantau terus mereka semua, pastikan tidak ada yang membelot," perintah Rere tegas dan di jawab oleh acungan jempol oleh Daniel karena mulutnya penuh dengan makanan yang baru saja di sajikan oleh salah satu ART di sana.


"Bagaimana untuk mension yang di sana, Nes?"


"Mension aman bu boss, tadinya memang ada salah satu dari mereka yang nglunjak aku ganti saja langsung dengan yang baru," jawab Agnes dengan memasukkan keripik singkong ke mulutnya.


Banyak yang mereka bicarakan dari hal-hal sepele maupun serius. Dan seperti biasa, jika Daniel dan Agnes sudah bersama, pasarpun kalah dengan kegaduhan mereka.


Abraham Group...


Rey berkutat dengan semua tumpukan berkas sebelum ia menghadiri pertemuan penting.

__ADS_1


Tok... tok... tok...


Suara ketukan pintu terdengar.


Klek...


Sebelum Rey menjawab pintu sudah terbuka menampakkan wanita seksi dengan pakaian yang kurang bahan. Rey melihat sekilas lalu kembali berkutat dengan berkas-berkasnya, ia kira itu adalah Prayoga selaku asisten dan sekertarisnya yang ada di perusahaan.


"Prayoga," teriak Rey dengan lantang.


Yang di panggilpun segera datang mendengar teriakan bossnya, "saya tuan?"


"Bawa wanita ini keluar, dan ganti dia dengan karyawan baru," perintah Rey tegas. Entahlah, setelah dia mengikuti jejak Rere, sikapnya sedikit tertular dengan Rere dan para tangan kanannya.


"Baik tuan," jawab Prayoga dengan membawa wanita itu keluar.


Wanita itupun menghentakkan keras kakinya karena sudah di tolak mentah-mentah oleh Rey.


Kembali lagi ke sisi Rere dan kedua anak buahnya yang sedang gaduh.


"Sini kau anak curut," teriak Agnes.


Agnes geram karena tingkah jahil Daniel tadi, awalnya mereka semua bercanda dan pada akhirnya Daniel menaruh cicak mainan di pundak Agnes hingga membuatnya berteriak karena kaget.


Buugh...


Agnes melempar bantal ke arah Daniel.


"Berhenti kau," teriaknya lagi.


Daniel yang tersandung kakinya sendiri akhirnya terjungkal, Agnes yang mendapat kesempatan segera berlari ke arah Daniel dan menghajar habis-habisan.


Bugh... bugh... bugh...


Pukulan keras di tujukan pada Daniel menggunakan bantal yang dia lempar tadi.


"Aduh... duh ampun ampun..." ucap Daniel dengan menghalau pukulan Agnes menggunakan tangannya.


"Kena kau, hah. Rasakan ini."


Bugh... bugh... bugh...


Agnes kembali menghujani Daniel pukulan menggunakan bantal.


"Sudah hentikan," lerai Rere dengan suara lantangnya.


"Bisa tidak sih kalian tenang, setiap hari tidak bisa diam. Ada saja tingkah kalian," omel Rere karena sudah merasa pusing pada kedua orang itu.

__ADS_1


Keduanya hanya diam dan menyengir kuda.


__ADS_2