Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 42. Memeriksakan Kandungan


__ADS_3

"Sudah diamlah, jangan seperti anak kecil," lanjut Rere.


Keduanya menurut apa yang di katakan Rere dan melanjutkan menonton sinetron di layar besar.


Menjelang waktu sore...


Daniel dan Agnes masih betah berada di rumah Rere, saat ini keduanya tengah tertidur di ruang berkumpul dengan posisi yang tidak bisa di jelaskan lagi.


Daniel dengan posisi kaki yang berada di atas sandara sofa sedangkan Agnes meringkuk seperti anak kecil dengan wajah yang tertutup oleh bantal. Rere hanya bisa geleng-geleng melihatnya.


Rere kembali fokus mengotak-atik ponsel melihat laporan masuk melalui emailnya.


Tiing... suara notifikasi masuk.


"Aku sebentar lagi pulang, mau pesan apa?" Isi pesan itu. Pesan itu tak lain adalah Rey.


"Apa sudah selesai?" Bukannya menjawab Rere bertanya kembali.


"Sudah, ini mau pulang," balas Rey.


"Aku ingin salad buah, kebab, pizza dan jagung rebus," tulis Rere memesan banyak makanan.


"Porsinya lebihkan ya, Daniel dan Agnes masih disini," tulisnya lagi.


"Baiklah, tunggu aku datang ❤❤," balas Rey dengan di akhiri emotikon love. Setelah itu Rere meletakkan ponselnya dan bergegas untuk membersihkan diri dan menyiapkan baju ganti buat Rey.


Rere masih membiarkan kedua orang tadi tertidur dengan lelapnya, mungkin karena lelah akibat ulah jahil dari mereka sendiri hingga membuat dua orang itu tertidur.


1 jam kemudian Rey sudah tibah di rumah. Ia melihat tidak ada Rere di sana, yang ada hanya Agnes dan Daniel masih tertidur.


"Nyonya di mana, bi?" Tanya Rey pada salah satu ART yang kebetulan lewat.


"Nyonya sepertinya ada di kamar tuan?" Jawabnya sopan.


"Baiklah terima kasih, bibi bisa lanjutkan," ucap Rey.


Rey melangkahkan kakinya menuju kamar, dan benar saja jika Rere berada di kamar sudah berpakaian rapi.


Rere menoleh saat terdengar suara pintu terbuka, "kapan kau sampai?" Tanya Rere menghampiri Rey.


"Baru saja," jawabnya men*****p singkat kening Rere.


"Yasudah, bersihkan tubuhmu dulu. Aku akan siapkan air hangat."


"Tidak usah, sayang. Biar aku saja, siapkan saja baju ganti untukku," jawab Rey mencekal tangan Rere. Rere mengiyakan perintah Rey dengan menganggukan kepala.


Rey beranjak ke kamar mandi sedangkan Rere menuju ruang ganti mengambil baju untuk Rey.

__ADS_1


Setengah jam akhirnya Rey keluar dan segera mengambil baju ganti yang sudah di siapkan oleh Rere.


"Ayo keluar, pesanan kamu sudah aku belikan semua," ajak Rey setelah memakai baju santainya.


Setibanya di ruang berkumpul tadi, Agnes dan Daniel sudah terbangun karena mencium bau harum dari makanan yang di bawa oleh Rey tadi.


"Kalian sudah bangun?" Ucap Rere melihat keduanya sudah terduduk.


"Aku mencium bau sedap makanan, makanya aku terbangun," jawab Agnes.


"Urusan makanan cepat sekali kau itu. Yasudah kalian makan itu," ujar Rere saat mendudukkan dirinya di samping Rey.


Rere menyantap salad buahnya dan di suapi oleh Rey, Agnes dan Daniel kali ini bersikap cuek karena mereka juga menyantap makanan yang mereka suka.


"Aku ingin pizza itu Rey," ucap Rere.


"Ambillah, sayang. Tapi jangan berlebihan," jawab Rey.


Rere segera mengambil pizza di hadapannya dan melahap sampai habis. Rey tersenyum melihat tingkah gemas Rere saat ini.


Melihat noda saos yang menempel di mulut Rere, Rey mengelapnya dengan lembut.


"Bu boss, pa boss kami pamit dulu ya," pamit Agnes.


"Kenapa kalian buru-buru sekali," sahut Rey.


"Terima kasih ajakannya bu boss... aku tidak mau jadi obat nyamuk kalian," jawab Agnes ngasal. Tapi ada benarnya juga, dunia hanya seperti milik dua pasang sejoli itu, yang lainnya hanya nyewa.


"Yasudah kau cari saja pendamping hidupmu," sahut Rere.


"Nanti juga datang sendiri," jawab Agnes enteng.


"Kalau kau tidak usaha mana ada orang yang mendekatimu, kau mau jadi perawan tua," sahut Daniel dengan menekankan kata tua.


"Kayak yang ngomong udah ada pendamping saja," ketus Agnes.


"Aku masih muda, kau sudah berumur. Mau sampai kapan? Nunggu karatan dulu?" Jawab Daniel lagi.


"Eehh... ngawur," sengal Agnes pada Daniel. Daniel hanya menggerakkan matanya malas.


"Tuan, nyonya kami pamit dulu. Terima kasih untuk makanannya," pamit Daniel.


"Yasudah kalian hati-hati di jalan," jawab Rey.


Akhirnya rumah itu kembali sepi setelah kepergian 2 cecunguk itu.


Rey kembali mengelus perut Rere dan mengajak  calon buah hatinya berbicara, "halo anak papa, bagaimana anak papa hari ini?" Ucap Rey menunduk ke arah perut Rere.

__ADS_1


"Aku baik papa. Aku hari ini tidak nakal," jawab Rere yang menirukan suara anak kecil.


"Anak papa cepatlah lahir ya, papa sudah tidak sabar menggendong dan mengajakmu bermain," ujar Rey kembali dan men****m perut Rere.


Mereka tertawa bahagia menikmati momen-momen seperti ini.


"Bukankah besok waktunya untuk pemeriksaan?" Tanya Rey mengingat jadwal pemeriksaan untuk Rere.


"Sepertinya iya," jawab Rere.


"Besok aku antar untuk periksa ya," tawar Rey.


"Biar aku besok sama mama saja. Bukankah besok harus ke kantor?"


"Ke kantor bisa menyusul, kamu dan anak kitalah yang terpenting. Aku juga ingin melihat perkembangan anak kita, setelah periksa aku antar ke rumah mama supaya kamu tidak bosan kesepian di rumah," terang Rey.


"Kalau aku tidak di rumah ajak saja Agnes atau lainnya datang, agar kamu ada teman mengobrol. Bisa juga suruh Lita atau Lea datang. Tapi kalau 2 anak itu di jadikan satu sepertinya melebihi Agnes dan Daniel," ucap Rey menggaruk keningnya mengingat kelakukan tingkah adik dan adik iparnya itu.


"Sepertinya begitu, kenapa aku dan kamu bisa mempunyai adik seperti mereka. Hanya Alvaro saja yang normal di antara mereka meskipun dia terlihat cuek," sambung Rere menyetujui ucapan suaminya.


Keesokan paginya di rumah sakit...


Rere sedang berbaring untuk memulai pemeriksaan, dokter mengoleskan gel di atas perut Rere dan mulai menggerakkan alat USG.


"Lihatlah ke monitor itu nyonya," ujar dokter wanita itu.


Rere dan Rey melihat ke arah monitor yang di tunjuk oleh dokter. Nampaklah gambar mungil di dalamnya.


"Calon buah hati nyonya dan tuan berkembang dengan baik, detak jantungnya normal. Ibu dan calon buah hatinya sama-sama sehat," terang dokter dengan tersenyum.


Rey melihat gambaran calon buah hatinya merasa bahagia hingga matanya mulai berkaca-kaca.


Tak butuh waktu berlama-lama untuk melakukan pemeriksaan, keduanya saat ini berbincang-bincang dengan dokter wanita tadi.


"Semuanya sehat nyonya, tuan. Ini untuk hasil USG tadi," ucap dokter memberikan amplop berisi hasil pemeriksaan.


"Terus ajak calon dedeknya berbincang ya nyonya, tuan. Bisa juga mendengarkan musik-musik yang menenangkan, itu bisa membantu perkembangannya," sambung dokter lagi.


"Apa ada keluhan selama kehamilan pertama ini nyonya?" Tanya dokter itu sebelum mengakhiri pertemuan hari ini.


"Tidak ada dok, bahkan rasa mual juga bisa di bilang jarang sekali," jawab Rere.


"Syukurlah kalau begitu nyonya. Dedek bayinya sepertinya memang anak yang baik," canda dokter.


Perbincangan seputar pemeriksaan sudah usai, Rey dan Rere memutuskan untuk segera berpamitan, "Kalau begitu terima kasih atas bantuannya ya dok, kami permisi dulu," ujar Rey.


"Sama-sama tuan. Jika nanti ada keluhan atau ada hal yang ingin ditanyakan, nyonya dan tuan bisa menghubungi saya," jawab dokter itu.

__ADS_1


"Baik dok, kalau begitu kami permisi. Sekali lagi terima kasih dok."


__ADS_2