
Abraham Group...
Rey membawa Celo ke ruangannya yang terletak di lantai paling atas. Rey menurunkan Celo dari gendongannya dan membiarkan Celo melihat-lihat ruangan miliknya.
Ini pertama kali Rey mengajak Celo ke perusahaannya, biasanya Celo ingin ikut tapi Rere membujuknya agar nantinya tidak merepotkan Rey saat bekerja.
"Papa... lihat. Pemandangan di atas sini sangat bagus," ucap Celo semangat melihat pemandangan kota dari atas gedung.
"Kau suka?" Jawab Rey duduk di kursi kebesarannya. Celo mengangguk dengan semangat.
"Malam hari lebih bagus lagi, boy," ujar Rey.
"Benalkah papa? Celo ingin lihat," ucap Celo semangat.
"Benar, ajak mama nanti kalau ingin melihat," jawab Rey.
Rey membiarkan Celo melihat pemandangan di bawah sana melalui cendela besar yang ada di ruangannya. Rey pun fokus dengan komputer yang ada di hadapannya saat ini.
Celo yang menoleh ke arah Rey membuatnya penasaran apa yang di lakukan oleh papanya.
"Papa sedang belmain apa?" Tanya Celo. Rey tersenyum mendengar pertanyaan dari Celo.
Celo mengira jika Rey sedang bermain sama sepertinya saat memegang i pad miliknya. Rere terkadang memberikan i pad berisi game pembelajaran untuk Celo. Mulai dari mengenal huruf, warna, angka dan masih banyak lagi.
Meskipun begitu, Rere masih membatasi penggunaan pada Celo agar tidak menjadi ketergantungan, Rere hanya mempebolehkan Celo bermain selama 1 sampai 2 jam. Itupun ia berikan 2 kali dalam seminggu. Sisanya ia dan Rey yang mengajarinya.
"Papa sedang bekerja. Apa Celo mau lihat?"
Celo mendekat ke arah Rey, "sini duduk diatas papa," Rey mengangkat tubuh Celo keatas pangkuannya.
Celo melihat layar komputer yang ada di depannya dengan bertanya-tanya pada diri sendiri.
"Kenapa punya papa beda sama punya Celo?" Tanyanya menghilangkan rasa penasaran sejak tadi.
"Karena punya papa khusus untuk orang dewasa, sayang. Makanya begini," terang Rey. Celo hanya memandang apa yang di lakukan Rey sejak tadi.
Celo terus saja memperhatikan apa yang di lakukan Rey, hingga akhirnya perut kecilnya berbunyi.
Kruuukk....
"Oops," ucapnya sambil meletakkan telapak tangannya di depan mulut kecilnya.
Rey terkekeh di buatnya, "apa Celo lapar?" Tanya Rey.
"Celo sangat lapal, papa," ujar Celo.
"Sebentar lagi mama akan sampai," jawab Rey melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.
__ADS_1
Tok... tok...
Tak lama suara ketukan pintu terdengar, pintu terbuka dan terlihatlah sosok Rere.
"Mamaa..." ujar Celo turun dari pangkuan sang papa.
"Jangan lari, boy," ujar Rey melihat anaknya berlari.
Rere langsung menangkap tubuh kecil Celo. "Jangan suka lari nanti jatuh," ucap Rere menoel hidung mancung milik Celo.
"Apa Celo sudah lapar?"
"Celo lapal sekali mama. Pelut Celo berbunyi sangat keras," ucap Celo mengelus perutnya yang sudah lapar.
"Kita makan bersama, oke," ucap Rere duduk di sofa panjang di ruangan milik Rey.
Rey mendekat kearah istri dan anaknya.
"Celo mau makan sendili mama," ucapnya.
"Baiklah anak pintar."
Mereka bertiga makan siang bersama, Rere yang menyuapi Rey sedangkan Celo menikmati makanannya sendiri dengan mulut yang sudah cemong semua.
Di lain tempat, tepatnya di A'C Company...
Laki-laki itu mempunyai perasaan pada Arin, tapi Arin tidak menanggapi dengan serius. Arin hanya menganggapnya sebagai rekan kerjanya saja.
"Arin, kau tidak pergi makan siang. Ini sudah waktunya makan siang, ayo kita makan bersama," ajak lelaki itu. Ia menggunakan kesempatan ini untuk bisa lebih dekat lagi dengan Arin.
"Oohh... oke sebentar aku bereskan dulu," jawab Arin. Lelaki itu merasa berbunga-bunga saat Arin mau makan bersamanya.
Liam yang mendengar ajakan lelaki itu pun tidak suka, ia mempunhai ide agar Arin tidak jadi pergi dengan laki-laki itu. Entah ia sadari atau tidak jika dirinya memilik perasaan pada Arin.
"Nona, datang keruanganku sekarang. Ada tugas untukmu yang tidak bisa kau tinggalkan," ujar Liam tiba-tiba di ambang pintu dengan dinginnya.
Dia langsung bergegas meninggalkan ruangan Arin yang bersebelahan dengan ruangan miliknya, atau tepatnya ruangan milik Rere.
"Yaah... maaf ya Ko. Lain kali saja kita makan bareng," ujar Arin tidak enak pada Riko. Nama lelaki itu adalah Riko.
Riko merasa kecewa karena rencananya gagal untuk bisa mendekati Arin.
"Yasudah Rin, tidak masalah. Sepertinya tugasmu sangat mendesak," ujar Riko menutupi rasa kecewanya.
"Maaf ya, lain kali aku janji deh ya," ujar Arin.
"Oke aku ingat janjimu," ujar Riko di angguki oleh Arin
__ADS_1
"Yasudah kau datang sana, nanti bos memarahimu," ujar Riko lagi.
Arin pun segera menuju ruangan milik Liam dan mengetuk pentu. "Permisi tuan, ada tugas apa untuk saya?" Tanya Arin.
"Tidak ada," jawab Liam dengan santainya.
Arin melotot mendengar jawaban Liam. "Lalu kenapa anda bilang tadi ada tugas untukku?" Tanya Arin kembali dengan perasaan sedikit jengkel.
"Tugasmu menemaniku makan siang disini," jawab Liam mendudukkan dirinya di atas sofa.
"Kenapa kita tidak makan saja bertiga tadi, anda ini aneh sekali. Kan kita bisa makan ramai-ramai," Arin dalam mode crewetnya.
"Sudah duduk dan makanlah, aku tidak suka dengan keramaian," jawab Liam mulai menikmati makanannya.
Arin menggerutu kesal, ia kira memang ada pekerjaan serius untuknya. Ternyata hanya di suruh menemani manusia es itu untuk makan.
Liam tidak memperdulikan gerutuan Arin, ia hanya fokus dengan makanannya.
Malam hari pukul 09.00...
"Papa, Celo ngantuk," ucap Celo dengan nada pelan.
"Sini sama papa," Rey mengulurkan tangannya pada Celo. Celo menerima uluran tangan itu dan ia mulai tertidur di gendongan Rey.
"Sini biar aku gantikan," ucap Rere melihat Celo mulai tertidur.
"Biarkan saja, sayang. Dia baru saja terlelap, kamu istirahat saja," jawab Rey penuh perhatian.
Dirasa Celo sudah berlayar di pulai mimpi, Rey segera membawanya ke kamar milik Celo. Rey meletakkan Celo dengan hati-hati agar tidak kembali terbangun.
"Anak papa mimpi yang indah ya," ujar Rey lalu men****m pujuk kepala Celo.
Rey menuju kamarnya yang sudah ada Rere menunggu dan memakai skincare malamnya.
Rey tiba-tiba saja memeluk Rere dari belakang.
"Ada apa?" Tanya Rere.
"Tidak ada," jawab Rey me*****p leher putih Rere.
"Apa kau tidak mau memberikan adik untuk Celo?" Bisik Rey di telinga Rere.
"Celo masih kecil, Rey. Aku tidak mau nanti kalau Celo iri dengan adiknya," jawab Rere.
"Tidak akan, sayang. Celo adalah anak yang pintar, dia akan menyayangi adik-adiknya," ujar Rey yang tangannya mulai menelusup masuk ke dalam baju milik Rere.
Tubuh Rere tidak bisa menolak sentuhan-sentuhan lembut dari Rey.
__ADS_1
Rey segera membopong tubuh Rere ke ranjang king sizenya. Rey menindih tubuh Rere dan mulai melancarkan aksinya. Hingga malam itu mereka lewati dengan syahdunya dengan suasana rembulan yang terang benderang di atas sana.