
"Tuan Li... apa maksud semua ini? Tumben sekali dirimu bersikap manis seperti ini? Tidak seperti biasanya." Cerca Arin sesudah menyantap makan malam mereka berdua. Sedari tadi ia sudah penasaran dengan apa yang ada di depannya.
Liam menarik nafas dalam-dalam sebelum mulai berbicara.
"Aku tidak mau berlama-lama dan aku tidak mau bertele-tele. Arin, maukah kau menikah denganku? Menemani hari-hariku hingga tua nanti?" Ucap Liam to the point. Arin hanya bisa menatap wajah serius Liam.
"Laahh busseet... itu orang langsung saja ya," ucap Lalita mendengar ucapan Liam yang langsung begitu saja.
"Itu orang kenapa tidak ada romantis-romantisnya sih." Keluh Agnes.
Daniel hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya.
Mereka bertiga menggunakan earphon kecil di telinganya yang tersambung pada Liam, makanya mereka bisa mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh Liam.
Kembali lagi ke sisi Liam dan Arin...
"Aku tau, aku bukanlah orang romantis. Aku adalah orang yang dingin. Untuk perasaanku, aku pun tidak tau. Aku merasa nyaman saat bersamamu meskipun kita sering kali berdebat tidak penting. Aku tidak mau jika aku menyesal suatu saat nanti."
"Apa kau serius tuan Li?" Tanya Arin memastikan. Antara percaya dan tidak percaya Arin mendengarnya.
"Apa kau melihat wajahku seperi pembohong?" Jawab Liam menunjuk ke arah wajahnya sendiri. Arin hanya menggelengkan kepala.
"Jadi, apa jawabanmu?" Tanya Liam pada Arin.
Arin bingung harus menjawab apa saat ini. Selama ini ia juga bingung perasaannya pada Liam bagaimana, tapi dia juga merasa nyaman saat ada Liam. Meskipun ia sering sekali di buat kesal dengan Liam.
Arin seakan lidahnya keluh, tidak bisa menjawab apa-apa saat ini.
"Kenapa Arin diam saja? Apa dia akan menolak Liam?" Gerutu Agnes di sebalik sana.
"Mungkin dia bingung," sahut Lalita pada Agnes.
Arin masih terus saja diam tidak menjawab pertanyaan Liam.
"Kalau kau menolak juga tidak apa," ujar Liam melihat reaksi Arin yang masih terdiam.
"Udaah... terima saja Arin." Teriak Agnes yang muncul dari persembunyiannya.
"Jangan malu-malu... terima saja kak." Lalita tak kalah kencang berteriak.
Arin menoleh ke arah sumber teriakan tersebut.
"Terima... terimaa.. terimaa.." teriak Agnes dan Lalita bersamaan.
"Apa kau serius dengan ucapanmu tuan Li?" Tanya Arin lagi untuk memastikan.
"Aku sangat serius dengan ucapanku. Aku memang tidak mau membuang-buang waktuku untuk masalah percintaan selama ini. Maka dari itu, aku langsung saja melamarmu saat ini?." Ucap Liam meyakinkan Arin.
Arin tersenyum dan mengangguk begitu saja. Ia pun juga tidak bisa mengatakan apa-apa saat ini. Tapi, dia juga bahagia mendengar Liam mengatakan hal itu.
"Kau setuju?" Tanya Liam memastikan.
__ADS_1
"Iya." Jawab Arin sambil tersenyum.
Liam pun mengambil kotak kecil yang berada di saku jasnya.
"Berika tanganmu," pinta Liam. Arin pun menurut saja apa yang di pinta Liam.
Liam memasukkan cincin itu di jari manis milik Arin.
"Yuuhuuu... suiit... suiitt..." teriakan Agnes dan Lalita dari sana. Daniel hanya bisa menutup telinganya mendengar teriakan dua wanita itu.
Mereka pun segera berlari ke arah Arin. Ketiganya berpelukan seperti teletubbis.
"Selamat untukmu, Rin. Aku ikut senang, semoga lancar sampai hari H ya." Ujar Agnes ikut merasa senang.
"Selamat, kak. Aku ikut senang." Sahut Lalita.
"Terima kasih buat kalian ya," ucap Arin pada keduanya.
"Selamat untukmu, Li. Semoga semuanya lancar." Ujar Daniel menepuk pundak Liam.
"Ini semua juga bantuanmu," jawab Liam.
"Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau tidak mengatakannya sekali?" Ucap Liam sedikit menggoda Daniel.
"Aku masih belum punya nyali sepertimu," jawab Daniel memelas.
"Apa kau ingin bantuanku?" Tawar Liam pada Daniel.
Sedangkan di sisi Rere...
Ia ikut senang dengan laporan anak buahnya saat ini.
Ia mendapat laporan jika Liam sudah berhasil melamar Arin.
"Kau memang tidak bisa di ragukan, Li." Gumam Rere setelah membaca pesan singkat itu.
"Ada apa, sayang? Sepertinya ada rasa bahagia pada dirimu?" Tanya Rey penasaran.
"Aku baru mendapat laporan dari anak buahku kalau Liam berhasil melamar Arin barusan." Jawab Rere.
"Dia bergerak cepat ternyata," jawab Rey.
"Yaa... begitulah Liam. Tidak suka membuang-buang waktu. Ia langsung saja bergerak jika sudah sasarannya." Timpal Rere yang tahu bagaimana sikap Liam dalam bertindak.
"Mereka akan menjadi pasangan yang unik nanti. Yang satu bar-bar, dan yang satu dingin." Ujar Rey mengingat tingkah Arin.
"Tumben sekali Celo tidak ikut Lalita?"
"Tadi dia masih tidur dengan si kembar, makanya tidak tau jika Lalita pergi dengan Agnes." Jawab Rere.
Kembali lagi ke sisi Arin...
__ADS_1
"Kalian cepat nyusul..." ujar Arin pada keduanya.
"Nanti kita susul pakai pesawat, biar cepet." Jawab Agnes.
"Memangnya kemana?" Lalita menaikkan alisnya sebelah.
"Ke hutan Alaska. Mau?" Jawab Agnes.
Lalita menggelengkan kepala cepat. "Tidak. Buat apa coba?" Gerutu Lalita.
"Tuan Li.... apa kau tidak ingin menraktir kami? Apa kau tega melihat kami kelaparan?" Tukas Agnes pada Liam.
"Siapa suruh tidak makan?" Ujar Liam yang membuat Agnes dongkol.
"Dasar kau. Tau begini tidak usah aku bantu kalian. Udah ayok Lit, Niel, kita pergi. Biarkan saja mereka berdua." Ujar Agnes dengan perasaan dongkolnya.
Agnes, Lalita dan Daniel pun pergi meninggalkan dua insan itu berdua di taman.
"Kenapa kau tega sekali pada mereka?" Sengal Arin pada Liam.
"Biarkan saja. Aku sudah memberi bonus pada Daniel tadi, biar Daniel yang urus." Terang Liam.
"Ooh... ya sudah kalau begitu." Arin memanggut-manggut tidak jadi marah.
"Dassaar si Liam. Lama-lama aku bejjek-bejjek orang itu. Sudah di bantu juga," gerutu Agnes di sepanjang jalan.
"Kau itu kenapa ngoceh saja sedari tadi?" Sahut Daniel melihat Agnes yang menggerutu kesal tidak jelas.
"Gimana aku tidak ngoceh sedari tadi, kita yang membantunya malah di biarkan kelaparan seperti ini." Sungut Arin. Lalita hanya menganggukkan kepalanya saja menyetujui perkataan Agnes.
"Sudah, ayo kita cari makan yang enak. Liam memberiku bonus buat kita tadi." Ucap Daniel agar keduanya tenang.
"Apa kau serius?" Agnes langsung saja berbinar.
Daniel mengangguk-anggukkan kepala menjawab pertanyaan Agnes. Mereka bertiga pun mencari makan di dekat sana.
Mereka pun makan di pedagang kaki lima yang berjejer di dekat taman tadi.
Itulah mereka, meskipun banyak uang tapi tidak pernah malu untuk makan di pinggir jalan.
"Banyak sekali makanan disini. Kita makan apa?" Ujar Lalita melihat banyaknya pedagang kaki lima di sana.
"Kita makan sate saja," usul Agnes.
"Oke ayo," mereka pun berjalan ke pedagang sate yang berada di sana.
Mereka duduk di tempat yang sudah di siapkan. Mereka memesan 3 porsi makan sate ayam.
Setelah pesanan mereka datang, mereka pun segera menikmatinya. Pandangan Daniel tidak pernah beralih dari Lalita yang sedang melahap sate miliknya.
Daniel tersenyum tipis melihat Lalita yang membuatnya gemas. Lalita yang tahu jika Daniel menatapnya sedari tadi mencoba bersikap biasa saja. Ia tidak mau membuat suasana saat ini terganggu nantinya.
__ADS_1