
Mereka yang mendapatkan perintah dari Rere segera melaksanakan tanpa berlama-lama.
Rere segera melangkahkan kakinya keluar dari ruang bawah tanah menuju keruangan tadi.
Saat Rere keluar dari ruangannya, dia berpapasan dengan Max. Max di tugaskan untuk menjaga markas yang berada di Amerika oleh Rere. Rere akan turun tangan jika keadaan sudah sangat mendesak.
"Max, kau perketat lagi keamanan disini, jangan biarkan para penyusup dan pembelot mudah untuk mengambil apa yang kita miliki. Aku tidak bisa bolak-balik kesini, bulan depan aku akan menikah, kau datanglah," perintah Rere tegas.
"Baik nona. Dan selamat untuk pernikahanmu, nona," jawab Max dan memberikan ucapan selamat pada Rere.
"Aku kembali dulu," ucap Rere melangkah keluar dari markas. Hari sudah sore, jadi Rere bergegas untuk segera kembali ke mensionnya.
***
1 minggu sudah Rere berada di Amerika, dia bisa bernafas lega karena semua pekerjaan yang menggunung itu sudah selesai.
"Huuhh..." helaan nafas Rere terdengar. Vallen yang mendengar helaan nafas Rere langsung menoleh kearah sang empunya.
"Apa setelah ini kau akan kembali, nona?" Tanya Vallen.
"Iya... setelah ini aku akan kembali. Aku harus menyiapkan pernikahanku bulan depan. Kau dan Will datanglah," jawab Rere.
"Okelah nona. Semoga lancar sampai hari-H ya," ucap Vallen.
"Panggil Will untuk mengantarku ke bandara 1 jam lagi," perintah Rere yang di angguki oleh Vallen.
Di bandara negara Amerika...
Saat ini Rere sudah berada di bandara dan bersiap-siap untuk berangkat.
"Hati-hati, nona," ucap Will.
"Aku titipkan perusahaan disini padamu Will. Hubungi aku jika ada sesuatu," ucap Rere.
Setelah mengucapkan itu Rere segera masuk untuk cek pemberangkatan. Dirasa cukup Rere segera menuju ke jet pribadinya. Tanpa berlama-lama jet yang mengangkut Rere langsung terbang menembus awan.
Menempuh penerbangan selama berjam-jam akhirnya Rere sudah tiba di bandara negara Indonesia. Rere berjalan lurus kedepan dengan memakai kacamata hitam yang membuatnya terlihat keren.
Rey tersenyum senang melihat siluet orang yang dirindukan selama 1 minggu ini, ia segera menghampiri dan memeluk Rere.
__ADS_1
"Aku merindukanmu," ucap Rey yang mengeratkan pelukannya.
"Gombal kamu," jawab Rere yang melepas pelukan Rey.
"Sudah ayo pulang, aku capek," rengek Rere dan melenggang lergi begitu saja. Rey yang mendengar rengekan Rere merasa gemas dan segera menyusul langkah Rere.
Rey hanya datang sendiri saat ini, karena dia memaksa jika ingin menjemput Rere sendiri. Mau tidak mau Rere mengiyakan saja.
Saat berada di perjalan menuju ke mension, Rere terlelap dengan tenangnya. Saat ini waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, maka dari itu Rere segera mengajak Rey untuk kembali dan segera beristirahat karena sudah merasa lelah.
Sesekali Rey menatap wajah teduh Rere hingga senyum terbit menghiasi wajahnya.
Sesampainya di mension, Rere terbangun dari tidurnya, "apa kita sampai sedari tadi? Kenapa tidak membangunkanku?" Tanya Rere dengan suara yang terdengar serak.
"Tidak, kita baru saja sampai," jawab Rey lembut.
"Kita masuk saja dulu, kamu bisa istirahat di dalam," tawar Rere.
"Tidak, aku langsung pulang saja. Tidak baik jika aku menginap disini, apa lagi tidak ada mama sama papa kamu disini," terang Rey.
"Masuklah dan istirahat," sambung Rey dengan mengelus tangan Rere. Rere hanya menganggukkan kepalanya karena masih terasa mengantuk.
Waktu berjalan begitu cepatnya, pernikahan Rey dan Rere sebentar lagi akan dilaksanakan. Hari ini mereka berdua melakukan fitting baju pengantin.
Rere berencana menyusul Rey yang masih berada diperusahaan, saat berada di depan pintu ruangan Rey, Rere mendengar jika Rey sedang marah dengan seseorang.
Rere yang ingin masuk dia urungkan setelah melihat sekelebat orang yang pernah ia kenal.
"Rey... aku mohon Rey, beri aku kesempatan lagi. Aku menyesal menghianatimu Rey, batalkan pernikahanmu dan kembalilah padaku," ucap wanita itu. Rere memilih diam dan mendengarkan dari luar, dia ingin melihat bagaimana tindakan Rey.
"Apa kau bilang? Kau menyuruhku membatalkan pernikahanku dengan orang yang aku cintai? Asal kau tau, aku tidak akan tertipu denganmu lagi dan meninggalkan dia untuk kedua kalinya. Aku terlalu bodoh karena dulu bisa tertipu dengan mulut manismu dan kenyamanan palsu yang kau berikan padaku hingga aku bisa menghianatinya," ucap Rey panjang lebar dengan menahan amarahnya.
"Pergi kau dari sini, jangan pernah menggangguku lagi. Aku tidak sudi melihatmu lagi," bentak Rey.
Rere tau siapa wanita itu, dia adalah Agatha Sisilia, mantan dari Rey. Dia juga dulu teman sekelas Rere, dia iri dengan Rere karena bisa mendapatkan Rey. Dari situ dia selalu mencoba mendekati Rey tidak henti-hentinya, dan dengan bodohnya Rey terjebak dengan kenyamanan palsu yang dibuat wanita itu hingga menghianati Rere.
Entah kenapa wanita itu datang kembali setelah sekian lama tidak terlihat, mendengar kabar Rey yang akan menikahi Rere, dia segera menemui Rey untuk menintanya kembali. Siapa yang tidak nengejar-ngejar Rey, dia adalah CEO muda yang cukup terkenal di kotanya.
"Rey..." ucapnya dengan mencoba menyentuh tangan Rey.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku, keluar kau dari sini," teriak Rey yang menggelegar dalam ruangannya.
Rere yang mulai geram segera menerobos masuk kedalam ingin memberikan pelajaran buat wanita pengganggu seperti teman lamanya itu.
Ceklek...
Terdengar suara pintu terbuka Rey dan Sisil menoleh kearah sumber suara. Rey yang melihat kedatangan Rere merasa takut jika Rere salah faham dengannya.
Sedangkan Sisil merasa mempunyai peluang untuk bisa memanas-manasi Rere agar dia bisa membatalkan pernikahannya dengan Rey.
"Re... ini tidak seperti yang kau pikirkan," ucap Rey dengan cemasnya.
"Ohh... hay teman lama, kau datang rupanya. Apa kau tidak tau jika calonmu ini menggodaku untuk kembali lagi padanya, dia juga yang menyuruhku untuk datang kesini," ucap Sisil dengan sangat PD. Dia sangat berharap jika Rere terpancing dengan apa yang baru saja diucapkan.
Rere hanya diam tanpa ekspresi menatap bergantian ke arah dua orang yang ada di hadapannya ini.
Sisil yang melihat hal itu tersenyum senang karena merasa usahanya berhasil.
Plaakk... plakk...
Dua tamparan sekaligus dilayangkan oleh Rere.
"Pergi dari sini dan jangan tampakkan wajahmu di depanku lagi," usir Rere dengan wajah datarnya.
Rey tidak mengira dengan tindakan Rere yang secara tiba-tiba itu.
"Kenapa kau menamparku, hah?" Teriaknya dengan memegang pipi yang terasa panas karena tamparan Rere
Benar sekali, yang mendapat tamparan dari Rere adalah Sisil bukannya Rey. Sisil tidak terima jika Rere menamparnya.
Saat Sisil ingin membalas Rere, Rere langsung mengeluarkan pistol yang selalu dibawa kemana-kemana dan diarahkan ke arah Sisil.
Sisil yang ditodongkan pistol bergetar ketakutan, "tolong aku Rey, kenapa kau diam saja," ucap Sisil dengan bibir yang bergetar. Rey yang melihatnya hanya diam membiarkan saja apa yang dilakukan Rere.
"Apa perkataanku kurang jelas?" Ujar Rere yang belum juga menurunkan pistolnya.
"Pergi dari sini atau mati sia-sia," sambungnya dengan tatapan tajam.
Sisil segera pergi karena tidak ingin jika dia mati begitu saja, "tunggu pembalasanku," ucapnya melenggang pergi dengan emosi yang menggebu-nggebu.
__ADS_1
Rere hanya diam menatap kepergian wanita itu dari sana.