Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 54. Di Culik


__ADS_3

1 bulan berlalu...


Semenjak saat itu, Lalita tinggal di rumah sang kakak dengan dalih untuk menjaga Celo jika Rere dan sang suami pergi bekerja.


Saat ini Lalita sendirian di rumah megah itu, Celo merengek untuk ikut ke kantor dengan sang mama.


"Aiiihhh... bosan sekali ya. Anak tuyul ikut ke kantor pula. Kesepian kan aku jadinya," Lalita menggerutu bosan.


"Aku jalan-jalan ke taman komplek gak apa-apa kali ya? Nggak jauh juga kan dari rumah," sambungnya.


"Bibiiii.... aku ke taman dulu ya. Cuma sebentar," teriakan Lalita menggelegar.


Para ART yang sedang bersih-bersih dan menyiapkan makanan tersentak mendengar teriakan Lalita. Ada juga dari mereka mengelus dada karena terkejut mendengar teriakan Lalita yang cukup kencang.


Lalita berjalan menyusuri taman komplek yang dekat dengan rumah sang kakak.


Komplek itu hanya di khusukan untuk rumah-rumah megah bak istana, di tengah-tengah terdapat taman yang lumayan luas khusus untuk penghuni komplek di sana.


Lalita berkeliling dengan jalan kaki sambil mengamati rumah-rumah berjejer di sana.


"Waahh... di sini ternyata sultan semua." Lalita memandang takjub, setiap bangunan memiliki ciri khas sendiri-sendiri.


Lalita masih menyusuri perkomplekan itu sampai-sampai ia tidak menyadari jika sedari ia keluar rumah, ada yang mengawasi dirinya dari kejauhan.


Orang itu pun segera bersembunyi dan melaporkan hal itu pada tuannya.


Meninggalkan Lalita yang sedang asik di taman, kita baralih ke Nicky yang sedang merasa kesal.


"Anda tidak apa-apa tuan?" Tanya Grey.


"Aahh... kenapa dia tiba-tiba saja menghilang." Nicky kesal karena sudah 1 bulan ini ia tidak bertemu dengan Lalita lagi.


"Sabarlah sedikit tuan. Anak buah kita pasti akan menemukan dirinya," ucap Grey agar Nicky kembali tenang.


Sesaat kemudian, salah satu anak buahnya datang.


Tok... tokk...


"Masuk," sahut Nicky mendengar ketukan pintu.


"Lapor tuan. Saya melihat gadis yang ada di foro itu di sekitar rumah wanita itu."


"Apa yang dia lakukan disana?" Tanya Nicky penasaran.


"Tadi saya melihatnya berada di taman komplek sana. Sepertinya, selama ini gadis itu tinggal di rumah wanita itu. Mungkin dia masih ada hubungan darah," sambungnya.


Nicky diam saja sambil mengetuk-ngetukkan jarinya. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.


"Kau lanjutkan pemantauanmu lagi. Dan kau Grey, carikan aku rumah di perkomplekan yang sama dengan gadis itu." Perintah Nicky. Entah apa yang sedang ia rencanakan.


Kembali ke Lalita...


"Waktu sore rame juga ya di taman ini," ujar Lalita.


Ia datang ke taman itu waktu sudah menunjukkan sore hari. Di sana cukup ramai, kebanyakan dari mereka mengajak buah hati untuk bermain di taman. Ada juga yang datang ke sana membaca buku dan masih banyak lagi.


"Lain kali aku ajak Celo sepertinya seru," gumam Lalita melihat banyak anak kecil di sana.


Lalita berjalan pulang sebelum hari mulai gelap.


"Onty dali mana?" Tanya Celo melihat Lalita dari luar.


"Aunty dari taman depan sana tadi. Bosan di rumah sendiri. Ayok kita kesana lain kali," ajak Lalita pada Celo.


"Benalkah onty. Ayok Celo ikut." Girang Celo.

__ADS_1


"Mamaa... Celo boleh ya ikut onty ke taman sana?"


"Iya boleh. Tapi besok lagi ya," kata Rere.


"Kau harus tetap hati-hati di sana Lita." Tutur Rere pada Lalita. Lalita pun mengiyakan ucapan Rere.


Rere saat ini sedang waspada, lain halnya dengan 2 orang yang mulai tumbuh benih-benih cinta seiring berjalannya waktu.


Siapa lagi kalau bukan Arin sama Liam.


"Kau pulang dengan siapa?" Tanyanya


"Seperti biasa. Sendiri," Arin memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.


"Barengan saja denganku," ujar Liam tidak membiarkan Arin pulang sendiri.


"Aku sudah terbiasa pulang sendiri," jawab Arin.


"Sudahlah... kita makan malam sekalian di luar." Liam menyeret tangan Arin tanpa persetujuan darinya.


Arin membuang nafas kasar dan menurut saja saat tangannya di cekal oleh Liam.


Sesampainya di salah satu resto ternama, mereka pun memesan makanan kesukaan masing-masing.


Sepanjang menyantap makan malam, Liam terus saja mencuri pandang pada Arin. Arin mengetahuinya, tapi ia memilih fokus dulu dengan makanannya.


"Kenapa sedari tadi kau menatapku tuan Li?" Arin mulai angkat bicara. Ia tidak tahan jika Liam terus-terus saja mencuri pandang padanya.


"Eehh... ahh.. tidak apa-apa." Ucap Liam kikuk. Ia ingin mengatakan sesuatu namun masih ragu.


Salah satu pelayan genit di resto itu datang menghampiri meja mereka.


"Ini makanan penutupnya, tuan." Ia meletakkan puding mangga sambil mengetipkan salah satu matanya pada Liam.


Liam tidak memperdulikan apa yang di lakukan pelayan itu padanya.


Entah dia sadar atau tidak, jika dirinya juga mulai ada rasa pada Liam.


"Kenapa hanya tuan saja yang ia katakan. Memangnya aku ini makhluk ghaib apa?" Arin berkomat-kamit setelah pelayan genit itu kembali.


"Apa kau tidak suka?" Liam bertanya pada Arin.


"Pasti lah... disini kan juga ada aku. Kenapa dia tidak menyebutkan kata nona? Hanya kata tuan yang ia sebut," celoteh Arin tanpa henti.


Liam hanya menanggapi celotehan Arin dengan senyuman tipis. Tipiiss sekali, hingga Arin tidak bisa melihatnya.


"Kau tidak mampir dulu, tuan Li?" Ucap Arin saat tiba di depan rumahnya.


"Tidak dulu. Masih banyak yang harus aku urus," tolak Liam halus. Arin pun menganggukkan kepala faham.


Liam pun melajukan mobilnya membelah jalanan kota di malam hari.


***


"Mamaa... aku mau ke taman ya. Sama onty," Celo meminta izin pada Rere.


"Yasudah, iya. Hati-hati oke. Kalo ada apa-apa nanti segera hubungi mama. Mama mau ke kantor sebentar."


"Oke mama. Babaiii," Celo melambaikan tangan mungilnya dengan lucu.


Sesampainya di taman, Celo segera bermain di area permainan yang ada di sana.


Lalita mengawasi Celo bermain dengan anak lain sambil duduk di kursi taman, namun tiba-tiba saja ada yang duduk di sebelahnya.


"Lama tak jumpa, nona." Sapa orang itu. Orang itu tak lain adalah Nicky.

__ADS_1


"Kau..." ucap Lalita sedikit tidak nyaman dengan kehadiran Nicky di sana.


"Kau tinggal disini?" Tanya Nicky.


"Emm... iya. Aku tinggal dengan kakakku," jawab Lalita.


'Ternyata benar dugaanku selama ini' batin Nicky. Ia pun segera menggunakan kesempatannya kali ini.


"Benarkah? Kita bisa tetanggaan dong." Kata Nicky dengan antusias. Lalita tidak menyahuti ucapan Nicky.


"Kau kesini dengan siapa?" Tanya Nicky lagi.


"Dengan keponakanku," jawab Lalita singkat.


"Kau cuek sekali, nona."


"Nggak... biasa aja tu," Lalita menjawab dengan sedikit jutek.


'Kenapa orang ini selalu ada di mana saja saat aku berada sih?' batin Lalita.


Nicky tersenyum dengan sinis namun tidak di ketahui oleh Lalita.


"Aku pernah mendengar tentang kakakmu, nona." Ucap nicky membuat Lalita penasaran.


"Memangnya apa yang kau ketahui tentang kakakku? Kita saja baru kenal. Dan kau juga tidak pernah melihat kakakku seperti apa," jawab Lalita ketus.


"Aku memang tidak mengetahuinya secara langsung. Tapi aku mengetahuinya dari orang-orang di penjuru dunia." Jawab Nicky dengna santainya.


"Memang apa yang kau tau?" Lalita mulai penasaran dengan perkataan Nicky.


"Kau yakin ingin mendengarnya?" Nicky mulai menunjukkan taringnya dengan tersenyum sinis menghadap Lalita.


'Kenapa orang ini wajahnya berubah seperti ini?' Batin Lalita.


"Kau akan mengetahuinya nanti." Ujar Nicky meninggalkan Lalita.


Ia pun mengambil ponsel di dalam saku celananya dan menghubungi anak buahnya.


"Kau bawa gadis itu dan anak kecil yang bersamanya ke markas," perintah Nicky saat sambungan telfonnya terhubung.


Lalita di buat penasaran dengan ucapan Nicky barusan.


"Belum jawab juga sudah pergi. Memangnya apa yang ia tau sih? Kakak kan memang terkenal karena perusahaannya yang sangat maju." Lalita mendumel.


"Celo ayo pulang." Ajak Lalita saat cukup lama di sana.


Mereka pun berjalan menuju rumah.


Di tengah-tengah perjalanan, mulut Lalita di bekap oleh seseorang dari belakang.


"Hmmp... hmmmp..." Lalita meronta-ronta.


"Ontyyy..." teriak Celo saat Lalita sudah tidak sadarkan diri.


"Diam anak kecil. Dan menurutlah dengan kami." Gertak orang itu.


Mereka adalah anak buah Nicky. Sebenarnya, Nicky sudah menyebarkan banyak anak buahnya di sana. Mereka semua menunggu perintah Nicky. Di rasa sudah ada aba-aba, merekapun lamgsung saja melaksanakan tugasnya.


"Mamaa... tolong Celo. Hiks... hiks..." teriak Celo di dalam mobil karena merasa takut.


"Diam!!" Bentak salah satu dari mereka. Celo terus saja memberontak memukul-mukul wajah salah satu dari mereka.


Pria itupun mencekal kedua tangan kecil Celo dan mengikatnya. Tak lupa juga ia melakban mulut kecil Celo agar tidak terus berteriak.


Di sisi Rere...

__ADS_1


"Kenapa perasaannku tidak enak seperti ini ya?" Gumam Rere pelan.


__ADS_2